Halo!

Kisah Sepasang Rajawali Chapter 168

Memuat...

"Aihhh.... dia lihai sekali....!"

"Dan cantik bukan main...."

"Seperti bukan manusia....!"

"Dia seperti Kwan Im Pouwsat (Dewi Welas Asih) saja....!"

"Wanita hebat!"

"Betapa bahagianya pria yang memiliki dia!"

Demikian seruan-seruan belasan orang yang semua berdongak ke atas memandang setiap gerakan wanita itu tanpa berkedip. Dengan amat cepatnya, tahu-tahu wanita itu telah berada di atas tembok, berdiri sambil bertolak pinggang. Mantelnya yang berwarna merah tertiup angin berkibar seperti bendera dan kalau saja tidak ingat bahwa mereka adalah pelarian-pelarian yang dikejar-kejar, ten-tu mereka telah bertepuk tangan dan memuji. Wanita itu lalu melepas gulungan tali dan memegang ujungnya dengan tangan kiri.

"Panjatlah!"

Perintahnya. Tentu saja semua orang merasa ragu-ragu. Gila, pikir mereka. Masa disuruh memanjat tali yang hanya dipegang oleh tangan wanita itu? Mana kuat?

"Talikan ujungnya....!"

Kata Si Gendut dengan bisikan dari bawah. Tentu saja wanita itu tidak dapat mende-ngarnya, demikian pikir teman-teman yang lain.

"Biar aku yang memanjat lebih dulu. Dia lihai, tentu dia kuat menahan dengan tangannya,"

Kata A Ciang dan dia segera memegang ujung tali dan mulai merayap naik menggunakan kedua tangan dan kakinya. Benar saja. Tali itu tetap menegang, sedikit pun tidak tampak wanita itu mendapat kesulitan mempertahankan tali yang diganduli tubuh A Ciang! Melihat ini bergegas mereka mulai memanjat naik, dan biarpun pada tali itu kini bergantungan belasan orang, tetap saja wanita itu hanya menggunakan sebuah tangan untuk menahan sampai semua orang berada di atas tembok! Setelah belasan orang itu berada di atas tembok, wanita cantik itu mengikatkan ujung tali di atas tembok dan melempar tali ke luar sehingga tergantung di luar tembok.

"Nah, turunlah!"

Katanya halus sedangkan dia sendiri lalu meloncat ke bawah!

"Bukan main....!" "Hebat sekali dia....!"

Semua orang memandang terbelalak melihat betapa wanita cantik itu terjun ke bawah dari tempat yang demikian tingginya,

Melayang seperti seekor burung saja karena dia mengembangkan kedua lengannya dan karena sebelumnya dia menalikan kedua ujung mantelnya pada pergelangan tangan, maka kini mantel merah itu berkembang dan melembung seperti sayap yang menahan tenaga luncuran tubuhnya! Dengan ringan sekali wanita itu hinggap di atas tanah, berjungkir balik tiga kali untuk mematahkan tenaga luncuran tubuhnya yang melayang tadi. Sejenak semua orang memandang bengong, kemudian Si Gendut mendahului teman-temannya memegang tali dan merosot turun melalui tali itu, diikuti teman-temannya yang kini tergesa-gesa karena khawatir ketahuan oleh para penjaga. Setelah semua orang turun, wanita itu sekali tarik saja berhasil membikin putus ujung tali di atas tembok dan melemparkan tali itu ke atas tanah.

Pada saat itu terdengar bentakan-bentakan dan terdengar derap kaki para penjaga yang melihat bayangan belasan orang yang sedang melarikan diri ini.

"Lari....! Kita berpencar....!"

Si Gendut memberi komando dan mereka lari berserabutan ke pelbagai jurusan.

"Kau lari bersamaku, A Ciang!"

Tiba-tiba wanita itu berkata dan memegang tangan A Ciang. Dia mengenal nama pemuda tampan itu ketika mendengar seorang di antara mereka tadi menyebut namanya ketika mereka berbisik-bisik ketika merosot turun melalui tali. A Ciang tidak menjawab, bahkan tidak mungkin bisa membantah lagi karena tiba-tiba dia merasa tubuhnya "diterbangkan"

Oleh wanita itu. Teman-te-mannya juga tidak ada yang memperhatikan karena mereka sedang sibuk mencari keselamatan masing-masing. Mereka bukanlah orang-orang penakut yang melihat pasukan lalu lari, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang cerdik,

Maklum bahwa kalau menghadapi pasukan di dekat tembok benteng itu, tentu akan memancing datangnya semua pasukan dan belasan orang seperti mereka itu mana mampu menghadapi pasukan besar? Si Gendut memerintahkan agar mereka berpencar sehingga andaikata ada yang tertangkap atau terbunuh, tidak semua menjadi korban seperti kalau nekat melawan di tempat berbahaya itu. Komandan pasukan menjadi marah melihat bahwa belasan orang itu melarikan diri. Tahulah dia bahwa tentu mereka itu adalah mata-mata musuh yang banyak terdapat di dalam benteng dan baru saja melarikan diri. Dia lalu mendatangkan bala bantuan dan dengan lima puluh orang perajurit dia melakukan pengejaran. Komandan pasukan itu seorang perwira muda yang tinggi besar dan gagah, memegang pedang dan menunggang seekor kuda putih.

Para anggauta Tiat-ciang-pang makin panik melihat bahwa mereka dikejar pasukan dan cepat mereka melarikan diri di sebuah ladang yang penuh alang-alang liar. Juga wanita itu tadi bahkan telah mendahului mereka, telah membawa A Ciang menyusup ke dalam alang-alang yang tingginya sama dengan manusia. Dia menggandeng tangan A Ciang dan terus menyusup sampai ke tengah-tengah ladang itu dan mereka seolah-olah tenggelam di dunia tersendiri yang sunyi dan yang terdengar hanya berkelisiknya alang-alang tertiup angin sehingga permukaannya berombak seperti air laut. Tidak tampak dari luar mereka itu, dan hanya kalau ada yang dekat dengan tempat itu saja mungkin dapat mendengarkan percakapan mereka yang aneh.

"Ahhh, Kouw-nio....!"

Post a Comment