Pada saat itu Song-pang-cu berseru, nada suaranya nyaring dan mengandung penuh perasaan marah.
"Orang she Ciong! Kalau engkau membunuhnya, kami seluruh anggauta Pek-eng-pang akan mengadu nyawa dengan gerombolan Hek- i Mo-pang, dan kami minta bantuan semua enghiong yang hadir!!
Mendengar ini, Ciong Ek Sim memandang ke sekeliling. Dia melihat betapa mata para tamu mengandung permusuhan ditujukan kepadanya, dan dia tahu kalau tuan rumah minta bantuan, mereka semua tentu akan mengeroyok dia dan rombongannya. Apalagi pemuda baju hijau yang tadi dirampas kursinya tadi bersorak dan memihak tuan rumah. Pemuda itu mengepal kedua tinjunya dan berbisik-bisik ke kanan kiri membakar semangat para tamu lain dan agaknya sudah siap untuk maju mengeroyok!
"Ha-ha!! Ciong Ek Sim terkekeh.
"Pek-eng-pang mengandalkan keroyokan? Pula siapa yang mau membunuh? Kami hanya mau menghajar orang yang berani menghina Hek-i Mo-pang!! Setelah berkata demikian, dia mendorong lengan kiri Ciu Hok Tek ke atas dengan tenaga disentakkan.
"Krekk....!! Ciu Hok Tek terbelalak pucat, keringat sebesar kedele-kedele membutir di muka dan di leher. Tapi dia menahan nyeri yang membakar itu dengan menggigit bibir sendiri sampai pecah berdarah dan ketika lawan mendorongnya, dia terpelanting dan pingsan. Sambungan pangkal lengan dan sikunya putus terlepas!
Suasana menjadi riuh dan bising. Semua orang menjadi marah dan penasaran sekali melihat kesadisan orang Hek-i Mo-pang itu. Murid-murid Pek-eng-pang menolong Ciu Hok Tek yang pingsan dan Song-pangcu segera berusaha mengembalikan letak sambungan tulang tulang lengan kiri muridnya dan memberi obat.
Pemuda baju hijau yang menjadi tamu dan sahabat baik Hok Tek ikut sibuk. Ketika dia mengambilkan arak untuk diminumkan sahabatnya yang pingsan itu, dia lewat dekat Ciong Ek Sim. Si tinggi kurus itu sudah membusungkan dada dan berkata.
"Siapa saja yang berani menentang kami boleh maju satu per satu!! Pada saat itu baju hijau lewat membawa guci arak. Tiba-tiba tangan Ciong Ek Sim menyambar dan tahu-tahu leher baju pemuda itu telah dicengkeramnya!
Pemuda itu terkejut bukan main, tapi karena bencinya dia mendelik dan membentak.
"Eh, mau apa kau pegang-pegang aku?!
Ciong Ek Sim tersenyum sinis.
"Sejak tadi kamu memperlihatkan sikap anti kepada kami! Nah, sekarang kalau ada kepandaian, mari perlihatkan kepada tuanmu!!
"Eh wah, apa-apaan kau ini? Hayo lepaskan aku! Siapa yang mau berkelahi? Kalau memang gagah dan mau cari lawan, carilah yang sepadan di antara para orang gagah, jangan ganggu setiap orang!!
"Huh, kamu punya jago? Suruh dia maju!! Ciong Ek Sim mendorong dan pemuda baju hijau terpelanting, guci araknnya terlempar dan isinya tumpah.
"Wah, galak dan jahat sekali!! si baju hijau merangkak dan mengambil gucinya lalu menjauhkan diri.
Song-pangcu sudah tidak dapat menahan lagi kesabarannya. Orang-orang Hek-i Mo-pang ini sungguh keterlaluan. Bukan hanya datang mengacau pesta, akan tetapi membikin malu pada Pek-eng-pang dan sudah merobohkan dan melukai empat orang murid kepala! Jelas bahwa tidak ada lagi jago di Pek-eng-pang kecuali dia sendiri!
"Keparat!! Dia membentak dan menyambar sebatang toya besi yang menjadi senjata andalannya dan sekali loncat dia sudah berada di depan Ciong Ek Sim! "Ciong Ek Sim! Kami Pek-eng-pang selamanya tidak pernah mencari permusuhan. Akan tetapi bukan berarti kami penakut. Kau dan gerombolanmu datang memusuhi kami, biar aku membela Pek-eng-pang dengan nyawaku!!
Ciong Ek Sim memandang ketua itu dan tersenyum menyeringai penuh ejekan, sikapnya memandang rendah sekali.
"Bagus Pangcu, kau maju sendiri dan bersenjata pula! Apakah kau ingin membunuhku? Dan tadi kau melarang aku membunuh muridmu, ha-ha!!
"Orang she Ciong! Tewas dalam perkelahian adalah wajar dan tak perlu dibuat penasaran. Akan tetapi kau tadi hendak membunuh lawan yang sudah tak berdaya melawan lagi. Itu namanya pengecut! Nah, lihat seranganku!!
Ketua Pek-eng-pang itu menggerakkan toyanya dan terdengar suara bersuitan saking cepatnya toya bergerak dan saking kuatnya tenaga yang terkandung di dalamnya.
Song-pangcu adalah seorang murid Siauw-lim-pai yang sudah berani membuka perguruan silat. Ini berarti bahwa tingkat kepandaiannya sudah tinggi, maka serangan toyanya pun hebat sekali.
Akan tetapi ternyata lawannya tak kalah hebatnya. Walaupun hanya bertangan kosong, Ciong Ek Sim tidak kewalahan menghadapi serangan lawan. Dengan cekatan dia mengelak dan berloncatan ke sana-sini, kadang-kadang berani menangkis toya besi dengan tangan dan kakinya, bahkan membalas serangan lawan setiap ada kesempatan! Terjadilah pertandingan yang seru dan mati-matian.
Para tamu yang menonton perkelahian ini, kebanyakan berpihak kepada tuan rumah. Mereka semua merasa benci kepada Ciong Ek Sim, walaupun sebagian dari mereka, terutama dari golongan hitam, merasa kagum. Terutama pemuda baju hijau yang memang sudah membenci sekali orang Hek-i Mo- pang yang tadi menghinanya. Dia terang-terangan berpihak kepada Song-pangcu dan selalu bersorak gembira setiap kali Ciong Ek Sim nampak terdesak atau kadang- kadang terhuyung.
Ilmu toya dari Siauw-lim-pai sudah terkenal di dunia persilatan sebagai ilmu silat yang amat tangguh dan sukar dikalahkan. Biarpun si tinggi kurus itu memiliki gerakan ilmu silat yang aneh, dan memiliki tenaga besar dan kekebalan sehingga berani menggunakan kaki tangan untuk menangkis toya, namun desakan- desakan Song-pangcu kadang-kadang membuat dia kerepotan sekali. Tentu saja hal ini melegakan hati para tamu yang mengharapkan agar si sombong itu dapat diberi hajaran keras dan agaknya Song-pangcu akan mampu melakukan itu. Terutama si pemuda baju hijau tiada hentinya bersorak dan bertepuk tangan menjagoi Song- pangcu.
Akan tetapi tiba-tiba terjadi perobahan dalam perkelahian itu. Gerakan Song-pangcu berobah menjadi kacau dan beberapa kali dia nampak ragu-ragu dan bingung. Bahkan, dalam keadaan mendesak, dia berbalik terdesak dan sebuah tendangan menyerempet pinggangnya, membuat dia terhuyung! Tentu saja para tamu menjadi terkejut dan setelah mendengar seruan-seruan tertahan, suasana menjadi sunyi dan tegang. Song-pangcu memang terkejut dan bingung. Ketika dia sudah mulai berhasil mendesak lawan tadi, tiba-tiba saja ada suara di dekat telinganya.
"Song-pangcu, engkau sudah dikepung dari empat penjuru! Engkau takkan menang!!
Suara ini berulang-ulang berbisik di telinganya dan memaksanya untuk percaya. Suara itu demikian penuh dengan daya pengaruh, membuat dia merasa benar-benar dikeroyok dari empat penjuru! Tentu saja dia menggerakkan toyanya untuk melindungi dirinya dari serangan-serangan yang datang dari empat penjuru! Karena terbagi, daya tahannya berkurang sehingga dia kini terdesak oleh Ciong Ek Sim yang mulai terkekeh- kekeh lagi.
Para tamu tidak memperhatikan kakek gendut Boan It. Padahal, kakek inilah yang telah membuat keadaan perkelahian menjadi berubah itu. Kakek gendut itu duduk seperti tadi, akan tetapi kini pandang matanya ditujukan ke arah muka Song-pangcu, tidak pernah berkedip!
Seorang pemuda yang terselip di antara para tamu muda di panggung yang paling belakang, sejak tadi sudah mengikuti semua peristiwa itu dengan penuh perhatian. Beberapa kali pemuda ini mengerutkan kening, akan tetapi wajahnya yang gagah itu selalu tersenyum. Pemuda ini berpakaian sederhana dan dari pakaian, sikap dan gerak-geriknya sama sekali tidak terbayang bahwa dia pandai ilmu silat. Sikapnya sederhana sekali walaupun wajahnya amat gagah. Padahal, dia bukan sembarang orang, melainkan seorang pendekar muda yang amat lihai, memiliki kesaktian. Pemuda ini adalah Suma Ceng Liong!
Sejak munculnya gerombolan baju hitam, Ceng Liong sudah mengenal mereka. Dia mengenal pula kakek gendut Boan It dan tahu bahwa mereka adalah bekas anak buah gurunya, mendiang Hek-i Mo-ong! Dan Boan It memang seorang di antara para murid Hek-i Mo-ong. Baru satu dua kali dia bertemu dengan Boan It yang masih terhitung suhengnya, walaupun tadinya dia tidak mengaku guru terhadap Hek-i Mo-ong dan menjelang akhir hidup Raja Iblis itu dia mengakuinya.
Tadinya Ceng Liong yang melakukan perantauan mewakili ayahnya, tidak ingin mencampuri perkelahian itu selama perkelahian dilakukan dengan adil. Akan tetapi, kini dia tahu akan kecurangan Boan It yang menggunakan kekuatan sihir atau ilmu hitam untuk membantu Ciong Ek Sim dan mengacau batin Song-pangcu. Hal ini membuat Ceng Liong penasaran sekali. Dipungutnya sebutir kacang dari tempat hidangan di atas meja dan tanpa diketahui para tamu yang menonton perkelahian dengan tegang melihat Song-pangcu terdesak, Ceng Liong menjentikkan jarinya membuat sebutir kacang itu meluncur dengan kecepatan luar biasa ke arah Boan It.
"Tung....!! Kacang itu menyambar hidung yang besar pesek itu dan biarpun hanya sebutir kacang, tetapi karena diluncurkan melalui sentilan jari tangan yang bertenaga sin-kang amat kuatnya, tiada ubahnya sebutir peluru baja saja!