Halo!

Naga Sakti Sungai Kuning Chapter 123

Memuat...

Liu Bhok Ki semakin terkejut. "Aku meracuni mereka? Gilakah sudah Subomu itu? Siapa gurumu itu yang bermulut demikian lancang melempar fitnah kepadaku?"

"Subo adalah Ban-tok Mo-li " "Ahhhhh! Pantas kalau begitu! Iblis betina ahli racun itu yang mengatakannya? Ha-ha-ha, Nona. Kalau ada orang yang dapat membunuh orang lain dengan racun tanpa diketahui, orang itu adalah Ban-tok Mo-li! Jelas bahwa Ban-tok Mo-li itulah yang telah meracuni orang tuamumu, bukan aku!"

“Akan tetapi, ia adalah guru saya. Bagaimana mungkin ia yang sudah mengambil saya sebagai murid, membunuh orang tua saya?" Giok Cu membantah.

Tiba-tiba Liu Bhok Ki tertawa. "Hal ha-ha! Alangkah lucunya, akan tetapi juga amat penasaran! Nona, engkau mengaku sebagai murid Ban-tok Mo-li akan tetapi agaknya engkau belum mengenal siapa adanya gurumu itu! Ia seorang tokoh sesat yang amat jahat, seorang wanita iblis yang tidak segan melakukan kejahatan dalam bentuk apa pun juga. Dan engkau agaknya lebih percaya kepada Ban-tok Mo-li daripada kepadaku, bahkan menduga bahwa aku yang telah membunuh orang tuamu? Heiii, Hai Beng, apa alasanmu engkau mengajak murid Ban-tok Mo-li ini datang ke sini?”

Han Beng yang sejak tadi memang diam saja dan masih berlutut, kini bangkit berdiri. "Suhu, teecu sudah mencoba untuk meyakinkan hati Giok Cu bahwa Suhu sama sekali tidak membunuh orang tuanya, dan teecu juga sudah menduga bahwa yang membunuh mereka adalah Ban-tok Mo-li sendiri. Akan tetapi Giok Cu masih belum puas. Untuk meyakinkan hatinya, maka ia ingin mendengar sendiri keterangan dari Suhu. Karena itulah maka ia datang bersama teecu menghadap Suhu."

"Akan tetapi, ia menjadi murid Ban-tok Mo-Ii, bagaimana dapat dipercaya? Ban-Tok Mo-li amat jahat, dan orang yang menjadi muridnya. "

"Akan tetapi, Suhu! Giok Cu akhir-akhir ini telah menjadi murid Hek-bin Hwesio selama lima tahun!" Han Beng membela.

Sepasang mata Liu Bhok Ki kembali terbelalak ketika ia mendengar ucapan muridnya itu dan dia memandang gadis itu dengan sinar mata penuh kagum. Kalau gadis ini sudah menjadi murid hwesio yang sakti itu, maka lain persoalannya!

"Ah, kiranya begitu? Nona, kalau begitu, tentu engkau sudah cukup dewasa dan bijaksana untuk menilai dan menduga siapa sebenarnya pembunuh Ayah Ibumu. Apakah engkau masih meragukan aku dan masih ada sangkaan bahwa aku yang telah membunuh Ayah Ibumu yang tidak kukenal, kubunuh begitu saja tanpa alasan sama sekali? Andaikata aku mempunyai kepentingan harus membunuh Ibumu pun, aku tidak akan mempergunaka racun, Nona. Kiranya pukulanku masih cukup ampuh untuk membunuh orang kalau hal itu kukehendaki." Giok Cu menarik napas panjang. "Maafkan saya, Lo-cian- pwe. Tentu Lo-cian pwe dapat mempertimbangkan bagaimana perasaan saya yang melihat Ayah Ibu tewas di depan mata saya karena di bunuh dan diracuni orang. Setelah mendengar keterangan dan pendapat Han Beng memang saya mulai menyangsikan pemberitahuan Subo Ban-tok Mo-li yang dahulu tentu saja saya percaya sepenuhnya. Sejak kecil, saya mengandung dendam yang mendalam terhadap Lo-cian-pwe yang saya anggap sebagai pembunuh orang tua saya. Akan tetapi, saya merasa belum puas kalau tidak bertemu sendiri dengan Lo-cian-pwe."

"Hemmm, aku dapat mengerti, Nona. Dan bagaimana pendapatmu sekarang! Apakah engkau masih juga belum yakin bahwa aku bukan pembunuh orang tuamu?"

Giok Cu agak tersipu, akan tetapi ia memang seorang gadis yang tabah dan memiliki watak yang lincah maka ia pun tersenyum. "Sekarang saya baru yakin bahwa bukan Lo-cian- pwe yang membunuh Ayah Ibuku. Dari sini saya akan menemui Subo Ban-tok Mo-li dan akan menuntut agar ia berterus terang tentang kematian Ayah dan Ibu saya."

Liu Bhok Ki tertawa, hatinya merasa lega sekali. "Tidak ada orang lain yang membunuh orang tuamu dengan racun yang jahat, Nona "

"Lo-cian-pwe, harap jangan membuat saya merasa sungkan dengan sebutan nona. Lo-cian-pwe adalah guru Han Beng ia, sudah menjadi sahabat baik saya sejak kami masih kecil, maka harap Lo-cian-pwe menyebut nama saya saja tanpa nona. Nama saya Bu Giok Cu."

Sepasang mata Liu Bhok Ki berseru dan dia mulai suka kepada gadis yang Sikapnya lincah dan terbuka ini. "Baiklah Giok Cu. Aku bukan orang yang suka melempar fitnah dan menuduh yang bukan-bukan. Akan tetapi, agaknya engkau belum mengenal benar watak dari Ban-tok Mo li walaupun wanita itu per nah menjadi gurumu. Aku percaya bahwa Ban- tok Mo-li sajalah yang akan dapat melakukan kekejaman seperti itu, membunuh orang tuamu yang sama sekal tidak dikenalnya dan tidak bersalah apapun. Dan kurasa ia membunuh mereka bukan tanpa alasan, la melihat bahwa engkau telah menghisap darah anak naga, maka ia ingin mengambilmu sebagai murid. Dan agaknya ia ingin memutuskan seluruh ikatanmu dengan keluargamu, dan untuk itu, ia tidak segan membunuh orang tuamu sehingga engkau menjadi sebatangkara dan tentu saja amat tergantung kepadanya."

Giok Cu mengangguk-angguk. "Agaknya pendapat Lo-cian- pwe itu memang benar. Dan terus terang saja, sekarang Ini hubungan antara kami sudah putus sebagai guru dan murid, bahkan ia menganggap saya sebagai musuh. Hampir saja beberapa tahun yang lalu saya sudah mati di tangannya kalau saja tidak muncul Suhu Hek-bin Hwesio yang menyelamatkan saya dan kemudian mengambil saya sebagai murid."

"Bagus sekali kalau begitu, Giok Cu. Ketahuilah bahwa orang yang dibenci dan dimusuhi Ban-tok Mo-li adalah orang yang baik. Dan aku percaya bahwa engkau seorang gadis yang baik, apalagi engkau telah menjadi murid Hek-bin Hwesio."

Pada saat itu, muncullah Kwa Bi Lan dari dapur. Han Beng memandang dengan heran. Tak disangkanya bahwa di tempat tinggal suhunya terdapat seorang gadis yang tidak dikenalnya. Seorang gadis yang cantik manis, dengan wajah bulat dan kulit putih mulus, sepasang matanya tajam berwibawa dan hidungnya mancung. Namun, gadis itu nampak kaget melihat bahwa di situ terdapat dua orang tamu, seorang pemuda dan seorang gadis yang tidak dikenalnya dan ia pun hanya berdiri dengan muka ditundukkan dan tidak mengeluarkan kata apa pun, bahkan kelihatan canggung dan ragu. "Suhu, siapakah Nona ini?" Han Beng yang bertanya kepada gurunya.

Post a Comment