Halo!

Kisah Pendekar Pulau Es Chapter 179

Memuat...

"Engkau kenapa? Katakanlah!!

Ciang Bun mengepal tinju dan menguatkan hatinya. Dia seorang pendekar, tdak boleh bersikap lemah.

"Gangga, aku akan bicara terus terang dan mungkin sekali akan tidak menyenangkan hatimu, tidak enak kau dengar.!

Melihat sikap tegas ini, Gangga tersenyum.

"Nah, begitu lebih patut bagimu, pendekar Suma Ciang Bun. Bicaralah!!

"Gangga, tadi aku mengatakan bahwa aku cinta padamu, akan tetapi bukan seperti yang kaumaksudkan, tidak seperti yang kau sangka. Bukan cinta sebagai seorang sahabat!!

Gangga sudah tahu akan keadaan pemuda ini dari Suma Hui, akan tetapi ia pura-pura heran, memandang dengan mata terbelalak.

"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti, Ciang Bun.!

"Tidak terasakah olehmu ketika aku.... memelukmu tadi? Aku.... ketika aku.... menciummu tadi? Nah, cintaku seperti itulah!!

"Tapi aku.... aku seorang pria juga!! Gangga memancing.

"Itulah, Gangga, justeru itulah! Aku.... aku bukan seorang yang waras.... aku seorang yang sakit dan menderita kelainan. Karena itulah aku merana dan aku.... takut kalau kau menjadi benci kepadaku, menjadi jijik lalu meninggalkan aku untuk selamanya....! Pemuda itu menundukkan mukanya, tidak menangis lagi namun terbenam dalam kedukaan besar. Gangga Dewi memandang dan hatinyaterharu. Ia sendiri belum merasa yakin benar apakah ia mencinta pemuda ini setelah mengetahui rahasianya dari Suma Hui. Yang jelas ia tidak membenci, tidak jijik melainkan heran, terkejut dan kasihan sekali.

"Ciang Bun,! katanya halus.

"Sebetulnya apakah yang kau derita itu? Kelainan dan penyakit bagaimanakah yang kau maksudkan?!

Ciang Bun menghela napas panjang. Betapapun sukar dan beratnya, dia harus berterus terang, harus menceritakan semua tentang dirinya kepada orang yang dicintanya ini.

"Gangga, mungkin engkau akan kaget, heran dan jijik setelah mendengar penyakit apa yang mengganggu diriku. Baiklah aku mengaku terus terang saja, Gangga. Aku adalah seorang laki-laki yang berselera wanita. Aku tidak tertarik kepada wanita sebagai teman hidup, aku tertarik kepada sesama pria. Aku hanya bergairah terhadap seorang pemuda, aku hanya dapat jatuh cinta kepada seorang pria! Dan aku aku cinta padamu. Bukan hanya sebagai sahabat, melainkan lebih mendalam lagi, seperti.... seperti cinta suami isteri.... aku ingin hidup bersamamu, selamanya di sampingmu dalam suka maupun duka, tidak akan terpisah lagi. Nah, aku sudah menceritakan semua dan.... dan engkau tentu muak dan membenciku!!

Hening sejenak. Gangga Dewi teringat akan siasat yang diatur Suma Hui. Memang, ia berjanji untuk membantu penyembuhan pemuda ini. Akan tetapi hanya untuk mengguncang batinnya, menyadarkanya dengan harapan mudah-mudahan pemuda itu akan dapat sembuh, melalui cinta pemuda itu terhadap dirinya. Akan tetapi, ia sendiri tidak yakin apakah ia juga mencinta pemuda ini. Ia merasa suka dan kagum, akan tetapi cinta? Ia sendiri belum tahu benar, apalagi setelah melihat kelainan yang ada pada batin Ciang Bun.

"Ciang Bun, jadi kau.... kau mencinta diriku?!

"Aku cinta padamu, Gangga, walaupun aku maklum bahwa mungkin sekali engkau akan merasa muak dan membenciku.!

"Engkau mencinta diriku karena.... aku seorang pria, seorang pemuda yang menarik hatimu?! Sepasang mata yang bening tajam itu bersinar menyaingi bintang- bintang yang mulai bertebaran di langit, berusaha menembus kegelapan untuk dapat menjenguk isi dada pemuda itu dan mengetahui isi hatinya.

Ciang Bun mengangguk, teringat bahwa cuaca gelap dan Gangga tidak akan dapat melihatnya, maka dia berkata gagap.

"Ya.... ya, begitulah....!!

Tiba-tiba Gangga bangkit berdiri.

"Hemm, jadi yang kau cinta hanyalah diriku sebagai seorang pemuda yang menarik? Ciang Bun, kalau engkau hanya membutuhkan pemuda tampan menarik, mudah saja bagimu untuk memperolehnya setiap saat dan di manapun! Aku.... aku tidak sudi menjadi korban nafsu-nafsumu!! Setelah berkata demikian Gangga meloncat jauh dan lari.

Sejenak Ciang Bun termangu. Dia sudah menduga bahwa tentu hebat akibat pengakuannya itu, akan tetapi begitu dia teringat bahwa Gangga telah pergi meninggalkannya, mungkin untuk selamanya, diapun meloncat dan mengejar turun dari puncak bukit.

"Gangga....! Tunggu dulu, aku mau bicara denganmu!!

Post a Comment