Halo!

Kisah Sepasang Rajawali Chapter 165

Memuat...

Kian Lee mengejap-ngejapkan matanya, kini baru sadar betul. Ketika dia membuka mata dan memandang lagi, dengan kaget dia mendapat kenyataan bahwa wajah itu bukanlah wajah Ceng Ceng, bukanlah wajah gadis yang dirindukan, sungguhpun wajah ini juga cantik, bahkan terlalu cantik jelita, wajah seorang gadis cilik, seperti setangkai kuncup bunga yang sudah mulai tampak keindahannya, menjanjikan keadaan dan kecantikan luar biasa apabila telah mekar menjadi bunga tak lama lagi! Kian Lee cepat menggerakkan tubuhnya, bangkit duduk. Hampir dia berteriak karena paha kirinya terasa nyeri.

"Ngeonggg....! Ngeooongggg....!"

Kian Lee terperanjat dan memandang ke kanan kiri. Penuh kucing!

"Hushh, Belang! Hitam! Jangan nakal lho!"

Gadis itu membentak halus dan kucing-kucing itu menyingkir agak menjauh dari Kian Lee, sedangkan gadis itu lalu membungkuk dan memondong seekor kucing kecil berbulu putih yang amat cantik. Kian Lee mendapatkan dirinya tadi rebah di atas lantai, ketika dia meraba paha kirinya yang dia ingat telah terluka, dia mendapatkan kenyataan bahwa paha di dalam pipa celananya itu telah diobati dan dibalut orang. Dia meraba-raba, mengerahkan tenaga sin-kang ke arah paha dan mendapat kenyataan yang menggirangkan hatinya bahwa rasa panas dari racun obat peledak itu telah lenyap, atau telah menjadi tawar oleh obat penolaknya yang mujarab sekali.

"Eh, di mana aku....?"

Dia berkata. Gadis itu sambil mengusap-usapkan pipinya yang tadi diraba tangan Kian Lee kepada punggung kucing yang penuh bulu halus memandang kepadanya dengan muka dimiringkan dan mata bersinar, wajah berseri-seri, tersenyum menjawab nakal,

"Di dalam rumah!"

"Ya, tentu. Tapi rumah siapa?"

Sepasang mata itu bergerak nakal, bibir merah itu tersenyum dikulum sebelum menjawab, seolah-olah dia hendak mencari "akal"

Untuk menjawab, kemudian keluar jawabannya dengan mata bersinar-sinar,

"Rumah orang!"

Kian Lee tertegun sejenak, memandang gadis cilik itu dan tiba-tiba dia tertawa. Gadis ini mengingatkan dia kepada adiknya, Kian Bu! Betapa sama sifatnya, sama-sama nakal dan suka menggoda orang, karena dia yakin benar bahwa jawaban-jawaban aneh itu disengaja untuk menggoda, jelas tampak dari pandang mata gadis itu yang persis seperti pandang mata Kian Bu kalau sedang menggodanya.

"Eh, kenapa kau ketawa-tawa? Apanya yang lucu?"

Tiba-tiba sifat gadis itu berubah, kalau tadi menahan geli mempermainkan orang, kini penuh penasaran!

"Aku tertawa karena engkau mengingatkan aku akan seseorang. Akan tetapi sudahlah, adik yang baik. Ini rumah siapakah?"

"Rumah bibiku, bibi guruku."

"Jadi diakah yang mengobati kakiku yang terluka?"

Gadis itu menggeleng.

"Bukan, dia belum datang. Yang ada hanya kucing-kucingnya yang kelaparan karena belum diberi makan. Kalau tidak kebetulan aku datang ke sini, tentu kucing-kucing kelaparan ini sudah menggerogoti habis daging-dagingmu ketika kau pingsan tadi."

Kian Lee bergidik. Dara cilik ini cantik manis sekali, akan tetapi di dalam kata-kata dan sikapnya tersembunyi sesuatu yang menyeramkan, seperti ketika membayangkan betapa kucing-kucing kelaparan itu akan menggerogoti daging-dagingnya!

"Kalau begitu, siapa yang mengobati kakiku?"

"Di rumah ini hanya ada kucing-kucing ini dan aku. Kucing-kucing ini tentu tidak bisa mengobati luka di kakimu yang penuh dengan racun obat peledak, biarpun mereka akan menggunakan lidah-lidah mereka yang kasar untuk secara bergantian menjilati luka di kakimu itu."

Kembali Kian Lee bergidik. Cara gadis cilik ini menggambarkan sesuatu benar-benar membikin orang merasa ngeri.

"Kalau begitu, engkaulah yang telah mengobatinya?"

Tanyanya dengan heran sekali.

"Hemm, entah siapa, kau cari saja sendiri. Yang ada hanya aku dan kucing-kucing ini, dan kucing-kucing ini tentu saja tidak bisa mengobati. Eh, masih ada lagi selain aku dan kucing-kucing ini, tapi aku sangsi apakah mereka itu dapat mengobatinya."

"Mereka siapa?"

Kian Lee bertanya sambil memandang ke kanan kiri, siap siaga menghadapi segala kemungkinan.

"Mereka inilah."

Gadis cilik itu telah melepaskan anak kucing yang tadi dipondongnya, dan tahu-tahu dia kini sudah mengeluarkan dua ekor ular yang membuat Kian Lee terbelalak dan melongo karena mengenal ular-ular itu sebagai dua ekor ular yang paling berbisa! Dan jelas bahwa dua ekor ular itu bukanlah ular-ular yang telah dijinakkan atau telah tidak mengandung bisa lagi. Dua ekor binatang menjijikkan itu mendesis-desis dan dari desisnya saja sudah mengepulkan uap hitam yang amat berbisa! Akan tetapi, gadis cilik itu mempermainkan dua ekor ular ltu seperti memainkan dua helai saputangan sutera saja layaknya!

Kini Kian Lee memandang gadis itu dengan pandang mata lain. Mengertilah dia bahwa betapapun halus dan cantik manis tampaknya, ternyata gadis cilik itu memiliki kepandaian hebat untuk menaklukkan ular berbisa, dan tentu dengan sendirinya ahli tentang racun, maka dapat mengobati pahanya yang terluka dan terkena racun. Buktinya, gadis cilik ini tadi mengatakan bahwa luka di pahanya terkena racun obat peledak! Kian Lee lalu bangkit berdiri. Pahanya masih agak nyeri, akan tetapi karena sudah terbebas dari racun, rasa nyeri dapat dipertahankan dan dia dapat menggerakkan kaki kirinya seperti biasa. Lalu dia menjura kepada gadis cilik yang sudah memondong lagi anak kucing putih sedangkan dua ekor ular tadi entah disembunyikan di mana, mungkin di saku baju luarnya yang panjang dan lebar itu.

"Nona, saya menghaturkan banyak terima kasih atas pertolongan Nona yang amat besar tadi. Saya Suma Kian Lee tidak melupakan...."

"Wah, kau she Suma?"

Tiba-tiba gadis ci1ik itu membentak.

"Benar, mengapa?"

Kian Lee bertanya heran, apalagi melihat betapa sepasang mata itu kini terbelalak lebar memandangnya seperti mata orang marah!

"Aku.... benci orang yang shenya Suma! Semua orang she Suma adalah musuh besarku, demikian kata ayahku. Maka kalau kau she Suma, aku menyesal telah mengobati lukamu.... akan tetapi.... hemm, kau.... tampan dan gagah, engkau tentu orang baik, maka aneh kalau kau she Suma karena menurut Ayah, she Suma adalah she orang-orang yang jahat dan menjadi musuh besar kami."

Kian Lee mengerutkan alisnya.

"Kalau boleh saya bertanya, Nona...."

"Nanti dulu, aku benci caramu menyebut aku nona! Aku sudah muak karena setiap hari orang-orang kami menyebutku nona dengan sikap menjilat sehingga setiap kali mendengar sebutan nona, aku membayangkan sikap orang menjilat-jilat menjemukan! Jangan panggil aku nona, baru aku mau mendengarkan!"

Kian Lee makin heran. Bocah ini benar-benar aneh, manis tapi menyeramkan, menarik tapi manja menggemaskan, masih bersikap kanak-kanak akan tetapi telah memiliki ilmu demikian tinggi tentang racun!

"Baiklah, aku akan menyebut siauw-moi (adik kecil)...."

"Iihh, kau kira aku masih bayi? Aku sudah hampir dua belas tahun! Dan engkau pun belum begitu tua, kau pantas menjadi kakakku. Kenapa tidak menyebut aku adik saja, jangan pakai kecil segala!"

Katanya manja dan berlagak seperti telah dewasa, akan tetapi lagaknya ini malah membayangkan bahwa gadis cilik ini memang masih mentah! Akan tetapi karena maklum bahwa gadis cilik ini memiliki watak yang ku-koai (aneh), Kian Lee yang merasa berterima kasih telah ditolong itu berkata,

"Baik, Moi-moi. Aku ulang lagi, kalau boleh aku bertanya, engkau ini siapakah dan siapa pula ayahmu yang begitu membenci she Suma?"

"Namaku? Aku Kim Hwee Li."

Kian Lee mengingat-ingat. Tidak pernah dia mendengar nama ini dan hanya tahu bahwa nama Hwee Li ini terdengar manis sekali.

"Dan ayahmu?"

"Tidak perlu kukatakan."

"Kenapa?"

"Engkau tentu akan lari terbirit-birit mendengarnya. Sudah banyak pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi yang kujumpai dan kuajak berteman, kalau mendengar nama ayahku lalu lari ketakutan meninggalkan aku. Aku tidak ingin kau pun ketakutan seperti itu dan berlari pergi setelah kuperkenalkan namanya."

"Ah, masa? Katakanlah, aku tidak akan lari...."

Tiba-tiba Kian Lee menghentikan kata-katanya karena pintu depan diketuk orang. Gadis itu menjadi kaget dan kelihatan ketakutan sekali. Kini baru tampak oleh Kian Lee betapa gadis cilik yang amat cantik jelita ini memiliki wajah yang amat pucat, dan sekarang, dengan mata terbelalak ketakutan itu wajahnya kelihatan makin pucat lagi.

"Celaka....!"

Bisiknya dan jari-jari tangannya yang memegang lengan Kian Lee menggigil.

"Kau.... kau sembunyilah di sini saja, jangan bergerak, jangan bernapas.... jangan mengeluarkan suara.... biar aku menghadapi Sukouw.... jangan khawatir, aku tidak akan membiarkan engkau menjadi korban Sukouw!"

Kian Lee yang menjadi bingung karena tidak mengerti itu hanya mengangguk, lalu dia duduk kembali, bersembunyi di balik tiang dan dinding, akan tetapi dia mengintai ke arah pintu depan.

Sedangkan Hwe Li dengan sikap ditenang-tenangkan dan memondong kucing putih mulus, melangkah ke arah pintu lalu membuka pintu. Daun pintu terbuka lebar dan terdengar orang mendengus marah dan muncullah seorang kakek yang membuat Kian Lee kini benar-benar menahan napas karena dia mengenal kakek ini sebagai kakek raksasa yang lihai dan menyeramkan, dan tidak heranlah dia kini mengapa gadis cilik itu demikian lihai, karena kakek yang muncul ini bukan lain adalah Hek-tiauw Lo-mo, Ketua Pulau Neraka! Hek-tiauw Lo-mo yang masuk dengan marah itu terbelalak kaget dan heran ketika melihat bahwa yang membukakan pintu adalah puterinya sendiri. Dengan menudingkan telunjuk kanannya yang besar dan berkuku panjang ke arah muka gadis cilik yang tenang-tenang saja itu, dia menghardik,

"Hwee Li! Mengapa engkau yang berada di sini? Mana bibi gurumu?"

"Bibi Guru tidak ada di rumah, Ayah. Aku kesal Ayah tinggalkan di pondok kosong bersama anak buah yang kasar-kasar itu, maka aku datang mengunjungi Sukouw. Akan tetapi dia pun tidak ada dan aku senang di sini bermain-main dengan kucing-kucingnya. Ayah, biarkan aku bermain-main di sini sendiri bersama kucing-kucing ini, kalau tidak boleh aku akan menangis sehari semalam!"

"Wah-wah, kau memang manja dan tidak beres! Aku perlu dengan bibi gurumu, entah ke mana perginya pelacur tak tahu malu itu! Nah, biar engkau di sini menanti dia pulang, kalau dia pulang katakan bahwa aku ingin bertemu dengannya. Suruh dia datang mengunjungi pondok kita."

"Baik, Ayah. Kau baik sekali, Ayah, engkau ayah yang baik. Terima kasih!"

Berkata demikian, Hwee Li mengantar ayahnya keluar dan menutupkan kembali daun pintunya. Kemudian sambil tertawa kecil dia berlari menghampiri Kian Lee. Kian Lee sudah bangkit berdiri, jantungnya masih berdebar tegang.

"Dia itu ayahmu? Hemm, kiranya ayahmu Hektiauw Lo-mo...."

Post a Comment