Halo!

Kisah Pendekar Pulau Es Chapter 164

Memuat...

"Ya, dan maafkan dia, enci Hui. Aku sudah mendengar semuanya, maka tidak adillah kalau aku tidak mengaku terus terang siapa diriku. Aku bernama Gangga Dewi atau juga Wan Hong Bwee....!

"Kau.... peranakan....?!

"Benar, ayahku bernama Wan Tek Hoat dan ibuku bernama Syanti Dewi....!

"Ah, Puteri Bhutan yang terkenal itu?!

"Enci, engkau sudah mengenal ibuku?!

"Sejak kecil, seperti engkau pula, aku sudah mendengar tentang bibi Puteri Syanti Dewi. Ah, adik Gangga, kiranya engkau puterinya? Kalau begitu.... kita bukan orang lain. Engkau masih adikku sendiri....!! Suma Hui lalu merangkul Gangga dan puteri Bhutan ini juga membalas pelukan gadis itu walaupun hatinya merasa heran.

"Enci Hui, menurut ibu dan ayah, memang keluarga Pulau Es merupakan keluarga yang dekat dengan mereka, dan ayah ibuku amat menghormati keluarga Pulau Es. Akan tetapi, tentang hubungan keluarga, aku belum tahu....!

"Memang antara keluarga kita tidak ada hubungan langsung, akan tetapi ketahuilah hahwa ayahmu itu, Wan Tek Hoat, adalah cucu kandung dari mendiang nenekku Lulu....! Nah, bukankah dengan demikian di antara kita masih ada hubungan keluarga, walaupun jauh?!

Gangga Dewi mengangguk-angguk dan hatinya merasa girang bukan main.

"Setelah engkau mengenal keadaanku, tentu engkau tidak menaruh hati curiga lagi kepadaku, bukan?!

Suma Hui menggeleng kepala dan tersenyum.

"Sejak tadipun aku tidak menaruh curiga, hanya aku ingin merasa yakin tentang hubunganmu dengan Ciang Bun. Engkau seorang gadis, dan engkau menyembunyikan keadaanmu, menyamar sebagai pemuda. Akan tetapi engkau membela adikku mati-matian. Hal ini hanya mempunyai arti, yaitu bahwa engkau.... engkau jatuh cinta kepada adikku Suma Ciang Bun. Tidak benarkah dugaanku, adik Gangga?!

Sekatika wajah Gangga Dewi menjadi kemerahan dan menundukkan mukanya.

"Enci Hui, aku tidak tahu.... akan tetapi sesungguhnya aku amat suka kepadanya aku merasa kasihan melihat dia menghadapi maut ketika terluka. Tentang cinta.... aku tidak tahu....!

"Adikku yang baik,! Suma Hui memegang tangan Gangga dan menggenggamnya.

"Biarlah berterus terang saja kepadamu. Memang, kejujuranku ini mungkin akan menyakitkan, akan tetapi demi kebaikanmu, demi kebaikan adikku, demi kebahagiaanmu berdua, aku harus berterus terang. Gangga, ketahuilah bahwa Ciang Bun juga mencintamu, dia sudah mengaku kepadaku bahwa dia jatuh cinta padamu....!

"Ahhh....!! Gangga Dewi memandang wajah Suma Hui dengan mata terbelalak.

"Tidak mungkin! Dia mengira bahwa aku seorang pria! Ataukah.... jangan-jangan dia sudah tahu akan keadaanku, bahwa aku seorang wanita?!

Suma Hui menggeleng kepalanya dan menarik napas panjang. Bagian tersukar dari tugasnya kini harus ia lalui. Maka iapun duduk mendekat dan merangkul pundak Gangga Dewi karena apa yang akan diceritakannya adalah rahasia adiknya yang amat gawat dan tidak boleh sampai terdengar orang lain. Dengan suara lirih iapun berkata setelah menengok ke kanan kiri dan merasa yakin bahwa tempat itu sunyi tidak terdapat orang lain kecuali mereka berdua.

"Adik Gangga, dari sikapmu dan juga pertolonganmu terhadap Ciang Bun aku merasa yakin bahwa engkau sungguh mencinta dia seperti juga dia mencintaimu. Oleh karena itu, jika kuberitahu kepadamu bahwa Ciang Bun menderita suatu penyakit yang amat gawat, sudikah kiranya engkau membantuku untuk menyembuhkannya kembali?!

Gangga terkejut dan memandang dengan mata terbelalak dan wajahnya yang cerah itu berobah agak pucat, alisnya berkerut penuh kekhawatiran.

"Sakit? Dia sakit? Akan tetapi, ketika tabib itu memeriksa, penyakitnya hanya keracunan pukulan Hoa-mo-kang, tidak ada penyakit lain. Dan dia kelihatan begitu sehat dan segar!!

"Memang benar, akan tetapi penyakitnya bukan penyakit badan. Tidak ada yang dapat mengetahui kecuali dia sendiri dan aku karena dia percaya kepadaku dan menceritakan tentang penyakitnya itu. Dan aku yakin bahwa pengobatannya hanya ada pada dirimu. Hanya engkau lah yang dapat menyembuhkannya, Gangga.!

"Ahh, enci Hui, jangan main-main. Engkau membikin hatiku bingung dan khawatir. Seperti orang-orang lain yang pernah belajar silat, aku hanya membawa bekal obat-obat luka dan hanya dapat mengobati luka-luka pukulan dan senjata saja. Mana mungkin aku dapat mengobati penyakit Ciang Bun kalau orang lain yang ahli tidak mampu menyembuhkannya? Penyakit apakah itu?!

"Kami berduapun tidak tahu penyakit apa itu namanya. Akan tetapi adikku amat menderita karenanya. Jangan kaget, Gangga. Adikku itu adalah seorang laki- laki, seorang jantan sejati, berwatak pendekar yang tidak memalukan keluarga kami. Akan tetapi, dia.... dia mempunyai penyakit aneh, yaitu dia.... condong untuk menyukai pria daripada wanita.!

Sepasang mata yang indah itu terbelalak dan mulut yang kecil itu ternganga saking herannya hati Gangga Dewi mendengar ucapan Suma Hui itu.

"Apa.... apa yang kau maksudkan, enci Hui? Aku tidak mengerti....!!

"Adik Gangga, memang penyakit itu amat aneh. Biarpun Ciang Bun adalah seorang pemuda, jasmaninya adalah seorang pria yang sempurna, akan tetapi selera dan berahinya seperti seorang wanita. Dia.... dia lebih tertarik dan suka kepada seorang pria daripada seorang wanita. Mengertikah engkau?!

"Ahhh....!! Gangga Dewi menunduk, kedua pipinya kemerahan dan alisnya berkerut. Ia merasa bingung sekali, dan tidak tahu harus bicara apa untuk menanggapi keterangan yang amat mengejutkan dan mengherankan hatinya itu. Sungguh sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa ada penyakit yang demikian anehnya, apalagi kalau penyakit seperti itu diderita oleh Ciang Bun yang amat dikaguminya itu. Ia seorang gadis yang cerdik dan tanpa dijelaskan sekalipun kini tahulah ia akan kenyataan yang amat menusuk perasaannya. Jadi kalau begitu, Ciang Bun dikatakan mencinta dirinya karena mengira ia seorang pria!

"Enci, kalau.... kalau begitu.... engkau hendak mengatakan bahwa jika Ciang Bun mengerti bahwa aku sebenarnya seorang wanita, maka dia.... dia tidak akan suka kepadaku, begitukah?!

Suma Hui mengangguk.

"Akan tetapi, cinta tidak dapat disamakan dengan rasa suka yang terdorong gairah berahi, adikku. Ciang Bun mengaku kepadaku bahwa dia amat mencintamu, walaupun rasa cintanya itu mengandung gairah berahi karena mengira bahwa engkau seorang pemuda. Nah, rasa cintanya inilah yang harus kita pergunakan untuk menyembuhkan penyakit aneh yang dideritanya itu. Tentu saja.... tentu saja kalau engkau juga mencintanya seperti yang kuduga.

Adik Gangga yang baik, demi hubungan antara orang tua kita, demi cinta Ciang Bun kepadamu, dan demi cintamu sendiri.... sudikah engkau menolongnya?! Dalam suaranya terkandung nada yang penuh permohonan dan ketika Gangga Dewi memandang, ternyata kedua mata gadis perkasa itu berlinang air mata! Gangga Dewi merasa terharu sekali dan ia dapat merasakan betapa besar cinta gadis itu kepada adiknya. Ia sendiripun merasa kasihan kepada Ciang Bun, walaupun terdapat perasaan tidak enak menganggu hatinya mendengar akan keadaan Ciang Bun yang aneh itu.

"Enci Hui, tentu saja aku suka menolong, akan tetapi bagaimana mungkin? Kalau dia tidak suka kepada wanita, dan setelah nanti dia tahu bahwa aku sesungguhnya adalah seorang wanita dan dia pun tidak suka kepadaku, bagaimana aku akan dapat merobah seleranya?!

"Kita menggunakan cinta sebagai obatnya, adikku. Biarlah cinta murni yang akan menyembuhkannya dari penyakit aneh itu.!

"Akan tetapi, bagaimana caranya, enci Hui?!

Post a Comment