Halo!

Kisah Sepasang Rajawali Chapter 166

Memuat...

Hwee Li terkejut dan memandang wajah yang tampan itu penuh pertanyaan.

"Jadi engkau sudah mengenal ayahku?"

Kian Lee mengangguk, akan tetapi tentu saja dia tidak bisa menceritakan kepada gadis cilik yang telah menolongnya ini bahwa dia adalah musuh ayahnya itu. Dia tidak tega mengatakan ini.

"Dan kau tidak takut kepada ayahku?"

"Tidak, mengapa takut? Dia seorang ayah yang baik, bukan?"

Hwee Li melepaskan kucingnya dan memegang kedua tangan Kian Lee.

"Aihh, Twako, kau hebat! Engkaulah orang pertama yang mengatakan bahwa engkau tidak takut kepada ayahku! Padahal semua orang takut. Memang dia seorang ayah yang baik, akan tetapi.... kadang-kadang.... aku pun takut kepadanya. Dia bisa baik, terutama kepadaku, akan tetapi bisa juga.... hemm.... amat kejam.... ah, sudahlah, tidak baik membicarakan ayah sendiri, bukan?"

Kian Lee mengangguk, terheran-heran. Bagaimana seorang iblis tua seperti Hek-tiauw Lo-mo dapat mempunyai seorang anak perempuan begini cantik jelita?

"Engkau tadi tampaknya lebih ketakutan ketika mengira bahwa yang datang adalah bibi gurumu. Mengapa? Siapakah bibi gurumu?"

"Bibi guruku ada dua orang. Twa-sukouw, bibi guru pertama, cukup menyeramkan akan tetapi tidaklah seperti Ji-sukouw, bibi guru ke dua yang amat mengerikan. Kalau dia yang datang dan melihatmu, aku tidak tahu bagaimana akan bisa menyelamatkan engkau."

"Kenapa?"

"Dia tidak akan melepaskan pemuda tampan dan gagah seperti engkau, tentu engkau akan dilarikannya dan paling lama tiga hari engkau akan kedapatan mati di suatu tempat."

"Hemm, apa yang dilakukannya?"

"Aku sendiri tidak tahu. Akan tetapi ayah pun membenci kebiasaannya yang mengerikan itu. Setiap kali dia tentu menculik pemuda tampan dan membunuhnya, aku tidak tahu apa yang dilakukannya, hanya pernah aku melihat pemuda-pemuda yang dibunuhnya. Mengerikan!"

Hwee Li bergidik. Kian Lee teringat akan nenek bertongkat yang amat lihai itu, yang membuat pahanya terluka.

"Seperti apakah kedua orang bibi gurumu itu?"

Tanyanya.

"Yang seorang buruk sekali akan tetapi yang ke dua cantik sekali. Engkau tentu telah bertemu dengan bibiku yang cantik itu, dan untung engkau tldak sampai dibawanya lari, hanya terkena senjatanya. Pahamu itu terkena senjata rahasia peledak, bukan?"

Kian Lee mengangguk.

"Benar, akan tetapi yang melepasnya bukanlah seorang wanita cantik, melainkan seorang nenek buruk sekali, nenek yang bertongkat dan...."

"Ah, dia itu Twa-sukouw!"

Hwee Li berseru heran.

"Tentu dia telah mencuri senjata rahasia Ji-sukouw! Ketahuilah, ahli pembuat senjata rahasia peledak itu adalah Ji-sukouw. Eh, Twako, kenapa kau sampai bertanding melawan Twa-sukouw?"

"Hemm.... karena dia membantu pemberontak." "Pemberontak, pemberontak! Urusan kerajaan dan pemberontak ini menjemukan hatiku, Twako! Agaknya Ayah dan kedua orang bibi guruku melibatkan diri pula. Entah di pihak siapa Ayah berdiri, dan Twa-sukouw, menurut penuturanmu, jelas berdiri di pihak pemberontak. Entah pula dengan Ji-sukouw. Hem, aku jemu! Twako, mari kauantarkan aku kembali ke Pulau Neraka saja, kau tentu kaget mendengar bahwa aku datang dari Pulau Neraka, bukan?"

"Tidak, Hwee Li. Aku tahu bahwa ayahmu adalah Ketua Pulau Neraka berjuluk Hek-tiauw Lo-mo."

"Eh, jadi kau sudah mengenal Ayah sebagai Ketua Pulau Neraka?"

"Aku sudah mengenal ayahmu, akan tetapi tidak tahu tentang bibi gurumu dan tentang dirimu baru sekarang aku mengetahuinya. Dua tahun lebih yang lalu aku dan adikku pernah berkunjung ke Pulau Neraka dan kau tidak ada di sana...."

"Hehh....? Benarkah? Dua tahun yang lalu.... hemm, aku masih dikurung di dalam kamar latihan, tidak boleh keluar sama sekali dan baru setahun yang lalu aku diperbolehkan keluar oleh Ayah. Dua tahun yang lalu....? Kakak beradik....? Wah, wah, aku sudah mendengar tentang keributan itu! Jadi engkau dari Pulau Es?"

Kian Lee mengangguk dan Hwee Li meloncat mundur ke belakang, memandang ketakutan.

"Tentu engkau akan membunuh aku!"

"Tidak, tidak Hwee Li. Engkau gadis yang baik sekali, mengapa aku harus membunuhmu?"

"Engkau dan adikmu itu putera-putera Pendekar Siluman...."

"Pendekar Super Sakti!"

"To-cu (Majikan Pulau) dari Pulau Es musuh besar Ayah!"

"Tapi aku tidak memusuhimu, juga tidak memusuhi ayahmu atau siapapun juga, Hwee Li."

"Benarkah? Aku girang sekali kalau begitu. Aihh, putera Pulau Es. Pantas engkau she Suma! Wah, kalau begitu, engkau harus cepat pergi dari sini, Twako. Kalau Ayah tahu engkau putera dari Pulau Es, tentu celaka. Dan kalau Ji-sukouw keburu datang, engkau pun tentu akan diculiknya. Pergilah, akan tetapi, jangan kau lupa kepadaku, ya?"

Kian Lee mengangguk dan tersenyum.

"Engkau anak manis, engkau telah menyelamatkan aku, Hwee Li. Mana mungkin aku bisa lupa kepadamu?"

Kian Lee lalu berjalan ke pintu, agak terpincang. Setelah mengintai dari belakang pintu ke luar dan tidak melihat siapa pun, dia membuka daun pintu dan hendak melangkah keluar.

"Twako....!"

Kian Lee menoleh dan melihat gadis cilik itu berdiri pucat, dia melangkah masuk lagi, berdiri di depan Hwee Li. Gadis ini cantik luar biasa, sungguhpun masih belum dewasa benar sudah nampak kecantikannya.

"Ada apakah, Hwee Li?"

"Twako, kau benar-benar.... tidak akan lupa kepadaku?"

Kian Lee tersenyum dan menggeleng kepalanya.

"Dan aku.... aku suka kepadamu, Twako!"

Kian Lee terharu, dan meraba serta mencubit dagu yang manis itu.

"Tentu saja, engkau seperti adikku sendiri!"

Mulut yang manis itu cemberut.

"Aku tidak suka menjadi adikmu!"

"Habis bagaimana?"

"Kita adalah sahabat, bukan kakak dan adik."

"Baiklah, engkau sahabatku yang paling baik dan manis, Hwee Li. Eh, aku lupa untuk bertanya tadi. Siapakah nama kedua orang sukouwmu itu?"

Kian Lee perlu untuk menanyakan nama mereka, terutama Si Nenek Lihai karena nenek itu telah menjadi musuhnya, membantu pemberontak, bahkan telah melukainya.

"Twa-sukouw berjuluk Hek-wan Kui-bo (Nenek Setan Lutung Hitam), dan Ji-sukouw berjuluk Mauw Siauw Mo-li (Siluman Kucing). Engkau berhati-hatilah kalau bertemu dengan mereka, Twako, terutama kalau bertemu dengan Ji-sukouw. Dia lebih lihai dan lebih berbahaya dari Twa-sukouw."

"Terima kasih, Hwee Li. Nah, selamat tinggal."

Post a Comment