Pada keesokan harinya, Suma Ceng Liong dan ayah ibunya sempat mendengar penuturan Suma Hui sendiri yang ditemani suaminya tentang malapetaka dan aib yang menimpa keluarga ayahnya karena kejahatan Louw Tek Ciang. Ia tidak menyembunyikan apa-apa lagi karena bicara di antara keluarga.
"Dulu, bersama suamiku ini, aku perintah singgah dan bertemu paman Kian Bu berdua ketika kami kembali dari Pulau Es dan paman Kian Bu telah memperingatkan kami akan banyak halangan dan rintangan bagi perjodohan kami. Dan ternyata memang benar.! Suma Hui menutup ceritanya.
Kian Bu mengangguk.
"Bagaimanapun juga, semua telah lewat dan anggap saja semua itu sebagai mimpi buruk. Aku sungguh kagum kepada kalian. Cinta antara kalian demikian besar dan murni dan dengan cinta seperti itu kalian tentu akan hidup berbahagia.!Kian Lee menarik napas panjang.
"Semua adalah karena kesalahanku. Aku terlalu kukuh dan aku lengah sehingga mudah tertipu oleh iblis itu.! Dia mengepal tinju dengan gemas.
"Manusia boleh berusaha bagaimanapun, akan tetapi Thian yang berkuasa menentukan.! kata Kao Kok Cu.
"Aku telah bersumpah untuk mencari dan membunuh jahanam Louw Tek Ciang dan gurunya, Jai-hwa Siauw-ok!! kata Suma Hui sambil mengepal tinju.
"Harap paman dapat menenangkan hati, juga enci Hui. Ketahuilah bahwa Jai-hwa Siauw-ok telah tewas tiga tahun yang lalu.! kata Ceng Liong.
Mereka semua, kecuali ayah ibu Ceng Liong yang sudah tahu, terkejut mendengar berita ini.
"Bagaimana terjadinya? Siapa yang membunuh jahanam itu?! tanya Suma Kian Lee.
"Dia berkelahi dengan Hek-i Mo-ong dan dia terpukul roboh dan tewas.!
"Hek-i Mo-ong? Pemimpin gerombolan yang menyerbu Pulau Es?! Suma Hui dan Cin Liong terkejut.
Ceng Liong mengangguk.
"Benar. Dan bukan hanya Jai-hwa Siauw-ok yang tewas, juga Hek-i Mo-ong telah meninggal dunia karena luka-lukanya, setelah bertanding dengan musuh-musuhnya.! Dia tidak menceritakan keadaan dirinya sebagai bekas murid raja iblis itu karena ini akan mendatangkan suasana yang tidak enak saja.
Suma Hui mengerutkan alisnya, lalu menghitung.
"Mereka semua ada lima orang yang memimpin penyerbuan itu. Ngo-bwe Sai-kong telah tewas oleh nenek Lulu, Si Ulat Seribu telah tewas oleh nenek Nirahai, Eng-jiauw Siauw-ong telah tewas oleh Cin Liong-koko, kalau sekarang Hek-i Mo-ong dan Jai-hwa Siauw-ok telah tewas, berarti semua datuk iblis yang menyerbu Pulau Es telah tewas!!
Pada hari itu juga, Suma Kian Bu, isteri dan puteranya berpamit. Mereka meninggalkan kota raja tanpa berani menyinggung soal perjuangan melawan penjajah karena jenderal muda itu kelihatan masih amat bersemangat membela kerajaan. Mereka harus bersikap hati-hati sebelum merasa yakin bahwa ada kemungkinan besar jenderal itu akan mendukung. Ceng Liong sendiri belum berani menyinggung soal gawat itu.
Kita tinggalkan dulu pengantin baru yang berbahagia itu dan kita menengok keadaan kota Lok-yang di mana selama beberapa hari ini terjadi hal-hal yang menggemparkan.
Sejak kira-kira sebulan lamanya terjadi beberapa pembunuhan dan pengrusakan terhadap sarang-sarang penjahat. Juga rumah dua orang pembesar korup tidak terlewat dan menjadi korban serbuan seorang pendekar aneh. Dua orang pembesar itu adalah orang-orang yang suka melindungi kejahatan dengan menerima uang sogokan. Akan tetapi kalau kepala penjahat itu dibunuh dua orang pembesar itu hanya dibuntungi kedua telinga mereka sebagai peringatan keras.
Dan dari mereka inilah, juga dari anak buah penjahat yang sempat melihatnya, tersiar berita bahwa pelakunya adalah seorang pemuda yang berwajah tampan, bersikap halus namun ilmunya tinggi sekali. Dan melihat betapa dia membunuh para kepala penjahat, membasmi sarang penjahat dan menghajar dua orang pembesar korup, jelas bahwa dia tentulah seorang pendekar muda! Dan memang dunia kang-ouw di sekitar Lok-yang sudah mulai mendengar kemunculan pendekar ini, sejak dari sebelah barat kata raja sampai ke Lok-yang. Di sepanjang perjalanan, seorang pendekar muda menyebar maut antara para penjahat dan mengulurkan tangan kepada setiap orang yang menderita dan yang tertindas.
Peristiwa ini menggelisahkan Koo-taijin, kepala daerah kata Lok-yang. Sudah dua orang pembesar pembantunya yang didatangi pendekar itu! Dan dia sendiri yang merasa korup, bahkan suka menggunakan tenaga para penjahat untuk memperkuat kedudukannya, menerima sogokan-sogokan dari para penjahat pemilik rumah-rumah judi, rumah pelacuran dan kepala para maling, rampok dan copet, tentu saja merasa ketakutan. Dia seolah-olah dapat merasakan betapa pendekar ini menanti-nanti kesempatan untuk mendatanginya!
Beberapa malam yang lalu sudah ada bayangan yang berkelebatan di atas genteng gedungnya. Akan tetapi karena diketahui penjaga, bayangan itu tidak sempat melakukan sesuatu dan melarikan diri. Sejak malam itu dia memerintahkan orang-orangnya agar melakukan penjagaan ketat. Namun dia masih merasa ketakutan dan akhirnya dia mengumpulkan tiga orang kepala penjahat di Lok-yang, tiga orang jagoan yang terkenal sebagai Lok-yang Sam-liong (Tiga Naga Lok-yang)! Kini tiga orang jagoan itu siang malam tinggal di gedung Koo-taijin. Barulah hati kepala daerah Lok-yang itu merasa tenang.
Akan tetapi pembesar itu lupa bahwa memasukkan tiga orang pentolan penjahat ke dalam rumahnya untuk menjaga keselamatan rumah sama dengan mempergunakan tiga ekor srigala atau harimau untuk menjaga rumah! Dia mampu menyenangkan hati tiga orang jagoan ini dengan makanan dan minuman secukupnya dan hadiah uang secukupnya. Akan tetapi dia lupa akan sesuatu hal.
Bahwa mereka itu, atau seorang di antara mereka, adalah seorang mata keranjang yang haus akan perempuan! Dan di dalam gedung pembesar itu, terdapat banyak wanita cantik! Selir-selirnya saja masih muda-muda dan cantik- cantik, jumlahnya sampai tujuh orang. Belum lagi para pelayan wanita muda-muda dan manis-manis yang kadang-kadang bertugas juga sebagai selir tak resmi pembesar itu! Belum lagi puteri-puteri pembesar itu sendiri.
Seorang di antara tiga jagoan ini berjuluk Tiat-liong (Naga Besi). Dia she Coa dan tubuhnya tinggi besar kokoh kuat, sesuai dengan julukannya. Usianya kurang dari empat puluh tahun dan bajunya selalu terbuka di bagian dada. Dia agaknya suka berlagak memamerkan dadanya yang berhulu hitam lebat! Naga Besi ini memang nampak gagah dan jantan. Dia gila perempuan dan entah sudah berapa banyaknya wanita dia taklukkan, baik melalui kegagahannya termasuk bulu dada itu, atau rayuan mautnya, maupun dia taklukkan dengan kekerasan mengandalkan keberanian dan kelihaiannya yang membuat dia ditakuti. Di lengan kanannya ada gambar cacahan berbentuk naga.
Dua orang temannya berusia lima puluh lebih. Yang seorang she Can dan berjuluk Ang-liong (Naga Merah). Dia memakai julukan itu karena mukanya berwarna merah. Orang ke tiga bertubuh pendek gendut, she Lui berjuluk Hek-liong (Naga Hitam) dan untuk mengabadikan julukannya di lengan kanannya juga ada seekor naga hitam. Mereka merupakan tiga serangkai yang bekerja sama menguasai dunia hitam di Lok-yang.
Ketika mereka menerima tugas berjaga dan melindungi Koo-taijin, tiga orang ini girang sekali. Mereka sudah mendengar akan munculnya pendekar tampan itu dan tentu saja mereka menganggapnya musuh. Mereka masing-masing merasa terancam keselamatannya. Maka, dengan tinggal di gedung Koo-taijin, mereka mendapat banyak keuntungan. Pertama, mereka akan dapat saling membantu dan bersama-sama menghadapi musuh. Ke dua, mereka akan mendapat bantuan pula dari pasukan pengawal dan penjaga gedung pembesar itu. Ke tiga, mereka tentu hidup serba enak dan menyenangkan di gedung pembesar itu dan akan menerima hadiah besar tanpa bekerja keras!