Suma Hui mendahului adiknya, mengeluarkan obat bubuk itu dari buntalannya dan iapun lalu mengobati dengan menggosok-gosok kulit yang keracunan dengan bubuk putih. Obat ini adalah satu di antara obat-obat buatan keluarga Pulau Es dan mereka selalu membawa bekal obat-obat yang penting dan praktis kalau melakukan perjalanan. Dan memang tepat ucapan gadis itu. Setelah di gosok obat bubuk putih, maka hilanglah rasa gatal-gatal dan tak lama kemudian warna merah itupun menghilang.
Kakak beradik itu saling pandang dan tahulah Ciang Bun bahwa encinya kecewa dan hal ini tentu karena ia tidak berhasil mencari musuh besarnya, yaitu Louw Tek Ciang.
"Bagaimana, Hui-ci, apakah ada hasilnya perjalananmu?!
Suma Hui menggeleng kepala.
"Iblis itu tidak dapat kutemukan, jejaknyapun tidak. Ketika aku tiba di kota raja, aku langsung menemui ke taman yang menjadi tempat pertemuan seperti yang kita janjikan. Akan tetapi aku tidak melihat engkau di sana. Untung aku melihat coretanmu di batang pohon dekat kolam akan emas itu, maka aku segera menyusul ke barat secepatnya. Kiranya engkau dan kawanmu ini sedang berkelahi melawan dua orang kakek yang lihai. Apakah yang telah terjadi dan siapakah dua orang kakek itu? Siapa pula temanmu ini?!
"Nanti dulu, Hui-ci. Di dalam kuil terdapat dua orang muda-mudi yang nyaris menjadi korban dua orang kakek iblis cabul itu, mari kita tolong mereka lebih dulu.! kata Ciang Bun. Ketika kakak dan adik ini bicara, Gangga hanya memandang dan diam-diam ia merasa kagum sekali kepada gadis yang cantik dan gagah itu, juga merasa kasihan karena ia telah mendengar cerita Ciang Bun tentang Suma Hui yang menjadi korban kejahatan seorang laki-laki yang pernah diserang oleh Ciang Bun di telaga hutan dalam taman di kota raja itu.
Mendengar ucapan Ciang Bun, mereka bertiga lalu melangkah menuju ke kuil kuno dan di dalam kuil itu mereka melihat muda-mudi itu saling rangkul di sudut dengan tubuh gemetar dan muka pucat. Kiranya muda-mudi yang kakak beradik telah saling bertemu sesudah dua orang kakek itu melepaskan mereka untuk menghadapi lawan.
Mereka hanya dapat saling rangkul dan menangis ketakutan. Ketika Ciang Bun, Suma Hui dan Gangga mumcul, mereka tadinya terkejut dan gadis cilik itu hampir menjerit ketakutan, akan tetapi setelah melihat bahwa yang muncul bukanlah dua orang kakek iblis yang mereka takuti, keduanya menghentikan tangis mereka dan memandang kepada tiga orang yang masuk itu dengan mata terbelalak.
"Jangan takut,! kata Gangga.
"Dua orang kakek iblis itu telah dapat kami usir dari sini dan kami datang untuk menolong kalian.!
Mendengar ucapan ini, kakak beradik itu mengeluarkan seruan girang dan sang kakak lalu menarik tangan adiknya diajak menjatuhkan diri berlutut di atas lantai.
"Terima kasih, terima kasih....! kata mereka berulang-ulang.
"Bangkitlah dan ceritakan siapa kalian dan mengapa kalian sampai diculik oleh dua orang kakek itu.! kata Ciang Bun.Kakak beradik itu bangkit berdiri dan sang kakak lalu menceritakan bahwa mereka berdua adalah putera dan puteri keluarga hartawan Ciok di kota raja. Hari itu mereka pagi-pagi sekali pergi pelesir di dalam taman itu, dikawal oleh tujuh orang pengawal atau tukang pukul mereka.
"Kami tidak pernah mengenal dua orang kakek itu. Ketika kami tiba di dekat hutan buatan yang sunyi itu, tiba-tiba saja dua orang kakek itu menyerang dan tujuh orang pengawal kami tewas oleh seorang di antara mereka. Lalu kami ditangkap dan dilarikan ke sini.!
Ciang Bun dan Gangga sudah tahu akan hal itu dan mereka dapat menduga bahwa tentu kedua orang kakak beradik ini telah ditotok ketika dibawa keluar pintu gerbang sebelah barat.
"Hemm, kalau begitu mari kami antar kalian pulang.! katanya dan mereka bertiga lalu mengantar dua orang kakak beradik itu kembali ke kota raja. Di sepanjang perjalanan, Suma Hui dan Suma Ciang Bun memperoleh kesempatan untuk bercakap-cakap.
"Bun-te, siapakah kawanmu ini?! tanya Suma Hui sambil memandang kepada Gangga. Di dalam suara gadis ini terdapat keheranan yang disembunyikan. Memang ia merasa heran sekali. Ia sudah tahu akan kelainan yang diderita adiknya, yaitu kecondongan untuk lebih suka pria daripada wanita. Akan tetapi, kini ia melihat betapa Ciang Bun memandang amat mesra dan bersikap amat manis, bahkan agaknya menjadi sahabat akrab sekali dengan seorang gadis, walaupun gadis itu menyamar sebagai seorang pria! Dan ketika ia tahu, dari logat bicara gadis yang menyamar pria itu, bahwa gadis itu bukan orang Han, melainkan seorang asing, ia merasa lebih heran lagi.
"Dia bernama Ganggananda, enci.!
"Ah, seorang Nepal?!
"Bukan, saya seorang berbangsa Bhutan.! kata Gangga.
Suma Hui mengangguk-angguk dan memandang tajam. Seorang gadis yang amat cantik, pikirnya, akan tetapi penyamarannya juga baik sekali. Ia hanya dapat mengenal penyamaran itu melalui perasaan kewanitaannya saja. Kalau jarak jauh sedikit saja, ia sendiripun tidak akan dapat mengetahui bahwa pemuda ini adalah seorang wanita.
"Dan bagaimanakah kalian dapat berkenalan dan bersahabat?! tanyanya ingin tahu sekali.
"Enci, saudara Gangga ini telah menyelamatkan nyawaku dan aku berhutang budi besar sekali kepadanya. Kalau tidak ada dia yang telah menolongku secara mati- matian, kiranya engkau takkan dapat bertemu lagi dengan adikmu ini.!
"Aih, itu terlalu dilebih-lebihkan.! Gangga merendahkan diri walaupun hatinya girang sekali oleh pujian ini.
Suma Hui terkejut mendengar betapa adiknya nyaris tewas.
"Apakah yang telah terjadi denganmu, Bun-te?!
"Aku nyaris tewas di tangan.... Tek Ciang, Hui-ci.!
Suma Hui terkejut bukan main, sampai meloncat dan memegang tangan adiknya.
"Apa? Dia? Kau bertemu dia? Di mana jahanam itu sekarang?!
"Teranglah, enci, aku akan ceritakan semuanya. Akan tetapi sebaiknya kata antarkan dulu dua orang anak ini ke rumah mereka.! jawab Ciang Bun. Suma Hui maklum betapa pentingnya hal yang akan diceritakan adiknya, maka ia menahan gejolak hatinya dan mengangguk. Setelah tiba di kota raja dan mengantarkan muda-mudi itu sampai ke pekarangan gedung keluarga mereka, tiga orang pendekar ini segera pergi, tidak mau menerima undangan dua orang muda-mudi kaya-raya itu untuk singgah.
"Ceritakan saja semua yang terjadi dan menimpa diri kalian kepada orang tua kalian, agar jenazah tujuh orang pengawal kalian itu dapat diambil dan diurus. Kami akan pergi sekarang juga.! Ciang Bun tidak memberi kesempatan kepada dua orang muda-mudi itu untuk banyak cakap. Dia lalu pergi bersama Suma Hui dan Gangga, dan tak lama kemudian mereka bertiga telah berada di atas sebuah perahu kecil di atas telaga dalam taman itu.
Mereka membiarkan perahu itu terapung-apung di sudut yang sunyi dan Ciang Bun menceritakan semua peristiwa yang dialaminya ketika dia tiba di telaga itu, mencari encinya. Diceritakannya pertemuannya dengan Gangga dan mereka bersahabat lalu berperahu berdua, kemudian betapa Tek Ciang dan seorang pria lain muncul. Betapa mereka berkelahi dan dia telah terpukul oleh Tek Ciang dengan Hoa-mo-kang yang hampir saja menewaskannya kalau tidak saja Gangga yang mempergunakan gin-kangnya yang luar biasa untuk mencarikan obat penawarnya.
Mendengar penuturan adiknya secara panjang lebar itu, Suma Hui mengepal tinjunya.
"Sayang sekali aku tidak bertemu ketika jahanam itu muncul. Keparat, belum juga aku berhasil membunuhnya, dia telah melukai dan hampir saja membunuhmu, Untung ada.... sahabatmu ini. Saudara Ganggananda, saya ikut merasa bersyukur dan menghaturkan terima kasih atas pertolonganmu kepada adik saya.!
Melihat Suma Hui memberi hormat kepadanya, Gangga cepat membalas.
"Ahh.... nona, harap jangan sungkan. Ciang Bun telah menjadi sahabat baikku, di antara sahabat mana ada istilah tolong-menolong? Sudah sewajarnya dan selayaknya kalau ada seorang di antara sahabat kesukaran, yang lain membantunya, bukan?!
Suma Hui mengangguk-angguk dan diam-diam ia merasa suka kepada gadis yang menyamar sebagai pria ini. Juga ia dapat menyelami hati gadis ini. Apa lagi kalau bukan cinta yang mendekatkan gadis itu dengan Ciang Bun? Anehnya kini ia tahu benar bahwa Ciang Bun menganggap gadis itu sebagai seorang pria. Mengapa begitu?
"Ahhh....! Tiba-tiba Suma Hui menepuk pahanya sendiri sehingga mengejutkan dua orang muda yang lain.
"Ada apakah, Hui-ci?!
Suma Hui tertegun dan menjadi bingung, tidak mengira bahwa jalan pikirannya membuat ia lupa diri tadi.
"Ah, tidak, hanya aku masih merasa kecewa tidak dapat bertemu sendiri dengan jahanam itu.!