Halo!

Naga Sakti Sungai Kuning Chapter 121

Memuat...

"Paman memberi dua alamatnya kepada kami, yaitu di kuil Siauw-lim-dan di kota raja. Karena kota raja lebih dekat, maka saya hendak menyusul dan mencarinya di sana, Lo-cian-pwe."

Liu Bhok Ki mengelus jenggotnya merasa iba kepada gadis ini. Bi Lan telah memiliki ilmu silat Siau lim-pai yang cukup tangguh namun kepandaian itu masih belum cukup untuk bekal seorang gadis muda yang cantik melakukan perjalanan seorang diri.

"Kota raja itu ramai dan luas, Bi Lan. Tahukah engkau di mana rumah tinggal Lie Koan Tek?"

Bi Lan menarik napas panjang. "Paman Lie Koan Tek tidak pernah memberitahu dengan jelas di mana letaknya hanya di kota raja saja. Saya akan mencari keterangan di sana."

"Aih, sungguh berbahaya sekali, Bi Lan. Perjalanan ke kota raja cukup jauh dan melalui daerah-daerah rawan, banyak sekali orang jahat di dunia ini engkau tentu akan menemui banyak halangan. Biarpun aku tahu bahwa engkau telah menguasai ilmu silat cukup baik, namun kiranya masih belum cukup untuk melindungi dirimu dari gangguan para tokoh sesat di dunia kang-ouw."

"Bagaimanapun juga, saya harus berani menghadapi bahaya itu, Lo-cian-pwe. Saya tidak mungkin hidup sebatangkara saja di dunia ini. Saya masih mempunyai seorang paman, maka saya akan menumpang hidup pada Paman Lie Koan Tek."

"Memang benar pendapatmu itu. Akan tetapi setelah engkau bertemu denganku, bagaimana mungkin aku membiarkan engkau pergi menempuh bahaya seperti itu? Bi Lan, terus terang saja, aku merasa kasihan kepadamu dan kalau engkau suka, biarlah engkau tinggal beberapa lama di sini. Aku akan mengajarkan beberapa ilmu silat kepadamu agar engkau lebih kuat dan lebih mampu membelamu di dalam perjalananmu mencari Pamanmu. Bagaimana pendapatmu?"

Mendengar ucapan penolongnya itu, Bi Lan menjadi girang sekali dan segera ia menjatuhkan diri berlutut di depan pendekar tua itu. "Sungguh berlimpahan Suhu, menumpuk budi kebaikan terhadap diri teecu, semoga Tuhan yang akan membalasnya. Teecu mentaati perintah Suhu Liu Bhok Ki tersenyum, hatinya merasa lega sekali dan diapun memegang kedua pundak gadis itu dan menyuruhnya bangkit dan duduk kembali di atas pembaringannya.

"Cukup, Bi Lan. Aku hanya ingin melengkapi kepandaianmu, akan tetapi kalau engkau suka mengakui aku sebagai gurumu, aku pun merasa gembira sekali. Ketahuilah bahwa selama hidupku, hanya mempunyai seorang saja murid dan kini kepandaiannya sudah jauh melampaui kepandaianku sendiri. Dan kau adalah murid ke dua, padahal engkau sudah menguasai banyak ilmu silat Siau lim-si dan aku hanya akan menambahi beberapa jurus saja untuk memperkuat dirimu dan sebagai bekal."

Demikianlah, mulai hari itu Bi Lan menjadi murid Sin-tiauw Liu Bhok Ki d setelah tubuhnya sehat kembali, mulailah ia merima gemblengan kakek perkasa itu yang mengajarkan jurus-jurus pilihan dari Hui-tiauw Sin-kun (Silat sakti Rajawali Terbang) dan juga dia pemberi petunjuk tentang ilmu siang- kiam pedang pasangan) kepada gadis itu sehingga dalam waktu tiga bulan saja, Bi Lan telah memperoleh kemajuan pesat. Gadis yatim piatu itu pun tahu diri. lama tinggal di pondok gurunya sebagai murid, ia bukan hanya mengantungkan diri sendiri dengan mempelajari ilmu ilat saja. la rajin bekerja membersihkan pondok, mencuci pakaian, memasak dan menyediakan semua keperluan suhunya dengan penuh perhatian. Biarpun ia seorang gadis yang pendiam, namun ia selalu bersikap ramah, lembut dan penuh hormat kepada gurunya sehingga kakek perkasa itu merasa semakin sayang kepadanya.

Pada suatu hari, pagi-pagi sekali Bi Lan sudah memasak air dan membuatkan air teh panas untuk gurunya, kemudian ia menyapu pekarangan dan membawa pakaian kotor ke sumber air untuk mencucinya. Gurunya baru saja bangun dan kini gurunya sedang berlatih silat untuk melemaskan otot-otot. Setiap pagi, untuk setengah jam lamanya, Sin tiauw Liu Bhok Ki selalu bersilat untuk menjaga kesehatan dan kesegaran tubuhnya.

Liu Bhok Ki merasa segar dan gembira hatinya pagi itu. Semenjak Bi Lan berada di situ sebagai muridnya, Bhok Ki merasa seolah-olah kehidupan menjadi lebih menyenangkan. Kalau dahulu kadang-kadang dia merasa kesepian sekali, merasa betapa hidupnya sudah tidak ada guna dan manfaatnya lagi baik bagi diri sendiri apalagi bagi orang lain, merasa tidak dibutuhkan manusia lain, kini dia merasa sebaliknya. Bi Lan membutuhkan bimbingannya! Dan dia merasa berguna, juga tidak lagi merasa kesepian. Kalau saja Bi Lan itu puterinya! Dia menghentikan latihannya menyeka keringat dan duduk di atas batu di pekarangan depan rumahnya itu. Pekarangan itu sekarang nampak bersih. Daun- daun pohon kering tertumpuk sudut dan terbakar. Bunga- bunga tumbuh dengan segarnya. Memang tempat tinggalnya telah berubah sejak Bi Lan datang di situ. Pekarangan selalu bersih, bunga-bunga subur berkembang, dalam rumah juga bersih, semua pakaiannya tercuci bersih dan setiap hari pun ada saja sayur dimasak gadis itu dengan lezatnya. Kalau saja Bi Lan itu puterinya, pikirnya lagi. Akan tetapi, dia mengerutkan alisnya. Andaikata puterinyaa, setelah menikah pun akan meninggalkannya' Demikianlah hidup, pikirnya sambil menarik napas panjang. Tidak ada pertemuan tanpa perpisahan.

Memang demikianlah keadaan hidup ini. Kita selalu diombang-ambingkan senang dan susah. Senang kalau bertemu dan berkumpul, lalu susah kalau berpisah. Senang kalau mendapatkan, susah kalau kehilangan. Senang susah menjadi dua hal bertentangan yang silih berganti mencengkeram dan mempermainkan kita. Dan kita selalu menghendaki senang dan menolak susah. Bagaimana mungkin? Senang dan susah merupakan dua muka yang tak dapat disahkan, seperti dua permukaan dari satu mata uang yang sama. Kalau kita mengejar senang, tentu akan bertemu susah pula. Bahkan adanya senang karena ada susah dan sebaliknya. Kalau tidak ada senang, bagaimana tahu akan susah. Kalau tidak ada susah pun tidak mungkin mengenal senang. Seperti terang di gelap, seperti siang dan malam.

Biasanya, kalau ada kesadaran pada kita sehingga kita berusaha untuk mengatasi kesusahan, maka yang ingin kita atasi, yang ingin kita tiadakan atau h ilangkan, tentu hanya susah itu saja. sebaliknya, senang ingin tetap kita rangkap dan kita miliki! Padahal keadaan seperti ini tidak mungkin. Keinginan ini pun timbul karena ingin senang, dengan cara ingin terlepas dari susah. Jadi yang masih sama saja! Bahkan susah itu sudah membuat ancang-ancang hendak menerka begitu kita menginginkan senang!

Susah dan senang bukan suatu keadaan, melainkan buatan hati dan pikir belaka. Merupakan kerjasama antara hati dan akal pikiran. Pikiran yang bergelimang nafsu yang timbul dari dayanya rendah selalu ingin mengulang segala pengalaman yang mengenakkan dan Menghindari segala pengalaman yang tidak enak. Kalau bertemu pengalaman yang mengenakkan, yang menguntungkan, maka hati pun senanglah. Kalau pikiran bertemu peristiwa yang dianggap tidak kuak dan merugikan, maka hati pun susah.

Enak atau tidak enak ini timbul dari an daya-daya rendah. Suatu pengalaman yang mengenakkan selalu dikejar oleh pikiran, ingin diulang sampai menjadi suatu kebiasaan. Segala yang menyerangkan ingin dijadikan miliknya. Dari kemilikan ini, makin besarlah rasanya.si aku, makin berarti. Kemilikan ini yang memupuk dan membesarkan aku. Karena itu, kalau terpisah dari yang dimilikinya, yang mengenakkan dan menyenangkan atau menguntungkan, hati terasa sakit.

Peristiwa yang terjadi di dunia ini tidaklah baik ataupun buruk. Baik buruknya hanya merupakan pendapat saja dari hati dan pikiran yang disesuaikan dengan kebutuhannya. Suatu peristiwa yang saja dapat saja mendatangkan penilaian yang saling bertentangan bagi satu orang karena tergantung dari keadaan hati dan pikirannya. Seseorang menjadi sahabat baik kita karena kita menganggap dia mengenakkan hati, menguntungkan atau menyenangkan. Kalau dia pergi atau merasa susah, merasa kehilangan kita selalu ingin agar dia dekat dengan kita. Akan tetapi, suatu ketika dia melakukan sesuatu yang merugikan kita tidak mengenakkan hati kita, dan diapun menjadi tidak menyenangkan! Kalau pergi kita merasa senang! Padahal, sebel itu kalau dia pergi kita merasa susah! Jelah bahwa senang dan susah adalah keada hati yang timbul dari pertimbangan pikir yang selalumengejar enak dan menghindarkan yang tidak enak. Semua itu wajar. Hidup memang sudah disertai daya-daya rendah yang menjadi alat untuk mempertahankan hidup. Kalau daya-daya rendah itu tetap berfungsi menjadi alat, maka hidup pun baiklah. Yang gawat adalah kalau daya-daya rendah demikian kuatnya sehingga menjadi penguasa dan memperalat kita. Hidup kita seolah-olah hanya untuk mengejar pemuasan nafsu belaka. Pengejaran pemuasan nafsu Inilah yang menimbulkan perbuatan-perbuatan yang menimpang dari kebenaran. Bukan lagi hawa nafsu yang menjadi kuda dan kendalinya dan di tangan kita, melainkan kita yang menjadi kuda, dikendalikan nafsu!

Banyak daya upaya manusia untuk mengembalikan fungsi nafsu daya-daya rendah ini di tempatnya semula, yaitu sebagai hamba, sebagai alat dan daya upaya ini dilakukan melalui bermacam-macam agama, melalui ancaman hukuman dan harapan-harapan. Bahkan ada yang sengaja menjauhkan diri dari keramaian dunia, bertapa di tempat-tempat sunyi agar daya-daya rendah tidak mendapatkan sasaran, agar nafsu- nafsu dalam diri tidak dapat hidup subur karena tidak adanya pupuk. Ada pula usaha melalui nasihat-nasihat, petuah. Namun, betapa sedikitnya hasil yang diperoleh dari semua usaha itu. Nafsu tetap merajalela di antara manusia. Manusia pada umum masih saja diperbudak nafsu daya-daya rendah sehingga perbuatan-perbuat sesat, jahat dan menyeleweng daripada kebenaran terjadi di seluruh dunia.

Selama usaha untuk menalukkan nafsu ini timbul dari hati dan akal pikiran maka selalu akan gagal. Karena hati dan akal pikiran sudah bergelimang dengan daya-daya rendah, sehingga apa pun yang dilakukan hati dan akal pikiran, selama berpamrih pula. Hati dan akal pikiran sudah mengerti bahwa perbuatan yang dilakukan itu tidak benar, namun hanya dan akal pikiran sendiri tidak berada karena memang sudah diperhamba oleh nafsu, sudah dipegang oleh nafsu semua kendalinya. Hanya Tuhan yang akan mampu mengubah segalanyal Tuhan Maha Pencipta Tuhan pula yang menciptakan semua yang berada dalam diri manusia, Tuhan pula yang menganugerahkan nafsu sebag alat untuk hidup. Maka kalau alat itu merajalela dan mengubah kedudukannya menjadi penguasa, hanya Tuhan yang menciptakannya saja yang akan dapat fnengubahnya. Oleh karena itu, satu-satunya usaha yang dapat ditempuh oleh kita hanyalah menyerah kepada Tuhan! Menyerah dengan pasrah, menyerah dengan Ikhlas, dengan sabar dan tawakal. Kita membiarkan pintu hati terbuka dan sekali cahaya Tuhan masuk, maka kekuasaan luhan yang akan membersihkan semua kekotoran dalam batin kita, kekuasaan Tuhan yang akan mengadakan perombakan, menaruh segalanya di tempatnya yang benar, dan mengadakan pembaharuan. Kalau sudah begitu, maka kekuasaan Tuhan yang akan memegang kendali dan memberi bimbingan.

Liu Bhok Ki duduk termenung, mengenangkan hidupnya yang penuh kepahitan. Semenjak kematian isterinya, tiga puluh tahun lebih yang lalu, sinar matahari kebahagiaan seolah-olah selalu bersembunyi, tertutup awan gelap baginya. Kemudian, setelah dia terbebas dari tekanan dendam, baru dia merasa lega dan bebas. Dan perjumpaannya dengan Bi Lan seolah-olah merupakan cahaya terang dan membuatnya merasa berbahagia sekali Ketika pikirannya membayangkan betapa gadis itu suatu ketika akan pergi ninggalkannya, untuk mencari pamannya alisnya berkerut dan dia cepat mengusir bayangan yang menyedihkan itu.

Tiba-tiba dia memandang ke depan dan alisnya berkerut kembali! Dia lihat dua sosok tubuh orang mendaki puncak bukit itu. Dari gerakan mereka tahulah dia bahwa dua orang yang mendaki puncak itu adalah orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi. Hatinya marasa tegang. Apakah dalam keadaannya yang sekarang ini pun datang gangguan? Siapa yang berani mendaki bukit ini kalau bukan mereka yang datang dengan niat buruk terhadap dirinya? Sudah lama dia meninggalkan dunia kang ouw sehingga boleh dibilang dia sudah putus hubungan dengan para tokoh persilatan, maka tidak masuk di akal kalau ada tokoh kang-ouw yang sengaja datar berkunjung dengan iktikad baik. Dia sudah siap siaga, akan tetapi tetap duduk dengan sikap tenang.

Bahkan ketika kedua orang itu sudah tiba di depannya, Liu Bhok Ki tidak mengangkat muka memandang, melainkan tetap menunduk, akan tetapi tentu saja dia mengikuti gerakan mereka itu pendengarannya.

"Suhu !"

Suara ini yang membuatnya cepat angkat muka. Seorang pemuda tinggi besar yang tampan dan gagah berdiri di depannya, bersama seorang gadis yang cantik jelita! Pemuda itu segera menjatuhkan diri berlutut di depannya dan kembali suaranya yang amat dikenalnya itu menggetarkan perasaan Liu Bhok Ki.

"Suhu !"

Wajah Liu Bhok Ki kini berseri, sinar matanya mencorong dan suaranya terdengar penuh kegembiraan ketika dia berseru, "Han Beng muridku !" Semenjak peristiwa

yang terjadi di rumah Coa Siang Lee dan Sim Lan Ci, yaitu pertemuannya yang terakhir kalinya dengan muridnya, dia merasa semakin kagum dan sayang kepada muridnya ini. Seorang murid yang berani menyerahkan nyawanya demi untuk menyadarkan hatinya yang ketika itu menjadi buta dan mabuk oleh dendam. Sejak itulah dia merasa betapa selama puluhan tahun hidupnya dipenuhi racun dendam, selama puluh tahun hatinya terhimpit oleh gunung dendam yang membuat hidup terasa seperti dalam neraka. Dan muridnya inilah yang menghapus racun itu, yang menyingkirkan gunung itu, yang membuat dia menjadi seorang manusia yang bebas. "Suhu sehat dan baik-baik saja, bukan?" Han Beng berkata lagi.

Post a Comment