Halo!

Kisah Pendekar Pulau Es Chapter 173

Memuat...

"Crakk....!! empat batang kaki bangku itu terbabat putus akan tetapi si raksasa brewok berteriak mengaduh dan goloknya terlempar ke lantai. Dia sendiri bergulingan di atas lantai sambil merintih-rintih. Kiranya empat potong kaki bangku yang putus itu secara aneh meluncur dan semua menancap di tubuh raksasa itu. Dua di kedua pundak, satu menembus paha dan satu lagi menancap betis. Dapat dibayangkan nyerinya dan ketika para anak buah Hek-i Mo-pang menggotongnya, nampak jelas raksasa itu terkencing-kencing saking nyerinya.

Terdengar ledakan sorak-sorai menyambut kemenangan pemuda sederhana itu. Walaupun mereka masih mengira bahwa kemenangan Ceng Liong hanya dapat terjadi karena nasib baik saja. Pemuda itu sedemikian pandainya berpura-pura sehingga tidak ada yang tahu bahwa dia memang ilmunya jauh lebih tinggi!

Dapat dimengerti betapa marahnya hati Ciong Ek Sim melihat anak buahnya yang diharapkan akan menghajar pemuda itu sampai terkencing-kencing malah sebaliknya dipukul roboh sampai terkencing-kencing. Dia mengeluarkan suara lengkingan panjang dan tubuhnya sudah meluncur ke depan. Kini dia berhadapan dengan Ceng Liong yang masih berdiri tegak sambil tersenyum-senyum.

"Ha, rupanya si Hek-kaw datang menggonggong lagi!! ejeknya dan para tamu tertawa gembira melihat ada orang berani mempermainkan Ciong Ek Sim yang lihai itu, walaupun hati mereka masih khawatir memikirkan keselamatan pemuda yang berani itu. Yang menggelisahkan adalah karena gerakan-gerakan pemuda itu sama sekali tidak membayangkan kepandaian silat, melainkan memperoleh kemenangan secara kebetulan saja. Yang paling khawatir adalah pemuda baju hijau yang segera mendekati Ceng Liong.

"Saudara yang baik, berhati-hatilah menghadapi iblis ini. Dia lihai sekali, sebaiknya dikeroyok saja!!

Ciong Ek Sim membanting kaki sehingga lantai tergetar dan si baju hijau terkejut, cepat meloncat ke belakang karena takut dipukul.

"Ihhh.... galak benar....!! katanya sambil mundur kembali dan diapun lalu mengejek dengan meniru suara anjing menyalak-nyalak.

"Huk.... huk-huk....!! Semua tamu tertawa dan biarpun hatinya marah sekali Ciong Ek Sim maklum betapa semua tamu berpihak tuan rumah, maka dia tidak berani sembarangan mengejar pemuda itu dan mengamuk di antara para tamu.

"Sudahlah orang she Ciong, tak perlu mengumbar kemarahan. Akulah lawanmu dan mari perlihatkan apakah kepandaianmu selihai mulutmu yang sombong!! kata Ceng Liong.

"Bocah setan! Kalau aku tidak dapat merobek-robek kulit dagingmu, mematah-matahkan tulang-tulangmu dan menghancurkan kepalamu, jangan aku disebut Hek-houw (Macam Hitam) lagi!!

"Memang engkau Anjing Hitam, bukan Macan Hitam! Huk-huk-huk!! Pemuda baju hijau mengejek di tengah- tengah para tamu, di tempat yang aman, sambil duduk di atas bangku dan seperti semua tamu lain, dia nonton dengan hati penuh ketegangan.

Ciong Ek Sim tak dapat mengeluarkan kata-kata lagi saking marahnya. Tubuhnya menerjang maju, kaki tangannya bergerak aneh dan dia sudah mengirim pukulan dan tendangan bertubi-tubi. Setiap pukulan atau tendangan amat kuat dan mendatangkan angin bersiutan dan terkena sekali tendangan atau pukulan itu tentu amat berbahaya. Akan tetapi Ceng Liong mengenal gerakan jurus-jurus itu sebagai ilmu silat khas dari Hek-i Mo-pang tingkat pertengahan. Tentu saja tidak ada artinya bagi Ceng Liong dan biarpun tanpa melakukan gerakan silat, dengan langkah langkah kaki yang memiliki dasar sama, dengan mudah dia dapat mengelak dari semua serangan itu.

Kini baru para tamu mulai mengerti atau setidaknya mulai menduga bahwa pemuda sederhana itu seorang yang lihai sekali. Walaupun tidak kelihatan bersilat, hanya melangkah ke sana-sini dan meliuk-liukkan tubuh, pemuda itu sudah mampu mengelak dari semua pukulan dan tendangan yang sedemikian dahsyatnya! Si baju hijau girang dan kagum, berjingkrak-jingkrak sambil bertepuk tangan melihat betapa semua serangan si tinggi kurus gagal. Dan Ciong Ek Sim kinipun tahu bahwa lawannya tadi hanya berpura-pura saja. Lawannya ini ternyata lihai karena agaknya sudah tahu akan perkembangan jurus-jurus serangannya sehingga dapat menghindar dengan cepat, membuat semua pukulan dan tendangannya mengenai tempat kosong.

"Mampuslah! Wuuuttt....!! Dia berteriak, kini menggerakkan dan mengerahkan tenaga sin-kang pada tangan kirinya dan mencengkeram. Cengkeramannya ini tak mungkin dielakkan karena setiap elakan akan dikejar terus oleh tangan kirinya.Ceng Liong yang merasa sudah cukup mempermainkan lawan, mengenal jurus yang diberi nama Hek-mo-siok-mau (Iblis Hitam Menyisir Rambut) ini. Diapun tahu bahwa mengelak takkan ada gunanya, maka dia mulai menghajar iblis kejam itu dengan tangkisannya pada tangan kiri lawan sambil mengerahkan tenaga dengan gaya memotong dan memuntir.

"Krekk....! Aduuhh....!!

Tubuh Ciong Ek Sim terbawa memutar dan mukanya pucat sekali menahan rasa nyeri ketika dia memegangi lengan kirinya dengan lengan kanan. Kiranya tulang kirinya, di bawah siku, telah patah! Akan tetapi dasar jahat dan bandel, dia menyelipkan tangan kiri yang sudah lumpuh itu di ikat pinggangnya, matanya beringas dan merah memandang kepada Ceng Liong.

"Hyaaattt!! Tiba-tiba dia menerjang dengan tangan kanan, sekali ini tangannya menghantam dengan jari-jari terbuka ke arah perut Ceng Liong untuk dilanjutkan dengan cengkeraman ke arah kemaluan! Sebuah serangan yang amat keji dan berbahaya sekali.

Betapa kaget hati para tamu yang pandai main silat melihat betapa Ceng Liong menghadapi serangan ini dengan tenang saja, tanpa mengelak dan tanpa menangkis. Tentu akan pecah perut pemuda itu disambar tangan terbuka yang tak kalah kuatnya dari golok itu.

"Ceppp....!! Tangan itu amblas seperti menancap ke dalam perut sampai sebatas pergelangan! Semua tamu terbelalak. Pemuda baju hijau bangkit berdiri dan menahan jeritannya.

Akan tetapi wajah Ceng Liong tetap tersenyum. Sebaliknya, wajah Ciong Ek Sim menyeringai kesakitan. Dia merasa betapa tangannya seperti masuk ke dalam tungku api! Rasanya panas seperti terbakar. Tentu saja dia berkuketan, meronta untuk menarik kembali tangan kanannya, akan tetapi tangannya tak mampu dilepaskan, seperti terjepit catut yang membara.

"Adudududuhh....!! Tak terasa lagi dia menjerit-jerit dan tiba-tiba tangan kiri Ceng Liong menabas ke bawah.

"Krekkk!! Tangan Ceng Liong yang mengandung tenaga sakti dari Pulau Es itu memukul lengan kanan itu dan patah pulalah tulang kanan Ciong Ek Sim! Ketika perut Ceng Liong melepaskan tangan itu, lengan kanan si tinggi kurus itu tergantung lumpuh.

Semua orang bersorak ramai. Pemuda baju hijau yang tadinya khawatir sekali, sekarang demikian lega hatinya. Dia menjatuhkan dirinya di atas bangku dan tertawa-tawa.

"Ha-ha-ha-heh-heh! Anjing hitam kena gebuk, patah kedua kaki depannya! Apakah masih bisa menggonggong? Huk-huk-huk-heh-heh-heh....! Dia tertawa terpingkal-pingkal sampai terjungkal dari atas bangku!

Kini setelah kedua lengannya patah tulangnya dan tak dapat dipergunakan untuk menyerang lagi, baru Ciong Ek Sim sadar. Matanya seperti baru terbuka bahwa yang dilawannya adalah seorang sakti yang luar biasa sekali lihainya! Akan tetapi semua tamu menyaksikannya dan dia ditertawakan semua orang. Lebih baik mati daripada mundur dengan nama hancur. Dia berteriak seperti gerengan binatang buas dan dengan nekat dia menyerang, menggunakan kaki kanan untuk menendang, disusul kaki kiri, karena dia menggunakan ilmu tendangan meloncat ini harus disertai gerakan kedua lengan untuk mengatur keseimbangan. Akan tetapi kedua lengannya sudah lumpuh dan dia menendang dengan nekat.

Ceng Liong memang ingin memberi hajaran yang setimpal atas kekejaman orang ini terhadap empat murid kepala dan ketua Pek-eng-pang tadi, maka kini dia menggerakkan tangan dengan cepat, mengetuk ke arah kedua kaki yang saling susul itu dari samping setelah dia melangkah dengan elakannya.

"Krak! Krak!! Dua batang tulang kaki itupun tidak kuat menahan ketukan tangan Ceng Liong dan patah seketika. Tubuh yang kini sudah lumpuh kaki tangannya itu terbanting jatuh. Ceng Liong menendang dan tubuh itu terlempar jauh sekali sampai keluar rumah dan terbanting ke atas tanah di pinggir jalan.

Para tamu bersorak girang dan mereka semua baru merasa kagum dan terkejut, menduga siapa gerangan pemuda perkasa ini. Song-pangcu sendiri bersama muridnya juga merasa gembira dan terheran-heran karena merekapun tidak mengenal tamu itu.

Tiba-tiba suara bentakan hebat menggetarkan seluruh ruangan dan para tamu terkejut dan berhenti bergembira. Semua mata memandang kepada kakek gendut yang nampak sudah bangkit berdiri dan mengangkat tongkat hitamnya di atas kepala. Kakek yang disebut dengan nama Boan It suhu itulah yang tadi mengeluarkan bentakan atau teriakan yang menggetarkan ruangan itu. Kini semua tamu melihat betapa kakek ini melangkah turun dari panggung kehormatan, menghampiri Ceng Liong dengan langkah tegap dan muka keruh. Sikapnya penuh ancaman dan menyeramkan. Akan tetapi sekarang para tamu mulai percaya akan kemampuan pemuda itu dan mengharapkan pemuda itu akan dapat mengalahkan pula pemimpin Hek-i Mo-pang ini.

Setelah berhadapan dengan Ceng Liong, kakek gendut itu mengangkat tongkat hitamnya ke atas, memutar-mutar tongkat itu sehingga ujungnya membentuk suatu lingkaran hitam dan terdengarlah suaranya yang menggelegar dan menggeledek penuh getaran yang mengandung wibawa yang amat kuat.

"Orang muda, kuperintahkan kamu! Berlututlah dan jilatilah sepatuku sampai bersih! Haaaiiiitt!! Bukan main dahsyatnya suara bentakan ini sehingga di antara para tamu bahkan ada yang tiba-tiba berlutut tanpa dapat mereka pertahankan lagi!

Semua orang menonton dengan tegang dan terpesona. Akan tetapi Ceng Liong nampak tenang saja, masih berdiri tegak menatap wajah kakek itu. Dua pasang mata saling pandang dan saling serang! Sepasang mata Ceng Liong semakin mencorong dan nampak betapa dalam adu mata ini akhirnya Boan It berkedip beberapa kali, tak dapat menahan matanya yang terasa perih dan panas. Kemudian, Ceng Liong mengangkat tangan kiri membuat gerakan seperti menggapai ke arah Boan It sambil berkata, suaranya halus dan ramah sekali.

Post a Comment