Halo!

Kisah Pendekar Pulau Es Chapter 178

Memuat...

"Trang....! Cringg....!! Pedang dan tombak itu tertangkis golok dan terpental, hampir terlepas dari tangan pemegangnya yang meloncat ke belakang dengan kaget. Kulit telapak tangan yang memegang pedang terasa panas dan perih.

"Pembesar Koo, sekali ini kuampuni nyawamu. Lekas kau robah cara hidupmu dan menjadi pembesar pelindung rakyat. Kalau tidak, lain kali aku dapat mengambil kepalamu!! Golok berkelebat dan pembesar itu menjerit. Rambutnya terbabat habis dan hidungnya putus. Dia mendekap mukanya dan darah mengalir dari celah-celah jari tangannya, mulutnya mengeluarkan suara sengau.

"Aduh.... aduh.... aduh....!!

Sementara itu, dua orang jagoan sudah memberi aba-aba kepada para pengawal untuk mengeroyok. Akan tetapi para pengawal itu hanya mengacung-acungkan senjata dan tak berani maju. Betapapun juga, dengan adanya belasan orang pengawal itu, hati kedua jagoan menjadi besar dan mereka berdua sudah menerjang maju lagi. Si Naga Merah yang memegang pedang memutar pedang di atas kepala sedangkan Si Naga Hitam menggerak-gerakkan ujung tombak untuk menggertak, mencari saat yang tepat untuk menusuk.

"Penjahat-penjahat keji macam kalian hanya mengotorkan dunia saja!! Nampak dua sinar berkelebat.

"Trang.... trang....!! Dua jagoan itu terbelalak kaget melihat senjata mereka yang patah-patah disambar dua sinar tadi. Akan tetapi sebelum mereka sempat menghindar, dua sinar pedang yang berada di kedua tangan pemuda itu kembali berkelebat dan robohlah Naga Merah dan Naga Hitam. Mereka berkelojotan dan nampaknya tidak luka, akan tetapi dari celah jari tangan mereka yang menutup dada nampak darah bercucuran. Kiranya dua batang pedang di tangan pemuda itu telah menusuk dada menembus jantung!

Para pengawal terkejut dan berebutan menyerbu. Pemuda itu sudah siap memutar sepasang pedangnya, akan tetapi tiba-tiba terdengar teriakan sengau dari Koo- taijin.

"Tahan....! Jangan serang dia! Taihiap, harap ampunkan kami. Mulai sekarang kami hendak merobah semua kesalahan!!

Pemuda itu menoleh kepada pembesar yang masih mendekap hidungnya yang berdarah, bukit hidung itu sudah lenyap terbabat pupus oleh golok tadi. Nyeri bukan main dan berdarah terus. Pemuda itu mengangguk, lalu melemparkan sebuah bungkusan kepada pembesar itu.

"Bagus, taijin. Biar cacad badan, kelak paduka akan menjadi pemimpin rakyat yang baik. Pakailah obat ini, dilumurkan pada lukamu, tentu segera sembuh. Selamat tinggal!! Baru saja kata-kata ini habis diucapkan, tubuh pemuda itu berkelebat ke arah langit- langit kamar. Terdengar suara keras ketika atap itu jebol berlubang dan tubuhnya lenyap menerobos atap!

Ternyata di kemudian hari bahwa Koo-taijin benar- benar bertobat, berobah menjadi seorang pembesar yang baik, memperhatikan kepentingan rakyatnya dan mengerahkan pasukan keamanan untuk mengadakan pembersihan, membasmi sarang-sarang penjahat, bahkan tidak segan-segan menindak bawahannya yang melakukan penyelewengan.

Pemuda perkasa yang telah membunuh Lok-yang Sam- liong dan menghukum Koo-taijin itu berloncatan dari wuwungan ke wuwungan lain dengan kecepatan seperti terbang saja. Dia terus keluar kota dan memasuki kuil tua yang tak dipergunakan orang lagi. Tak lama kemudian dia sudah membuat api unggun di ruangan belakang, duduk bersamadhi di dekat api unggun. Buntalan pakaiannya terletak di dekatnya. Biarpun dia telah berhasil baik sekali dalam tugasnya sebagai pendekar pada malam itu, namun ketika cahaya api unggun menerangi wajahnya, dia sama sekali tidak kelihatan puas dan gembira.

Sebaliknya malah, wajahnya nampak suram muram. Wajah yang tampan itu digelapkan awan kedukaan dan sekali-kali dia menarik napas panang, lalu terdengar keluhannya dengan suara menggetar.

"Gangga.... ah, Gangga....!! Pemuda itu adalah Suma Ciang Bun. Seperti telah diceritakan di bagian depan, ketika mendengar bahwa Gangga pergi tanpa pamit dan menurut encinya pemuda Bhutan itu pergi ke Bhutan, Ciang Bun menjadi kaget dan berduka.

Diapun segera melakukan pengejaran ke barat. Akan tetapi, dia tidak menemukan jejak pemuda Bhutan itu! Hatinya makin rindu dan makin berduka, takut kalau selamanya dia takkan dapat bertemu lagi dengan orang yang amat dicintainya itu. Dia tak berani melakukan perjalanan terlalu cepat, takut membuatnya semakin jauh dari Gangga. Dia melakukan perjalanan perlahan-lahan, berhenti di setiap kota untuk melakukan penyelidikan, lalu melanjutkan terus ke barat. Yang membuat dia berduka adalah karena dia tidak pernah berhasil mendapat keterangan tentang pemuda itu.

Dan untuk mengurangi kedukaannya, untuk menghibur kekesalannya, Ciang Bun mulai bertindak sebagai seorang pendekar yang menentang semua penjahat yang diketahuinya. Juga dia memberi hajaran kepada para pejabat yang korup, seperti yang telah dilakukannya di Lok-yang tadi. Mulai dia dikenal sebagai seorang pendekar muda yang berilmu tinggi dan yang bertangan maut terhadap para penjahat. Memang dia tak mau mengampuni penjahat.

Hal ini mungkin menjadi akibat dari semua pengalamannya. Di Pulau Es dahulu dia menyaksikan betapa kakek dan kedua orang neneknya tewas dan Pulau Es lenyap karena perbuatan penjahat. Kemudian, betapa keluarga ayahnya tertimpa aib karena perbuatan penjahat pula. Semua ini memupuk semacam dendam kebencian di dalam hatinya terhadap para penjahat sehingga dia tak mau memberi ampun kepada setiap penjahat yang ditemuinya.

Suma Ciang Bun terbenam dalam kedukaan. Dia teringat akan rencana pernikahan encinya. Dia takkan dapat hadir dalam perayaan pernikahan itu. Dia sudah mengambil keputusan untuk tidak kembali sebelum dia dapat bertemu kembali dengan Ganggananda.

"Aih.... Gangga, di manakah engkau berada....?! keluhnya penuh rindu sebelum dia tenggelam ke dalam samadhinya.Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Ciang Bun sudah meninggalkan kuil itu dan melanjutkan perjalanannya ke barat. Dia tidak lagi memasuki kota Lok-yang karena selama beberapa hari dia sudah melakukan penyelidikan dan agaknya tidak ada seorangpun melihat pemuda Bhutan seperti Ganggananda di kota itu. Ciang Bun mulai menduga bahwa mungkin sekali pemuda itu mengambil jalan lain, tidak melalui Lok-yang. Akan tetapi bagaimanapun juga, pemuda itu terus menuju ke barat dan dia akan mencari terus sampai ke negeri Bhutan!

Ciang Bun mengambil jalan ke barat menyusuri sepanjang tepi Sungai Huang-ho. Pada waktu musim hujan membuat Sungai Huang-ho pasang dan airnya berlimpah-limpah. Dalam keadaan seperti itu, sungai ini menjadi liar, arusnya kuat sekali sehingga amat berbahaya untuk naik perahu menentang arus. Maka Ciang Bun hanya berjalan kaki saja, kadang-kadang mempergunakan ilmu lari cepat kalau melalui jalan sunyi. Dia akan pergi ke kota Sian yang jauhnya masih antara tiga ratus kilometer dari situ. Kalau dia melakukan perjalanan cepat, dalam waktu empat hari saja dia sudah sampai di sana. Tentu saja kalau di tengah jalan tak ada sesuatu yang akan menyita waktunya.

Dua hari kemudian tibalah dia di sebuah puncak bukit. Dari puncak itu dia dapat melihat pemandangan yang amat indah. Sungai Huang-ho yang lebar nampak berkilauan dari atas. Sejauh mata memandang, tidak nampak adanya dusun di sebelah barat, melainkan penuh hutan memanjang di sepanjang tepi sungai. Maka diapun mengambil keputusan untuk melewatkan malam di tempat indah ini.

Ciang Bun lalu melepaskan buntalan dan siang-kiamnya dari punggung, menjatuhkan diri duduk di atas rumput hijau tebal lunak. Indah bukan main pemandangan menjelang senja itu. Indah dan sunyi. Sunyi sekali. Dia mengeluarkan sebungkus roti kering dan seguci air jernih dari buntalan. Akan tetapi ketika dia menoleh ke kanan kiri, merasa betapa sunyinya keadaan, betapa sepi dan kosong perasaan hatinya, roti kering itu tak jadi digigitnya.

Dia menyimpan kembali roti dan guci air. Tidak jadi makan atau minum walaupun perutnya lapar dan tenggorokannya haus. Dia tidak dapat makan karena pada saat itu hatinya dicekam keresahan dan kedukaan. Dia merasa betapa sepi hidupnya, betapa rindu kepada Ganggananda dan justeru kerinduan inilah yang mendukakan hatinya. Terngiang di telinganya pertanyaan encinya ketika dia akan pergi mengejar Gangga.

"Yakinkah engkau bahwa cintamu terhadap Gangga itu murni? Ataukah hanya nafsu yang timbul karena dia seorang pemuda tampan?! Demikian encinya bertanya.

Ciang Bun menundukkan mukanya. Gangga adalah seorang pria! Dan bagaimana kalau Gangga mendengar pengakuan cintanya, mengerti bahwa dia adalah seorang dengan kelainan? Apakah Gangga akan memandangnya dengan jijik, akan menjadi marah, membencinya dan takkan sudi berdekatan lagi dengannya?

Ciang Bun mengangkat mukanya dan ternyata kedua pipinya yang menjadi pucat itu sudah basah semua. Dia menangis dan tak mampu menahan perasaannya lagi. Ditutupnya mukanya dengan kedua tangan dan dia menangis tersedu-sedu, seperti anak kecil, seperti perempuan!

"Ciang Bun....!! Suara halus terdengar oleh Ciang Bun seperti nyanyian sorga. Seketika dia menurunkan kedua tangan dari mukanya.

"Gangga....? Gangga....?! bisiknya penuh keraguan, penuh harapan, penuh kegelisahan kalau-kalau pendengarannya telah menipunya dan harapannya akan hampa. Akan tetapi ketika dia menoleh, di dalam cuaca remang-remang itu dia melihat pemuda itu dengan jelas! Bukan mimpi, bukan khayal!

"Gangga....!! Dia meloncat berdiri dan berlari menghampiri dengan lengan terbuka. Di situ Ganggananda berdiri memandang kepadanya dengan mata penuh haru, dengan bibir tersenyum.

"Ciang Bun....!! Katanya dengan air mata berlinang. Ciang Bun mengembangkan kedua lengannya dan merangkul. Gangga diam saja dan membiarkan pemuda itu memeluknya dan mendekapnya dengan kuat sekali. Ganggananda diam-diam harus melindungi tubuhnya dengan tenaga dalam dari pelukan Ciang Bun, kalau tidak bisa patah-patah tulang iganya didekap sekuat itu!

"Gangga.... ah, Gangga.... betapa girang hatiku, betapa.... rinduku kepadamu....!! Ciang Bun berbisik berkali-kali, mendekap tubuh itu seolah-olah hendak memasukkan Gangga ke dalam dadanya agar tidak sampai dapat berpisah lagi. Kemudian, saking girangnya dapat bertemu dengan Gangga kembali, dan saking rindunya, dia lalu mencium pemuda itu, ciuman sayang dan mesra pada pipi kanannya. Dia merasa betapa tubuh Gangga gemetar keras dan tiba-tiba Ciang Bun teringat akan keadaan dirinya.

"Ahhh....!! Dia melepaskan pelukannya seperti melepas ular, lalu membalikkan tubuhnya dan menjambak- jambak rambutnya sambil menangis!

"Ciang Bun....!! Ganggananda terkejut, menghampiri dan menyentuh pundaknya.

"Ada apakah....?!

Ciang Bun menutupi muka dengan kedua tangan, pundaknya bergoyang-goyang dan air mata menetes dari celah-celah jari tangannya. Melihat ini, Gangga Dewi menjadi terharu sekali. Betapa sikap pemuda ini seperti seorang wanita saja, padahal sepak terjangnya selama ini begitu gagah perkasa sebagai seorang pendekar sejati. Sungguh sulit membayangkan betapa seorang pemuda selihai ini, cucu Pendekar Super Sakti dari Pulau Es, dapat menangis sesenggukan seperti seorang wanita cengeng!

"Ciang Bun, ada apakah? Apakah yang menyusahkan hatimu?! tanyanya.

Ciang Bun mengusap air matanya dan dia lalu duduk di atas rumput tebal. Gangga Dewi juga duduk dan untuk menghilangkan suasana yang tidak enak itu, ia berkata.

"Tahukah engkau betapa selama beberapa hari ini, dari sebelum engkau tiba di Lok-yang sampai sekarang, aku selalu membayangimu?!

Ucapan ini berhasil menolong. Ciang Bun yang sudah dapat menguasai hatinya, memandang heran.

"Begitukah?! katanya.

"Pantas aku tidak pernah dapat menyusulmu, kiranya engkau berada di belakangku.! Gangga Dewi tersenyum dan suasana yang amat tidak enak bagi Ciang Bun tadi agak berobah, hatinya menjadi tenang kembali.

"Gangga, sebetulnya engkau hendak ke manakah? Apakah benar seperti keterangan enci Hui bahwa engkau hendak pulang ke Bhutan?!

"Dan kau sendiri hendak ke mana?! Gangga balas bertanya.

"Aku.... aku hendak menyusulmu. Karena engkau pergi tanpa pamit padaku....!

"Aku memang tidak pamit karena masih pagi sekali dan aku memang ingin pulang ke Bhutan. Kenapa engkau mengejarku?!

"Aku....? Aku.... merasa kehilangan sekali ketika engkau pergi, Gangga. Aku.... aku rindu sekali kepadamu.!

"Kau memang sahabatku yang amat baik, Ciang Bun. Akan tetapi di antara sahabat, ada waktu berkumpul dan ada waktu berpisah.!

"Akan tetapi aku tidak mau berpisah darimu, Gangga. Selamanya jangan sampai kita berpisah!!

"Eh, mengapa begitu? Mana mungkin begitu?!

"Gangga, aku.... aku cinta padamu, Gangga!!

Gangga Dewi sengaja mengatur sikap untuk menguji batin Ciang Bun sesuai dengan rencananya menolong pemuda itu sembuh, walaupun jantungnya terasa berdebar dan kedua pipinya terasa panas. Ia pura-pura terbelalak heran.

"Tentu saja, akupun suka sekali kepadamu, Ciang Bun. Kita memang sahabat yang saling mencinta, sahabat karib, bukan?!

"Tidak, tidak! Bukan begitu, aku.... aku.... ahhh....!! Dan pemuda itu menunduk untuk menyembunyikan mukanya.

Gangga Dewi memegang pundak Ciang Bun.

"Ciang Bun, ada apakah? Sikapmu begini aneh. Tadi juga kau.... menangis. Ada apakah?!

Inilah saatnya! Saat yang selama ini amat menggelisahkan hatinya. Akan tetapi, bagaimanapun, apapun yang akan menjadi akibatnya, dia harus mengaku terus terang kepada Ganggananda. Mungkin Gangga akan menjadi jijik kepadanya, mungkin menjadi marah, membencinya sehingga mungkin juga akan meninggalkannya, untuk selamanya. Akan tetapi dia harus berani menanggung akibatnya. Lebih baik menghadapi kenyataan dan memperoleh kepastian, betapapun pahitnya, daripada tersiksa dalam keraguan dan ketidaktentuan, tenggelam dalam kerinduan dan kebimbangan. Dia harus berani bersikap gagah sebagaimana layaknya seorang pendekar! Maka, dia cepat menghapus air matanya. Untung baginya bahwa cuaca sudah mulai gelap sehingga Gangga tidak dapat melihat mukanya dengan jelas. Hal ini menolongnya dan mengurangi rasa sungkan dan malunya.

"Gangga, sahabatku yang baik, kalau aku berterus tenang dan kata-kataku menyinggung dan tidak menyenangkan hatimu, maukah engkau.... memaafkan aku?!

Diam-diam Gangga Dewi merasa terharu sekali. Ia merasa kasihan kepada pemuda itu dan ia tahu betapa sukarnya bagi Ciang Bun untuk menjawab pertanyaannya tadi.

"Tentu saja, Ciang Bun. Orang yang berterus terang, berarti mempunyai maksud baik dan sudah sepatutnya kalau dimaafkan.!

"Tapi.... tapi aku....! Ciang Bun menghentikan lagi kata-katanya, nampak berat sekali untuk memhiiat pengakuan dan menceritakan keadaan dirinya.

Post a Comment