"Terkutuk engkau!"
Ceng Ceng memaki marah.
"Mengapa kau suruh anak buahmu melakukan perbuatan terkutuk itu?"
Tadi Ceng Ceng merasa betapa lengannya disentuh oleh Topeng Setan yang dengan halus menggelengkan kepala, mencegah dia melakukan sesuatu. Kini Ceng Ceng maklum bahwa andaikata dia tadi tidak kuat menahan kemarahannya dan bertindak, tentu mereka berdua akan binasa menghadapi hampir seribu orang lawan itu! Tambolon hanya tersenyum lebar mendengar makian Ceng Ceng.
"Duduklah, Nona, dan kau juga, Topeng Setan. Minumlah arak ini untuk mendinginkan hatimu."
Ceng Ceng menyambar dan menenggak araknya, karena memang dia membutuhkan arak itu untuk menenangkan hatinya yang bergelora menyaksikan pemandangan yang amat mengerikan itu.
"Nona, pasukanku telah melakukan perjalanan ribuan li jauhnya, perjalanan yang ditempuh dengan susah payah siang dan malam. Mereka telah menghadapi bahaya maut entah berapa ribu kali dan kadang-kadang sampai berbulan mereka tidak pernah melihat wajah seorang wanita. Mereka taat sekali kepadaku dan tanpa perkenanku, mereka tidak akan berani mengganggu seorang pun wanita. Akan tetapi, seperti juga makanan untuk perut mereka, mereka itu membutuhkan wanita dan kalau tidak sekali-kali memenuhi kebutuhan mereka itu, tentu mereka tidak akan taat lagi kepadaku. Wanita mana lagi yang dapat kuberikan kepada mereka kecuali wanita tawanan yang suaminya telah tewas dalam pertempuran?"
Sunyi menyambut kata-kata ini dan betapa pun kejinya, Ceng Ceng dapat mengerti apa yang dimaksudkan Tambolon, akan tetapi karena merasa ngeri membayangkan nasib ratusan orang wa-nita yang suaranya masih terus mengikuti pendengarannya itu Ceng Ceng memejamkan matanya.
"Berapa lama mereka dapat bertahan diterjang oleh demikian banyaknya anak buahmu?"
Tiba-tiba Topeng Setan bertanya, suaranya halus dan datar seolah-olah tidak menyembunyikan perasaan apa-apa.
"Ha-ha-ha, orang-orangku yang kehausan itu mana tahu akan daya tahan mereka? Telah berbulan mereka kehausan, tentu tidak mengenal puas dan dengan jumlah mereka yang lima enam kali lebih banyak, tidak sampai sepekan pun wanita-wanita itu akan habis."
"Mati?"
"Ha-ha-ha, bagaimana lagi? Lebih baik begitu daripada satu mendapat satu, terus menjadi terikat dan akan ikut ke manapun kami pergi, menghalangi gerakan kami."
Topeng Setan menghela napas dan pada saat itu Ceng Ceng memandangnya. Mereka saling pandang dan Topeng Setan berkata,
"Memang lebih baik begitu. Penderitaan mereka sebentar saja dan mereka akan segera mati menyusul suami atau keluarga mereka."
Ceng Ceng ingin menjerit. Wanita-wanita itu lebih beruntung kalau diban-dingkan dengan dia!
Mereka itu akan segera mati menyusul dan berkumpul dengan keluarga mereka yang tercinta. Akan tetapi dia? Dia menanggung aib dan malu, derita batin dan penasaran. Akan tetapi sampai sekarang pun orang yang didendamnya belum dapat dia temukan. Dan dia dijauhkan dari orang-orang yang dia cinta. Ayah bundanya sudah tiada, kakeknya pun tewas, sedangkan orang terakhir yang dicintanya, Syanti Dewi, pun entah berada di mana. Tambolon dan orang-orangnya ini adalah manusia-manusia kejam, demi kemenangan diri sendiri mereka ini bersedia melakukan kekejaman apapun juga. Akan tetapi mereka ini lihai, jumlah mereka banyak. Dia harus berhati-hati dan harus percaya kepada Si Topeng Setan yang dia percaya pun juga diam-diam mencari siasat agar mereka dapat terlepas dari Tambolon dan anak buahnya. Tiba-tiba terdengar isak wanita naik ke menara itu.
"Ah, lepaskah aku.... lepaskan aku atau bunuh saja aku....!"
Seorang perajurit muncul mendorong seorang wanita. Ceng Ceng memandang dan melihat bahwa wanita itu adalah seorang gadis muda yang usianya tidak akan lebih dari enam belas tahun, wajahnya cukup cantik dan pakaiannya terlalu besar, seolah-olah bukan pakaiannya sendiri dan dikenakan di tubuhnya dengan tergesa-gesa. Perajurit itu mendorong gadis ini jatuh berlutut di depan Tambolon, lalu memberi hormat kepada rajanya dan pergi ke luar.
"Ha-ha-ha, inilah dia yang kupilih. Hei, perawan cilik, bangun dan berdirilah!"
Gadis itu mengangkat mukanya yang pucat, rambutnya yang terlepas sanggulnya terurai, sebagian menutupi mukanya, matanya liar ketakutan ketika memandang kepada Raja Tambolon. Dia mengeluh dan bangkit berdiri, kedua kakinya menggigil ketakutan.
"Nah, begitu baru baik. Ha-ha-ha, sekarang kau tanggalkan pakaianmu! Hayo cepat!"
Gadis itu terbelalak, lalu menggeleng kepala keras-keras. Tambolon bangkit dari bangkunya dan Ceng Ceng sudah mengepal tinju. Kalau manusia ini menggunakan kekerasan di depanku, aku akan membunuhnya, demikian dia mengambil keputusan. Akan tetapi Tambolon yang menghampiri gadis itu, hanya memegang lengannya lalu menariknya ke pinggir loteng menara.
"Nah, kau lihat baik-baik! Di bawah itu, setiap orang wanita sedikitnya harus melayani enam orang perajuritku, terus-menerus sampai beberapa hari lamanya. Engkau bernasib baik karena telah kupilih dan hanya harus melayani aku seorang saja. Dan kau masih rewel? Nah, pilihlah. Engkau melayani aku dengan baik, mentaati segala perintahku, ataukah engkau memilih kulempar ke bawah sana dan menjadi perebutan banyak orang laki-laki?"
Wajah itu makin pucat, matanya terbelalak memandang ke bawah di mana masih terjadi pemerkosaan yang mengerikan, jelas tampak dari atas dan juga terdengar jelas rintih dan ratap tangis para wanita itu.
"Kau memilih di sana?"
Gadis itu menggeleng kepala keras-keras.
"Ha-ha, jadi engkau memilih di sini dan mentaati segala perintahku?"
Gadis itu mengangguk lemah, patah semua semangat perlawanannya. Tambolon kembali duduk di atas kursinya dan memandang bangga kepada dua orang tamunya bahwa dia telah berhasil mematahkan semangat perlawanan gadis tawanan itu.
"Hayo kau buka semua pakaianmu, kau tidak pantas dengan pakaian yang terlalu besar itu!"
Gadis itu dengan muka menunduk, seperti dalam mimpi, gerakannya otomatis, mulai menanggalkan pakaiannya. Ceng Ceng memandang dengan dada panas. Ternyata setelah pakaian luarnya ditanggalkan di sebelah bawah pakaian itu tidak ada apa-apa lagi yang menutupi tubuhnya! Agaknya gadis ini tadinya memang sudah telanjang bulat seperti para wanita lain dan ketika dibawa menghadap baru diberi pakaian luar itu. Kini dia berdiri dengan tubuh telanjang sama sekali, menunduk dan matanya setengah dipejamkan, rambutnya terurai ke depan dada dan punggung.
"Hayo sanggul rambutmu itu baik-baik!"
Kembali Tambolon memberi perintah dan gadis itu, masih merasa ngeri dan takut memikirkan keadaan para wanita lain di bawah sana, mentaati tanpa mengeluarkan sepatah pun kata. Untuk menyanggul rambutnya, terpaksa dia mengangkat kedua lengannya ke atas sehingga bentuk tubuhnya tampak senyata-nyatanya.
"Lihat, betapa indah tubuhnya, hemm.... bukan main indahnya!"
Tambolon memuji.
"Tambolon!"
Tiba-tiba Ceng Ceng berseru, tak mampu menahan kemarahannya karena melihat keadaan gadis telanjang itu, dia merasa seolah-olah dirinya sendiri yang dihina seperti itu.
"Aku minta padamu agar gadis ini...."
"Tidak, aku yang ingin menantangmu untuk memperebutkan gadis ini, Raja Tambolon!"
Tiba-tiba Topeng Setan memotong kata-kata Ceng Ceng dan ketika gadis ini memandang kaget, dia melihat mata yang besar sebelah itu berkedip kepadanya. Raja Tambolon yang tadinya menikmati pemandangan indah di depannya seperti seorang mengagumi sehelai lukisan, terkejut dan menoleh kepada dua orang tamunya itu.