Halo!

Kisah Sepasang Rajawali Chapter 174

Memuat...

"Haiii.... komandan pasukan kerajaan yang berada di menara! Pasukanmu telah kami hancurkan dan menara ini sudah kami kepung dan sewaktu-waktu dapat kami bakar habis berikut engkau dan pengikut-pengikutmu! Akan tetapi melihat kegagahan pengikutmu, kami mengajukan usul kepadamu! Obati perajurit-perajurit kami yang keracunan dan kami akan memberi kesempatan kepadamu untuk melarikan diri! Kalau tidak, biarlah kami kehilangan seratus orang perajurit, akan tetapi menara ini akan kami bakar dan kalian di atas akan menjadi bangkai-bangkai hangus!"

Thio-ciangkun lalu berkata kepada Ceng Ceng,

"Lihiap dan Taihiap, harap kalian suka cepat melarikan diri. Ji-wi (Anda Berdua) memiliki kepandaian, tentu dapat lolos, saya adalah seorang komandan yang pasukannya telah hancur, seperti seorang nahkoda yang kapalnya sedang tenggelam. Biarlah saya melawan sampai napas terakhir."

"Tidak!"

Ceng Ceng membantah.

"Engkau masih dibutuhkan oleh negara, Ciangkun, tidak ada gunanya melawan seperti membunuh diri."

Lalu dia melangkah maju, menjenguk ke bawah dan memandang kepada laki-laki yang tinggi besar brewokan yang dari pakaiannya saja dapat diduga bahwa dialah rajanya atau pemimpin pasukan liar itu, kemudian dia mengeluarkan suara nyaring,

"Heii, pimpinan musuh yang berada di bawah, dengarlah! Yang meracuni pasukan itu adalah aku! Kami setuju dengan pertukaran itu, biarlah Thio-ciangkun dan pengawalnya keluar dari dusun ini tanpa gangguan, kemudian aku akan menyembuhkan semua orangmu yang terkena racun!"

Tambolon terkejut dan merasa heran sekali karena sama sekali tidak mengira bahwa gadis muda cantik jelita itulah yang lihai.

"Baik!"

Teriaknya, kemudian menoleh kepada anak buahnya berkata,

"Buka jalan untuk Thio-ciangkun, biarkan dia pergi!"

Para perajurit itu amat takut dan taat kepada raja mereka yang keras, maka cepat mereka membuka jalan. Ceng Ceng setengah memaksa dan membujuk Thio-ciangkun menuruni menara itu bersama lima orang pengawalnya yang berjalan mengelilingi komandan mereka di kanan kiri, depan dan belakangnya, sedangkan Ceng Ceng dan Topeng Setan mengiringkan di belakang dengan sikap tenang.

"Sediakan enam ekor kuda yang baik untuk mereka!"

Ceng Ceng berkata, sikapnya memerintah dan penuh wibawa. Raja Tambolon kembali terkejut, lalu dia tertawa bergelak, hatinya senang sekali! Raja ini adalah seorang kasar dan liar yang berilmu tinggi, dan tidak ada yang disenangi di dunia ini kecuali kegagahan dan keberanian. Kini melihat sikap Ceng Ceng, dia kagum bukan main dan hatinya senang sekali. Biasanya, dia menganggap wanita hanya sebagai mahluk lemah yang hanya memiliki kecantikan dan yang hanya untuk menyenangkan dan menghibur hati pria, mahluk lemah yang biasanya paling banyak hanya menangis! Akan tetapi kini melihat sikap Ceng Ceng, yang demikian tabah penuh keberanian dan kegagahan, dia terkejut, heran, kagum dan senang sekali.

"Sediakan enam ekor kuda, tolol kalian semua! Hayo cepat!"

Teriak Tambolon dengan keras lalu tertawa lagi bergelak. Ceng Ceng memandang laki-laki tinggi besar brewok itu dengan kagum. Sudah lama dia mendengar nama besar Raja Tambolon, dan baru sekarang dia melihat orangnya. Seorang jantan aseli, seperti seekor binatang yang liar, akan tetapi dia tahu bahwa manusia ini berhati seperti binatang, penuh kekerasan dan kekejaman, seorang manusia yang dapat membunuhi manusia-manusia lain dengan kedua tangan tanpa berkedip sedikit pun. Setelah Thio-ciangkun dan lima orang pengawalnya menunggang kuda dan meninggalkan dusun itu dengan cepat. Topeng Setan berkata kepada Ceng Ceng,

"Nona, lekas berikan obat pemunah racun dan mari kita cepat pergi dari sini."

Ceng Ceng mengangguk, mengeluarkan bungkusan obat bubuk putih dan menyerahkannya kepada Tambolon sambil berkata,

"Inilah obat penawarnya. Campur dengan air, suruh mereka minum seorang seperempat cawan kecil, tentu sembuh. Kalau tidak ditolong obat ini, mereka akan menggaruk terus sampai kulit dan daging mereka terkupas habis!"

Tambolon menerima bungkusan itu dan ketika Ceng Ceng dan Topeng Setan hendak pergi, Tambolon tertawa,

"Tunggu dulu, tidak semudah itu! Ha-ha-ha!"

Ceng Ceng dan Topeng Setan memandang ke sekeliling dan ternyata mereka telah dikurung rapat oleh ratusan orang perajurit itu!

"Hemm, Tambolon, apa artinya ini?"

Ceng Ceng membentak. Raja Tambolon terkejut.

"Eh, kau sudah tahu siapa aku, Nona? Bagus, eng-kau memang hebat, bukan seorang biasa. Ingat akan janjimu tadi, Nona. Kami telah membebaskan Thio-ciangkun, akan tetapi orang-orangku belum sembuh, belum kau sembuhkan, mana mungkin kami membiarkan kalian lolos? Mari, kalian menjadi tamu-tamuku sambil menanti sembuhnya orang-orangku."

Ceng Ceng dan Topeng Setan terpaksa menerima undangan ini.

Mereka kagum akan kecerdikan Tambolon, akan tetapi juga mereka menduga-duga apakah orang ini dapat dipercaya dan akan membebaskan mereka berdua setelah orang-orangnya sembuh kembali. Ceng Ceng dan Topeng Setan dipersilakan naik ke menara dan tempat itu segera dibersihkan dan diaturlah meja besar di atas menara karena Raja Tambolon dan dua orang pengawalnya itu hendak menjamu dua orang ini dengan makan minum. Mengagumkan juga betapa di dalam dusun yang sudah rusak itu, anak buah Raja Tambolon dengan mudah dan cepat dapat mempersiapkan pesta yang cukup meriah, dengan masakan dan minuman pilihan! Setelah makan minum dihidangkan memenuhi meja, Tambolon mengisi cawan arak dan mengangkat cawannya mengajak dua orang tamunya minum sambil berkata, "Mari kita minum untuk perkenalan yang amat menyenangkan ini!"

Mereka lalu minum arak dari cawan masing-masing, diikuti pula oleh dua orang pengawal Tambolon, yaitu Si Petani dan Si Pelajar.

"Kalian berdua yang lihai ini siapakah dan dari mana?"

Tambolon bertanya.

"Namaku Lu Ceng dan dia ini berjuluk Topeng Setan, menjadi pembantuku dan juga pengawalku,"

Jawab Ceng Ceng singkat.

"Nona Lu ini adalah beng-cu dari kaum sesat di sekitar kota raja,"

Si Topeng Setan menambahkan.

"Ha-ha-ha, hebat, hebat sekali!"

Tambolon tertawa bergelak.

"Seorang wanita begini muda sudah memiliki kelihaian dan menjadi beng-cu! Ha-ha-ha, siapa yang mengira? Nona Lu Ceng, bagaimana engkau dapat mengenal namaku, padahal baru sekarang kita saling bertemu?"

"Hemm, aku sudah pernah merantau jauh ke barat dan di Bhutan aku mendengar tentang namamu dan pasukanmu, maka begitu melihat pasukanmu, aku dapat menduga bahwa tentu ini pasukan Raja Tambolon yang amat terkenal itu."

"Ha-ha-ha, kau memang cerdik! Kau pantas menerima arak penghormatan dari Raja Tambolon!"

Dengan gaya dan geraknya yang kasar Raja Tambolon lalu mempersilakan tamu-tamunya makan. Tanpa sungkan lagi Ceng Ceng dan Topeng Setan makan ditemani oleh Tambolon dan dua orang pengawalnya. Tiba-tiba seorang perajurit datang menghadap Raja Tambolon. Dengan sikap amat hormat akan tetapi kasar perajurit itu berkata,

"Lapor! Kawan-kawan tidak sabar lagi dengan para tawanan wanita. Mohon keputusan dan perintah Sri Baginda Raja!"

Tambolon minum arak dari cawannya dan tertawa,

"Ha-ha-ha, wah, aku sampai lupa. Bagi rata dan bergilir seperti biasa! Awas jangan sampai berebut dan berkelahi, suruh masing-masing perwira mengadakan undian siapa yang lebih dulu mendapat giliran. Eh, bawa pilihanku ke sini untuk melayani makan minum!"

Perajurit itu memberi hormat dengan wajah berseri, kemudian berlari turun dari menara. Ceng Ceng dan Topeng Setan saling pandang, hanya setengah menduga apa yang akan terjadi dengan para tawanan wanita. Saking tidak tahannya, Ceng Ceng berkata,

"Sri Baginda, apakah yang akan kau lakukan terhadap para tawanan wanita?"

"Ha-ha-ha, kalian ingin tahu? Mari kita lihat, dari atas sini tentu merupakan panda-ngan yang amat hebat, ha-ha-ha!"

Tambolon, Ceng Ceng, Topeng Setan dan dua orang pengawal Tambolon lalu bangkit dan berjalan ke pinggir loteng menara sehingga mereka dapat melihat apa yang terjadi di bawah sana. Jantung Ceng Ceng berdebar tegang, kedua telinganya menjadi panas ketika dia melihat apa yang terjadi di sana.

Kurang lebih dua ratus orang wanita yang bertelanjang bulat berdiri dengan mata menunduk, ada yang merintih, ada yang menangis terisak-isak, ada orang berdiri ketakutan, dirubung oleh ratusan anak buah Tambolon yang memandang liar dan ada yang menjilat dan seperti sikap srigala kelaparan melihat domba muda. Tak lama kemudian, terdengar perwira-perwira bicara dan meledaklah sorak-sorai para anak buah Tambolon, kemudian terjadilah peristiwa yang membuat Ceng Ceng hampir saja meloncat ke bawah untuk mengamuk. Seperti srigala yang dilepaskan, para perajurit pasukan liar itu berlari-larian menyerbu wanita-wanita itu. Terdengar jerit-jerit mengeri-kan diseling suara tawa para perajurit liar dan terjadilah peristiwa yang sukar dapat dibayangkan oleh manusia waras. Pemerkosaan begitu saja di atas jalan-jalan, di tepi jalan, ada yang membawa wanita memasuki rumah,

Akan tetapi ada pula yang memperkosanya di tempat itu juga, tidak peduli akan semua orang di sekitar-nya, bahkan ditonton, ditertawakan dan disoraki oleh teman-teman yang belum kebagian! Dua ratus orang wanita itu tentu saja segera habis dan banyak sekali perajurit yang terpaksa menanti giliran karena jumlah mereka lima kali lebih banyak dari jumlah wanita tawanan. Jerit melengking, rintihan dan keluhan, ratap tangis para wanita itu seolah-olah menusuki jantung Ceng Ceng dan terbayanglah dia akan pengalamannya sendiri ketika dia diperkosa oleh pemuda laknat itu! Dia memejamkan matanya, lalu tiba-tiba membalik dan lari kembali ke dekat meja dengan muka merah seperti udang direbus, matanya mendelik memandang Tambolon yang juga sudah kembali ke kursinya.

Post a Comment