"Ha-ha-ha, engkau baru tahu kelihaian Tambolon, Nona Lu. Bawa dia ke kamarku dan lempar Topeng Setan itu ke dalam kamar, jaga baik-baik dan belenggu dia jangan sampai terlepas. Akan tetapi perlakukan mereka itu, calon-calon pembantuku, baik-baik!"
Ceng Ceng mendongkol bukan main, dan juga terheran-heran. Tadi, ketika dia hendak mengamuk mati-matian mempertahankan diri dan melindungi Topeng Setan, tiba-tiba kedua kakinya ditotok orang sehingga dia terguling tanpa dapat dipertahankannya lagi,
Bahkan ketika dia roboh itu, pedang Ban-tok-kiam juga terlepas dari tangannya karena sikunya ditotok orang. Padahal tidak ada orang lain yang dekat dengannya kecuali Si Topeng Setan yang telah rebah pingsan di atas lantai! Apakah pembantunya itu yang menotoknya? Ah, agaknya tidak mungkin demikian. Ataukah Raja Tambolon sedemikian lihainya sehingga raja itu yang mengeluarkan ilmunya yang mujijat? Akhirnya dia berhenti memaki-maki dan memutar otaknya mencari akal ketika dia dibawa orang ke dalam sebuah kamar dan diikat di atas pembaringan, tidak dapat bergerak dan banyak perwira menjaga di dalam dan di luar kamar itu. Dia menanti apa yang akan terjadi terhadap dirinya sambil mengasah otak mencari akal, sambil diam-diam dia mengkhawatirkan nasib Topeng Setan.
Tek Hoat terpaksa mengawal Pangeran Liong Khi Ong yang tergesa-gesa menyelamatkan dirinya ke dalam kota Teng-bun yang dijadikan pusat dan markas besar pemberontak karena dia merasa tidak aman berada di luar benteng ini melihat betapa banyaknya terdapat mata-mata pemerintah. Dia khawatir kalau-kalau sampai dia tertangkap basah sebagai puncak pimpinan pemberontak mewakili kakaknya, Pangeran Liong Bin Ong yang masih berada di kota raja mendekati Kaisar. Tek Hoat diam-diam merasa mendongkol bukan main. Dia merasa heran mengapa segala hal yang dipegangnya selalu mengalami kegagalan! Mengapa di dalam waktu singkat ini dia telah bertemu dengan begitu banyak orang pandai yang agaknya pada saat itu semua berkumpul di utara, di tempat yang sedang geger ini. Yang membuat dia merasa mendongkol sekali adalah karena dia kembali telah kehilangan jejak Puteri Syanti Dewi!
Sambil mengawal Pangeran Liong memasuki benteng Teng-bun, dia mengenangkan puteri yang cantik dan halus lembut itu, dan ia teringat betapa halus sikap puteri itu terhadap dirinya ketika dia dahulu sengaja menghadang perjalanan rombongan puteri ini di dekat sungai, betapa halus puteri itu minta kepadanya agar dia pergi karena Sang Puteri hendak turun mandi di sungai! Teringat pula olehnya betapa Syanti Dewi juga bersikap halus sekali, jauh bedanya dengan sikap kasar Lu Ceng ketika dia menyamar sebagai tukang perahu dan "menolong"
Mereka dengan perahunya. Gara-gara kenakalan Ceng Ceng maka dia terpaksa berpisah dan kehilangan mereka! Bahkan hampir saja kitab-kitab dalam bungkusannya lenyap di dasar sungai karena di-buang oleh gadis galak itu.
Di kota Koan-bun, secara kebetulan sekali dia bertemu dengan Syanti Dewi! Mula-mula bahkan melihat puteri itu di dusun Ang-kiok-teng di dalam warung. Betapa dia ingin merampas puteri itu di waktu itu juga. Akan tetapi sungguh tidak beruntung baginya, puteri itu disertai tiga orang yang demikian lihainya. Dua orang pemuda itu saja sudah amat lihai, dan dia ingat bahwa mereka adalah orang-orang yang pernah menolong Jenderal Kao, dengan sendirinya mereka tentulah orang-orang pemerintah, mungkin mata-mata yang memiliki kepandaian lihai. Juga orang tua itu, sungguh amat lihai dan tidak boleh dipandang ringan sama sekali apalagi orang setengah tua itu disebut paman oleh mereka. Di kota Koan-bun dia telah diam-diam membayangi mereka, akan tetapi kedatangan pasukan liar dari Tambolon mengakibatkan geger,
Ditambah lagi dengan gerakan orang-orang pemerintah dan pendudukan kota Koan-bun oleh Panglima Kim Bouw Sin, membuat dia kembali kehilangan Syanti Dewi di antara orang banyak. Dia sudah mengerahkan kaki tangannya untuk mencari di seluruh kota Koan-bun, namun hasilnya sia-sia. Gadis bangsawan itu seperti lenyap ditelan bumi tidak meninggalkan bekas. Hal inilah yang membuat Tek Hoat termenung dengan hati kesal dan murung, kehilangan kegembiraan hatinya, sungguhpun kini gerakan pemberontakan mulai maju dan hal ini berarti bahwa cita-citanya makin mendekati kenyataan. Dia sendiri merasa heran mengapa setelah kini bertemu dengan Syanti Dewi, dia menjadi kehilangan gairahnya terhadap cita-citanya, bahkan hampir tidak mempedulikan lagi tentang usaha pemberontakan yang dipimpin oleh Pangeran Liong.
"Semua gara-gara gadis laknat si Lu Ceng itu,"
Pikirnya gemas. Kalau tidak ada Lu Ceng, tentu sekarang dia masih berdekatan dengan Syanti Dewi. Akan tetapi, dia sendiri merasa heran mengapa kalau dia sudah bertemu dengan Lu Ceng yang nakal itu, dia seperti mati kutu, padahal biarpun gadis itu memiliki ilmu tentang racun yang amat lihai, dia toh akan dapat mengalahkan gadis itu dengan mudah. Ada sesuatu yang aneh terjadi kalau dia berhadapan dengan Lu Ceng, ada sesuatu pada diri gadis itu yang membuat dia tidak tega untuk memusuhinya!
Kini dia mengalihkan kemendongkolan hatinya pada dua orang pemuda tampan yang menemani puteri itu, dan kepada orang setengah tua gagah sederhana itu. Mereka itulah yang menjadi penghalang sehingga kembali dia kehilangan Syanti Dewi. Tadinya dia hampir berhasil menawan atau membunuh dua orang pemuda itu, dengan bantuan tiba-tiba dari Hek-wan Kui-bo Si Nenek Hitam buruk yang muncul membantunya, bahkan seorang di antara dua orang pemuda itu telah terluka parah. Akan tetapi, ini pun akhirnya gagal karena pemuda yang terluka itu dapat melenyapkan diri sedangkan pemuda yang ke dua telah ditolong oleh laki-laki setengah tua yang amat hebat ilmunya itu! Sungguh sial! Seolah-olah segala yang dipegangnya tidak berhasil baik!
Setelah Pangeran Liong Khi Ong memasuki gedung yang disediakan untuknya, Tek Hoat diperbolehkan mengaso dan pemuda ini memasuki kamarnya sendiri. Dia melempar tubuhnya ke atas pembaringan dan memejamkan mata, mengenangkan semua pengalamannya semenjak dia meninggalkan ibunya. Betapa lama sudah dia meninggalkan ibunya di puncak Bukit Angsa di lembah Huang-ho. Teringat akan ibunya, timbul rasa rindu di dalam hatinya. Sesungguhnya, di lubuk hatinya terdapat rasa kasih sayang yang amat besar terhadap ibu kandungnya, juga perasaan iba yang besar. Teringat dia ketika beberapa tahun yang lalu dia meninggalkan ibunya, dia berjanji akan pulang menengok ibunya. Kenyataannya, sudah lima enam tahun dia pergi, tidak pernah dia pulang ke Bukit Angsa! Sungguh kasihan ibunya, hidup seorang diri, menanti-nanti kedatangannya.
"Kau anak tidak berbakti!"
Dia memaki dirinya sendiri.
"Sebetulnya engkau sudah harus pulang."
"Tidak!"
Bentaknya sambil membuka kembali matanya.
"Kalau aku pulang dalam keadaan begini saja, tentu hati ibu akan kecewa. Tidak! Aku baru akan pulang kalau cita-citaku sudah berhasil, menjadi raja atau pangeran atau setidaknya seorang pembesar yang berkedudukan tinggi dan mulia di kota raja. Baru aku akan pulang menjemput ibuku dengan segala hormat...."
Dia lalu memejamkan matanya kembali, membayangkan betapa dia menjemput ibunya dengan kereta besar dan mewah, dikawal pasukan yang gagah, kemudian mengajak ibunya memasuki sebuah istana miliknya sendiri! Betapa ibunya akan girang dan bangga! Dan dari dalam istana itu menyambut keluar mantu ibunya, Puteri Syanti Dewi yang cantik jelita! Puteri Raja Bhutan. Betapa ibunya akan makin bangga dan dia.... ahhh!
Tek Hoat bangkit dan duduk, bertopang dagu. Dia melamun terlalu jauh, sedangkan puteri itu pun berada di mana dia tidak tahu. Mengapa dia bermalas-malas seperti ini? Tek Hoat cepat meloncat, berganti pakaian lalu berlari keluar setelah memberitahukan pengawal dalam bahwa kalau Pangeran Liong Khi Ong bertanya tentang dia agar dikatakan bahwa dia pergi berjalan-jalan untuk memeriksa keadaan. Tek Hoat lalu memasuki kota Tek-bun yang sudah mulai normal kembali karena Panglima Kim Bouw Sin dengan tangan besi memaksakan keamanan dan ketenteraman di kota yang dijadikan benteng pemberontak itu. Penjagaan di seluruh kota amat ketat dan pengawasan amat cermat sehingga agaknya amat sukarlah bagi mata-mata pemerintah untuk menyusup ke dalam kota pemberontak ini tanpa diketahui.
Tek Hoat yang sudah banyak dikenal oleh para perwira yang memimpin penjagaan dan perondaan kota sebagai tangan kanan Pangeran Liong Khi Ong yang memiliki kepandaian amat tinggi, berkali-kali disapa dengan hormat oleh mereka dan dibalasnya dengan anggukan kepala tak acuh karena hatinya sedang kesal. Dia tidak ingin mencari Syanti Dewi di kota Koan-bun lagi karena ada belasan orang kaki tangannya yang sudah diberi tugas untuk mencari gadis itu di sana. Tiba-tiba timbul pikiran yang aneh dalam kepalanya. Siapa tahu, yang dicarinya itu berada di Teng-bun! Betapapun aneh dan tidak masuk akalnya, dugaan ini, akan tetapi siapa tahu! Dia teringat betapa teman-teman puteri itu adalah orang-orang yang tinggi sekali ilmunya, siapa tahu dia yang membawa puteri itu menyelundup ke pusat pemberontak ini! Mulailah dia memasan mata memperhatikan keadaan sekelilingnya.
Karena dia kini mulai memandang ke sekeliling dengan penuh kewaspadaan, maka tiba-tiba dia dapat melihat munculnya sesosok bayangan orang di antara kemuraman cuaca senja hari itu. Sosok bayangan tubuh seorang nenek bertongkat, nenek yang buruk rupa, yang telah membantunya menghadapi dua orang pemuda pengawal Syanti Dewi yang lihai. Nenek yang mengaku berjuluk Hek-wan Kui-bo, Si Iblis Lutung Hitam! Mau apa nenek aneh itu berkeliaran di Teng-bun? Padahal dia tahu betul bahwa nenek itu tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan Pangeran Liong atau para pimpi-nan pemberontak lainnya. Bagaimana nenek ini dapat memasuki Teng-bun? Memang tidak begitu mengherankan andaikata nenek ini dapat menerobos penjagaan yang ketat karena memang nenek ini memiliki kepandaian hebat, akan tetapi, apakah kehendaknya memasuki benteng ini? Dengan beberapa langkah saja Tek Hoat dapat mengejarnya.
"Perlahan dulu, Hek-wan Kui-bo!"
Nenek itu terkejut bukan main, tubuhnya membalik dan tahu-tahu ujung tongkatnya sudah menyambar ke arah jalan darah di dada Tek Hoat dengan serangan totokan maut yang amat berbahaya.
"Siuuutttt.... plakk!"
Tek Hoat terpaksa menangkis dengan tangan yang dimiringkan karena serangan itu dahsyat dan berbahaya sekali.
"Ihhh.... wah, kiranya engkau, orang muda yang tampan dan gagah perkasa? Hi-hik, hampir saja engkau mampus di ujung tongkatku!"
Merah muka Tek Hoat mendengar ini dan ia tersenyum mengejek. Kalau saja nenek ini tidak pernah membantunya, tentu sudah diserangnya nenek ini yang begitu memandang rendah kepadanya.
"Hemm, kurasa tidaklah begitu mudah, Kui-bo!"
Nenek itu tertawa. Makin menjijikkan mukanya ketika dia tertawa. Muka yang kelaki-lakian dan buruk itu menjadi makin buruk karena kini mulutnya terbuka dan kelihatan tiga buah giginya yang besar-besar dan bergantung saling berjauhan, sehingga kelihatan seperti mulut binatang yang bertaring.
"Aku tahu.... aku tahu, engkau adalah Si Jari Maut, pembantu yang amat sakti dari Pangeran Liong, bukan? Masih begini muda sudah memiliki kepan-daian hebat, sungguh mengagumkan."
Tek Hoat merasa tidak suka kepada nenek ini. Wajah buruk itu membayangkan banyak sekali kepalsuan yang mengerikan.
"Hek-wan Kui-bo, apakah maksud kedata-nganmu menyelundup ke Teng-bun ini?"
"Hi-hik, engkau mencurigai aku? Aku sudah membantu menghadapi dua orang mata-mata pemerintah yang masih muda-muda dan juga lihai itu."
"Dalam kedaan seperti sekarang ini, siapapun harus dicurigai, dan kami semua tidak tahu apa maksud ke-datangan seorang tokoh seperti engkau, Kui-bo."
"Hi-hi-hik, apa sih yang diinginkan seorang nenek seperti aku? Laki-laki muda dan tampan? Wah, aku sudah muak dan tidak ada lagi nafsu di tubuhku yang tua! Kekayaan? Untuk apa? Memakai segala yang indah pun aku tidak akan dapat menjadi cantik, makan yang bagaimana mahal dan lezat pun, gigiku yang tidak lengkap akan mendatangkan rasa yang tidak enak! Akan tetapi kedudukan! Nah, itu! Nama besar, wah, itu masih kuperlukan. Kemuliaan dan penghormatan! Eh, orang muda, aku ingin bertemu dengan Liong Bin Ong atau Liong Khi Ong!"
"Mau apa?"
"Aku ingin membantu pemberontakannya dengan janji bahwa aku kelak akan men-dapatkan balas jasa yang berupa pangkat dan kedudukan terhormat di dalam istana! Aku Hek-wan Kui-bo yang selalu dipandang rendah, dianggap iblis, aku ingin kelak mati sebagai seorang paduka yang mulia, ditangisi oleh rakyat senegara dan dibikin bong-pai (nisan) yang paling mewah dan besar, disembahyangi sampai ribuan tahun!"
Tek Hoat muak mendengar ini, akan tetapi dia pun tahu bahwa tenaga nenek ini memang amat diperlukan di waktu itu.
"Hek-wan Kui-bo, tidaklah mudah untuk bertemu dengan kedua orang pangeran itu. Biasanya, sebelum orang diterima menjadi pembantu, dia harus memperlihatkan kecakapannya lebih dulu, harus membuat jasa lebih dulu. Apakah jasamu terhadap pemerintah baru yang dipimpin oleh kedua orang Pangeran Liong?"
"Hi-hi-hi-hik, jadi di sini ada pula peraturan sogokan? Ha-ha-ha, jangan khawatir, orang muda. Aku sudah siap dengan barang sogokan yang tentu akan menggirangkan hati Pangeran Liong Khi Ong!"
Tek Hoat mengerutkan alisnya.
"Sogokan? Apa maksudmu?"
"Aih-aihh.... kura-kura dalam perahu, ya? Pura-pura tidak tahu! Siapakah di dunia ini yang tidak mengenal sogokan? Aku mendengar bahwa seorang di antara kedua orang pangeran tua itu, seperti hampir semua lakl-laki di dunia ini, mahluk menyebalkan, gila akan wajah cantik dan tubuh mulus seorang perawan remaja! Nah, jasaku yang pertama untuk Pangeran Liong Khi Ong adalah persembahanku berupa seorang dara remaja yang cantik jelita!"
Tek Hoat menjadi makin sebal.