Halo!

Kisah Pendekar Pulau Es Chapter 170

Memuat...

"Habis, kau mau apa?! Ciu Hok Tek membentak.

"Ketua Pek-eng-pang harus minta maaf kepada suhu kami, baru kami mau mengampuni, dan memberi tempat di panggung kehormatan untuk kami!! kata Ciong Em Sim dengan galak.

Mendengar ucapan ini, para tamu menjadi semakin penasaran. Akan tetapi pada saat itu terdengar suara Song-pangcu yang tenang menyuruh tiga orang muridnya mundur. Kemudian dia sendiri turun dari panggung kehormatan, menghampiri kakek gendut baju hitam yang bernama Boan It, menjura dan berkata.

"Saudara pemimpin Hek-i Mo-pang harap maafkan kelancangan murid-murid kami.!

Sikap merendah tuan rumah ini memanaskan hati para tamu. Mereka melihat sendiri bahwa gerombolan baju hitam itulah yang membikin kacau, bahkan berani melukai murid tuan rumah, akan tetapi malah pihak tuan rumah yang meminta maaf. Ini sudah keterlaluan sekali.

Boan It, kakek gendut tokoh Hek-i Mo-pang yang sejak tadi hanya diam saja, kini menumbuk lantai dengan tongkatnya dan membentak.

"Berlutut!!

Suasana menjadi bising. Para tamu berbisik-bisik marah. Betapa kurang ajarnya kakek gendut itu. Betapa sombongnya. Song-pangcu sendiri menjadi merah mukanya. Dia sudah banyak mengalah untuk menghindarkan keributan dalam pestanya. Akan tetapi gerombolan hitam itu sungguh tak tahu diri!

"Sobat-sobat dari Hek-i Mo-pang! Sebetulnya, kalian datang mau apakah? Kami merasa tidak ada urusan dengan kalian!! Akhirnya diapun berkata, hilang kesabarannya.!Ha-ha-ha! Pangcu dari Pek-eng-pang! Kamu sudah terlanjur menghina kami, sekarang kami menantang. Hayo perlihatkan bahwa Pek-eng-pang memang berkulit baja dan bertangan besi! Kalau kami dapat dikalahkan, baru kami mau pergi!! kata si tinggi kurus mewakili gurunya. Setelah berkata demikian, dengan tangan kirinya dia membuat gerakan mendorong ke samping.

Angin pukulan menyambar ke arah seorang tamu muda yang sedang enak- enak duduk nonton percekcokan itu. Pemuda itu berseru kaget ketika tubuhnya tiba-tiba terdorong dan terpental jatuh dari kursinya. Ketika Ciong Ek Sim menarik tangannya, kursi kosong bekas pemuda itu melayang ke arahnya. Kursi ditangkapnya dan dia berkata kepada si kakek gendut.

"Harap suhu duduk saja, biar aku yang menghajar tikus-tikus yang berani menentang Hek-i Mo- pang!!

Kakek gendut itu tersenyum, menerima kursi lalu duduk di atasnya. Muridnya berkata.

"Tidakkah suhu sebaiknya menanti di panggung kehormatan?!

Kakek itu mengangguk. Tiba-tiba ia menggunakan tongkatnya menekan lantai dan.... tubuhnya berikut kursi yang diduduki itu terbang melayang ke atas panggung kehormatan dan berada di deretan terdepan!

Tentu saja demonstrasi yang diperlihatkan Ciong Ek Sim dan Boan It itu membuat semua orang melongo! Itulah bukti kepandaian yang hebat! Bahkan Song-pangcu sendiri terkejut, maklum bahwa yang diperlihatkan kakek gendut Boan It itu adalah kehebatan gin-kang dan sin-kang sekaligus! Akan tetapi, para murid Pek-eng-pang selalu digembleng kegagahan oleh guru mereka. Biarpun mereka juga tahu akan kelihaian si kurus Ciong Ek Sim, akan tetapi mereka tidak menjadi gentar. Seorang di antara tiga murid utama sudah meloncat ke depan Ciong Ek Sim, membentak dengan marah.

"Ciong Ek Sim! Seorang gagah tak takut mati dalam menentang kejahatan, dan kalian orang-orang Hek-i Mo- pang adalah penjahat-penjahat besar!! Setelah berkata demikian, dia menyerang dengan pukulan tangan kanan yang terbuka dan membentuk cakar garuda ke arah kepala si tinggi kurus. Itulah jurus serangan Pek-eng-kun (Silat Garuda Putih) ciptaan Song-pangcu sebagai perkembangan dari ilmu silat garuda Siauw-lim-pai.

"Plak!! Tanpa merobah kedudukan tubuhnya, seenaknya saja Ciong Ek Sim menangkis dengan tangan kiri, akan tetapi agaknya dia telah mengerahkan tenaganya sehingga tubuh murid Pek-eng-pang terhuyung ke belakang.

"Ha-ha, tikus macam kamu ini tidak ada harganya, tak pantas melawanku! Suruh saja gurumu yang maju, atau kalian bertiga maju berbareng!! Ciong Ek Sim tertawa dengan congkaknya.

Tiga orang murid Pek-eng-pang menjadi semakin marah. Ciu Hok Tek sendiri, si murid kepala, berseru keras dan menerjang ke depan, melakukan serangan dahsyat. Ciu Hok Tek ini adalah murid pertama, tentu saja tingkat kepandaiannya lebih tinggi daripada para sutenya. Ketika dia menyerang, kedua tangannya mengeluarkan angin pukulan yang menyambar keras dengan bunyi bersiutan. Akan tetapi, tetap saja Ciong Ek Sim merupakan lawan yang terlalu tangguh baginya.

Semua pukulan atau cengkeramannya dapat dielakkan atau ditangkis. Dan diapun hanya dapat bertahan selama sepuluh jurus saja karena begitu Ciong Ek Sim membalas dengan tendangan kaki yang menyambar dari samping, lambungnya terkena tendangan yang membuat tubuhnya terbanting cukup keras! Dua orang sutenya maju menyerang, namun merekapun bukan lawan yang seimbang, segera disambut tamparan dan tendangan yang membuat mereka jatuh bangun!

Ciong Ek Sim menghajar tiga orang murid pertama Pek-eng-pang sambil tertawa-tawa. Jelas dia mempermainkan karena kalau dia menghendaki, agaknya dengan mudah dia akan mampu membunuh tiga orang lawan itu. Kini semua tamu menjadi terkejut. Mereka semua kini tahu bahwa orang Hek-i Mo-pang itu lihai bukan main. Tiga belas orang anak buah Hek-i Mo-pang dengan mudah memperoleh kursi yang ditinggalkan para tamu yang menjauhkan diri, nonton sambil bersorak dan tertawa- tawa, kadang-kadang bertepuk tangan setiap kali tangan Ciong Ek Sim merobohkan seorang lawan. Suasana menjadi tegang. Para tamu memandang marah, tegang dan khawatir. Hanya orang-orang Hek-i Mo-pang itu saja yang gembira sambil menyambar guci-guci arak dan meminumnya.

"Haaaitt....!! Seorang murid Pek-eng-pang menyerang dengan tubuh meloncat dan menerkam. Inilah jurus Garuda Putih Menyambar Ayam yang dilakukan sambil meloncat, merupakan jurus serangan nekat dan berbahaya, baik yang diserang maupun yang menyerang. Akan tetapi, sambil tersenyum mengejek, Ciong Ek Sim menyambutnya dengan tendangan keras yang mengenai perut lawan.

"Ngekk!! Tubuh murid Pek-eng-pang itu terpental dan terbanting dalam keadaan pingsan. Anak buah Hek-i Mo-pang bersorak gembira.

"Hyaaatt!! Murid kepala Pek-eng-pang yang ke dua juga menerjang marah, bahkan sekali ini dia menggunakan sebatang pedang. Namun Ciong Ek Sim dapat mengelak dengan mudah, ketika pedang itu lewat, tendangan kakinya pada tangan lawan membuat pedang terlempar ke atas lantai kemudian sekali sambar, tangan kirinya menjambak rambut kepala lawan dan tangannya menampari kedua pipi lawan. Terdengar suara plak-plok berkali-kali dan ketika dia melepaskan jambakan dan mendorong, tubuh lawan itu terpelanting tak mampu bangun lagi, dengan kedua pipi bengkak-bengkak matang biru!

Melihat ini, Ciu Hok Tek menjadi nekat. Di antara empat orang murid kepala Pek-eng-pang, tiga orang sudah roboh pingsan dan digotong pergi kawan-kawannya, tinggal dia seorang sebagai murid pertama. Tadipun kalau dia tidak hati-hati dan pertahanannya lebih kuat daripada sutenya, tentu diapun sudah roboh.

"Biar aku mengadu nyawa denganmu!! teriaknya marah dan diapun menerjang sengit, mengirim pukulan-pukulan dan tendangan-tendangan bertubi-tubi dan dahsyat karena dia telah mengeluarkan semua kepandaian dan mengerahkan seluruh tenaganya. Tingkat kepandaian Ciu Hok Tek tak boleh disamakan dengan tingkat para sutenya, dan walaupun dia masih bukan tandingan murid kepala Hek-i Mo-pang, namun desakan yang dilakukan dengan nekat itu sempat membuat lawan terhuyung dan sebuah tendangan kilat sempat mencium pinggul Ciong Ek Sim. Melihat ini, terdengar sorakan gembira yang segera disusul tepuk tangan pujian para tamu.

Jelaslah, para tamu ini ingin sekali melihat si tinggi kurus yang congkak itu kalah. Dan si tinggi kurus menjadi marah, melirik ke arah orang yang pertama kali menyorakinya tadi. Kiranya orang itu adalah pemuda yang tadi dirampas kursinya untuk diberikan kepada gurunya. Pemuda itu memang kelihatan gembira sekali dengan desakan murid Pek-eng-pang tadi dan kinipun masih bertepuk-tepuk tangan walaupun tamu-tamu lain sudah berhenti bersorak karena dia telah mampu mematahkan serbuan Ciu Hok Tek.

"Hem, hanya sekiankah kepandaianmu? Keluarkan semua, atau kamu berlutut minta ampun dengan mencium kakiku, baru kuampuni kamu!! kata Ciong Ek Sim dengan lagak sombong.

Pemuda bersorak tadi kini berteriak.

"Ciu-eng-hiong, hajar monyet hitam itu! Pukul dan tendang lagi!! Teriakannya inipun diikuti teriakan banyak orang untuk menambah semangat pria baju putih yang mewakili Pek-eng-pang itu. Akan tetapi diam-diam Ciu Hok Tek terkejut sekali. Dia tadi sudah mengeluarkan seluruh tenaga dan kepandaiannya, namun hanya mampu membuat lawan keserempet tendangan dan terhuyung. Maklum bahwa dia takkan menang, dia menjadi nekat. Disambarnya sebatang pedang dari tangan seorang sutenya dan sambil mengeluarkan teriakan nyaring diapun menerjang maju.

Sekali ini Ciong Ek Sim sudah siap. Kalau tadi dia sampai terkena tendangan adalah karena dia terlalu memandang rendah sehingga agak lengah. Kini, melihat lawan menyerang dengan pedang, dia menghadapi dengan tangan kosong saja. Si baju hitam itu mendengus penuh ejekan dan tubuhnya berkelebatan menjadi bayangan bergerak-gerak lincah di antara sambaran sinar pedang.

"Plak!! Tiba-tiba dengan tangan terbuka Ciong Ek Sim menangkis pedang membuat pedang terpental dan hampir terlepas! Ciu Hok Tek kaget bukan main, demikian pula para tamu. Si tinggi kurus itu sedemikian lihainya sehingga berani menangkis pedang dengan tangan terbuka! Bukan hanya menangkis karena di lain saat dua buah tangan yang jarinya kecil-kecil panjang telah berhasil menangkap pergelangan tangan Ciu Hok Tek sedemikian kuatnya membuat murid Pek-eng-pang itu tidak mampu berkutik! Akan tetapi Hok Tek sudah nekat. Karena kedua tangannya seperti terjepit baja yang amat kuat, dia lalu menggerakkan kaki untuk menendang ke arah selangkangan lawan!

"Heh-heh!! Ciong Ek Sim terkekeh mengejek dan menekan tangan lawan yang memegang pedang ke bawah! Hok Tek terkejut akan tetapi sudah terlambat untuk menghindar! Paha kaki yang menendang disambut ujung pedang sendiri dan celana berikut kulit dan daging pahanya terobek. Darah muncrat dan terpaksa dia melepaskan pedangnya. Pada saat itu Ciong Ek Sim sudah memuntir tangannya yang kiri ke belakang. Demikian kuatnya puntiran itu. Tak terlawan olehnya sehingga tubuhnya terputar membelakangi lawan. Ketika itu si tinggi kurus berbaju hitam mendorong lengan kirinya ke atas punggung, dia terbungkuk dan tak mampu bergerak lagi. Rasa nyeri pada pangkal lengan yang ditekuk itu membakar seluruh tubuhnya.

"Ha-ha, tikus cilik! Kamu murid pertama Pek-eng- pang, bukan? Nah, berlututlah dan minta ampun pada tuanmu baru aku akan mengampunimu!! kata si tinggi kurus dengan muka penuh ejekan.

Para tamu melihat dengan muka tegang dan pucat. Keadaan Ciu Hok Tek memang sudah tak mampu bergerak lagi, nyawanya berada dalam tangan tokoh Hek-i Mo-pang itu. Tentu saja mereka tegang sekali, ingin sekali melihat apakah murid Pek-eng-pang itu mau minta ampun secara terhina itu dan apakah si baju hitam itu benar- benar akan membunuh lawannya yang sudah tak berdaya itu.

"Ciong Ek Sim iblis busuk! Aku sudah kalah, mau bunuh silahkan, seorang gagah tak takut mati!! Ciu Hok Tek berteriak marah!

Ciong Ek Sim meludah.

"Cuh! Manusia sombong dan tolol. Apa sukarnya membunuhmu!!

Post a Comment