Halo!

Naga Sakti Sungai Kuning Chapter 131

Memuat...

.................!" Kini Thian-te Kauw-cu Lui Seng Cu yang memandang dengan mata terbelalak kepada pemuda itu. "Bu Giok Cu

..................?

Apakah Kongcu juga mengenalnya?"

"Tentu saja aku mengenalnya! Kauw-cu, cepat kumpulkan semua pimpinan ke sini, dan kalian gadis-gadis sial boleh pergi. Malam nanti engkau datang ke kamarku, aku mau bicara, Lee Cia!!" kata Hong San. Lee Cia tersipu dengan muka merah, akan tetapi ia tersenyum dan matanya berseri karena hatinya merasa girang sekali. Hampir setiap orang gadis anggauta Thian-te-kauw yang menerima pelajaran sesat menjadi hamba nafsu dan mereka itu mengharap-harap menerima panggilan dari Can Kongcu untuk melayaninya!

Lui Seng Cu tergopoh keluar dan memanggil semua pimpinan perkumpulan itu. Berbondong mereka datang memasuki kamar di mana Can Hong San menanti dengan tidak sabar. Ban-tok Mo-li Phang Bi Cu yang menjadi pang-cu masuk dengan sikap tenang. Di antara para pembantu Hong San, wanita inilah yang tidak begitu menjilat dan takut, karena selain ia menjadi pangcu, juga ia adalah seorang wanita yang biar tua boleh menganggap Hong San sebagai kekasihnya juga muridnya dalam urusan pelampiasan naf¬su, dalam bidang mana ia tentu saja sudah berpengalaman sekali dibandingkan Hong San yang masih muda itu. Selain Ban-tok Mo-li Phang Bi Cu dan Hok-houw Toa-to Lui Seng Cu sebagai pang-cu dan kauw-cu juga hadir di siti Siangkoan Tek putera Siangkoan Bok majikan Pulau Hiu, Ji Ban To murid dari Ouw Kok Sian majikan Pegunungan Liong-San, juga dua orang murid Lui Seng Cu sendiri, yaitu Siok Boan dan Poa Kian So. Empat orang pemuda ini dengan senang hati menjadi pembantu Can Hong San yang sakti. Siangkoan Bok dan Ouw Kok Sian sendiri hanya menjadi sahabat saja dari orang-orang Thian-te-kauw, tidak ikut membantu karena mereka merupakan datuk-datuk dari daerah mereka sendiri. Setelah enam orang pembantunya hadir, Hong San menyambut mereka dengan ucapan yang nadanya mengandung Kekhawatirannya. "Kita kedatangan musuh besar yang harus kita hadapi dengan berhati-hati! Mereka adalah Huang-ho Sin-Liong dan Bu Giok Cu!"

"Ihhhhh! Giok Cu ?" Ban-tok Mo-li berseru kaget

sekali. Ia tadi hanya pendengar dari Lui Seng Cu bahwa Can Kongcu mengundang semua pembantu untuk berkumpul dan membicarakan urusan penting. Lui Seng Cu tidak sempat bercerita tentang Giok Cu, maka kini mendengar nama bekas muridnya itu, ia tentu saja terkejut dan heran.

Mendengar nada suara pangcu itu Hong San memandang kepadanya. "Engkau sudah mengenalnya, Pangcu?" Di depan orang banyak, kedua orang ini bersikap resmi, saling menyebut pangcu kongcu, tidak seperti kalau mereka halnya berdua, maka sebutan mereka berubah menjadi "sayang", "manis" dan berbagai sebutan mesra lagi.

"Mengenalnya?" Ban-tok Mo-li tersenyum lebar dan ia memang masih nampak cantik walaupun usianya sudah lima puluh tujuh tahun, dengan gigi yang masih rapi dan kulit muka putih yang belur kisut, atau kalaupun agak kisut maka keriput ini tertutup bedak dan gincu tebal! "Heh-heh, tentu saja mengenalnya karena ia adalah muridku sendiri bahkan seperti anak angkat karena sejak berusia sepuluh tahun ia berada di sini sampai beberapa tahun yang lalu.

"Muridmu?" Hong San terbelalak, sudah mengukur ilmu kepandaian pangcu ini. Walaupun lihai namun belum mampu menandinginya, sedangkan tingkat kepandaian Bu Giok Cu hebat, seimbang dengan tingkatnya sendiri! 'Tapi ilmu

silatnya amat hebat! Jauh melebihi kemampuanmu, Pangcu!"

Berkerut alis Ban-tok Mo-li. Tentu saja tidak enak perasaan hatinya kalau di Ucapan orang banyak dikatakan bahwa kepandaiannya jauh di bawah tingkat kepandaian muridnya sendiri!

"Hemmm, mungkin selama kurang lebih enam tahun ini ia belajar lagi, makin giat berlatih sedangkan aku semakin malas saja." katanya acuh. "Di manakah mereka berdua itu sekarang, kongcu? Kita harus menghancurkan mereka agar tidak selalu menjadi gangguan kelak!"

Hong San lalu menceritakan tentang laporan tujuh orang gadis itu, betapa upacara peresmian Souw Ciangkun menjadi anggauta Thian-te-kauw telah gagal karena munculnya dua orang pendekar muda itu. "Mereka pasti akan mencari kita di sini, dan karena itu kalian kukumpulkan agar kita dapat melakukan rencana dan persiapan menyambut musuh berbahaya itu."

Mereka lalu berunding dan mengatur siasat. Hong San perintahkan kepada para pembantunya itu untuk mempersiapkan diri, memberitahu kepada para tokoh sesat yang sudah bersahabat dengan mereka, bahkan banyak tokoh sesat yang menjadi pemuja Thian-te Kwi-ong.

Dugaan Can Hong San memang tepat Han Beng dan Giok Cu pada suatu pagi dua hari kemudian, muncul di kuil Thia te- kauw! Mereka berdua bukan orang-orang ceroboh atau bodoh. Mereka sudah menduga bahwa pihak Thian-te-kauw tentu sudah membuat persiapan untuk menyambut mereka, karena tujuh orang gadis yang mereka jumpai di dalam benteng dan sedang melakukan upacara sembahyang untuk meresmikan pengangkatan anggauta Thian-te-kauw baru, yaitu Sou- Ciangkun, tentu tidak tinggal diam dan sudah membuat laporan kepada pimpinan mereka. Namun, mereka berdua adalah orang-orang gagah yang sama sekali tidak menjadi gentar. Pula, mereka tidak akan mencampuri urusan Thian te- kauw, melainkan untuk bertemu dengan Thian-te Pang-cu untuk urusan pribadi. Pagi itu kuil masih sepi pengunjung. Bahkan ketika Han Beng dan Giok Cu melewati pintu gerbang pertama yang paling luar, tidak nampak seorang pun anggauta Thian-te- kauw! Sunyi seolah-olah tempat itu sudah ditinggalkan orang. Sunyi dan lengang, akan tetapi pintu-pintu gerbang menuju ke kuil itu terbuka lebar.

Perasaan tegang memang ada, namun dua orang muda yang gagah perkasa itu melangkahi ambang pintu gerbang pertama dan tibalah mereka di pekarangan paling depan, dan seratus meter di depan terdapat sebuah pintu gerbang ke dua. Juga pintu gerbang ini terbuka lebar walaupun di situ tidak nampak ada penjaga. Han Beng dan Giok Cu juga memasuki pintu gerbang ini dan mereka tiba di pekarangan kuil. kesibukan kuil belum nampak, dan ketika mereka melangkah maju menghampiri pintu depan kuil yang terbuka lebar, mereka mendengar suara gaduh di belakang mereka Ketika keduanya menengok, ternyata pintu gerbang pertama dan ke dua yang tadi mereka lewati tertutup dari luar!

Mereka saling pandang, maklum bahwa mereka telah masuk perangkap musuh Ketika mereka memandang lagi muncullah banyak kepala di balik tembok yang mengelilingi tempat itu, dan ketika mereka membalik, ternyata di depan kuil telah muncul sedikitnya lima puluh orang anggauta Thian-te- kauw pria dan wanita yang kesemuanya memegang golok atau pedang, dengan gambar tanda Im-yang putih dan merah di dada. Mereka itu berdiri berjajar tak bergerak, hanya memandang kepada Han Beng dan Giok Cu dengan mata mengancam.

Melihat ini, Giok Cu tersenyum mengejek. Ia sudah berjanji kepada Han Beng untuk menghadapi Ban-tok Mo-li seorang dan tidak akan mencari keributan dengan Thian-te-kauw. Maka, melihat betapa para anggauta Thian-te-kauw semua mengepung tempat itu dengan sikap bermusuh, ia lalu mengerahkan khi-kang dan terdengarlah suaranya melengking nyaring dan menggetarkan seluruh tempat itu. "Ban-tok M li Kami datang untuk bertemu dan bicara dengan engkau, untuk urusan pribadi yang tidak ada sangkut pautnya dengan Thian-te-kauw! Kami tidak mempunyai urusan dengan Thian-te-kauw. Keluarlah dan temui kami!" .

Para anggauta Thian-te-kauw terkejut sekali dan banyak di antara mereka yang terhuyung karena tidak tahan menerima getaran suara yang mengandung tenaga khi-kang amat kuatnya itu. Kini, mereka yang berdiri tepat di depan pintu kuil, terkuak dan terbuka. Muncullah Ban-tok Mo-li dan Lui Seng Cu. Ban-tok Mo-li nampak cantik dan anggun, dengan pakaian kebesaran seorang pang-cu, tersenyum dan memegang kipasnya, melangkah perlahan menghampiri Giok Cu dan Han Beng. Di sampingnya berjalan Lui Seng Cu, dan orang ini nampak lucu karena mengenakan jubah pendeta yang longgar, pakaian kauw-cu, akan tetapi di punggungnya nampak gagang goloknya, dan tangannya memegang sebuah kebutan pendeta. Dia pun melangkah dengan sikap angkuh dan tenang. Di belakang mereka berjalan belasan orang yang nampaknya bengis dan kuat dan di antara mereka nampak pula empat orang pemuda yang dikenal baik ole Giok Cu karena mereka itu bukan lai adalah Siangkoan Tek, Ji Ban To, Sio Boan dan Poa Kian So. Tidak nampak pemuda yang mereka dengar sebagai pemimpin umum, yang dikabarkan sebagai penjelmaan Thian-te Kwi-ong itu.

Dengan gaya memandang rendah Ban-tok Mo-li menatap wajah Giok Cu penuh selidik, lalu ia tersenyum ramah. "Aih kiranya muridku Giok Cu yang datang Giok Cu, apakah engkau merindukan Subomu dan sengaja datang untuk menengok? Subomu sudah menjadi Pang- cu sekarang dan engkau akan kuberi kedudukan yang sesuai dengan kepandaianmu, Giok Cu."

"Ban-tok Mo-li!" Giok Cu membentak. "Tidak perlu banyak bujuk rayu. Sejak engkau dan Lui Seng Cu ingin membunuhku beberapa tahun yang lalu, aku tidak Menganggap engkau sebagai guruku lagi!" Ban-tok Mo-li mengerutkan alisnya. "Muridku yang murtad, memang sejak kecil engkau selalu membangkang dan murtad. Kalau engkau sudah tidak menganggap aku sebagai gurumu, lalu mau apa engkau datang ke sini?"

"Ban-tok Mo-li, aku sengaja mencarimu untuk menuntut pertanggungan jawabmu atas kematian Ayah Ibuku. Mengakulah, apa yang telah kaulakukan kepada Ayah Ibuku di perahu dahulu itu?"

Ban-tok Mo-li Phang Bi Cu mengerutkan alisnya dan mengamati wajah bekas murid itu. "Giok Cu, apa maksudmu bertanya seperti itu? Engkau melihat sendiri ketika kita naik ke perahu Ayah Ibumu. Mereka luka-luka, kemudian mereka tewas keracunan "

"Mereka tewas keracunan secara mendadak, ketika engkau berada di dekat mereka!" kata Giok Cu memancing.

Ban-tok Mo-li tersenyum, sikapnya tenang saja karena ia percaya akan kekuatan pihaknya. "Giok Cu, apakah engkau sudah menjadi gila? Engkau melihat sendiri bahwa aku tidak menyerang mereka. Mereka itu sudah keracunan ketika kita naik ke perahu mereka dan menurut pengakuan mereka, baru saja Liu Bhok Ki mengobati mereka, maka jelas bahwa Liu Bhok Ki yang meracuni mereka. Engkau tahu sendiri, bukan?"

Post a Comment