"Boan It, engkau ingin sekali berlutut dan menjilati sepatuku sampai bersih? Aku akan senang sekali, silahkan Boan It, penuhi keinginan itu. Berlututlah dan jilati sepatuku!!
Semua orang nampak heran sekali, dan Boan It nampak betapa tubuhnya menegang, beberapa kali kepalanya digeleng keras-keras akan tetapi sepasang matanya mulai pudar kehilangan cahaya dan akhirnya diapun berlutut, merangkak maju lalu mulai.... menjilati sepatu Ceng Liong seperti seekor anjing besar menjilati kaki majikannya!
Tentu saja peristiwa aneh ini membuat semua orang melongo keheranan. Mereka belum mengerti bahwa antara kakek gendut dan pemuda itu telah terjadi suatu pertandingan sihir! Boan It telah menjadi korban sihirnya sendiri yang telah dikembalikan oleh Ceng Liong. Seperti diketahui, pemuda ini ketika digembleng oleh orang tuanya sendiri selama tiga tahun terakhir ini, telah mempelajari ilmu sihir dari ibunya sendiri. Maka, menghadapi ilmu sihir Boan It yang mempelajari dari mendiang Hek-i Mo-ong, tentu saja dia mengenal baik sihir itu dan dapat mengalahkannya dengan mudah.
Hanya sebentar saja para tamu terbelalak melihat Boan It menjilati sepatu Ceng Liong. Segera terdengar sorak-sorai dan ketawa meledak-ledak dan hal ini mengguncang Boan It ke dalam kesadarannya kembali. Mukanya menjadi pucat sekali dan dia segera menggereng langsung menyerang Ceng Liong dari posisi berlutut itu dengan tongkatnya! Akan tetapi Ceng Liong sudah bersiap-siap dan dapat mengelak dengan loncatan ke belakang.
Boan It meloncat bangun. Sejenak dia memandang, mukanya sebentar pucat sebentar merah kemudian dia mulai memainkan toyanya, diputar-putar cepat sekali di sekeliling tubuh sebelum menyerang. Terdengar suara berdesing-desing dan tongkat itu lenyap bentuknya, berobah menjadi gulungan sinar hitam lebar yang menyelimuti tubuh kakek gendut itu dan angin menyambar-nyambar ke depan.
Namun, Ceng Liong kini tidak mau main-main lagi. Diapun mulai menggerakkan kaki tangannya, memasang kuda-kuda yang kokoh dan nampak betapa indah dan gagahnya dia mengatur sikap untuk menghadapi lawan yang bersenjata tongkat itu. Sikapnya ini tentu saja mengundang pujian dan kini baru semua tamu tahu betapa indah dan gagahnya gaya permainan silat pemuda itu.
"Haaaiiiit!! Boan It membentak dan mulailah dia menyerang.
"Hem....!! Ceng Liong mengelak dan ketika gulungan sinar hitam itu menyelimutinya, tubuh pemuda inipun lenyap berobah menjadi bayangan putih yang berkelebat cepat sekali menyelinap di antara sinar hitam, menyambar-nyambar ke sana-sini. Para tamu mengikuti pertandingan yang seru ini dengan hati tegang, maklum bahwa yang berkelahi adalah dua orang yang tinggi ilmu silatnya.
Jurus demi jurus berlangsung dengan cepatnya dan makin lama Boan It semakin terkejut dan heran, juga hatinya mulai merasa gentar ketika pemuda ini seolah- olah mengenal semua gerakannya dan bahkan berani menangkis tongkatnya dengan lengan tangan.
"Plak! Duk!! Tangkisan itu membuat tubuh Boan It terhuyung dan terpelanting, nyaris roboh kalau saja dia tidak cepat menjatuhkan diri dan bergulingan.
"Tahan dulu!! Bentaknya ketika meloncat berdiri, melintangkan tongkatnya, napasnya terengah-engah. Belum pernah dia bertanding dengan lawan setangguh ini dan selain gentar, diapun ingin tahu siapa sebenarnya pemuda ini.
"Sebelum engkau mati di ujung tongkatku, katakanlah dulu siapa engkau agar tidak mati tanpa nama.!
Para tamu juga menantikan jawaban pemuda itu dengan tak sabar karena merekapun ingin sekali mengetahui siapa gerangan pemuda yang amat perkasa itu. Kini Ceng Liong menghentikan sikapnya yang main-main dan pandang matanya mencorong penuh wibawa.
"Boan It, engkau seorang murid yang murtad! Hek-i Mo-pang telah bubar atau dibubarkan oleh gurumu dan melarang kalian bergerak dengan nama perkumpulan itu. Akan tetapi engkau berani memimpin anak buah, bertindak liar dan sewenang-wenang menggunakan nama Hek-i Mo- pang!!
Mendengar ini Boan It terkejut sekali. Dia memandang tajam penuh perhatian, dan diapun teringat pemuda cilik yang dulu menjadi tawanan dari Pulau Es kemudian menjadi murid Hek-i Mo-ong itu.
"Kamu....! Kamu.... bocah dari Pulau Es itu? Kamu Suma Ceng Liong?!
"Bagus kalau masih ingat padaku!!
"Hah! Sejak dulu aku ingin membunuhmu dan sekaranglah baru terbuka kesempatan itu!! Boan It menggereng seperti binatang buas, tidak menggunakan sihir lagi karena tadipun dia mendapat malu ketika menggunakan sihirnya. Kini dia mengerahkan segala ilmu dan tenaganya, menyerang dengan dahsyat.
Ceng Liong tidak mau memberi hati lagi. Dia mengelak, menangkis dan membalas dengan lebih cepat lagi. Para tamu menjadi berisik, mereka saling berbisik membicarakan pemuda itu. Mendegar bahwa pemuda itu adalah seorang pemuda Pulau Es yang she Suma, semua orang menjadi kaget dan kagum. Tahulah mereka bahwa pemuda ini adalah keturunan Pendekar Super Sakti dari Pulau Es yang namanya di dunia persilatan seperti dewa saja.
Pada waktu itu, tingkat ilmu kepandaian Ceng Liong jauh lebih tinggi daripada Boan It. Bahkan kini setelah dia menerima gemblengan dari ayah bundanya selama tiga tahun terakhir ini, Hek-i Mo-ong sendiri andaikata masih hidup belum tentu dapat menadinginya. Bahkan Suma Kian Bu sendiri harus mengakui bahwa setelah mengusai ilmu-ilmu Pulau Es dan Ilmu-ilmu dari Hek-i Mo-ong puteranya itu jauh lebih lihai darinya sendiri.
Betapapun juga Ceng Liong tidak dapat melupakan mendiang Hek-i Mo-ong, bekas gurunya yang amat menyayanginya. Dia tahu betapa Boan It pernah menjadi kepercayaan Hek-i Mo-ong. Maka mengingat mendiang gurunya itu, dia merasa tidak tega untuk membunuh Boan It.
Pada saat tongkat itu meluncur ke arah tenggorokannya, Ceng Liong meloncat ke samping dan tiba-tiba ujung tongkat itu mengeluarkan uap hitam yang menyambar ke arah muka Ceng Liong. Pemuda ini tidak terkejut karena dia sudah mengenal uap beracun yang keluar dari ujung tongkat. Diapun membuka mulut dan uap hitam itu buyar, bahkan kini membalik terdorong oleh uap panas yang menyambar dari mulut Ceng Liong.
"Tok-hwe-ji (Hawa Api Beracun)....!! Boan It berseru kaget ketika hawa panas menyengat mukanya. Pada saat itu sebuah totokan jari tangan Ceng Liong melumpuhkan tangannya dan tongkat hitam itupun pindah tangan. Sebelum Boan It mampu mengelak, tongkatnya sendiri telah mengalungi lehernya. Tongkat itu telah ditekuk oleh tangan Ceng Liong dan kini mengalungi lehernya dengan kuat. Dua kali totokan lagi membuat kaki tangan Boan It menjadi lumpuh dan diapun roboh terguling!
"Pergilah, dan mulai hari ini bubarkan perkumpulanmu dan jangan lagi mengacau dunia dengan nama Hek-i Mo-pang!! kata Ceng Liong mengulang larangan mendiang Hek-i Mo-ong. Dia memberi isyarat kepada para anak buah baju hitam yang segera menggotong tubuh Boan It dan Ciong Ek Sim meninggalkan tempat itu tanpa banyak cakap lagi.
Tentu saja kemenangan ini disambut dengan gembira dan kagum oleh para tamu. Mereka mengelu-elukan pemuda itu, apalagi ketika Ceng Liong memperkenalkan diri sebagai putera Suma Kian Bu, pendekar sakti yang setengah mengasingkan diri di dusun Hong-cun di tepi Sungai Huang-ho itu. Dalam kesempatan ini, dengan cerdik Ceng Liong memilih-milih beberapa orang tokoh kang-ouw yang gagah dan bersemangat untuk diajak bicara tentang negara dan bangsa yang dijajah, tentang kepahlawanan dan akhirnya dia berhasil membakar dan membangkitkan semangat beberapa orang pendekar yang menyatakan kebulatan tekadnya untuk membantu perjuangan mengusir penjajah apabila saatnya tiba. Juga mereka berjanji untuk menarik kawan-kawan sehaluan agar memperkuat barisan para patriot dan mempersiapkan diri untuk sewaktu-waktu membantu bilamana saatnya tiba.
Dengan hati gembira dan puas Ceng Liong meninggalkan Nam-san untuk mengunjungi kota raja dalam tugasnya mendekati dan menjajagi hati Jenderal Kao Cin Liong.
Suma Kian Lee dan isterinya tentu saja menerima berita keluarga Kao dengan gembira dan terharu. Pendekar ini sudah merasa bersalah besar terhadap keluarga Kao dan terhadap puterinya sendiri. Maka kini dia menyetujui saja ketika menerima berita bahwa pernikahan antara Suma Hui dan Kao Cin Liong akan segera diresmikan di rumah keluarga Kao atau di rumah jenderal muda itu. Mereka telah merasa salah langkah. Puteri mereka sudah merayakan pernikahannya dengan Louw Tek Ciang, di Thian-cin. Tak mungkin mereka dapat merayakan lagi di Thian-cin, apalagi menikah dengan pria lain sedangkan perjodohan puteri mereka dengan Louw Tek Ciang belum diceraikan secara resmi. Tentu umum mengira Suma Hui adalah isteri yang sah dari Louw Tek Ciang!
Karena keadaan ini pula perayaan pernikahan antara Suma Hui dan Kao Cin Liong diadakan dengan amat bersahaja, amat sederhana. Keluarga Kao tidak mengundang banyak tamu, hanya keluarga dekat dan rekan- rekan Jenderal Kao saja yang hadir. Dari pihak keluarga Suma, yang hadir hanya Kian Bu, isterinya dan putera mereka saja. Suma Ceng Liong masih belum berhasil bicara mengenai negara dengan Cin Liong.
Dia harus hati-hati karena jenderal muda itu nampak amat disayang kaisar, juga jenderal itu kelihatan amat setia. Biarpun ada ikatan keluarga melalui Suma Hui, akan tetapi kalau sampai dia bersalah bicara dan jenderal itu lebih berat terhadap kaisar, tentu perjuangan akan menghadapi jalan buntu atau setidaknya menghadapi penghalang besar. Inilah sebabnya, mengapa sampai dia hadir sebagai tamu perayaan pernikahan itu, Ceng Liong belum pernah bicara tentang negara dan perjuangan.
Yang menyedihkan hati Suma Hui adalah tidak hadirnya Suma Ciang Bun! Kepada ayah bundanya, juga kepada suaminya, terpaksa dia berterus terang tentang keadaan Ciang Bun yang mempunyai kelainan itu. Mendengar ini Kim Hwee Li membanting-banting kaki kanan dan menjambak rambut sendiri!
"Dosaku....! Semua akibat dosaku. Thian telah mengutuk aku sehingga anak-anakku yang mengalami hukuman! Ah.... dulu aku adalah seorang wanita sesat, seorang gadis iblis yang liar....! Aih, suamiku, kenapa engkau memilih seorang perempuan macam aku sehingga kini engkau dan anak-anakmu ikut menderita....!! wanita ini menangis.
Suma kian Lee cepat merangkulnya.
"Hushh.... jangan berkata begitu, isteriku. Semua ini sudah terjadi. Daripada mengeluh dan menyesali hal-hal yang lalu, lebih baik kita berusaha memberikan jalan keluar untuk putera kita itu setela selesai urusan pernikahan Hui-ji....!!
Suma Hui dan Cin Liong, dua orang lain kecuali Suma Kian Lee dan Kim Hwee Li yang tahu keadaan Ciang Bun, merasa terharu. Suma Hui cepat menceritakan kepada orang tuanya perihal Ganggananda.
"Harap ayah dan ibu tenang saja. Kurasa usahaku bersama Gangga akan berhasil baik.!
"Siapa itu Gangga?! tanya ibunya.
"Pemuda tampan dari Bhutan itu?! tanya Cin Liong.
Suma Hui menoleh kepada calon suaminya sambil tersenyum.
"Dia bukan pemuda, melainkan pemudi. Dan dia adalah puteri tunggal dari Puteri Syanti Dewi dari Bhutan....!
"Ah, puteri Ang Tek Hoat?! Suma Kian Lee memotong.
Suma Hui mengangguk lalu berceritalah ia. Betapa Ciang Bun bertemu dengan gadis Bhutan yang menyamar pria bernama Ganggananda dan menjadi sahabat baik.
"Bun-te telah jatuh cinta kepada Gangga yang dianggapnya pria! Dan dia gelisah sekali, namun tak mampu berpisah dari Gangga. Dan aku telah menceritakan perihal diri Bun-te kepada Gangga. Dan gadis itu agaknya juga mencinta Ciang Bun, dan berjanji mau membantu. Aku minta agar ia meninggalkan Bun-te, kelak menemuinya lagi dan setelah Bun-te benar-benar jatuh cinta, akhirnya mengaku bahwa ia seorang wanita.! Dengan panjang lebar Suma Hui bercerita dan sepasang suami isteri itu diam-diam memuji kecerdikan Suma Hui.
"Mudah-mudahan usahamu berhasil baik.! Suma Kian Lee berkata.
Pada keesokan harinya, upacara dilangsungkan secara sederhana numun meriah. Di antara para tamu undangan yang menjadi rekan jenderal Kao Cin Liong, terdapat seorang pembesar tinggi yang menjabat sebagai seorang menteri. Menteri Siong ini sudah berusia lima puluh tahun dan dia hadir sebagai undangan, juga sebagai utusan dan wakil kaisar, maka semua orang berlutut ketika dia tiba dan membacakan amanat kaisar. Seorang utusan dan wakil kaisar memang dihormati sebagai kaisar sendiri ketika menyampaikan amanat. Kemudian Menteri Siong dipersilahkan duduk di tempat kehormatan sebagai tamu yang dihormati.