Dia mengangguk-angguk seperti seekor ayam kelaparan makan beras. Panas rasa perut Kian Bu ketika mengenal pemuda itu yang bukan lain adalah si pemuda tampan berpedang yang mereka jumpai di warung bakmi tadi. Apalagi ketika ia melihat Syanti Dewi memandang pemuda itu, membungkuk sedikit dan mengeluarkan kata-kata halus yang sudah amat dikenalnya,
"Terima kasih!"
Perutnya menjadi bertambah panas. Pemuda itu mengangguk dan tersenyum kepada Syanti Dewi, untuk beberapa lama sepasang matanya memandang dengan amat tajamnya. Dua pasang mata bertemu dan wajah Syanti Dewi menjadi merah sekali karena tertangkap olehnya betapa sepasang mata itu memandangnya penuh kagum dan penuh kemesraan, maka dia cepat menundukkan mukanya. Melihat hal ini, Kian Bu hampir tak dapat menahan kemarahan hatinya lagi.
"Siapa suruh engkau mencampuri....?"
Akan tetapi tiba-tiba lengannya dipegang oleh Kian Lee dan Bun Beng yang juga cepat melangkah maju dan menjura kepada pemuda itu sambil berkata,
"Terima kasih atas bantuanmu, Sobat."
Dia lalu menoleh kepada Kian Bu dan Kian Lee, berkata,
"Hayo kita cepat masuk kota agar jangan sampai kehabisan kamar penginapan!"
Mendengar ini, Tek Hoat lalu menjura penuh hormat kepada Syanti Dewi dan dengan halus berkata,
"Mencari tempat penginapan akan sukar sekali, dan kalaupun ada tidak cukup pantas untuk tempat Nona menginap. Kalau Cu-wi sudi, saya dapat menawarkan tempat menginap...."
"Ah, terima kasih, mana kami berani membikin repot Sicu? Biarlah kami mencari penginapan sendiri, terima kasih dan maaf!"
Bun Beng cepat menolak dengan halus karena dia maklum bahwa pemuda berpedang ini jelas amat tertarik kepada Syanti Dewi dan kalau hal ini dibiarkan saja, bisa timbul keributan antara pemuda itu dan Kian Bu. Di tempat seperti itu, apalagi mengingat akan tugas mereka, sebaiknya menjauhkan keributan karena urusan pribadi. Sambil bersungut-sungut Kian Bu mengikuti rombongannya pergi dari pintu gerbang itu, sedangkan pemuda berpedang itu pun pergi ke lain jurusan.
"Lagaknya, seperti dia seorang yang mempunyai uang! Laginya, aku tidak sudi kalau harus menyogok-nyogok!"
Kian Bu mengomel.
"Sute, dia telah melakukan itu untuk membantu kita, mengapa kau marah-marah?"
Bun Beng menegur, di dalam hatinya terasa geli melihat sikap pemuda yang masih kekanak-kanakan ini.
"Bu-ko, orang itu baik, kita semestinya berterima kasih,"
Syanti Dewi juga berkata dengan suara wajar. Kian Bu terdesak, hatinya tidak puas, akan tetapi tentu dia tidak dapat membantah karena memang tidak ada bukti kesalahan orang itu. Mereka lalu mulai mencari tempat penginapan. Akan tetapi, tepat seperti yang dikatakan oleh pemuda berpedang tadi, amat sukar mencari tempat penginapan. Semua penginapan telah penuh, bahkan rumah-rumah kosong dan kuil-kuil telah penuh dengan orang sampai berdesak-desakan dan banyak pula yang tidur di emper-emper depan toko dan rumah penduduk! Mereka ini adalah para pengungsi yang tinggal di dusun-dusun sekitar kota Koan-bun.
Mereka mendengar akan ancaman perang yang sewaktu-waktu meletus, berbondong-bondong mereka mengungsi ke kota-kota sebelah timur dan selatan, dan tentu saja kota Koan-bun dibanjiri pengungsi karena kota ini pun merupakan kota yang terjaga oleh pasukan dan yang mereka anggap aman karena terlindung. Memang pada jaman itu, dusun-dusun yang tidak terjaga selalu menjadi korban pertama dari keganasan manusia dalam perang, bukan hanya gangguan dari para serdadu pihak musuh yang membunuh, memperkosa dan merampok, akan tetapi juga gangguan dari gerombolan-gerombolan orang jahat yang mempergunakan kesempatan itu untuk bersimaharajalela. Cuaca sudah gelap, malam sudah tiba dan rombongan Bun Beng masih juga belum memperoleh tempat penginapan.
"Tidak mengapalah, Paman,"
Akhirnya Syanti Dewi berkata karena maklum bahwa mereka bertiga itu bersusah payah mencarikan penginapan, khusus untuk dia seorang!
"Kalau memang di mana-mana penuh, mencari pun tidak ada gunanya. Malam ini kita lewatkan di pinggir jalan juga tidak apa. Paman tahu bahwa aku bukan seorang yang takut menghadapi kesukaran."
Bun Beng tersenyum. Tentu saja dia tahu. Selama melakukan perjalanan dengan Syanti Dewi ke utara, di waktu dia sakit payah dan jalan pun tidak bisa, boleh dibilang gadis itulah yang merawat-nya, yang mengatur segalanya, bahkan setiap malam tidur di mana saja! Akan tetapi dia tahu bahwa Kian Bu bersikeras untuk mencarikan tempat penginapan yang baik bagi gadis itu!
"Suheng, bagaimana kalau aku memasuki sebuah diantara gedung-gedung besar itu? Aku boleh paksa seorang diantara mereka meminjamkan kamar untuk Adik Syanti!"
Kian Bu berkata. Bun Beng menggeleng kepala.
"Jangan mencari perkara di dalam suasana seperti ini, Sute. Biarlah kita melewatkan malam di tepi jalan, kita pilih yang agak sunyi seperti dikatakan Dewi tadi. Malam nanti aku akan pergi ke Teng-bun untuk menyelidiki suasana. Engkau dan kakakmu menjaga Dewi di sini."
Terpaksa Kian Bu menurut dan mereka lalu memilih pinggir jalan yang agak sunyi, lalu duduk di atas tanah begitu saja. Banyak pula para pengungsi lain yang juga seperti mereka, melewatkan malam di pinggir jalan! Suasana makin tegang dan agaknya malam itu tentu akan terjadi sesuatu yang hebat.
Bun Beng mulai penyelidikannya dengan mendengarkan percakapan-percakapan diantara kelompok-kelompok pengungsi tak jauh dari situ. Bermacam-macam keterangan diperolehnya tentang kota Koan-bun ini. Ada yang mengatakan bahwa pembesar setempat masih setia kepada pemerintah, akan tetapi sebagian banyak pembesar lainnya sudah condong kepada pemberontak. Bahkan kabarnya pasukan di situ pun sudah menjadi kaki tangan pemberontak. Ada yang mengabarkan lagi bahwa malam itu pemberontak akan melakukan serangan. Pendeknya, bermacam-macam berita simpang-siur yang didengarnya. Dia menceritakan semua yang didengarnya itu kepada Kian Lee, Kian Bu dan Syanti Dewi sambil makan malam sederhana berupa roti kering yang dibawa oleh kedua orang kakak beradik itu sebagai bekal.
Tiba-tiba Bun Beng menghentikan ceritanya dan diam-diam dia memberi isyarat kepada mereka bertiga untuk tidak bicara, telunjuknya menuding ke arah belakangnya. Orang itu agaknya juga seorang pengungsi, sudah tua dan membawa bungkusan. Dia datang dan berjongkok, mengeluh panjang pendek tak jauh dari rombongan Bun Beng. Ketika tiba-tiba rombongan itu berhenti bicara, dia berdiri lagi dan pergi. Akan tetapi sejak itu, sering sekali kakek ini lewat di situ, juga beberapa orang lain yang Bun Beng lihat adalah orang-orang yang sama sehingga tahulah dia bahwa mereka telah dimata-matai atau diawasi! Jalan itu makin ramai, dan makin banyak saja orang-orang yang berkelompok di tepi jalan. Agaknya mereka pun kehabisan tempat, ataukah memang sengaja berkelompok di situ? Bun Beng mulai curiga dan dia memperingatkan kedua orang sutenya agar waspada.
"Siapa tahu kalau-kalau mereka ini adalah pengungsi-pengungsi palsu yang sengaja mengurung kita,"
Bisiknya.
"Sikat saja!"
Kian Bu sudah bangkit dan memandang marah
"Sttt, tenanglah, Bu-te!"
Kian Lee menarik tangannya sehingga dia terduduk kembali.
Kian Lee maklum bahwa adiknya itu benar-benar telah mabuk asmara dan serangan demam cinta itu membuat Kian Bu selalu ingin menojolkan dirinya di depan gadis yang dicintanya. Diam-diam dia mendoakan mudah-mudahan adiknya itu lebih berbahagia dalam cintanya, tidak seperti dia, mencinta seorang gadis yang dia tidak ketahui sekarang berada di mana! Akan tetapi karena dia sudah mendengar dari Jenderal Kao Liang bahwa Lu Ceng itu adalah adik angkat dari Syanti Dewi dan hal itu tidak pernah disinggungnya, juga tidak oleh Kian Bu yang dipesannya selama mereka berdua melakukan perjalanan bersama Syanti Dewi, maka sekarang dalam kesempatan menanti dalam suasana tegang itu, ingin dia mencari keterangan kepada Syanti Dewi tentang diri gadis yang dicintanya itu.
"Adik Syanti, aku.... aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu,"
Katanya berbisik agar jangan terdengar orang lain kecuali mereka berempat.
"Apakah itu, Lee-koko?"
"Aku ingin bertanya tentang Lu Ceng atau Candra Dewi...."
"Aihhh....!"
Syanti Dewi hampir menjerit ketika mendengar disebutnya nama Lu Ceng dan tak terasa lagi air matanya bercucuran di sepanjang kedua pipinya. Tentu saja Kian Lee dan Kian Bu terkejut. Gak Bun Beng menghela napas panjang.
"Sute, mengapa engkau menanyakan dia? Dia adalah adik angkat Dewi, dan sudah tewas secara menyedihkan sekali."
"Justeru itulah yang akan saya bicarakan, Suheng! Adik Candra.... dia itu.... Nona Lu Ceng itu, dia belum mati!"
Sepasang mata yang lebar itu terbelalak, dan dengan bingung Syanti Dewi menoleh kepada Bun Beng. Pendekar ini memandang Kian Lee dengan tajam dan penuh teguran, kemudian dia berkata,
"Sute, jangan bicara yang bukan-bukan! Aku sendiri telah turun ke dalam sumur di mana dia terjerumus untuk menyelidiki dan baru turun sebagian saja aku sudah pingsan. Dia sudah tewas."
"Kami juga mendengar dari Jenderal Kao Liang bahwa dia sudah mati di dalam sumur maut, sungguhpun Jenderal Kao tidak bercerita tentang Suheng,"
Kata Kian Bu.
"Akan tetapi.... tenangkan hatimu, Moi-moi.... sesungguhnya Nona Lu Ceng itu masih hidup. Kami sudah berjumpa beberapa kali dengan dia, bahkan yang terakhir ini kami melihat dia di kota raja!"
"Ahhh....! Be.... benarkah? Benarkah itu?"
Kian Lee lalu menceritakan pertemuannya dengan Ceng Ceng di rumah Jenderal Kao, dan betapa gadis itu melarikan diri tidak mau menemui mereka atau Jenderal Kao, betapa jenderal itu sekeluarganya menyembahyangi nona itu!
"Kami yakin dia masih hidup, Adik Syanti. Hanya entah mengapa dia tidak mau menjumpai siapa pun, seperti menyimpan rahasia...."
Kian Lee berkata dengan nada duka.