"Memang, potongan badannya seperti kuli kasar. Dia dibutuhkan untuk pembangunan ini. Akan tetapi perempuan itu, mana mungkin diterima walaupun ia hemmm,
cantik dan manis seperti malu?" orang ke dua berkata sambil terkekeh. Teman-temannya juga tertawa.
"Kenapa tidak? Di manapun kalau perempuan, apalagi yang jelita seperti ia, pasti diterima dengan tangan terbuka
..............."
“............. dan pakaian terbuka ” Ha-ha-ha!" Mereka
tertawa-tawa kembali.Han Beng dan Giok Cu mendengar percakapan itu, akan tetapi karena percakapan itu tidak jelas menyinggung mereka maka keduanya pun diam saja, walaupun sepasang alis Giok Cu sudah berkerut karena ialah satu-satunya wanita situ, maka siapa lagi yang dibicarakan kalau bukan dirinya? Akan tetapi masih ingat akan pesan Han Beng tadi, maka ia pun pura-pura tidak mendengar saja.
"Akan tetapi seorang gadis, disuruh bekerja apa?" "Bekerja apa? Biar ia duduk atau berdiri saja di tempat
pekerjaan, tanggung para pekerja semakin bersemangat dalam pekerjaan dan lupa untuk pulang, ha-ha-ha!"
"Dan malamnya tentu akan dijadi rebutan oleh para mandornya!"
"Ihhh, sayang sekali kalau hanya mendapatkan mandor. Lebih baik mendapatkan aku, setidaknya Ayahku mempunyai toko yang cukup besar!" "Menjadi milikku lebih tepat! Ayahku pegawai pemerintah!"
Ramailah empat orang itu berebutan, merasa bahwa masing-masing lebih pan¬tas memiliki wanita itu.
"Sudahlah, siapa tahu ia menginginkan menjadi seorang di antara dayang Kaisar? Kabarnya tempat ini kelak akan penuh dengan dayang dan selir Kaisar."
"Ssssst, lihat. Ia membawa pedang! jangan-jangan ia seorang wanita kang-ouw!"
"Ah, mana mungkin? Lihat, kulitnya begitu mulus, halus dan pinggangnya ramping. Ia wanita seratus prosen, lemah gemulai. Pedang itu tentu hanya untuk menakut-nakuti saja, ha-ha-ha!"
"Bunga yang indah biasanya tidak harum baunya!" "Siapa bilang! Bunga mawar itu indah dan harum. Coba
kudekati, baunya harum atau tidak!"
Wajah Giok Cu semakin merah dan ia tentu akan mengajak Han Beng pergi dari situ karena takut kalau tidak tahan lagi, akan tetapi pada saat itu, pemuda bermuka bopeng karena penyakit cacar yang bicara paling akhir tadi sudah melangkah dan mendekatinya, mendekatkan muka dan hidungnya kembang kempis mencium-cium. Jarak antara muka itu dengan pundaknya hanya dua jengkal saja. Begitu beraninya pemuda itu!
"Aduh, harum ........., harum !" pemuda itu berseru
dan tiga orang kawannya tertawa dan memuji "keberanian" kawam mereka yang muka bopeng dan agaknya menjadi pemimpin mereka itu.
"Wuuuttt .............. plakkk! Aduuuuuh. !” Tubuh pemuda muka bopeng itu terpelanting dan mulutnya bocor mengucurkah darah karena empat buah giginya copot ketika tangan Giok Cu menamparnya tadi. Gadis itu tidak dapat menahan kemarahannya lagi. Masih untung bagi pemuda itu bahwa Giok Cu tidak menggunakan tenaga sakti. Kalau ia mempergunakan tenaga saktinya, bisa remuk tulang rahang pemuda itu, atau kalau ia menggunakan tenaga beracun, pemudi muka bopeng itu tentu tewas seketika! Kini, hanya giginya empat buah copol dan bibirnya pecah-pecah berdarah. Dia melompat bangun dan menjadi marah bukan main.
"Perempuan rendah, berani engkau memukulku?" bentaknya dan dia pun menyerang dengan tubrukan seperti seekor biruang menubruk domba, dan tiga orang kawannya juga berebut maju untuk menangkap gadis yang sejak tadi telah membuat mereka tergila-gila. Mereka berempat masih lebih terpengaruh keinginan untuk merangkul gadis itu daripada untuk memukul.
Giok Cu menggerakkan kaki tangannya. Terdengar empat orang pemuda itu mengaduh. Pertama adalah Si Muka Bopeng yang menyerang lebih dulu, menerima tendangan pada perutnya.
"Ngekkk! Aughhhhh !" Dia muntah-muntah dan
memegangi perutnya, tidak
dapat bangkit kembali, hanya berjongkok sambil muntah dan mengaduh karena perutnya seketika mulas. Agaknya usus buntunya kena tertendang ujung sepatu Giok Cu, nyeri bukan main, seperti ditusuk-tusuk jarum rasa perutnya.
Orang ke dua dari kiri disambut sambaran tangan kiri yang mengenai dadanya. "Plakkk! Hukkk. !" Pemuda itu pun
terpelanting, dan tidak mampu bangkit, hanya duduk terbatuk- batuk seperti mendadak sakit asmanya kambuh terengah- engah terasa sesak dan nyeri dalam dada. Orang ke tiga dari kanan juga disambar tangan kanan mengenai lehernya dan dia pun terpelanting, lalu bergulingan dengan leher bengkok karena lehernya terasa nyeri seperti patah tulangnya. Bahkan suaranya mengaduh tidak jelas lagi!