"Ji-wi (Kalian) tentu heran melihat aku bertugas di sini," pejabat tinggi itu berkata.
Han Beng dan Giok Cu memandang kepadanya dan Han Beng berkata, "Memang kami merasa agak heran. Bukankah Tai-jin biasanya bekerja sebagai pejabat yang mengontrol pekerjaan para petugas, dan memberantas penyelewengan yang dilakukan para pejabat di luar kota raja.
Liu Tai-jin menghela napas panjang, lalu mengangguk. "Memang benar. Itulah pekerjaanku dan aku senang dengan pekerjaan itu. Aku paling membenci pembesar yang melakukan korup, menindas rakyat dan mencuri uang negara, menumpuk harta kekayaan untuk diri sendiri dan tidak melaksanakan tugas dengan sebaiknya. Demi mencari harta, banyak pula pembesar yang bertindak sewenang-wenang, bahkan curang, membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar. Aku senang sekali bekerja memberantas segala penyelewengan itu walaupun pekerjaan itu amat berbahaya dan membuat aku dibenci dan dimusuhi banyak pejabat. Akan tetapi Sri baginda terlalu percaya kepadaku sehingga untuk pembangunan istana ini pun beliau memerintahkan aku untuk melakukan pengamatan di sini agar pekerjaan dilaksanakan sebaik mungkin, agar bahan-bahan bangunannya tidak dicuri, dikurangi mutunya dan tidak terjadi korupsi. Nah, begitulah. Terpaksa aku harus bekerja menjadi pengawas di tempat ini." "Kalau Tai-jin yang menangani, tentu pembangunan ini cepat selesai dengan baik," kata Giok Cu.
Liu Tai-jin tertawa, tahu bahwa pujian pendekar wanita itu bukan sekedar basa-basi belaka. "Pembangunan negara baru akan berhasil kalau semua petugas dan karyawannya bekerja dengan jujur dan setia, kalau semua pekerja, dari yang tinggi sampai yang paling rendah, tidak menjadi hamba nafsu rendah untuk menyenangkan diri sendiri dan melakukan korupsi. Semua tenaga harus bersatu untuk pembangunan, barulah pembangunan itu akan berhasil dengan baik.Tidak mungkin hanya tergantung pada satu orang saja. Tugasku di sini hanya mengawasi dan menjamin lancarnya pekerjaan dan bersihnya para pekerja. Akan tetapi, para tukang itulah yang menangani. Tanpa para tukang, bahkan tanpa para kuli kasar, pembangunan tidak akan selesai. Semua harus bersatu dan bekerja sama. Aih, maaf. Aku lupa bahwa Ji-wi bukan petugas negara. Apakah Ji-wi akan lama tinggal di Lok-yang?"
Giok Cu menggeleng kepala. "Tidak Tai-jin. Mungkin hari ini juga kami aka melanjutkan perjalanan."
"Ji-wi akan pergi ke manakah?"
"Kami bermaksud pergi ke Ceng touw "
Pembesar itu nampak terkejut mendengar ini, dan wajahnya berseri, pandang matanya penuh harap. "Ke Ceng touw. ? Ah, kalau saja aku tidak terikat oleh tugasku
mengawasi pembangunan istana Lok-yang ini, tentu aku sudah pergi ke Ceng-touw. Ada perkembangan yang amat gawat di sana!"
"Perkembangan yang amat gawat Apakah itu, Tai-jin? Apa yang telah terjadi di sana?" Giok Cu bertanya. "Ji-wi dapat membantu kami dalam hal ini," kata pembesar itu. "Kalau -Ji wi pergi ke Ceng-touw, tolonglah selidik kebenaran berita yang kami dengar tentang sebuah perkumpulan agama baru yang kabarnya makin besar pengaruh dan kekuasaannya sehingga tidak saja perkumpulan itu menundukkan perkumpulan lain dan menguasai dunia
kang-ouw, bahkan mereka mulai menanamkan pengaruh mereka kepada para pejabat setempat. Gerakan mereka di luar bukan urusanku, melainkan tugas para petugas keamanan untuk mengawasi mereka. Akan tetapi kalau mereka sudah menanamkan kuku mereka mencengkeram para pejabat, ini berbahaya sekali, dapat menyeret para pejabat ke dalam kesesatan dan harus dicegah."
"Liu Tai-jin, perkumpulan agama apakah itu?" tanya Giok Cu, jantungnya berdebar karena ia sudah dapat menduga. Perkumpulan agama apalagi kalau bukan Thian-te-kauw yang menyembah Thian-te Kwi-ong, perkumpulan yang dipimpin oleh Hok-houw Toa-to Lui Seng Cu dan Ban-tok Mo-li?
"Perkumpulan Thian-te-pang yang berdasarkan agama baru Thian-te-kauw dan berpusat di Ceng-touw."
Mendengar ini, Han Beng memandang tajam, akan tetapi dia pun diam saja, dan dia hanya menyerahkan kepada Giok Cu untuk membicarakan urusan itu. Dia tahu bahwa perkumpulan itu dipimpin oleh Ban-tok Mo-li guru pertama gadis itu, seperti yang pernah diceritakan Giok Cu kepadanya.
"Jangan khawatir, Tai-jin. Kami berdua akan menyelidiki dan kelak akan memberi laporan kepada Tai-jin." kata Giok Cu dengan sikap sungguh-sungguh.
Wajah pembesar itu makin berseri. "Ah, terima kasih, Lihiap. Legalah hatiku mendengar kesanggupan Ji-wi. Akan tetapi, harap Ji-wi berhati-hati, karena menurut keterangan yang kuperoleh, perkumpulan itu dipimpin oleh orang-orang yang amat lihai. Akan tetapi, rakyat menganggap perkumpulan itu sebagai perkumpulan agama yang baik, mereka mempunyai sebuah kuil pula, dari banyak orang datang bersembahyang Dilihat dari luar, mereka itu seperti orang- orang beribadat dan hidup saleh akan tetapi di balik semua itu, mereka merupakan gerombolan orang sesat yang amat berbahaya. Kalau sampai mereka dapat mencengkeram dan mempengaruhi, para pejabat, maka mereka merupakan bahaya besar karena dapat menghasut agar para pejabat itu memberontak terhadap pemerintah."
Han Beng dan Giok Cu mengangguk-angguk. Mereka berjanji akan berhati-hati dan kelak akan memberi laporan. Kemudian, setelah menerima jamuan makan dari pembesar yang bijaksana itu, Han Beng dan Giok Cu melanjutkan perjalanan menuju Ceng-touw. Di tengah perjalanan, mereka membicarakan apa yang mereka dengar dari Liu Tai-jin tadi.
"Tak salah lagi, yang dimaksudkan Liu Taijin tentulah perkumpulan penyembah Thian-te Kwi-ong yang dipimpin oleh iblis busuk Lui Seng Cu dan dibantu oleh Ban-tok Mo-li," kata Giok Cu yang sejak meninggalkan guru pertama itu tidak pernah lagi menyebut su-bo (ibu guru) kepada Ban-tok Mo-li yang memang tidak dianggapnya sebagai guru lagi. Mana ada Guru hendak mencelakai bahkan hendak membunuh muridnya? Kalau dulu tidak ada Hek Bin Hwesio, tentu ia telah tewas di tangan Ban-Tok Mo-li dan Lui Seng Cu.
“Akan tetapi, maksud kita berkunjung kepadanya hanya untuk bertanya tentang kematian orang tuamu, Giok Cu. Kita tidak perlu mencampuri urusan perkumpulan mereka, hanya menyelidiki saja bagaimana sesungguhnya pengaruh mereka terhadap para pejabat untuk kelak kita laporkan kepada Liu Taijin,” Kata Han Beng.
"Hemmm. engkau tidak tahu mereka itu orang-orang macam apa, Han Beng! Mereka itu jahat sekali. Untuk keperluan agama mereka yang sesat, mereka itu tidak segan- segan untuk membunuhi muda-mudi, dan melakukan segala macam bentuk percabulan. Mengerikan sekali! Dan mungkin saja kini tokoh-tokoh sesat sudah mulai membantu mereka, maka kita harus berhati-hati. kalau perlu, bukan saja aku akan menyelidiki tentang kematian orang tuaku, akan tetapi juga aku siap untuk menghancurkan dan membasmi mereka!"
"Akan tetapi kita tidak boleh lengah dan memandang rendah kekuatan lawan, Giok Cu. Sebaiknya sebelum kita berkunjung ke sana, lebih dulu kita menyampaikan surat kepada Souw Ciangkun seperti yang dipesankan Liu Taijin."
Giok Cu mengangguk setuju. Sebelum berpisah dengan Liu Taijin, pembesar itu menitipkan surat untuk pasukan keamanan di luar kota Ceng-touw dan minta kepada mereka untuk membicarakan Thian-te-kauw dengan Souw Ciangkun.
Souw Ciangkun adalah seorang panglima yang usianya sudah lima puluh tahun dan sikapnya berwibawa. Dia termasuk seorang panglima yang setia dan jujur, yang membenci penyelewengan dan dia amat kagum kepada Liu Taijin. Maka, ketika dia mendengar bahwa dua orang muda yang berkunjung ke bentengnya itu adalah utusan Liu Taijin, tergopoh-gopoh dia menyambut dan mempersilakan mereka duduk di ruangan dalam.
Dia merasa agak heran juga meliha betapa utusan pejabat tinggi yang dihormatinya itu adalah seorang pemudi dan seorang gadis muda, akan tetap setelah membaca surat Liu Taijin, dia memandang kagum kepada mereka. "Aih kiranya Tai-hiap adalah Huang-ho Sin liong, dan Nona adalah seorang pendekar wanita yang berilmu tinggi! Menurut surat dari Liu Taijin, Ji-wi akan membantu dalam penyelidikan terhadap Thian-te-kauw. Memang perkumpulan itu amat mencurigakan, dan makin lama semakin kuat saja. Akan tetapi karena mereka tidak melakukan sesuatu yang melanggar hukum, kami pun tidak dapat bertindak apa-apa. Kalau menurut Ji-wi, perkumpulan itu melakukan kejahatan apakah?"
Giok Cu diam-diam merasa heran. Panglima ini nampaknya gagah dan baik, akan tetapi mengapa begitu lengah? Bagaimana mungkin sebagai seorang panglima pasukan keamanan, sampai tidak dapat tahu apa yang dilakukan oleh perkumpulan seperti Thian-te-kauw itu?
"Maaf, Ciangkun. Tentu Ciangkun lebih mengetahui daripada kami dan kami bahkan memerlukan keterangan yang sejelasnya dari Ciangkun untuk bekal penyelidikan kami." katanya dengan lembut, dan Han Beng mendengarkan dengan perasaan heran. Akan tetapi dia dapat menduga bahwa tentu gadis yang cerdik itu berpura-pura saja dan ingin memancing keterangan dari perwira tinggi itu.! Dia tahu bahwa gadis itu tentu saja mengenal Thian-te-kauw lebih baik, karena pernah hidup di antara mereka bahkan sebagai murid Ban-tok Mo-li, seorang di antara para pimpinan mereka.
Perwira tinggi itu tersenyum dan dia menarik napas panjang, bersandar di kursinya dan memandang kepada dua orang muda itu. "Kalau menurut penyelidikan kami, biarpun Thian-te-kauw makin kuat dan makin banyak anggautanya, namun perkumpulan itu belum pernah melakukan pelanggaran. Mereka rnemiliki sebuah kuil yang bahkan menolong banyak orang. Dan mereka mengajarkan persaudaraan antara sesama manusia, bahkan mengajarkan cinta kasih antara manusia. Mereka terbagi menjadi dua bagian. Bagian perkumpulan disebut Thian-te-pang dan diketuai seorang wanita bijaksana yang disebut Phang Toa-nio (Nyonya Phang), seorang yang amat pandai dan ramah."
Giok Cu mencatat di dalam hatinya". Kiranya bekas gurunya itu, Ban-tok Mo-li Phang Bi Cu, telah menjadi ketua Thian-te-pang dan kini dipuji-puji oleh panglima pasukan keamanan!
"Menarik sekali!" serunya untuk menutupi perasaan herannya.