Halo!

Kisah Sepasang Rajawali Chapter 167

Memuat...

"Jangan lupa kepadaku, Twako, dan sekali-kali carilah aku."

Kian Lee mengangguk, tersenyum lalu meloncat keluar dari pintu, akan tetapi ketika dia membalik, tanpa disengaja dia menginjak sesuatu yang lunak.

"Awas, Twako....!"

Hwee Li mengingatkan, Kian Lee meloncat ketika mendengar suara kucing menjerit dan kucing yang terlnjak ekornya itu menye-rangnya dengan kaki depan, mencakar, akan tetapi Kian Lee telah leblh dulu mengelak.

"Wah, berbahaya! Semua kuku dari kucing-kucing di sini mengandung racun berbahaya, Twako."

"Ehh?"

"Ji-sukouw suka sekali memelihara kucing dan.... eh, dia sendiri sifatnya seperti kucing. Semua kucing ini adalah peliharaannya."

Kian Lee menghela napas. Aneh-aneh orang dunia kang-ouw ini, pikirnya. Dan setelah Ketua Pulau Neraka dan dua orang sumoinya itu muncul, tentu akan terjadi geger. Dia mengangguk lagi dan kini melesat ke luar, sebentar saja lenyap meninggalkan Hwee Li yang cemberut dikelilingi kucing-kucing itu. Tek Hoat yang tidak dapat menemukan musuh-musuhnya, dua orang pemuda lihai yang telah menghilang, apalagi karena tidak dapat menemukan kembali Syanti Dewi, menjadi jengkel dan marah sekali. Dia menghubungi Panglima Kim Bouw Sin yang telah mengadakan perundingan dengan Raja Tambolon dan melaporkan bahwa di kota itu penuh dengan mata-mata musuh.

Atas usulnya, pintu kota benteng itu ditutup dan pasukan-pasukan dikerahkan untuk mengadakan penggeledahan dan perondaan untuk menangkapi mata-mata musuh, terutama sekali tentu saja penggeledahan dari rumah ke rumah ini oleh Tek Hoat ditujukan untuk menemukan kembali Syanti Dewi! Pasukan Tambolon mulai bergerak di bawah pimpinan Raja Tambolon itu sendiri, telah bersepakat dengan pihak pemberontak untuk membantu pemberontak, dan diberi ijin untuk menyerbu dusun Ang-kiok-teng di mana terdapat pasukan yang dipimpin oleh Thio-ciangkun, bahkan Kim Bouw Sin menyerahkan dusun itu untuk menjadi markas dari Raja Tambolon dan pasukannya. Tentu saja pasukan liar itu menjadi girang karena penyerbuan itu berarti perang, kemenangan, harta, makan minum berlimpah dan terutama sekali banyak perempuan tawanan!

Pangeran Tua Liong Khi Ong juga sudah meninggalkan kota itu untuk memasuki kota benteng Teng-bun bersama Pangeran Kim Bouw Sin yang menyerahkan penjagaan dan pembersihan kota Koan-bun itu kepada seorang panglima yang mewakilinya setelah Koan-bun direbut. Juga Tek Hoat diharuskan mengawal Pangeran Liong ke depan benteng Teng-bun, pusat pemberontakan itu. Biarpun hatinya menyesal sekali karena dia tidak berhasil menemukan Syanti Dewi, namun Tek Hoat tidak berani membantah, apalagi saat itu memang merupakan saat yang penting di mana pihak pemberontak sudah siap mengerahkan kekuatan untuk sewaktu-waktu menyerbu ke selat-an, yang diawali oleh penyerbuan pasukan liar Raja Tambolon ke dusun Ang-kiok-teng itu. Para penduduk di kota Koan-bun kembali menjadi panik setelah pada hari-hari kemarin dibikin geger oleh berita munculnya pasukan liar dari Raja Tambolon.

Kini mereka menjadi panik karena setiap rumah di dalam kota itu digeledah oleh perajurit-perajurit yang dipimpin oleh perwira-perwira yang kasar. Perang memang merupakan puncak kekejaman dari manusia yang mengumbar hawa nafsunya yang tanpa batas itu. Setiap kesempatan di dalam keadaan kacau oleh perang selalu dipergunakan oleh manusia untuk memuaskan hawa nafsunya. Di dalam penggeledahan dari rumah ke rumah ini pun, biar dalihnya adalah untuk pembersihan dan menangkapi mata-mfta musuh, akan tetapi pelaksanaannya banyak diselewengkan oleh dorongan hawa nafsu sehingga terjadilah hal-hal yang amat aneh dan keji. Kesempatan ini dipergunakan oleh mereka yang berkuasa, dalam hal penggeledahan ini tentu saja para perwira yang memimpin pasukan penggeledahan bersama anak buahnya, untuk memeras dan menindas rakyat.

Yang termasuk hartawan tentu tidak luput dari pemerasan uang. Penyogokan atau sumbangan paksaan setengah merampok, pengambilan benda-benda berharga yang kecil-kecil secara begitu saja. Yang tidak mampu menyogok, ada yang dipaksa menyogok dengan menyerahkan anak gadisnya untuk sekedar "menghibur"

Sang Perwira di dalam kamar selagi anak buahnya menggeledah ke seluruh rumah, dan tidak jarang peristiwa menyedihkan yang hanya berlangsung beberapa lama di dalam kamar itu disusul oleh peristiwa bunuh diri oleh Si Gadis yang dipaksa melayani Sang Perwira atau beberapa orang anggauta tentara. Banyak pula orang yang ditangkap, dengan tuduhan mata-mata dengan fitnah bermacam-macam hanya untuk melampiaskan kemarahan dan dendam pribadi!

Para pembantu, penyelidik dan mata-mata yang disebar oleh Puteri Milana dan Jenderal Kao juga para anggauta Tiat-ciang-pang yang menganggap diri sendiri sebagai pejuang-pejuang, menjadi repot juga ketika melihat betapa banyak teman mereka telah tertawan dan pembersihan masih terus dilakukan. Setelah main kucing-kucingan di dalam kota, menghindarkan diri dari pengejaran para pasukan pemberontak sampai senja, akhirnya Si Gendut anak buah Tiat-ciang-pang bersama belasan orang temannya tiba di dekat dinding benteng yang amat tinggi, bingung karena mereka tidak mem-peroleh jalan keluar setelah benteng ditutup dan dijaga dengan ketat oleh pasukan pemberontak. Cuaca senja remang-remang dan mereka berkelompok di dekat dinding yang sunyi itu, mencari akal bagaimana mereka akan dapat keluar dari tempat itu.

"Kita bongkar tembok saja."

"Ah, akan makan waktu terlalu lama."

"Selain itu juga berisik dan tentu ketahuan penjaga."

"Temboknya tebal sekali, tidak mudah membongkarnya tanpa alat lengkap."

Selagi mereka bercakap-cakap mencari akal, karena untuk meloncat ke atas tembok yang tinggi sekali itu adalah hal yang tidak mungkin, tiba-tiba seorang di antara mereka memberi isyarat,

"Sssttt.... ada orang....!"

Bagaikan segerombolan tikus melihat ada kucing datang, belasan orang ini menyelinap ke sana-sini dan sebentar saja mereka sudah lenyap bersembunyi! Si Gendut yang memimpin rombongan itu bersembunyi bersama seorang temannya yang masih muda dan tampan bernama A Ciang. Sambil bersembunyi mereka mengintai dan legalah hati Si Gendut ketika melihat bahwa yang datang dari jauh itu bukanlah seorang penjaga, bahkan bukan pula seorang pria, melainkan seorang wanita yang dari jauh kelihatan betapa pinggangnya ramping dan lengannya lemah gemulai menggairahkan.

"Ssst, A Ciang, dia itu wanita, tentu akan tertarik dan suka menolongmu. Kau mintalah tolong kepadanya agar dia suka mencarikan sehelai tali yang kuat untuk kita pakai melarikan diri. Kalau kita memasang kaitan dan melontarkan tali yang panjang ke atas dinding, kita tentu dapat memanjat naik dan keluar dari sini,"

Berkata Si Gendut kepada temannya. A Ciang mengangguk dan dia membereskan pakaiannya, lalu keluar dari tempat persembunyiannya menanti datangnya wanita dari depan itu. Setelah wanita itu datang dekat, A Ciang hanya melongo dan tidak bisa bicara!

Dia terpesona menyaksikan wanita itu karena setelah dekat tampaklah seorang wanita yang sukar ditaksir berapa usianya, akan tetapi kelihatan masih muda sekali, cantik jelita luar biasa, dengan wajah manis yang mengandung tantangan pada sinar mata dan senyumnya, tubuhnya padat dan ramping penuh gerak hidup, lemas dan bajunya pada bagian dada demikian ketat menempel dadanya sehingga membayanglah sepasang buah dadanya yang menonjol. Pendeknya, selama hidupnya belum pernah A Ciang melihat seorang wanita secantik ini! Ketika wanita itu melihat ada seorang laki-laki menghadangnya, dia memandang tajam dengan sepasang matanya yang indah, kemudian tersenyum mengejek, akan tetapi pandang matanya penuh selidik menatap wajah yang cukup bersih dan tampan dari A Ciang yang usianya baru dua puluh lima tahun itu.

"Engkau mau apa menghadang perjalananku?"

Suara ini halus dan agak serak, seperti bisikan merayu, mulut dan bibir merah itu bergerak genit ketika bicara. A Ciang menelan ludahnya sebelum menjawab.

"Maaf.... Nona, saya.... saya eh, ingin minta tolong kepada Nona...."

"Minta tolong apa? Dan mengapa banyak teman-temanmu bersembunyi dan mengintai? Apakah kalian perampok?"

Mendengar ini, A Ciang terkejut bukan main. Wanita ini tahu bahwa banyak temannya bersembunyi di sekitar tempat itu! Juga Si Gendut mendengar kata-kata ini maka dia lalu keluar, tubuhnya gendut seperti seekor katak besar keluar dari sarangnya, lalu dia memberi isyarat kepada kawan-kawannya untuk keluar karena percuma saja bersembunyi setelah wanita itu mengetahui akan keadaan mereka. Pula, seorang wanita tentu saja tidak akan membahayakan keadaan mereka.

"Mereka adalah kawan-kawanku...."

A Ciang berkata. Akan tetapi Si Gendut sudah maju dan menjura kepada wanita itu.

"Kouw-nio (Nona), harap suka menolong kami. Kami harus dapat keluar dari dinding ini, kalau tidak kami akan dibunuh oleh srigala-srigala itu. Tolonglah kami, Kouw-nio, dengan mencarikan sehelai tali yang panjang dan kuat. Percayalah bahwa kami bukanlah orang-orang jahat, melainkan pejuang-pejuang yang rela mempertaruhkan nyawa dan badan demi negara...."

Wanita itu menggerakkan kedua alisnya. Manis sekali gerakan ini, apalagi karena dia memang memiliki sepasang mata yang amat bagus.

"Jadi kalian ini mata-mata kerajaan?"

"Bukan, kami adalah orang-orang kang-ouw yang membantu pemerintah untuk menghadapi pemberontak hina. Harap Nona suka membantu kami."

"Keluar dari tempat ini apa sih sukarnya? Mengapa harus mengguna-kan tali?"

"Ah, Kouw-nio, kalau tidak menggunakan tali lalu bagaimana? Apakah Kouw-nio mengeta-hui jalan keluar secara lain yang lebih aman?"

Si Gendut bertanya. Wanita itu menggelengkan kepala.

"Aku tadi masuk ke sini juga melalui dinding ini, tapi tanpa tali."

Semua orang yang mendengar ini terkejut sekali dan memandang dengan mata terbelalak.

"Tanpa tali....?"

Si Gendut bertanya.

"Nona yang baik, harap Nona suka mengajari saya agar dapat keluar dari sini sebaiknya,"

Kata A Ciang. Wanita itu memandang kepada A Ciang, wajahnya berseri dan sepasang matanya mengeluarkan sinar aneh, lalu dia tersenyum.

"Kalau kalian membutuhkan tali, tunggulah sebentar, aku akan mengambilkan untuk kalian."

Setelah berkata demikian, wanita itu berjalan pergi dengan lenggang yang mempesonakan semua orang, akan tetapi dapat dibayangkan betapa kaget dan khawatir hati mereka ketika melihat wanita itu berjalan menuju ke pos penjagaan yang kelihatan agak jauh dari tempat itu.

"Mampus! Dia melapor kepada penjaga!"

"Wah, dia siluman, kita akan celaka!"

"Hushhh, harap tenang, kawan-kawan. Aku tidak percaya orang seperti dia akan mengkhianati kita, lihat dia sudah kembali!"

Kata A Ciang kepada teman-temannya dan benar saja, tampak wanita itu datang dan membawa segulung tali!

"Terima kasih atas kepercayaanmu kepadaku,"

Kata wanita itu kepada A Ciang sambil melempar kerling dan senyum manis, membuat jantung pemuda itu seperti hampir copot rasanya.

"Nah, ini tambangnya, bagaimana kalian akan naik?"

Tanya wanita itu sambil terse-nyum mengejek, agaknya merasa geli menyaksikan tingkah delapan orang ini. Si Gendut yang paling lihai di antara mereka, mengikatkan sepotong batu di ujung tali, kemudian dia melemparkan tali yang mengikat batu itu sambil memegangi ujung yang lain lagi. Batu meluncur tinggi dan melewati tembok sehingga tali itu tertarik dan menegang. Akan tetapi jangankan dipanjati orang, baru ditarik saja, batu itu sudah jatuh lagi melewati tembok yang tinggi sehingga terpaksa mereka menyingkir agar kepala mereka tidak kejatuhan batu. Berkali-kali Si Gendut mencoba namun selalu batu itu tidak dapat menyangkut sesuatu sehingga setiap kali ditarik tentu akan jatuh kembali.

"Sayang tidak ada besi pengait...."

Si Gendut akhirnya berkata jengkel.

"Berikan padaku tali itu, biar aku yang membawanya ke atas,"

Tiba-tiba wanita itu berkata. Si Gendut meragu, akan tetapi A Ciang mengambil tali itu dari tangan Si Gendut dan menyerahkannya kepada wanita cantik itu.

Tanpa diketahui orang lain, ketika menyerahkan tali, jari mereka bersentuhan dan A Ciang hampir berseru kaget karena tangannya terasa tergetar dan ada hawa hangat sekali memasuki tubuhnya melalui jari tangan yang bersentuhan. Mukanya menjadi merah dan dia memandang kepada wanita aneh itu yang sudah melangkah dengan lenggang yang membuat buah pinggulnya menari-nari, menghampiri tembok benteng, kemudian mengalungkan tali di pinggangnya, menekankan telapak kedua tangannya pada tembok itu, lalu menoleh, tersenyum manis kepada mereka semua lalu.... mulailah dia mendaki tembok itu dengan enak, mudah dan cepat seperti gerakan seekor cecak merayap tembok! Karena merayap naik itu, pinggangnya bergerak-gerak, membuat kedua buah pinggulnya dari bawah tampak melenggang-lenggok.

Post a Comment