Souw Ciangkun tersenyum. "Memang para anggauta Thian- te-pang itu dilatih ilmu silat, akan tetapi apa anehnya itu? Ketuanya, Phang Toanio adalah seorang ahli silat yang amat pandai, dan kegiatan berlatih silat itu pun tidak melanggar hukum dan baik-baik saja. Kemudian, ada bagian lain yang hanya mengurus soal keagamaan saja, yaitu Thian-te-kauw dan Kauwcu nya (Kepala Agamanya) adalah Losuhu (Bapak Pendeta) Lui Seng Cu "
Giok Cu menahan ketawanya. Tahulah ia bahwa bekas subonya telah bersekutu dengan Hok-houw Toa-to Lui Seng Cu untuk bersama-sama memimpin perkumpulan agama sesat itu dengan membagi tugas sebagai pangcu (ketua perkumpulan) dan kauwcu (kepala agama).
"Ciangkun, kami mendengar bahwa perkumpulan itu mempunyai banyak pemimpin yang berilmu tinggi. Benarkah itu?" Han Beng bertanya untuk menambah umpan agar perwira itu bercerita lebih banyak lagi. Mendengar nada cerita perwira itu memuji-muji para pimpinan perkumpulan itu, dia pun berhati-hati dan tidak mengemukakan pendapatnya, apalagi dia memang tidak begitu mengenal perkumpulan itu, maka dia menyerahkan saja pembicaraan tadi sebagian besar kepada Giok Cu yang tentu saja lebil mengenalnya, bahkan mengenal dengan baik sekali.
"Memang benar, mereka memiliki banyak anggauta pimpinan yang lihai ilmu silatnya dan luas pandangannya! akan tetapi semua itu tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan bimbingan khusus yang diberikan oleh Kwi-ong." "Kwi-ong (Raja Iblis) ?" Giok dia bertanya, benar-
benar heran karena sebelum pernah ia mendengar tentang pimpinan langsung dari Kwi-ong itu.
Perwira tinggi itu tertawa. "Memang bagi orang lain tentu terdengar mengejutkan. Akan tetapi sesungguhnya, sebutan Kwi-ong itu hanya untuk merendahkan diri saja. Sebenarnya Thian-te Kwi-ong adalah seorang dewa yang ditugaskan turun ke dunia untuk mengajarkan persaudaraan dan cinta kasih!"
Ini merupakan hal yang baru bagi Giok Cu, apalagi Han Beng. "Siapakah Itu Kwi Ong, Ciangkun, dan kalau dia bawa, bagaimana dia dapat membimbing langsung?" tanya pula Giok Cu.
"Mungkin kalian sudah mendengar bahwa Thian-te-kauw memuja Thian-te Kwi-ong yang dibuatkan patungnya. Dan sekarang, kadang-kadang patung itu hidup! Dan menurut pengakuan Thian-te Kwi-ong sendiri, agar tidak mengejutkan semua orang, kadang-kadang beliau menjelma sebagai seorang pemuda tampan yang menjadi penasehat. Dan tentu saja ilmu kepandaiannya tak dapat diukur, ia maklum dia bukan manusia." Perwira tinggi itu menerangkan dengan suara yang serius. Pada saat itu, cuping hidung Giok Cu bergerak- gerak. Ia mencium suatu. Keharuman yang aneh bagi orang lain, akan tetapi yang pernah diciumnya dahulu ketika ia masih menjadi murid Ban-tok Mo-li dan sejak subonya itu menjadi sekutu Lui Seng Cu. Bau harum dupa yang khas dipergunakan untuk upacara sembahyang kepada Thian-te Kwi-ong. Bagaimana kini bau dupa itu dapat tercium di dalam benteng? Biarpun hanya lembut, namun cukup dapat ditangkap oleh penciuman Giok Cu yang tajam dan ia pun dapat menduga bahwa bau dupa itu datang dari balik sebuah pintu kamar yang tertutup. Bahkan penglihatannya yang tajam dapat melihat membocornya asap tipis keluar dari celah-celah daun pintu kamar itu. Giok Cu menjadi curiga. Ada yang tidak beres dalam kamar itu, pikirnya. Dan mungkin perwira tinggi ini tidak mengetahuinya. Tiba-tiba saja tubuhnya berkelebat dan ia sudah meloncat jauh ke depan daun pintu kamar yang tertutup, mengejutkan Han Beng dan Souw Ciangkun. Giok Cu mendorong pintu itu terbuka dan ia terbelalak. Han Beng juga melompat mendekatinya. Mereka berdua melihat keadaan dalam kamar itu yang aneh. Ada sebuah meja sembahyang yang besar di dalam kamar itu, dengan patung kecil yang dikenal oleh Giok Cu sebagai patung Thian-te Kwi-ong! Dan di atas meja itu, selain lilin bernyala dan dupa mengepul, sebagai pengganti hidangan sembahyang, nampak seorang gadis bertelanjang bulat rebah telentang! Rambutnya yang panjang hitam itu terurai, tubuhnya sama sekali telanjang bulat. Dan di kanan kiri meja itu berdiri masing-masing tiga orang gadis yang lain yang hanya mengenakan jubah sutera tipis yang tembus pandang dan di bawah jubah itu tidak terdapat pakaian lain! Enam orang gadis itu nampak terkejut bukan main.
"Heiiiii! Kalian tidak boleh mengganggu mereka!" Terdengar seruan Souw Ciangkun dan perwira tinggi ini sudah berada dekat Giok Cu dan Han Beng, wajahnya merah sekali, dan matanya nampak gelisah dan marah.
"Souw Ciangkun, apa artinya ini?' Giok Cu membentak dengan alis berkerut. Teringat ia akan pengorbanan perawan dalam sembahyangan patung Thian-te Kwi-ong. Apakah gadis yang telanjang bulat itu pun calon korban yang akan dibunuh di atas meja sembahyang sebagai korban terhadap Thian-te Kwi-ong? Kalau begitu ia memandang kepada perwira itu dengan mata terbelalak.
"Tutupkan daun pintunya dan jangan ganggu mereka, Li- hiap. Aku akan memberi penjelasan." kata perwira itu akan tetapi suaranya gemetar dan kini wajahnya berubah pucat walaupun sinar matanya masih mengandung kemarahan. Akan tetapi tiba-tiba terjadi hal yang dianggap aneh oleh Giok Cu. Gadis remaja yang telanjang bulat dan tadi rebah telentang di atas meja sembahyang itu kini bangun dan cepat- cepat menyambar pakaian dan menutupi tubuhnya. Seolah- olah ia dalam keadaan sadar sama sekali, tidak terbius atau pingsan seperti biasa para korban upacara keji itu! Dan enam orang gadis lainnya juga kini dengan terburu-buru mengenakan pakaian mereka, pakaian sopan dan jubah mereka bergambar lingkaran Im-yang merah putih. Seorang di antara mereka, yaitu gadis yang tadi bertelanjang bulat dan ini sudah mengenakan pakaian dan menyanggul rambutnya, memberi hormat kepada perwira tinggi itu.
"Agaknya ada gangguan, Souw Ciangkun. Sebaiknya kalau upacara kita ditunda sampai lain kali saja. Kami akan kembali lagi kalau saatnya yang baik tiba seperti dikehendaki oleh Kwi- ong. Mereka bertujuh lalu memberi hormat kepada Souw Ciangkun, tanpa melirik ke arah Giok Cu dan Han Beng, kemudian mereka membawa peralatan sembahyang mereka dan keluar beriringan dari ruangan itu seperti kelompok anggauta perkumpulan agama yang tertib dan sopan. Para penjaga di luar pun tidak berani bersikap kurang ajar kepada tujuh gadis ini yang dianggap orang-orang yang saleh dari perkumpulan agama yang terpandang di kota itu.
"Ciangkun, sekarang kami minta penjelasan!" Giok Cu berkata setelah tujuh orang gadis itu pergi. "Kiranya Ciangkun juga seorang anggauta Thian te Kwi-ong? Dan tadi gadis itu hendak dijadikan korban, dibunuh di meja semba yang, bukan?"
"Ah, tidak! Tidak! Engkau tidak mengerti, Nona, Tidak kusangkal bahwa aku memang merupakan seorang anggauta baru yang akan dilantik hari ini sebagai anggauta yang sah. Apa salahnya kala aku menjadi anggauta sebuah perkumpulan agama yang mengajarkan persaudara dan cinta kasih? Aku tidak melangg tugas dan hukum!" "Hemmm, dan pengesahan itu dengar mengorbankan seorang gadis perawan, membunuhnya di atas meja sembahyang tadi, bukan?" Giok Cu mengejek, dan dara perkasa ini teringat akan pesan Liu Taijin bahwa Thian-te- kauw kini mulai menanamkan pengaruhnya pada para pejabat. Perwira tinggi ini agaknya sudah mulai terpengaruh pula!
"Tidak, sama sekali tidak! Dahulu menurut penjelasan para pimpinan Thiar> ii-kauw, memang ada kebiasaan kuno seperti itu, mengorbankan seorang perawan dalam upacara pengangkatan anggauta baru. Akan tetapi sekarang, setelah Kwi-ong berkenan memimpin sendiri, kebiasaan diubah. Yang dikorbankan hanya kegadisannya, bukan nyawanya!"
"Ihhhhh !" Giok Cu mengerutkan alisnya dan
memandang jijik. "Jadi engkau akan memperkosa gadis tadi sebagai upacaranya?"
Wajah perwira tinggi itu berubah merah. "Engkau salah mengerti, Lihiap.bukan memperkosa, melainkan ia dengan suka rela menyerahkan diri. Itulah inti persaudaraan dan cinta kasih! Kami melakukannya dengan dasar cinta kasih. "
"Omong kosong! Upacara cabul! Jahat, keji sekali! Ciangkun, kiranya apa yang dikatakan Liu Taijin benar. Thian- te-kauw sudah menanamkan cakarnya kepada para pejabat termasuk engkau! Kami harus melaporkan hal ini kepada Liu Taijin!" kata Giok Cu marah. Tiba-tiba terjadi perubahan sikap perwira tinggi itu. Dia menengadah lalu tertawa bergelak-gelak seperti orang gila! "Ha-ha-ha-ha-ha!" Siapa berani menentang Thian-te Kwi-ong berarti mampus! Yang mentaatinya akan hidup bahagia dan panjang usia, akan tetapi yang menentang akan mati! Ha-ha-ha! Thian-te Kwi-ong tak terkalahkan, ha-ha- ha-ha-ha!" Dia mengeluarkan peluit dan terdengar suara nyaring ketika dia meniupnya dan terdengar derap kaki banyak orang. Tempat itu telah terkepung oleh ratusan orang perajurit! "Ha-ha-ha-ha, kalian takkan dapat lolos lagi. Hayo kalian semua maju, tangkap dan bunuh dua orang mata-mata musuh ini!"
Mendengar perintah atasan mereka, puluhan orang perajurit memasuki ruangan dengan senjata di tangan. Melihat ini, tahulah Han Beng dan Giok Cu bahwa keselamatan mereka terancam. Mereka tentu saja mampu membela diri, akan tetapi bagaimana mungkin menang melawan ribuan perajurit yang berada di dalam benteng itu? Mereka tidak akan mampu lolos dan akhirnya mereka akan tewas tercincang!
Akan tetapi, Giok Cu adalah seorang gadis yang cerdik sekali. Melihat para perajurit itu siap mengeroyok, secepat kilat ia menotok tengkuk Souw Ciangkun, membuat perwira tinggi itu tak mampu menggerakkan kaki tangan yang mendadak menjadi lumpuh. Sambil menodongkan pedang yang sudah dicabutnya ke leher perwira tinggi itu, ia berteriak.
"Mundur semua! Kalau ada yang berani menyerang, kubunuh Souw Ciangkun!
Ancamannya ini berhasil. Para perajurit itu mundur dan bingung, tidak tahu apa yang harus mereka perbuat. Souw Ciangkun yang sudah tidak mampu menggerakkan kaki tangannya itu masih tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha-ha! Kalian maju, tangkap dan bunuh mereka berdua! Aku tidak bisa mati, ha-ha-ha, Thian-te Kwi-ong akan melindungiku, usiaku akan mencapai seratus tahun. Ha-ha-ha- ha, siapa menentang Thian-te Kwi-ong akan mati konyol!"
Ketika perajurit itu sedang ragu dan bingung, dan anjuran perwira yang tertawa-tawa itu membuat mereka bergerak lagi untuk mengeroyok, tiba-tiba terdengar bentakan nyaring, "Kalian semua mundur!" Ketika para perajurit mengenal orang yang memberi aba- aba itu, mereka mundur dan muncullah seorang perwira tinggi lain yang usianya sebaya dengan Sou Ciangkun, tubuhnya tinggi kurus dan sinar matanya tajam. Dia maju menghadap Han Beng dan Giok Cu yang memandang dengan waspada dan siap siag Giok Cu masih menodongkan pedangnya di leher Souw Ciangkun.
"Nona, harap lepaskan dia. Agaknya telah terjadi sesuatu dengan dia dan pikirannya tidak wajar lagi." kata perwira itu dengan tegas.
Giok Cu melepaskan Souw Ciangkun yang roboh dengan lemas karena kedua kakinya masih lumpuh oleh totokan Giok Cu. Akan tetapi, biarpun sudah terguling roboh, Souw Ciangkun masih tertawa-tawa dan berteriak-teriak memuji-muji Thian-te Kwi-ong!
Perwira itu mengangguk kepada Han Beng dan Giok Cu. "Aku adalah Panglima Yap, komandan ke dua di benteng ini." Kemudian dia menghadapi para perajurit yang masih berkerumun di situ dan di luar pintu pun penuh perajurit yang ingin tahu apa yang telah terjadi.