Halo!

Kisah Pendekar Pulau Es Chapter 163

Memuat...

"Biarpun demikian, pertemuanku dengan dia di telaga ini menunjukkan bahwa dia tidak berada jauh dari kota raja. Kita akan mencari lagi sampai dapat, enci. Akan tetapi, sebaiknya kalau kita minta bantuan kanda Kao Cin Liong. Kita cari dia di kota raja dan kita ceritakan tentang jahanam itu....!

Mendengar adiknya menyebut "kanda! kepada Cin Liong, diam-diam Suma Hui merasa girang dan berterima kasih. Adiknya sebetulnya masih terhitung paman dari Cin Liong, akan tetapi adiknya itu memandang kepadanya dan menyebut "kanda!.!Baiklah, usulmu memang baik dan tanpa bantuan banyak tenaga, agaknya sukar menemukan jahanam yang licik itu.!

Karena hari sudah menjelang malam, mereka mengambil keputusan untuk mencari Cin Liong pada keosokan harinya dan malam hari itu mereka bermalam di sebuah rumah penginapan. Melihat betapa Ciang Bun tidak sekamar dengan Ganggananda, Suma Hui mengerutkan alisnya. Bagaimanakah adiknya ini? Benarkah adiknya belum tahu akan keadaan Gangga sebenarnya, bahwa Gangga adalah seorang gadis?

Akan tetapi kalau Ciang Bun mengira bahwa Gangga seorang pemuda, mengapa pula mereka berpisah kamar? Barangkali Gangga yang tidak mau tidur sekamar, pikirnya. Andaikata ia menjadi Gangga, dalam penyamaran sebagai seorang pria, iapun tentu tidak mau tidur sekamar dengan seorang kawan pria, dan akan mencari dalih apapun agar mereka tidur berpisah. Betapapun juga, untuk menghilangkan keraguannya apakah adiknya itu tahu atau tidak akan keadaan Gangga, ia lalu mendatangi kamar adiknya dan bertanya.

"Bun-te, di mana Gangga?!

"Dia berada di kamarnya, di sudut lorong ini.!

"Eh, kenapa tidak di sini saja, sekamar denganmu? Bukankah tempat tidur ini cukup besar untuk kalian berdua?!

Wajah Ciang Bun berobah merah dan dia lalu menyuruh encinya duduk, kemudian menutupkan daun pintu.

"Hui-ci, aku mau bicara denganmu.! katanya serius.

"Bicara apa? Katakanlah.! kata Suma Hui sambil duduk di tepi pembaringan dan memandang adiknya dengan sinar mata penuh kasih sayang. Ia tahu akan kesulitan yang berkecamuk di dalam hati adiknya dan ia merasa kasihan karena keadaan adiknya sungguh membuat ia sendiri menjadi bingung.

"Enci, maukah enci andaikata harus tidur sepembaringan dengan seorang pemuda seperti halnya Gangga?!

"Eh? apa maksud pertanyaanmu ini? Aneh-aneh saja engkau. Tentu saja aku tidak mau!! Suma Hui berkata tegas dan heran.

"Nah, begitulah perasaanku, enci. Mana mungkin aku tidur sekamar dengan seorang pemuda seperti Gangga kalau aku mempunyai perasaan wanita seperti engkau itu? Dan aku.... aku takut kepada diriku sendiri, dan aku.... tidak ingin kehilangan Gangga, Hui-ci. Aku cinta padanya, aku cinta padanya dan aku tidak ingin kehilangan dia, tidak ingin berpisah darinya. Karena itulah aku selalu berusaha menjauhkan diri.... aku khawatir dia akan merasa jijik dan membenciku kalau dia tahu akan keadaanku, dan aku.... aku tidak ingin kehilangan dia, Hui-ci.!

Melihat adiknya yang gagah perkasa itu kini duduk menundukkan muka, dengan kedua pundak bergantung ke depan, gambaran seorang yang patah semangat dan penuh kegelisahan, Suma Hui merasa kasihan sekali. Hal ini sudah diduganya ketika mereka bertiga berada dalam perahu, yang membuat ia menepuk paha sendiri mengejutkan Ciang Bun. Di dalam perahu itu iapun teringat bahwa Ciang Bun tentu jatuh cinta kepada Gangga sebagai seorang pria! Teringat ia akan kelainan adiknya. Tak dapat dibayangkan bagaimana akan jadinya kalau adiknya tahu bahwa Gangga bukan pria, melainkan wanita! Dan tiba-tiba saja ia seperti memperoleh ilham!

Inikah cara pengobatan untuk memulihkan keadaan adiknya sehingga batinnya akan seirama dengan badannya? Ingin ia melihat Ciang Bun pulih seperti seorang laki-laki biasa, bertubuh pria dan juga berselera dan berbatin pria agar adiknya tidak akan mengalami rintangan dan kesulitan-kesulitan di dalam hidup selanjutnya. Dan kini Suma Hui melihat cahaya berkilat yang agaknya akan dapat memberi penerangan dalam kehidupan adiknya. Ia tidak ingin melihat adiknya mengalami derita hidup seperti yang pernah dialaminya.

"Adikku yang baik,! katanya sambil memegang kedua pundak Ciang Bun dan menegakkannya.

"Seorang gagah tidak pernah putus asa dan tunduk terhadap nasib! Aku sudah tahu akan keadaanmu dan aku dapat ikut merasakan betapa hebat penderitaan batinmu. Akan tetapi, janganlah kau membiarkan kedukaan mengotori batinmu. Duka dan putus asa hanya permainan orang lemah. Engkau harus berani melihat kenyataan dirimu sendiri, berani menghadapinya dan berusaha mengatasinya. Segala yang tidak wajar berarti suatu keadaan yang tidak seimbang, katakanlah suatu penyakit. Karena itu, engkau tidak perlu merasa malu. Bersikaplah wajar saja namun dengan penuh kesadaran dan tertib diri, tidak hanya menurutkan dorongan nafsu yang timbul dari ketidakwajaran atau penyakitmu itu.!

"Aku tahu akan hal itu, Hui-ci dan selama ini, akupun sudah bertahan dan menentang dorongan hasrat nafsuku sendiri yang tidak wajar. Akan tetapi, aku jatuh cinta kepada Gangga, bukan semata karena dorongan nafsu birahi, bukan hanya karena gairah, akan tetapi segala-galanya pada diri Gangga menarik hatiku, menimbulkan rasa cinta dan aku tidak mau kehilangan dia, Hui-ci.!

Suma Hui menarik napas panjang. Ia dapat merasakan apa yang terkandung dalam hati adiknya. Seperti itulah agaknya perasaannya sendiri terhadap Cin Liong. Mencinta, sayang dan mesra, ingin sekali berdekatan dan selamanya tidak ingin berpisah lagi.

"Adikku, engkau pun tahu dan tentu ingat akan semua pelajaran ayah. Cinta adalah sesuatu yang suci. Jangan sekali-kali salah kira dan mencampuradukkan cinta dengan cinta birahi. Gejolak hatimu yang timbul dari gairah berahi itu bukanlah cinta yang sesungguhnya. Itu hanya berahi yang timbul dari pikiran dan badan, dan bagi dirimu yang mempunyai kelainan, berahimu timbul kalau engkau melihat seorang pria yang tampan atau yang menyenangkan hatimu. Maka, sekarang aku hendak bertanya, adikku. Engkau bilang bahwa engkau cinta kepada Gangga, apakah cintamu itu semata-mata timbul karena kenyataan bahwa Gangga adalah seorang pemuda tampan dan gagah?!

"Kurasa kesemuanya itu mengambil bagian, Hui-ci. Bukan hanya karena dia seorang pemuda tampan dan gagah, akan tetapi juga karena dia berhati mulia, karena semua gerak-geriknya amat menarik dan menyenangkan hatiku, karena dia pernah menolongku dan mati-matian menyelamatkan diriku. Pendek kata, aku cinta padanya karena pribadinya, bukan semata karena dia seorang pemuda tampan.!

"Kalau begitu, bersikaplah wajar saja dalam cintamu, adikku. Anggap dia seorang sahabat yang baik sekali. Dan sekali waktu, kalau keadaan mengijinkan, lebih baik engkau berterus terang kepadanya tentang keadaan dirimu, tentang kelainanmu.!

"Ah, aku tidak berani, enci! Dia tentu akan marah dan jijik dan membenciku....!!

"Belum tentu, adikku. Apalagi kalau dia mencintamu sebagai seorang sahabat baik yang sudah dibuktikannya ketika dia mencarikanobat untukmu. Dia, seperti aku, tentu akan dapat memaklumi kelainanmu sebagai suatu penyakit dan dia tidak akan membencimu, malah akan merasa kasihan kepadamu.!Setelah menghibur adiknya, Suma Hui lalu meninggalkannya untuk pergi tidur. Akan tetapi, gadis ini tidak pergi ke kamarnya, melainkan diamdiam ia pergi ke kamar Ganggananda di sudut lorong. Ia bersikap hati-hati sekali dan menjaga agar adiknya jangan sampai mengetahui perbuatannya.

Setelah tiba di depan pintu kamar Gangga, ia mengetuk pintu perlahan.

"Siapa....?! terdengar suara Gangga dari dalam.

"Adik Gangga, bukalah, aku ingin bicara.! kata Suma Hui lirih.

Daun pintu terbuka dan Ganggananda muncul, memandang kepada Suma Hui dengan sinar mata penuh selidik. Tentu saja Ganggananda merasa heran mengapa malam-malam begini seorang gadis seperti Suma Hui mengetuk pintu kamar seorang "pemuda!.

"Ah, kiranya nona Suma Hui. Ada keperluan apakah....?!

Belum habis Gangga bicara, Suma Hui sudah melangkah masuk dan menutupkan daun pintu kamar itu. Gangga memandang dengan mata terbelalak, akan tetapi Suma Hui tersenyum dan berkata.

"Adik yang manis, tak perlu lagi bersandiwara. Kita sama-sama perempuan, apa salahnya bicara dalam kamar tertutup?!

Ganggananda atau Gangga Dewi terkejut, lalu menarik napas panjang dan tersenyum.

"Ah, enci Suma Hui, kiranya engkau sudah tahu? Lupa aku bahwa engkau adalah seorang pendekar wanita yang lihai dan bermata tajam. Maafkan penyamaranku.!

"Sstt, adik Gangga. Mari kita keluar dari kamarmu, melalui jendela saja agar jangan sampai ketahuan Ciang Bun. Aku ingin bicara empat mata denganmu.! kata Suma Hui yang segera menghampiri jendela kamar Gangga Dewi yang menembus ke kebun samping rumah penginapan. Ia memberi isyarat dan tak lama kemudian dua orang gadis itu telah meloncat keluar pagar setelah menutupkan daun jendela kamar itu.

"Kita ke taman dan bicara di tempat sepi....! kata Suma Hui dan merekapun lalu berloncatan naik ke atas genteng-genteng bangunan rumah di sepanjang jalan. Suma Hui sudah mendengar penuturan Ciang Bun betapa dengan mengandalkan gin-kangnya, Gangga telah menyelamatkannya dan berhasil mencari obat penawar racun Hoa-mo-kang. Maka kini Suma Hui memperoleh kesempatan untuk menguji kehebatan gin-kang dari gadis Bhutan itu.

Ia sengaja mengerahkan gin-kang dan berlompatan dengan cepat sekali, melompati rumah-rumah dan kadang-kadang melayang turun dan berlari cepat menuju ke taman besar di mana siang tadi ia mencari adiknya kemudian melihat coretan-coretan di batang pohon. Memang pemuda ini dengan cerdik telah membuat coretan-coretan di batang pohon dengan harapan encinya akan dapat menemukannya kalau encinya datang. Coretan-coretan itu dibuatnya dengan kuku jari tangan sebelum dia bersama Gangga berangkat mencari dua orang kakek yang melarikan muda- mudi itu. Dan ternyata Suma Hui yang cermat itu dapat menemukan coretan itu yang berisi pesan bahwa adiknya itu pergi keluar kota melalui pintu barat.

Suma Hui harus mengakui kehebatan Gangga karena betapapun ia mengerahkan tenaga untuk meninggalkan Gangga, ia tetap tidak berhasil. Gadis Bhutan itu seperti bayangannya sendiri saja, selalu di belakang atau sampingnya, tidak pernah tertinggal jauh. Bahkan dari gerakan Gangga kalau berkelebat di sampingnya ia maklum bahwa kalau gadis itu menghendaki tentu akan dengan mudah mendahuluinya. Percayalah ia kini akan kehebatan ilmu gin-kang gadis ini.

Tak lama kemudian dua orang gadis itu telah duduk di atas batu-batu yang disusun secara nyeni sekali di tepi kolam ikan yang sunyi. Sepi sekali malam itu di taman karena tidak ada orang mengunjunginya di waktu malam. Dan dua orang gadis itu memang memilih tempat yang sunyi dan terbuka agar mereka dapat melihat kalau ada orang lain mendekat.

"Nah, enci Hui. Apakah yang akan kau bicarakan denganku?! tanya Gangga sambil memandang wajah yang cantik dan gagah itu. Sepasang mata Suma Hui yang cerdik itu memandang kepada Gangga penuh selidik, kemudian ia berkata dengan suara yang penuh kesungguhan.

"Adik Gangga, sekarang ceritakanlah siapa sebetulnya dirimu, siapa namamu yang sebenarnya dan dari mana kau datang.!

Gangga Dewi mengerutkan alisnya. nada suara Suma Hui seperti orang menyelidik! Hal ini membuat hatinya merasa tidak senang. Mengapa Suma Hui curiga kepada dirinya? Bukankah sudah jelas bahwa ia adalah sahabat baik Ciang Bun yang bahkan sudah membuktikan dengan usahanya menyelamatkan pemuda itu? Kenapa kini encinya malah seperti orang menaruh curiga dan bertanya dengan nada menyelidik?

"Enci Suma Hui, sebelum aku menjawab, katakanlah dulu kenapa engkau kelihatan seperti orang sedang menyelidiki diriku? Apakah engkau curiga kepadaku?!

Suma Hui mengangguk. Di bawah sinar bulan, Gangga Dewi dapat melihat betapa sepasang mata gadis itu seperti mengeluarkan cahaya mencorong, membuatnya bergidik kagum. Gadis ini tentu memiliki sin-kang yang hebat, pikinrya, teringat bahwa gadis ini adalah cucu Pendekar Super Sakti dari Pulau Es!

"Terus terang saja, aku memang merasa heran dan curiga. Engkau seorang gadis cantik menyamar sebagai pria dan engkau membiarkan adikku mengira engkau seorang pria tulen. Kenapa begitu? Dan engkau datang dari Bhutan. Semua ini merupakan teka-teki yang mencurigakan hatiku. Karena itulah maka kini, sebagai sama-sama wanita, aku ingin mendengar sendiri darimu tentang keadaan dirimu.!

"Engkau adalah seorang wanita yang lihai, gagah perkasa dan juga amat jujur dan cerdik, enci Hui. Baiklah, aku berterus terang saja karena akupun sudah tahu bahwa engkau dan Ciang Bun adalah cucu-cucu Pendekar Super Sakti dari Pulau Es yang terkenal itu. Sudah sejak kecil aku mendengar nama keluarga Pulau Es, dan Ciang Bun sedemikian percayanya kepadaku sehingga dia telah ceritakan semua tentang keadaan keluargamu. Bahkan tentang semua peristiwa menyedihkan yang menimpa keluarga kalian dan dirimu.!

"Hemmm, dia cerita tentang aku?! Suma Hui bertanya kaget dan semakin yakin hatinya bahwa adiknya tentu sudah menaruh kepercayaan sepenuhnya dan benar-benar amat mencinta gadis yang menyamar sebagai pria ini.

Post a Comment