Tiba-tiba terdengar suara halus ini. Mereka terkejut dan cepat menengok. Kiranya di belakang mereka telah berdiri wanita cantik yang malam tadi telah memukul mundur pasukan yang membakar ladang ilalang! Tentu saja mereka menjadi girang, akan tetapi juga merasa ngeri karena munculnya wanita ini seperti setan saja, tidak ada yang mengetahuinya dan tidak ada yang mendengarnya, pula, mereka juga masih bingung memikirkan kematian A Ciang yang demikian anehnya.
"Ah, kiranya engkau yang datang, Kouw-nio? Kami amat berterima kasih atas bantuan Kouw-nio yang demikian besar dan maafkan kami yang tidak tahu bahwa Kouw-nio adalah seorang pendekar wanita yang memiliki kepandaian setinggi langit,"
Kata Si Gendut. Bibir yang merah itu mencibir, akan tetapi kelihatannya tambah manis!
"Kalau kalian memang bermusuhan dengan pasukan itu, kenapa tidak menyambut mereka dengan perlawanan?"
"Jumlah kami hanya lima belas orang, dan mereka ada lima puluh orang lebih...."
"Lima belas orang sudah terlalu banyak untuk menghadapi pasukan itu. Kalau kalian dapat membuat mereka terpencar dengan jalan menyelinap di balik batu-batu ini, dan menyerang mereka dengan tiba-tiba seperti kucing menerkam tikus, apa sih sukarnya mengalahkan mereka? Aku pun akan berpesta mem-bantu kalian menghadapi mereka."
Semua, orang berseri wajahnya.
"Dengan Kouw-nio sebagai pimpinan kami, apa lagi yang kami takuti? Kami tidak takut sekarang!"
Si Gendut berkata.
"Benar, kami tidak takut kalau Kouw-nio yang sakti membantu kami!"
Teriak seorang lain, yaitu yang masih muda dan yang sejak tadi memandang ke arah dada wanita itu dengan mata seperti mata seekor anjing melihat tulang! Mereka lalu keluar dari tempat persembunyian mereka, dan bersama Kucing Liar berdiri memperlihatkan diri menanti datangnya pasukan yang dipimpin oleh perwira muda berkuda putih itu. Perwira itu tinggi besar dan gagah, kelihatannya tangkas dan lihai.
"Kalian permainkan pasukan itu, akan tetapi berikan perwira itu kepadaku. Biar aku yang menghadapinya!"
Mauw Siauw Mo-li berkata sambil tersenyum dan dari kerongkongannya keluar suara lirih melengking seperti suara kucing! Mendengar ini, Si Gendut dan teman-temannya menggigil dan merasa serem, teringat mereka akan suara kucing itu malam tadi ketika mereka berada di dalam ladang ilalang.
"Cepat menyebar dan bersembunyi....!"
Wanita itu berkata dan begitu pasukan itu sudah mendekat, mereka menyelinap ke kanan kiri dan bersembunyi di balik batu-batu kapur itu. Akan tetapi Kucing Liar tidak bersembunyi, bahkan berdiri dengan dada yang sudah busung itu dibusungkan lagi dan matanya memandang tajam kepada perwira muda yang menahan kendali kudanya. Kuda putih itu meringkik, mengangkat kedua kaki depannya dan perwira itu mengayun pedangnya, gagah bukan main.
"Haii kalian mata-mata hina! Menyerahlah sebelum kami bunuh semua!"
Mauw Siauw Mo-li tersenyum.
"Apakah engkau juga mau membunuh aku, Ciangkun (Perwira) muda yang gagah perkasa?"
Dia malah melangkah maju menghampiri kuda yang meringkik-ringkik itu. Perwira muda itu terkejut melihat bahwa di antara para mata-mata yang dikejarnya itu terdapat seorang wanita yang begini cantik dan menariknya.
Akan tetapi karena dia maklum bahwa mata-mata pemerintah banyak yang pandai dan merupakan orang-orang berbahaya yang harus dibasminya, maka sambil berseru keras dia menggerakkan kudanya maju ke depan menerjang wanita cantik itu sambil mengayun pedangnya. Akan tetapi dengan mudah sekali Si Kucing Liar mengelak ke kiri. Empat orang perajurit menyambutnya dengan senjata golok mereka, menyerang dengan berbareng untuk membantu komandan mereka. Amat mudah bagi wanita itu untuk mengelak sambil tersenyum dan kaki tangannya bergerak, maka robohlah empat orang itu tanpa dapat bangkit kembali! Tentu saja Si Perwira Muda terkejut sekali, kudanya diputar dan kembali pedangnya menyerang dari atas kuda dengan dahsyat.
"Ihh, benarkah engkau kejam hendak membunuhku?"
Mauw Siauw Mo-li bertanya halus sambil terkekeh dan matanya mengerling genit. Pedang itu bersuitan menyambar-nyambar, namun tak pernah dapat menyentuh baju wanita itu yang mencelat ke sana-sini dengan kecepatan seperti gerakan seekor burung walet. Tiba-tiba dia berseru,
"Turunlah kau!"
Dan sambil mengelak tangannya terus menyambar ke samping.
"Crotttt....!"
Tangan yang berjari kecil-kecil dan runcing halus itu masuk ke dalam perut kuda seperti ujung golok saja. Kuda putih itu meringkik kesakitan, melonjak-lonjak dan ketika perwira itu berusaha menenangkannya, kakinya ditarik dan robohlah dia, terjatuh dari atas kuda yang terus melarikan diri itu. Melihat komandannya jatuh, delapan orang anggauta pasukan cepat menerjang wanita itu sehingga Si Perwira sempat bangkit kembali. Maka dikeroyoklah wanita itu dan dikepung rapat. Namun, Mauw Siauw Mo-li hanya tersenyum-senyum saja dan tubuhnya tidak banyak bergerak, seolah-olah menanti datangnya serangan.
Hebatnya, siapa saja yang berani mendahului menyerang-nya, kalau tidak roboh tentu senjatanya terlempar karena dengan gerakan cepat sekali kaki atau tangan wanita cantik itu sudah menangkis tangan yang memegang pedang atau golok. Sementara itu, Si Gendut dan kawan-kawannya juga mulai melakukan perang kucing-kucingan dan berhasil mero-bohkan banyak lawan dengan penyergapan tiba-tiba lalu menyelinap dan lari bersembunyi lagi di belakang batu-batu yang amat banyak terdapat di tempat itu. Pasukan yang menunggang kuda sudah turun semua dari kuda masing-masing karena makin berbahayalah bagi mereka kalau mengejar sambil menunggang kuda. Akan tetapi tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dan teriakan gemuruh.
Ternyata yang datang adalah pasukan terdiri dari seratus orang, pasukan bantuan yang keluar dari kota Koan-bun karena perwira yang cerdik itu sudah mengirim seorang utusan berkuda untuk mendatangkan bala bantuan. Melihat ini, paniklah para anggauta Tiat-ciang-pang. Mereka lalu bersembunyi dan biarpun tetap melakukan perang kucing-kucingan atau perang gerilya, namun karena para anggauta pasukan itu kini mengejar dan mencari mereka dengan berkelompok mengandalkan banyak orang, Si Gendut dan kawan-kawannya tidak berani sembarangan menyergap seperti tadi. Sementara itu, Mauw Siauw Mo-li dikepung dengan ketat sekali oleh banyak lawan. Biarpun tidak merasa gentar, wanita ini menjadi lelah dan jemu juga, maka sambil tertawa dia lalu meloncat ke belakang, melempar benda hitam ke depan.
"Darrr....!"
Benda itu meledak dan belasan orang perajurit musuh yang berdiri rapat itu roboh! Para pengeroyok dan pengepungnya terkejut dan kacau, lari berlindung ke kanan kiri. Hanya terdengar suara seperti kucing terpijak ekornya dan ketika mereka memandang lagi setelah asap hitam membubung ke atas, ternyata wanita itu telah lenyap.
"Kejar mereka! Cari mereka sampai dapat. Tangkap atau bunuh! Terutama wanita itu yang tentu menjadi pemimpin mereka!"
Perwira itu dengan hati penasaran dan marah memberi aba-aba.
Terjadilah kejar-kejaran sampai sehari penuh. Wanita itu lenyap, dan belasan orang anggauta Tiat-ciang-pang terpaksa terus melarikan diri dan selalu bersembunyi-sembunyi di balik batu-batu gunung sampai akhirnya mereka terdesak di pegunungan batu kapur terakhir, dekat gurun pasir. Kalau dikejar terus, mereka akan terpaksa lari ke arah padang pasir yang berbahaya. Akan tetapi ketika itu, hari telah berganti malam dan baik yang dikejar maupun yang mengejar, sudah lelah sekali sehingga masing-masing melewatkan malam sambil beristirahat. Dapat dibayangkan betapa sengsaranya keadaan para anggauta Tiat-ciang-pang. Mereka dikejar-kejar sehari penuh, terus berlarian dan kini mereka mengaso tanpa ada ransum sama sekali sehingga selain kehabisan tenaga, mereka pun lapar dan lemas. Tidak demikian dengan pasukan itu yang tentu saja dapat makan ransum dari perlengkapan mereka.
Akan tetapi malam itu, di pihak pasukan yang jumlahnya kini seratus orang lebih itu terjadi keributan. Komandan mereka, Si Perwira Muda yang tadi masih tampak makan minum sambil duduk di atas batu-batu, tiba-tiba kini lenyap! Kejadiannya amatlah aneh. Ketika itu, perwira mereka masih tampak makan minum di dekat api unggun, wajahnya agak keruh karena perwira ini merasa jengkel sekali tidak dapat membasmi belasan orang buruannya. Tiba-tiba terdengar suara kucing. Di tempat yang sunyi menyeramkan itu terdengar suara kucing, tentu saja merupakan hal yang amat aneh dan semua orang menoleh ke kanan kiri, mencari-cari dari mana datangnya suara kucing itu. Suara itu makin keras, seolah-olah Si Kucing makin dekat di tempat itu.
"Kucing keparat!"
Seorang perajurit memaki sambil menyambar tombaknya.
"Kalau kau dapat olehku, akan kusate dagingnya!"