Halo!

Kisah Pendekar Pulau Es Chapter 166

Memuat...

Hanya Suma Hui, Ganggananda dan tentu saja Ciang Bun sendiri yang merasakan kata "banci! ini sebagai sindiran terhadap diri Ciang Bun.

"Akan tetapi.... saya.... saya telah bertekad untuk mencari dan membunuh musuh besar saya....!

"Kami semua juga mengerti akan perasaanmu itu, anak Hui.! kata Wan Ceng sambil menyentuh kepala gadis itu yang duduk di sebelahnya.

"Menentang dan membasmi manusia-manusia iblis macam Louw Tek Ciang itu merupakan tugas setiap orang gagah, bukan? Tidak perduli urusan pribadi, akan tetapi perbuatannya itu cukup membuat kita semua memusuhinya. Akan tetapi, urusan dendam itu dapat dilakukan setelah menikah. Suamimu tentu akan membantumu, dan kami juga.!

"Jangan khawatir, Suma Hui,! sambung Kao Kok Cu.

"Suamimu terikat tugas dan kiranya hanya mempunyai sedikit waktu untuk urusan pribadi. Akan tetapi, kalau kalian sudah menikah, aku sendiri yang akan turun tangan menyeret iblis itu ke depan kakimu!!

"Tapi.... iblis itu harus mampus di tangan saya sendiri!! Suma Hui berkata penuh geram.

Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir menarik napas panjang.

"Baiklah, terserah kepadamu, akan tetapi kami sungguh mengharapkan engkau akan dapat mempertimbangkan dengan baik untuk segera menikah dengan tunanganmu.!

Suma Hui termenung. Ia memang merasa terharu dan kasihan kepada kekasihnya yang begitu setia dan mencintanya, padahal ia sudah bukan seorang perawan lagi. Jarang di dunia ini terdapat seorang pria seperti Cin Liong dan kalau sekarang ia menolak lagi, berarti dia yang keterlaluan dan tidak mengenal budi orang. Akhirnya ia menyetujui.

Bukan main girangnya hati Wan Ceng. Ia melompat dan merangkul calon mantunya, menciumnya dengan kedua mata basah. Keluarga itu lalu menahan Suma Hui, Ciang Bun dan juga Ganggananda yang dianggap sebagai tamu, untuk bermalam di gedung besar jenderal Kao Cin Liong dan utusan lalu dikirimkan ke Thian-cin untuk memberi kabar kepada keluarga Suma tentang akan dilangsungkannya pernikahan itu. Menurut usul keluarga Kao, pernikahan itu diadakan di kota raja dan di rumah keluarga Suma tidak diadakan pernikahan lagi karena Suma Hui pernah dinikahkan di situ dengan Louw Tek Ciang tiga tahun yang lalu. Untuk keperluan itu, keluarga Suma diundang untuk datang ke kota raja agar dapat bersama-sama merayakan pernikahan yang sudah lama ditunggu-tunggu itu.

Akan tetapi Ganggananda hanya tinggal di situ semalam saja. Malam itu, setelah berkesempatan bertemu dan bicara berdua saja dengan Suma Hui, gadis itu menganjurkan kepadanya agar segera mulai dengan usahanya menolong dan menyelamatkan Ciang Bun seperti yang sudah mereka rencanakan sebelumnya. Rencana itu adalah pertama-tama meninggalkan Ciang Bun agar pemuda itu merasa kehilangan dan menderita rindu. Maka pada keesokan harinya, secara tiba-tiba saja Ganggananda berpamit dari keluarga Kao untuk melanjutkan perjalanannya. Karena hal itu ia lakukan pagi-pagi sekali, yang mengetahui kepergiannya hanyalah Suma Hui dan suami isteri Kao Kok Cu, sedangkan Cin Liong dan Ciang Bun masih berada di dalam kamarnya.

Dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati Ciang Bun ketika dia keluar dari kamarnya, dia tidak mendapatkan lagi Ganggananda yang sudah pergi. Apalagi ketika dia mendengar dari encinya bahwa pemuda Bhutan itu memang benar-benar sudah pergi dari rumah itu.

"Ah, kenapa dia tidak pamit kepadaku? Kenapa dia pergi begitu saja....?! Ciang Bun mengeluh dengan muka berobah pucat, nampaknya dia terpukul sekali. Diam-diam Suma Hui merasa kasihan kepada adiknya, akan tetapi ini merupakan siasatnya bersama Gangga Dewi untuk menolong Ciang Bun.

"Adikku, Gangga adalah seorang perantau yang hidup menyendiri. Kemudian dia menemukan engkau sebagai seorang sahabat yang amat baik. Ketika dia kita ajak ke sini dan melihat pertemuan antara kita dengan keluarga Kao, baru dia merasa bahwa dia adalah orang luar, maka dia merasa tidak enak dan tidak betah tinggal lebih lama di sini, merasa tidak berhak. Karena itulah maka sepagi ini dia pergi tanpa dapat kucegah.!

"Ahh.... kasihan Gangga. Kenapa begitu? Setidaknya dia dapat menunggu aku dan bicara denganku. Ke mana dia pergi, enci? Ke mana aku akan dapat mencarinya?!

"Ke mana lagi kalau tidak pulang ke negerinya?!

Seketika wajah pemuda itu berobah pucat.

"Ke Bhutan? Ya Tuhan.... Gangga, engkau pergi begitu saja meninggalkan aku untuk selamanya? Enci, aku pergi, aku harus mengejarnya....!

Pemuda itu meloncat dan sebentar saja dia sudah berada di luar gedung itu. Akan tetapi nampak bayangan berkelebat dan encinya telah berdiri di depannya dengan pandang mata serius.

"Adikku, engkau mau apa?!!Enci Hui, tidak tahukah engkau bahwa aku.... aku amat mencintanya? Aku akan mati kalau berpisah darinya, enci, sungguh.... aku.... aku....! Ciang Bun tidak dapat melanjutkan kata-katanya dan kedua matanya sudah basah oleh air mata! Melihat adiknya menangis, Suma Hui merasa terharu sekali. Dipegangnya kedua tangan adiknya itu.

Pemuda yang sedang berlatih silat seorang diri dalam taman di samping rumah itu sungguh amat tampan dan gagah. Pagi itu matahari belum nampak walaupun sinarnya telah lama mengusir kabut dan menciptakan embun menjadi mutiara-mutiara yang bergantungan di ujung daun-daun dan kelopak-kelopak bunga. Rumah itu agak terpencil di sebuah dusun yang sunyi di Lembah Sungai Kuning. Pagi yang sunyi, segar dan sejuk.

Pemuda itu berusia antara delapan belas atau sembilan belas tahun, bertubuh tinggi tegap, wajahnya yang tampan itu berbentuk lonjong dengan dagu meruncing, mulutnya dan matanya membayangkan watak yang gemibira. Pada waktu itu, walaupun hawa udara cukup dingin, dia membuka baju dan hanya memakai celana sederhana saja. Akan tetapi yang amat menarik adalah gerakan-gerakannya dalam berlatih silat.

Kedua kaki itu seolah-olah dua batang tiang baja yang kokoh kuat, tak tergoyahkan apapun ketika dia memasang kuda-kuda dan menggeser ke sana-sini. Akan tetapi tubuh atasnya demikian lincah dan ringan. Dan orang yang tidak mengerti akan menduga bahwa pemuda itu hanya sedang berlatih dalam taraf permulaan saja dari pelajaran ilmu silat karena ketika dia melakukan gerakan memukul atau menendang, gerakan itu nampak tanpa tenaga. Akan tetapi, tidak demikian anggapan orang yang sejak tadi menonton sambil bersembunyi.

Ketika tadi dia memasuki dusun Hong-cun dan tiba di depan rumah itu, dia memasuki pekarangan. Akan tetapi karena masih nampak sunyi, dia mencari-cari dengan pandang matanya dan cepat dia menyelinap diantara pohon-pohon ketika melihat seorang pemuda sedang berlatih silat seorang diri lalu mengintai. Dari sinar matanya, jelas bahwa orang ini merasa kagum bukan main.

Pengintai itu menarik napas panjang dan mengumam seorang diri.

"Hebat.... seorang pemuda yang hebat tak ubahnya Pendekar Siluman Kecil di waktu muda....! Kakinya bergerak sedikit dan tanpa disegaja kakinya menginjak daun-daun kering dan mematahkan sepotong ranting. Bunyi itu sebenarnya tidak berapa keras, akan tetapi cukup bagi Suma Ceng Liong untuk menghentikan latihan silatnya dan dia menghadap ke arah pohon itu.

"Saudara yang berada di belakang pohon, kalau ada keperluan keluar dan bicaralah, sebaliknya kalau tidak ada keperluan, harap suka pergi. Tidak ada gunanya bersembunyi dan mengintai.!

Ceng Liong mengira bahwa yang mengintai tentu seorang penghuni dusun Hong-cun. Sudah tiga tahun dia berada di dusun itu, di rumah orang tuanya dan menerima penggemblengan dengan keras dari kedua orang tuanya. Kini dia bukanlah Ceng Liong tiga tahun yang lalu, yang masih kekanak-kanakan. Kini dia seorang pemuda dewasa yang semakin mantap dan matang ilmunya.

Akan tetapi ketika orang yang mengintai itu muncul dari balik pohon, Ceng Liong terkejut dan kagum. Orang itu dengan langkah lebar menghampirinya dan kini mereka saling berhadapan, saling pandang dengan kagum. Ceng Liong memandang penuh selidik. Belum pernah dia melihat orang ini. Seorang laki-laki yang berusia kurang lebih empat puluh tahun, bertubuh tegap dan bersikap gagah bukan main. Pakaiannya dari kain kasar seperti yang biasa dipakai para pemburu. Di punggungnya tergantung sebatang pedang. Pria ini, dari kepala sampai ke kaki, sikap dan gerak-geriknya, semua membayangkan kegagahan yang amat mengagumkan hati Ceng Liong.

Ceng Liong dapat menduga bahwa dia berhadapan dengan seorang gagah yang tidak dikenalnya, maka diapun cepat mengangkat kedua tangannya ke depan dada sebagai penghormatan dan berkata.

"Bolehkah saya bertanya? Siapa nama saudara yang gagah dan ada keperluan apakah mendatangi pondok kami?!

Pria itu tersenyum dan nampak deretan giginya yang putih terpelihara rapi.

"Aku melihat engkau berlatih dan merasa kagum sekali. Ingin aku berlatih bersamamu. Orang muda, layanilah aku barang sepuluh dua puluh jurus!! Berkata demikian, pria itu sudah menyerang maju dan mengirim pukulan ke arah dada Ceng Liong! Tentu saja pemuda ini cepat mengelak ke belakang. Akan tetapi, pukulan yang tidak mengenai sasaran itu sudah disusul oleh serangkaian pukulan lagi yang semakin lama menjadi semakin dahsyat.

"Plakk! Plakk!! Terpaksa Ceng Liong yang terdesak dan selalu mengelak ke belakang itu kini menggunakan lengannya untuk menangkis. Tangkisan yang dilakukan dengan mengerahan tenaga dan akibatnya keduanya terkejut karena keduanya merasa betapa lengan yang beradu dengan lengan lawan itu tergetar hebat! Ceng Liong kini membalas serangan dan mereka segera terlibat dalam pertandingan yang seru, saling serang dengan jurus-jurus pukulan yang aneh dan dahsyat.

Keduanya menjadi semakin gembira ketika mendapat kenyataan bahwa lawannya benar-benar amat tangguh. Karena dari cara orang itu menyerang Ceng Liong maklum bahwa orang itu memang hanya ingin mengujinya, maka diapun melayani orang itu dengan gembira dan diam-diam diapun mengerahkan tenaga dan kepandaian untuk memenangkan pertandingan itu.

Ketika pertandingan yang seru itu sudah berlangsung kurang lebih dua puluh jurus, nampak bayangan dua orang berkelebat dan tahu-tahu Suma Kian Bu dan Teng Sian In sudah berdiri di tempat itu dan mereka menonton pertandingan itu dengan alis berkerut dan terheran-heran. Mereka tidak mengenal siapa adanya pria gagah perkasa berpakaian pemburu yang bertanding dengan putera mereka itu. Akan tetapi, melihat gerakan kedua orang itu, suami isteri sakti inipun maklum bahwa mereka itu tidak berkelahi dengan sungguh-sungguh, melainkan lebih tepat kalau dikatakan berlatih atau saling menguji ilmu masing-masing.

Tiba-tiba, pria gagah perkasa yang mukanya dihias kumis dan jenggot pendek itu meloncat ke belakang, lalu menghadapi suami isteri itu sambil menjura dengan sikap hormat dan muka tersenyum ramah.

Post a Comment