Halo!

Kisah Pendekar Pulau Es Chapter 172

Memuat...

"Aduh....!! Si gendut mengeluh dan cepat meraba batang bidungnya yang ternyata sudah bengkak! Dia terkejut dan heran, mengira tentu ada lebah yang tadi menyengatnya. Akan tetapi tentu saja gangguan ini cukup membuyarkan pengaruh ilmu hitamnya terhadap Song- pangcu.

"Sialan....!! gerutunya. Masih untung baginya bahwa peristiwa yang menimpa dirinya itu tidak diketahui orang lain. Apalagi kini muridnya tak perlu dibantunya lagi karena Ciong Ek Sim telah berhasil merampas toya lawan!

Memang benar. Kini keadaan Song-pangcu makin payah. Lawannya berhasil memukul pundaknya dan merampas toya. Dan sambil tertawa berlagak, Ciong Ek Sim yang ternyata pandai main toya itu memainkan toyanya dan menyerang Song-pangcu kalang kabut. Tentu saja beberapa kali gebukan mengenai tubuh ketua Pek-eng-pang itu akan tetapi orang gagah ini pantang menyerah dan melawan terus dengan mati-matian. Semua tamu memandang gelisah. Bahkan pemuda baju hijau beberapa kali menutupi muka dengan tangan ketika toya menyambar ke arah kepala Song-pangcu, takut melihat kepala itu pecah berhamburan.

Tiba-tiba sebuah tendangan keras mengenai paha Song-pangcu yang sudah terdesak, membuat ketua ini terpelanting dan ketika toya menyambar ke arah kepalanya, agaknya apa yang dikhawatirkan pemuda baju hijau itu akan terjadi kalau saja Song-pangcu tidak cepat menggulingkan tubuh menjauh.

"Darrr....!! Bunga api bepijar ketika ujung toya menghajar lantai. Sebelum Ciong Ek Sim sempat menyerang lagi, para murid Pek-eng-pai sudah menolong guru mereka dan memapahnya ke pinggir. Ciong Ek Sim bertolak pinggang bertongkat toya, memandang marah kepada seorang pemuda sederhana bertubuh tinggi besar yang sudur berdiri menghadangnya.

"Hem, siapakah kamu? Apakah kamu murid Pek-eng-pang yang sudah bosan hidup?! tanyanya dengan senyum mengejek.

Ceng Liong tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

"Bukan, aku bukan murid Pek-eng-pang. Karena aku menjadi tamu Pek-eng-pai, tentu saja aku tak mungkin membiarkan Hek-kaw mengacau di sini.!

Wajah Ciong Ek Sim menjadi merah dan matanya mendelik.

"Julukanku adalah Hek-houw (Macan Hitam), bukan Hek-kaw (Anjing Hitam)!! bentaknya.

"Ah, begitukah? Tapi seekor harimau biasanya gagah perkasa, lebih banyak berbuat daripada bersuara, sedangkan engkau menggonggong saja dan menggigit seperti anjing!!

Tentu saja sikap dan kata-kata yang dikeluarkan Ceng Liong menyenangkan hati para tamu, akan tetapi mereka merasa heran dan khawatir. Apakah pemuda ini sudah gila atau bosan hidup?

Si tinggi kurus yang berjuluk Hek-houw ini jelas lihai bukan main sehingga Song-pangcu sendiripun kalah olehnya. Bagaimana seorang pemuda tak dikenal/ternama berani bersikap seperti itu? Padahal pemuda itu hanya seorang tamu dari panggung tamu biasa atau panggung paling belakang. Dan pemuda itu walaupun tubuhnya tinggi besar, sikapnya seperti seorang pemuda dusun yang bodoh!

Dapat dibayangkan betapa marahnya Ciong Ek Sim mendengar ucapan itu. Saking marahnya dia hanya mendelik saja, tidak mampu mengeluarkan kata-kata! Ceng Liong amat benci kepada kekejaman orang ini maka dia sengaja hendak mempermainkan dan memberi hajaran agar orang ini menjadi kapok.

"Engkau seperti anjing pencuri tulang, buktinya toya orang lain kau pertahankan saja!!

Semakin marahlah Ciong Ek Sim. Dia membanting toya besi itu sampai toya itu menancap setengahnya ke dalam lantai! Ceng Liong memeletkan lidah seperti orang heran.

"Wah, kau main sulap ya? Tentu pakai akal bulus!! Dia lalu menghampiri toya itu dan meraba-raba sambil geleng-geleng kepala. Sikap yang ketolol-tololan itu membuat para tamu tak puas. Mereka mengharapkan jagoan tangguh yang akan maju melawan si tinggi kurus itu. Baru Ciong Ek Sim itu saja begitu lihai. Apalagi kalau gurunya, kakek gendut itu. Semua orang bergidik. Agaknya jerih terhadap kakek inilah yang membuat orang orang gagal di situ tidak ada yang maju. Dan kini yang maju seorang pemuda mentah!

Ciong Ek Sim sendiri heran dan ragu melihat sikap Ceng Liong. Kalau pemuda ini gila, tentu tak patut dilawannya. Maka dia memberi isyarat kepada seorang anak buahnya.

"Hajar tikus ini sampai terkencing-kencing minta ampun!! katanya dan sekali tubuhnya melayang, dia sudah melompat ke dekat suhunya duduk, menyambar sebuah kursi kosong dan duduk tanpa memperdulikan para tamu kehormatan lain. Dia malah menggulung kedua lengan bajunya dan para tamu melihat betapa kedua lengan si kurus ini berwarna hitam membiru seperti besi saja!

Anak buah Hek-i Mo-pang itu bertubuh tinggi besar, satu kepala lebih tinggi daripada Ceng Liong. Matanya besar beringas, kumis, jenggot dan cambangnya lebat sekali dan kelihatan kuat menyeramkam. Menerima perintah pemimpinnya, dia melangkah maju menghadapi Ceng Liong sambil menyeringai.

"Heh-heh-heh, aku akan menghajarmu sampai kau terkencing-kencing minta ampun, heh-heh!!

Dia nampak gembira sekali dengan tugasnya seperti seekor kucing disuruh menerkam tikus. Karena memandang rendah lawan, dia tidak meraba golok besar yang terselip di punggungnya.Ceng Liong hanya tersenyum dan berdiri seenaknya saja, tanpa memasang kuda-kuda seperti lajimnya orang yang menghadapi perkelahian. Si cambang bauk terbahak, lalu menggereng sambil mengembangkan kedua lengannya dan menubruk.

"Heeeiiitt!! Semua tamu melihat betapa raksasa itu menerkam luput karena Ceng Liong lari ke samping dan.... si cambang bauk itu terjerumus dan jatuh menelungkup! Mukanya mencium lantai dan kontan saja hidungnya yang besar menjadi penyok berdarah.

Meledaklah sorak-sorai dan suara ketawa. Semua orang menganggap betapa tololnya orang Hek-i Mo-pang itu. Hanya lagaknya saja yang keren tapi menubruk luput saja jatuh sendiri! Hanya Ciong Ek Sim dan gurunya yang merasa heran. Si cambang bauk itu mereka tahu bukan orang tolol, sama sekali tidak lemah karena ilmu silatnya tinggi, jauh menang dibandingkan dengan murid-murid kepala Pek-eng-pang tadi. Tapi, mengapa menyerang luput saja bisa terbanting dan terjerembab?

"Eh, brewok, kau mencari katak? Atau memang kesukaanmu menciumi lantai? Jangan keras-keras, tuh hidungmu penyok!! Ceng Liong mengejek dan semua orang, terutama pemuda baju hijau, tertawa gembira sekali.

Tentu saja raksasa brewok itupun terkejut dan marah. Terkamannya tadi luput, hal ini tidak aneh karena pemuda yang ketakutan itu lari mengelak, akan tetapi kenapa dia jatuh tertelungkup? Tentu kakinya tersandung, pikirnya sambil bangkit dan menyeka darah dari hidungnya. Sialan, perih dan nyeri juga pikirnya. Akan tetapi dia harus menjaga gengsi, malu kalau harus menghadapi pemuda ingusan ini dengan senjatanya.

"Keparat, kakiku tersandung dan tergelincir!! gerutunya.

"Bocah tolol, rasakan ini!! Dan kakinya yang panjang itupun menyambar dengan tendangan yang kalau mengenai tubuh Ceng Liong tentu akan membuat tubuh itu terlempar jauh seperti bola ditendang. Akan tetapi Ceng Liong meloncat dengan sikap orang ketakutan.

"Wah.... menendang! Wah.... luput....!

Tendangan itu luput dan.... agaknya, demikian anggapan semua orang, tendangan itu terlalu keras sehingga ketika luput tubuh raksasa brewok itu melambung ke atas lalu jatuh tunggang-langgang!

"Ha-ha-he-he.... heh! Lucu! Lucu!! pemuda baju hijau kini tertawa-tawa dan semua orangpun tertawa. Memang ulah si raksasa seperti badut saja! Raksasa brewok semakin marah. Di bangkit dan memegangi pantatnya yang tadi terbanting keras. Biarpun dia sendiri tidak mengerti mengapa dia bisa terbanting hanya karena luput menendang saja, akan tetapi kemarahan membuat dia tidak peduli. Dicabutnya golok besarnya yang berkilauan itu!

"Wah, curang! Pakai senjata segala! Curang! Licik!! Pemuda baju hijau berteriak-teriak khawatir dan para tamupun memandang gelisah. Akan tetapi pemuda sederhana itu nampak tenang-tenang saja.

"Wah, monyet hutan, mau apa kau bawa golok? Mau menyembelih babi? Hati-hati, bisa kena tubuhmu sendiri!! Ceng Liong mengejek.

"Bangsat!! Raksasa brewok itu mengayun goloknya dan dengan sikap yang lucu Ceng Liong pura-pura ketakutan, mengelak ke kanan kiri, lari ke sana-sini akan tetapi terus dikejar oleh lawannya. Ketika dia berlari dekat pemuda baju hijau, pemuda itu mengacungkan sebatang pedang yang entah diperoleh dari mana.

"Saudara yang baik, pergunakanlah pedang ini!!

"Aku.... aku tak bisa menggunakan pedang....! kata Ceng Liong sambil menyambar sebuah bangku. Ketika si brewok membacokkan goloknya, dia menangkis dengan kaku, menggunakan bangku.

Post a Comment