Liu Bhok Ki tertawa. "Ha-ha-ha, aku sampai lupa, Han Beng, atau memang belum sempat bicara tentang dirinya. Gadis ini adalah Kwa Bi Lan dan ia Sumoimu (Adik Seperguruanmu), Han Beng Lalu dia berkata kepada Bi Lan, "Bi Lan inilah Si Han Beng, muridku dan Suhengmu seperti yang pernah kuceritakan kepadamu."
"Suheng !" kata Bi Lan lirih dengan muka
kemerahan sambil mengangkat kedua tangan di depan dada sebagai penghormatan.
"Sumoi!" kata Han Beng dengan girang, lalu membalas penghormatan itu lantas berkata kepada suhunya. "Ah, kiranya Suhu mempunyai seorang murid baru? Teecu merasa girang sekali!"
"Hanya kebetulan saja aku bertemu dengan Bi Lan ketika dia dikeroyok banyak penjahat. Aku membantunya dan ia pun menjadi muridku. Ketahuilah, Han Beng, bahwa Sumoimu ini hidup sebatangkara dan ia tadinya dalam perjalanan mencari Pamannya, yaitu Lie Koan Tek. Engkau pernah mendengar nama itu, bukan?"
"Tentu saja! Bukankah dia itu pendekar Siauw-lim-pai yang terkenal gagah perkasa itu, Suhu? Ah, Sumoi, kiranya engkau keponakan pendekar terkenal itu? Mari perkenalkan, Sumoi. Ini adalah Bu Giok Cu, seorang sahabatku sejak kecil, dan ia adalah murid Hek Bin Hwesio.”
Bi Lan kagum mendengar ini. "Enci Giok Cu, sungguh mengagumkan sekali bahwa engkau adalah murid dari Lo- cian-pwe Hek Bin Hwcsio. Dia adalah Paman Guru dari para pimpinan Siauw-lim-pai dan masih terhitung Susiok couw (Paman Kakek Guru) dariku. Kalau begitu, engkau masih terhitung Bibi Guruku sendiri!"
Giok Cu tersenyum dan muncul kelincahan dan keramahannya, la merangkul Bi Lan. "Ihhh, Adik Bi Lan. Engkau hanya satu dua tahun lebih muda dariku kukira, maka tidak sepantasnya kalau aku menjadi Bibi Gurumu. Biarlah kita menjadi enci adik saja. Engkau sebatangkara, bukan? Sama dengan aku, maka kita seperti enci adik. Dan sebagai Suheng dari Han Beng, engkau tentu lihai bukan main dan aku sama sekali tidak patut menjadi Bibi Gurumu."
Bi Lan yang pendiam menjadi gembira sekali bertemu dengan Giok Cu yang ramah dan lincah, dan keduanya sudah akrab sekali. Melihat ini, Liu Bhok Ki tersenyum. "Giok Cu, engkau masuklah ke dalam dan bantulah Bi Lan di dapur. Aku ingin bercakap-cakap dengan Han Beng dan mendengarkan segala pengalamannya semenjak kami saling berpisah."
Giok Cu juga tidak malu-malu lagi dan kedua orang gadis itu bergandeng tangan masuk ke dalam rumah. Liu Bhok Ki mengajak Han Beng untuk bercakap-cakap di ruangan luar dan dia pun minta kepada pemuda itu untuk menceritakan semua pengalamannya.
Dengan singkat Han Beng menceritakan semua pengalamannya semenjak dia neninggalkan suhunya, menjadi murid Sin-ciang Kai-ong, kemudian menjadi nurid Pek I Tojin dan betapa dia kemudian dikenal sebagai Huang-ho Sin-long (Naga Sakti Sungai Kuning). Tentu saja Liu Bhok Ki merasa gembira dan kagum bukan main, terutama mendengar bahwa muridnya itu telah menjadi murid Pek I Tojin yang sakti! Juga gembira mendengar betapa muridnya telah membantu pemerintah membasmi gerombolan penjahat yang mengadu domba antara para hwesio dan para tosu. Ketika Han Beng menceritakan bahwa dia mengangkat saudara dengan Coa Siang Lee Liu Bhok Ki gembira bukan main. "Bagus, bagus, Han Beng. Berita yang paling membahagiakan hatiku. Engkau akan menebus, walaupun sedikit dosaku terhadap Ayah Coa Siang Lee dan Bibi Sim Lan Ci. Ah, aku girang sekali. Dan pesanku kepadamu, Han Beng, kelak jangan engkau melupakan anak mereka yang bernama Thian Ki itu. Dialah yang telah menyadarkan aku dari cengkeraman dendam! Kelak kau wakililah untuk mendidiknya, Han Beng, menjadikan dia seorang pendekar yang budiman.
Han Beng menarik napas panjang. "Suhu Kakak Coa Siang Lee dan isterinya sudah bersumpah dan mengambil keputusan bahwa mereka tidak akan memberi pelajaran ilmu silat kepada Thian Ki. Mereka telah mengalami betapa pahitnya kehidupan para ahli silat yang selalu dimusuhi orang. Mereka hendak menjadikan Thian Ki seorang biasa saja agar tidak memiliki banyak musuh kelak dan dapat hidup tenteram dan berbahagia, tidak seperti ayah ibunya."
Liu Bhok Ki juga menarik napas panjang. "Hemmm, itu adalah perkiraan mereka. Apakah kalau orang tidak dapat membela diri lalu tidak ada yang datang mengganggu? Bahkan yang lemah akan selalu ditindas oleh yang kuat. Akan tetapi, tentu saja tidak baik menentang kehendak mereka. Mereka yang berhak menentukan bagaimana harus mendidik putera mereka. Akan tetapi, jangan lupakan keponakanmu itu dan andaikata engkau kelak tidak diperbolehan menjadi gurunya, engkau amatilah ia untuk membalas budi anak itu kepadaku, Han Beng."
Hati pemuda itu merasa terharu. Memang, gurunya ini baru sadar setelah melihat Thian Ki yang berlutut di depannya. Seolah-olah anak itu yang menyadarkannya. Padahal, yang menyadarkan manusia hanya Tuhan, dan kekuasaan Tuhan dapat menyusup kemanapun juga, dapat pula menyusup ke dalam diri Thian Ki yang dipergunakan oleh Tuhan untuk menyadarkan Liu Bhok Ki dari mabuk dendam.
"Teecu berjanji akan mentaati pesan Suhu." Wajah pendekar tua itu berseri karena dia merasa yakin bahwa muridnya ini kelak akan memegang janjinya. Kemudian dengan hati-hati dia bertanya. "Han Beng, sejauh manakah hubunganmu dengan Giok Cu?"
Terkejut hati Han Beng mendengar pertanyaan itu. Dia memandang wajah gurunya dengan penuh selidik, akan tetapi segera menjawab karena melihati sikap gurunya itu bersungguh-sungguh. "Suhu, apakah yang Suhu maksudkan? Sejak kecil teecu telah berkenalan dan menjadi sahabat Giok Cu, bahkan keluarga kami menjadi sahabat, senasib sependeritaan karena melarikan diri mengungsi dari jangkauan tangan para petugas yang memaksa orang menjadi pekerja paksa. Tentu saja kami bersahabat baik, Suhu."
"Yang kumaksudkan, sampai sejauh manakah keakrabanmu dengan Giok Cu?" Wajah Han Beng menjadi kemerahan.
Teecu tetap tidak mengerti, Suhu. Hubungan kami wajar saja, sebagai dua orang sahabat yang sama-sama kehilangan orang tua dalam perjalanan bersama. Bahkan sama-sama bergulat dengan ular, eh, anak naga itu, lalu bersama pula menjadi rebutan orang-orang kang-ouw. Anehkah kalau kami menjadi sahabat amat akrab, Suhu?"
Pendekar tua itu mengangguk-angguk. Muridnya ini berwatak polos dan jujur, dan biarpun usianya sudah cukup dewasa, sudah dua puluh empat tahun, namun agaknya masih hijau dalam urusan pergaulan dengan wanita sehingga tidak dapat menangkap maksud pertanyaannya tadi. Dia tidak mau mendesak, tidak ingin menyinggung perasaan muridnya dan mengotori perasaan murni antara dua orang sahabat itu.
"Sekarang akan kutanyakan hal lain, Han Beng. Apakah selama ini engkau telah menemukan calon jodohmu? Apakah engkau sudah menjatuhkan hatimu kepada seorang gadis yang kaupilih sebagai calon isterimu?" Ditanya demikian, Han Beng terbelalak, tersipu dan menjadi bingung. "Teecu .......... teecu ............ tidak mengerti
eh, maksud teecu, teecu belum berpikir sama sekali tentang perjodohan, Suhu."
"Jadi belum ada pilihan?" Suhunya mendesak dan terpaksa Han Beng men geleng kepala walaupun di dasar hatinya dia tahu benar bahwa hatinya telah memilih seorang gadis, bahwa dia mencinta seorang gadis. Dahulu, pernah dia merasa tertarik kepada Souw Hui Im, akan tetapi setelah mendengar Hui Im telah bertunangan dengan pemuda lain, dia pun “mundur teratur" dan mengalah, meninggalkan Hui Im bersama tunangannya walaupun dia maklum pula bahwa Hui Im mencintanya. Kemudian dia bertemu dengan Giok Cu seketika dia jatuh cinta. Akan tetapi, bagaimana dia berani menyatakan rasa hatinya ini kepada suhunya? Giok Cu sendiri belum tahu akan rahasia hatinya itu. Maka, mendengar desakan itu, dia pun menggeleng tanpa menjawab.
"Bagus sekali! Aduh, betapa lega dan senangnya rasa hatiku mendengar bahwa engkau belum mempunyai pilihan, muridku. Dengar baik-baik, Han Beng. Engkau tahu betapa aku sayang sekali kepadamu, dan bahwa engkau selain sebagai muridku, juga kuanggap sebagai anakku sendiri karena engkau sudah tidak mempunyai orang tua atau sanak keluarga."
Han Beng merasa terharu. "Terima kasih banyak atas segala budi kebaikan Suhu," katanya.
"Karena itulah, Han Beng, aku amat memperhatikan keadaan dirimu. Engkau kini sudah berusia dua puluh empat tahun. Dan sebagai guru, juga pengganti orang tuamu, aku ingin sekali melihat engkau hidup berbahagia, berumah tangga dengan baik, memiliki seorang isteri yang pilihan dan mempunyai anak-anak yang sehat. Dan Thian agaknya menaruh kasihan kepadaku, maka Dia mengirimkan eorang calon mantu itu kepadaku. Han Beng, aku ingin agar engkau suka berjodoh dengan Kwa Bi Lan, Sumoimu tadi. Bagaimana pendapatmu, Han Beng? Bukankah ia seorang gadis yang memenuhi syarat sebagai seorang isteri yang baik, la cukup cantik, bakatnya dalam ilmu silat baik sekali, murid Siauw-lim- pai dan selama ia hidup di sini aku melihat bahwa ia seorang anak yang rajin dari pandai, mengatur rumah tangga, juga wataknya pendiam dan sopan berbudi bahasa baik."
Han Beng terpukau dan berdiam diri, tak bergerak seperti telah berubah menjadi patung. Dia terkejut bukan main, lebih kaget daripada kalau diserang dengan pedang secara tiba- tiba. Dia tidak mampu menjawab, bahkan tidak mampu berpikir karena pikirannya sudah berputar putar tidak karuan, mengikuti gerak jantungnya yang berdebar karena terguncang oleh kata-kata suhunya tadi.
Liu Bhok Ki dapat memaklumi keadaan muridnya dan dia tertawa. "Ha-ha-ha, jangan engkau tertegun seperti itu, Han Beng. Engkau seorang laki-laki, apa anehnya kalau tiba saatnya engkau harus beristeri? Pikirlah baik-baik. Kala engkau sudah beristeri, dengan seorang isteri sebaik Bi Lan, hidupmu akan tenteram. Berumah tangga, berkeluarga, dan engkau bekerja untuk menghidupi keluargamu. Tidak menjadi seorang pengelana yang tidak menentu hidupnya, tidak menentu pekerjaan dan tempat tinggalnya. Dan aku sudah tua, muridku. Aku ingin pula mondok di rumah tanggamu, mengasuh Cucu-cucuku kelak, ha-ba-ha!"
Han Beng merasa tersudut. Apa yang harus dia katakan? Dia tahu bahwa gurunya ini memiliki watak yang jujur akan tetapi keras bukan main. Kalau dia begitu saja menjawab bahwa dia tidak setuju dan menolak usul gurunya, tentu dia akan menyakiti hati gurunya yang dihormati dan disayangnya itu. Akan tetapi dia pun tentu saja tidak mungkin dapat menerima ikatan jodoh semudah itu! Dia belum mengenal Bi Lan, belum tahu akan watak atau isi hati gadis itu. Dia dan Bi Lan bukanlah dua ekor ayam atau anjing atau sapi yang dapat dikawinkan begitu saja. Bagaimana mungkin dia dapat hidup di samping seorang wanita selama hidupnya, kalau dia tidak mencinta wanita itu dan sebaliknya wanita itu tidak mencintanya? Dan di sana masih ada Giok Cu? Bagaimana mungkin dia meninggalkan Giok Cu dan menikah denngan gadis lain? Dia harus lebih dulu mengetahui isi hati Giok Cu, dan mengetahui pula isi hati Bi Lan. Bahkan yang terpenting adalah isi hati Giok Cu, karena bagaimanapun perasaan Bi Lan terhadap dirinya, tidak begitu penting baginya. Dia tidak mencinta Bi Lan bahkan berkenalan pun baru saja. Yan penting, kalau memang Giok Cu mencintanya, tidak mungkin dia menikah dengan Bi Lan atau gadis lain mana pun Kecuali kalau Giok Cu tidak mencintainya, mungkin baru dia dapat memenuhi permintaan gurunya, semata-mata demi membalas budi kebaikan gurunya itu.
"Hei, Han Beng, kenapa engkau dian saja? Jawablah!"
Seruan Liu Bhok Ki ini menyadarkan Han Beng dan dengan gagap dia menjawab, Bagaimana teecu harus menjawab Suhu? Urusan ini terlalu tiba-tiba dan teecu sendiri
bingung. Teecu membutuhkan waktu untuk memikirkan usul Suhu ini."
Pendekar tua itu mengangguk dan tersenyum. "Baiklah, engkau memang terlalu berhati-hati. Kuberi waktu padamu. Berapa lama engkau hendak memikirkan persoalan ini dan memberi jawaban pasti kepadaku?"
Han Beng yang lebih dulu ingin menyelami perasaan hati Giok Cu terhadap di rinya, lalu berkata, "Suhu, teecu sudah berjanji kepada Giok Cu untuk menghadap Suhu dan bertanya tentang kematian orang tuanya. Kemudian dari sini, kami akan mendatangi Ban-tok Mo-li untuk menuntut pertanggungan jawab dari wanita iblis itu. Nah, setelah teecu menemaninya bertemu dengan Ban-tok Mo-li, barulah teecu akan kembali ke sini dan memberi jawaban yang pasti kepada suhu." Liu Bhok Ki adalah seorang pendekar besar. Dia menghargai kehormatan lebih besar daripada nyawa. Kalau dia sudah mengeluarkan janji, sampai matipun harus dia hadapi untuk memenuhi janji itu. Maka, mendengar bahwa muridnya sudah berjanji kepada Giok Cu untuk menemaninya menghadap Ban-tok Mo-li dia pun mengangguk-angguk, dan tidak mau dia melarang. Apalagi dia tahu bahwa gadis bernama Giok Cu adalah seorang teman sejak kecil dari Han Beng maka sudah sewajarnya kalau Han Beng membantunya mencari pembunuh ayah ibu gadis itu.
"Baiklah, Han Beng. Engkau boleh menemani Giok Cu menemui Ban-tok Mo-li sambil berpikir-pikir tentang keinginanku menjodohkan engkau dengar Bi Lan. Setelah selesai urusan dengan Ban-tok Mo-li itu, engkau segera kembalilah kesini dan kita membuat persiapan untuk perayaan pernikahanmu."
Han Beng mengangkat muka memandang kepada gurunya. "Akan tetapi, Suhu. Bagaimana mungkin Suhu sudah dapat demikian memastikan? Padahal, baru saja teecu bertemu dengan Sumoi. Belun tentu Sumoi okan menyetujui ikatan itu!”