Orang ke empat disambut tendangan pula sehingga terjengkang dan karen kepalanya dengan kerasnya membentur tanah, maka dia pun pingsan seketika mungkin gegar otak!
Gegerlah para penonton di situ. Da pada saat itu, terdengar bunyi roda kereta dan derap kaki kuda. Sebuah kereta berhenti di situ, dikawal oleh selosin pasukan pengawal. Semua orang minggir dan seorang laki-laki berusia lima puluh lima tahun yang sikapnya agung dan berwibawa, turun dari kereta. Dia melihat kearah empat pemuda yang masih belum dapat bangkit bahkan seorang masih pingsan dan yang tiga lagi mengaduh-aduh, memijat perut, ada yang mengurut-urut dada, ada yang lehernya bengkok. Kemudian dia memandang kepada gadis cantik jelita yang, berdiri tegak dengan kedua tangan bertolak pinggang, muka merah karena marah.
"Apa yang terjadi disini?" Pria berpakaian pembesar itu bertanya dan dia pun maju menghampiri tempat keributan itu. Giok Cu yang sudah marah, membalik dan menghadapi laki- laki itu. Disangkanya laki-laki itu tentu hendak membela empat orang pemuda itu maka ia pun berkata dengan nada menantang, Siapa saja yang menibela empat ekor tikus busuk ini akan kuhajar!”
Akan tetapi pembesar itu sama sekali tidak nampak takut, melainkan menentang pandangan mata Giok Cu dengan tajam penuh selidik. "Siapa yang membela siapa, Nona? Kami hanya bertanya apa yang telah terjadi disini? Mengapa terjadi perkelahian di sini?"
Sebelum gadis itu menjawab dengan ketus, tiba-tiba Han Beng berseru girang "Liu Tai-jin! Aih, Giok Cu, apakah engkau tidak mengenalnya? Dia adalah Liu Tai-jin, utusan dari kota raja yang kita jumpai di kota Siong-an itu!"
Giok Cu segera teringat dan ia pun seperti Han Beng memberi hormat. "Liu Tai-jin, maafkan saya," katanya. Tentu saja ia teringat. Pernah bersama Can Hong San ia bahkan menghadang pembesar ini yang disangkanya jahat dan korup.
Pembesar itu memang Liu Tai-jin, pembesar kepercayaan kaisar dari kota raja yang suka diutus menjadi peneliti dan pemeriksa para petugas dan memberi hukuman kepada mereka yang korup dan nyeleweng. Dia pun segera ingat kepada Han Beng.
"Ah, kiranya Huang-ho Sin-liong yang berada di sini!" serunya dan dia pun cepat membalas penghormatan mereka. "Dan Nona ini adalah Li-hiap (Pendekar Wanita) yang gagah perkasa itu!"
Seorang di antara pemuda yang tadi pingsan, kini sudah siuman dan mereka berempat menjadi pucat dan mendekam dengan tubuh menggigil ketika mendengar ucapan pembesar itu bahwa pemuda dan gadis yang mereka ganggu tadi adalah dua orang pendekar yang gagah perkasa! Bahkan pemuda itu adalah Naga Sakti Sungai Kuning yang namanya menggetarkan seluruh lembah Sungai Huang-ho! Mereka ingin melarikan diri, akan tetapi kedua kaki mereka tidak dapat digerakkan karena menggigil. Bahkan dua orang di antara mereka, saking takutnya, tak dapat menahan lagi bocor di tempat sehingga celana mereka basah kuyup!
"Tai-hiap, Li-hiap, apa yang terjadi di sini?" pembesar itu bertanya sambil memandang kepada empat orang pemuda itu.
"Maafkan saya, Liu Tai-jin," kata Giok Cu. "Mereka itu bersikap kurang ajar karena saya seorang wanita, mulut mereka kotor sekali dan sikap mereka tidak sopan sehingga terpaksa saya menghajar mereka!"
Pejabat tinggi itu dengan mata mencorong dan alis berkerut memandang kepada empat orang pemuda itu. Melihat keadaan mereka, dia pun tersenyum.
"Li-hiap, kami kira hajaran itu sudah cukup bagi mereka. Apakah perlu di tambah lagi?"
Mendengar ini, empat orang yang sudah ketakutan setengah mati, bukan hanya karena mendengar bahwa dua oran muda yang mereka ganggu adalah pendekar-pendekar sakti, juga mereka takut sekali kepada Liu Tai-jin yang terkenal sebagai seorang pejabat tinggi yang selain besar kekuasaannya, juga adil dan tegas, tidak mau disogok, segera menjatuhkan diri berlutut di depan Giok Cu.
"Li ........... hiap, ampunkan kami, ampunka kami "
kata Si Muka Bopeng, dan tiga orang kawannya juga ikut pula mohon ampun.
Giok Cu menggangguk kepada Liu Tai-jin. Memang mereka itu kurang ajar, akan tetapi hajaran yang diberikan tadi sudah lebih dari cukup.
"Asal kalian berjanji mulai sekarang Tidak ugal-ugalan dan tidak akan mengganggu wanita lagi, aku tidak akan mematahkan semua tulang kaki tanganmu!"
Mendengar ini, empat orang itu menjadi semakin ketakutan dan seperti empat ekor ayam mematuk gabah, mereka mengangguk-angguk membenturkan dahi di tanah sambil berkata berulang-ulang,
" ........... tidak berani lagi, tidak berani lagi. tidak berani
lagi " "Nah, cukuplah. Berterima kasihlah kalian kepada Liu Tai- jin yang bijaksana, kalau tidak ada beliau, tentu aku tidak mau memberi ampun kepada kalian!"
Empat orang pemuda itu lalu berlutut menghadap Liu Tai-jin dan mengucapkan terima kasih berulang-ulang. Liu Tai-jin tersenyum, senang melihat sikap Giok Cu. Kalau ada beberapa orang pendekar seperti gadis ini di setiap kota, tentu akan aman keadaannya. "Sudah, kalian pergilah!" katanya dan empat orang itu lalu bangkit, terhuyung-huyung meninggalkan tempat itu. Orang-orang yang melihat peristiwa itu diam-diam merasa kagum kepada Giok Cu yang selain merupakan seorang pendekar wanita yang lihai, juga ternyata menjadi kenalan Liu Tai-jin yang disegani semua orang.
"Tai-hiap dan Li-hiap, bagaimana kalian dapat berada di sini? Apakah hanya kebetulan saja, ataukah memang sengaja datang untuk melihat pembangunan istana ini?"
"Dalam perjalanan, kami mendengar semua orang membicarakan pembanguna istana di Lok-yang ini, maka kami sengaja lewat di sini untuk menontonnya, kata Han Beng.
"Kalau begitu, mari masuk saja. Ji-wi (Kalian Berdua) dapat melihat keadaan di sebelah dalam istana. Mari naiklah ke dalam kereta kami."
Han Beng dan Giok Cu naik ke dalam kereta bersama pembesar itu dan para penonton memandang dengan kagum dan juga iri melihat betapa dua orang muda itu mendapat kesempatan yang amat langka itu, yaitu melihat keadaan istana itu dari dalam!
Han Beng dan Giok Cu mengagumi istana yang luar biasa megahnya itu. Biarpun belum dicat, namun istana itu sudah nampak indah bukan main. Liu Tai-jin membawa mereka berkeliling dan menerangkan segalanya kepada mereka sehingga dua orang muda itu semakin kagum dan juga merasa senang sekali mereka telah mendapatkan kesempatan yang demikian baiknya. Setelah melihat-lihat, Liu Tai-jin mengajak mereka memasuki sebuah ruangan yang dia pergunakan untuk tempat duduk apabila dia datang ke tempat itu. Mereka duduk berhadapan dan pelayan menghidangkan minuman dan makanan kecil. Liu Tai-jin lalu menyuruh semua pelayan dan pengawal untuk meninggalkan ruangan dan membiarkan mereka bertiga bercakap-cakap.