Halo!

Kisah Pendekar Pulau Es Chapter 169

Memuat...

"Kami baru saja menerima kabar baik dari kota raja, yaitu undangan pernikahan Jenderal Kao Cin Liong dengan keponakanku, Suma Hui.!

"Bagus! Kamipun sudah mendengar akan berita pernikahan itu. Saat yang tepat bagi kita semua untuk berkumpul di kota raja. Kami semua merasa khawatir melihat betapa Jenderal Kao Cin Liong menjadi seorang panglima yang amat disayang dan dekat sekali dengan kaisar. Dia dan keluarganya akan merupakan kawan seperjuangan yang amat kuat dan menguntungkan, sebaliknya akan menjadi lawan yang berbahanya.!

"Dan maksudmu dengan kami?! tanya Kian Bu.

"Demi perjuangan, semua kawan mengharapkan taihiap dapat melakukan penjajagan, menyelidiki kemungkinan- kemungkinannya menarik jenderal itu ke pihak kita. Dia menguasai pasukan besar dan amat berpengaruh. Kalau kita berhasil menariknya, berarti bahwa setengah dari perjuangan kita sudah menang!!

Suma Kian Bu mengangguk-angguk dan mengelus jenggotnya.

"Memang siasat itu bagus sekali. Akan tetapi engkau juga tahu, saudara Sim, bahwa ayah jenderal itu adalah Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir. Kita tak boleh sembarangan bertindak. Agaknya untuk menarik jenderal itu, harus lebih dulu meyakinkan ayahnya. Sayang aku tidak terlalu dekat dengan keluarga Kao....!

"Serahkan saja padaku, ayah! Aku sudah kenal baik dengan Jenderal Kao Cin Liong! Aku dapat mengunjunginya dan perlahan-lahan menjajagi hatinya, melihat bagaimana nada bicaranya,! kata Ceng Liong.

Ayahnya mengangguk setuju.

"Tepat sekali! Dan engkau boleh pula mewakili kami mengadakan kontak dengan para patriot lain, Ceng Liong. Kami berdua sudah tua. Kami hanya akan turun tangan membantu kalau saat perjuangan itu tiba.!

Setelah mengadakan perundingan matang, pada keesokan harinya, Sim Hong Bu berpamit. Tiga hari kemudian, Ceng Liong juga meninggalkan orang tuanya untuk mulai dengan perantauannya, sekali ini kepergiannya berbeda dengan ketika dia hilang diculik Hek-i Mo-ong. Kini dia melakukan perjalanan sebagai pendekar muda yang lihai sekali, yang mewakili orang tuanya untuk mengadakan kontak dengan para patriot, membantu persiapan perjuangan dan berusaha menarik Jenderal Kao Cin Liong ke pihak para pejuang.

Dia kini sudah berusia hampir sembilan belas tahun dan dalam hal ilmu silat, dia sudah setingkat dengan ayahnya! Hanya mungkin dia masih kalah dalam hal gin-kang, akan tetapi sudah pasti dia lebih kuat dalam hal sin-kang. Dia kini dapat mempergunakan sumber tenaga sin-kang yang diterima langsung dari kakeknya, mendiang Suma Han atau Pendekar Super Sakti atau majikan Pulau Es! Bahkan kini dia telah menguasai pula ilmu sihir yang diajarkan oleh ibunya kepadanya.

Rumah perkumpulan Pek-eng-pang di kota Nam-san di sebelah selatan Tai-goan pada pagi hari itu nampak ramai dikunjungi banyak tamu. Pek-eng-pang (Perkumpulan Garuda Putih) adalah sebuah perkumpulan atau perguruan silat yang terkenal. Ketuanya, Song-pangcu yang usianya sudah lima puluh tahun lebih adalah seorang murid Siauw-lim-pai. Tentu saja lihai ilmu silatnya dan karena dia mempunyai keistimewaan dalam Ilmu Silat Garuda dan mengembangkannya, maka dia menamakan perguruannya Pek-eng-pang. Dia dan para muridnya selalu memakai baju putih, sesuai pula dengan nama perkumpulan.

Song-pangcu terkenal sebagai orang gagah yang rendah hati dan semua muridnya menerima gemblengan keras sehingga para murid itu selain pandai bersilat, juga pandai membawa diri dalam masyarakat. Hal ini membuat Pek-eng-pang terpandang dan dihormati golongan kang-ouw.

Tidak mengherankan apabila pada pagi hari itu rumah perkumpulan Pek-eng-pang dibanjiri tamu yang rata-rata adalah ahli silat dan orang-orang gagah, karena pada hari itu Pek-eng-pang merayakan hari ulang tahun ke sepuluh dari perkumpulan itu. Mereka terdiri dari wakil-wakil perguruan silat, piauwsu, orang-orang gagah dan bahkan ada pula golongan perorangan yang tidak diketahui benar kedudukannya, mungkin dari golongan hitam. Akan tetapi mereka semua disambut dengan hormat oleh Song-pangcu sendiri yang ditemani empat orang murid pertama yang bersikap gagah.

Para tamu kehormatan dipersilahkan duduk di panggung kehormatan bersama pihak tuan rumah. Tamu- tamu yang tidak dikenalpun dipersilahkan duduk di panggung samping kiri. Pihak Pek-eng-pang sudah bersikap hati-hati dalam hal ini. Mereka tidak mengenal para tamu itu. Siapa di antara mereka terdapat orang- orang pandai. Maka agar cukup menghormat, mereka dipersilahkan duduk di panggung kiri. Panggung kanan ditempati wakil-wakil perkumpulan lain yang memiliki kedudukan sebagai murid saja, sedangkan orang-orang muda diberi tempat paling belakang.

Ketika tidak nampak ada tamu baru, hidangan mulai dikeluarkan, disambut gembira oleh para pemuda yang duduk di bagian belakang. Seperti biasanya, di manapun juga, dalam setiap pesta para pemuda yang berkumpul tentu bergembira ria dan suasana menjadi meriah.

Akan tetapi tiba-tiba muncul serombongan baru. Rombongan ini menarik perhatian karena sikap dan pakaian mereka. Rata-rata belasan orang itu berwajah menyeramkan, bersikap kasar dan congkak. Pakaian mereka serba hitam dan di tubuh mereka terdapat senjata-senjata tajam. Rombongan tamu baru ini jelas merupakan sekelompok orang yang dipimpin oleh seorang laki-laki setengah tua bertubuh tinggi kurus yang mengiringkan seorang kakek berusia enam puluh tahun yang berperut gendut. Hanya mereka berdua ini yang bersikap tenang dan halus tidak seperti belasan anak buah mereka, walaupun pada pandangan mereka dan gerak bibir seperti yang lain, penuh kecongkakan dan ketinggian hati.

Melihat munculnya belasan orang yang jelas merupakan satu golongan tertentu, Song-pangcu dan keempat muridnya cepat mengadakan sambutan. Dengan sikap hormat ketua Pek-eng-nang ini memberi hormat, diturut oleh para muridnya, kepada belasan orang tamu yang masih berdiri dengan sikap angkuh itu.

Akan tetapi, hanya kakek gendut dan si tinggi kurus yang membalas penghormatan Song-pangcu, sedangkan tiga belas orang anak buah mereka sama sekali tidak memperdulikan penghormatan itu. Si tinggi kurus yang melangkah maju dan bicara mewakili kakek gendut.

"Sudah lama kami dari Hek-i Mo-pang mendengar tentang Song-pangcu dan Pek-eng-pang. Karena kebetulan lewat dan mendengar bahwa Pek-eng-pang merayakan ulang tahun, kami semua dipimpin oleh suhu Boan It sengaja singgah dan mengucapkan selamat!! Ucapan itu terdengar nyaring, terdengar oleh semua yang hadir dan hanyak di antara mereka terkejut bukan main mendengar disebutnya nama Hek-i Mo-pang (Perkumpulan Iblis Baju Hitam). Nama ini tak pernah menjadi kenyataan di dunia kang-ouw, akan tetapi siapakah yang belum mendengar nama Hek-i Mo-ong pendiri Hek-i Mo-pang?

Song-pangcu juga terkejut sekali, akan tetapi diam-diam kurang percaya dan menduga bahwa rombongan ini tentu hanya gerombolan liar saja yang mempergunakan nama itu untuk menakuti orang. Betapapun juga karena mereka datang sebagai tamu, diapun menghaturkan terima kasih atas ucapan selamat itu dan mempersilahkan mereka duduk. Dia mengisyaratkan para muridnya untuk mengantar rombongan baju hitam itu ke panggung kiri di mana berkumpul tamu yang tak begitu dikenal. Panggung inilah yang masih agak kosong.

Akan tetapi ketika rombongan baju hitam tiba di panggung itu, si tinggi kurus menjadi marah. Teriakannva lantang terdengar oleh semua tamu yang tentu saja memandang ke arah rombongan yang masih berdiri berkelompok di depan panggung kiri itu, tak seorangpun di antara mereka mau duduk.

"Ini penghinaan besar namanya! Dan kami dari Hek-i Mo-pang tidak bisa menerima penghinaan orang begitu saja!! Si kurus berseru keras sedangkan kakek gendut hanya berdiri dan menumbuk-numbukkan tongkat hitamnya di atas lantai dengan alis berkerut marah.

Tentu saja empat orang murid kepala Pek-eng-pang merasa tak senang. Sejak tadipun mereka merasa tak senang melihat sikap kasar orang-orang berpakaian hitam itu. Kalau bukan suhu mereka yang mempersilahkan gerombolan hitam itu duduk, agaknya mereka akan lebih suka mengusir tamu-tamu tak diundang itu. Kini mendengar teriakan si kurus yang sejak tadi menjadi pembicara, murid kepala yang tertua yang berkumis panjang segera menjura kepada si tinggi kurus.

"Maafkan kami yang tidak mengerti akan maksud ucapan saudara tadi! Siapa yang menghina kalian?!

"Siapa lagi kalau bukan Pek-eng-pang? Huh!!

Mendengar ucapan ini dan melihat sikap si tinggi kurus, murid kepala termuda dari Pek-eng-pang, seorang laki-laki berusia tiga puluh tahun bertubuh tegap yang memang berdarah panas, segera menegur.

"Eh, saudara ini tamu tanpa diundang, sudah kami terima dengan ramah, kenapa menuduh kami menghina? Kalau bicara urusan menghina, sikap kalian yang congkak itu baru menghina!!

Si tinggi kurus mendelik ketika dia menoleh kepada murid Pek-eng-pang itu, lalu bertanya lambat-lambat dengan nada suara memandang rendah.

"Kamu ini murid Pek-eng-pang yang kelas berapa?!

Lelaki tegap itu membusungkan dada.

"Aku murid termuda di antara murid-murid kepala Pek-eng-pang!!

"Begitukah? Anak kecil mencampuri urusan orang tua. Pergilah!! Berkata demikian, si tinggi kurus itu menggerakkan tangan kiri mendorong dada murid Pek-eng- pang. Tentu saja yang didorong tidak tinggal diam dan cepat mengerahkan tenaga menangkis.

"Plak.... desss....!! Kiranya dorongan tangan kiri si kurus itu begitu tertangkis mencuat ke atas dan menampar muka murid Pek-eng-pang dengan kecepatan yang tak tersangka-sangka. Akibatnya muka yang kena tampar dengan kerasnya sehingga tubuh yang tegap itu terpelanting jauh dan roboh tak mampu bergerak lagi. Kiranya tamparan itu telah membuat murid Pek-eng-pang itu pingsan dengan rahang patah! Beberapa orang muda baju putih segera menolong dan menggotong masuk kawan mereka yang pingsan itu.

Si tinggi kurus tersenyum sinis.

"Ha-ha, kiranya hanya sebegitu saja kemampuan murid kepala Pek-eng- pang? Dan kelemahan seperti itu berani menghina Hek-i Mo-pang? Hm, aku Ciong Ek Sim tak akan mau mengampuni!! Suaranya lantang, sikapnya sombong, petentang-petenteng bertolak pinggang seperti seekor jago menantang tanding. Sikapnya itu membuat para tamu muak dan marah, akan tetapi nama Hek-i Mo-ong masih membuat mereka merasa ngeri, apalagi tadi mereka melihat sendiri betapa lihainya orang she Ciong yang tinggi kurus dan yang segebrakan saja telah merobohkan seorang murid utama Pek-eng-pang itu.

Tiga orang murid Pek-eng-pang yang lain menjadi penasaran, juga murid yang lain sudah mengurung maju, siap menyerang tamu-tamu yang tak diundang yang agaknya mau membikin kacau itu. Akan tetapi Ciu Hok Tek memberi isyarat kepada para anak buah untuk mundur. Dia sendiri bersama dua orang sutenya maju menghadapi Ciong Ek Sim.

"Maafkanlah kelancangan sute kami. Akan tetapi kami sungguh belum mengerti, mengapa Hek-i Mo-pang menuduh kami dari Pek-eng-pang melakukan penghinaan?!

Si tinggi kurus mengerutkan alis. Dia maklum betapa semua orang yang berada di situ kini menaruh perhatian dan semua orang memandang kepadanya. Maka dia berlagak, bertolak pinggang dan mendelik kepada Ciu Hok Tek, murid pertama Pek-eng-pang itu.

"Sudah bersalah, masih pura-pura bertanya lagi? Sudah jelas kami semua mengiringi suhu hadir di sini, akan tetapi kami orang Hek-i Mo-pang hanya disuruh duduk di panggung samping! Kami mau disejajarkan dengan orang-orang biasa? Bukankah itu penghinaan namanya. Apakah mereka yang duduk di panggung kehormatan itu lebih tinggi ilmunya dari kami?!

"Sobat, sikapmu ini sungguh terlalu!! Murid pertama Pek-eng-pang itu berkata, suaranya dingin dan tegas.

"Tuan rumah adalah raja di rumah sendiri. Semua peraturannya harus ditaati tamu. Kalau tamu tidak suka dengan peraturan itu, silahkan pergi, kamipun tidak pernah mengundang Hek-i Mo-pang!!

Ucapan ini mendapat sambutan para tamu yang rata- rata mengangguk dan membenarkan. Agaknya tidak ada tamu yang memihak Hek-i Mo-pang. Akan tetapi Ciong Ek Sim si tinggi kurus baju hitam itu tersenyum mengejek.

"Ha-ha, kau mau bersikap gagah-gagahan ya? Bagaimanapun juga, Pek-eng-pang telah menghina kami dan aku tidak terima!!

Post a Comment