Halo!

Kisah Pendekar Pulau Es Chapter 161

Memuat...

Pada saat yang sama, Gangga juga mengepal tinju dan terbelalak melihat betapa dara cilik yang usianya baru tiga belas atau empat belas tahun itu, menangis dan menggeliat-geliat di atas pangkuan pendeta Lama yang tinggi besar dan yang menggunakan kedua tangannya yang besar dan berbulu untuk membelai dan menggerayangi seluruh tubuh anak itu sambil menyeringai lebar menjijikkan.

"Iblis tua bangka cabul!! Gangga membentak marah.

Teriakan Gangga ini terdenggar oleh Ciang Bun yang juga membentak.

"Kakek iblis tak tahu malu!! Mendengar bentakan-bentakan dari kanan kiri, dua orang kakek itu terkejut sekali, juga marah. Mereka merasa betapa kesenangan mereka terganggu dan mereka mendorong tubuh korban masing-masing dari atas pangkuan, kemudian keduanya berloncatan keluar dari dalam kuil untuk melihat siapa yang berani menentang mereka.

Baru saja mereka tiba di halaman depan kuil tua itu, Gangga sudah menyerang Thai Hong Lama yang tinggi besar dan yang diintainya tadi dengan pukulan kilat dan dahsyat. Juga Ciang Bun sudah menerjang dan memapaki Pek-bin Tok-ong dengan pukulan mautnya.

"Haiiiiittt....!! Gangga mengeluarkan suara melengking nyaring dan terkejutlah Thai Hong Lama melihat serangan yang amat cepat ini.

"Hahh! Ehhh....!! Dia cepat mengebutkan ujung lengan bajunya, akan tetapi demikian cepatnya gerakan tangan Gangga sehingga sebelum tangan itu tertangkis, gerakannya sudah berobah lagi dan kini mencengkeram ke arah ubun-ubun kepala Thai Hong Lama. Untuk dapat menyerang ubun-ubun kepala lawan yang tinggi besar ini, Gangga meloncat dengan amat ringan seperti seekor burung terbang saja.

"Hemm....!! Thai Hong Lama tidak berani memandang ringan lawannya. Dia tahu bahwa biarpun lawan ini masih amat muda, namun telah memiliki kepandaian hebat, terutama sekali gin-kangnya sungguh amat luar biasa dan berbahaya. Maka diapun tidak bersikap sungkan dan malu lagi. Dikeluarkannya senjata tasbeh hitam yang melingkari lehernya, juga dicabutnya sebatang suling bambu dari saku jubahnya. Inilah senjata istimewa kakek itu. Seuntai tasbeh hitam dan sebatang suling! Dan begitu dia menggerakkan kedua tangan, terdengar suara berkerotokan dari tasbeh dan suara melengking sulingnya. Kedua senjata itu melakukan serangan dahsyat yang membuat Gangga terpaksa mengandalkan gin-kangnya untuk meloncat jauh ke belakang. Ia kaget sekali karena biarpun gerakannya cepat, namun serangan tadi hampir melukainya.

"Ha-ha-ha-ha....! Tok-ong, ini namanya ikan mendarat ke penggorengan, ha-ha-ha. Kita disuguhi calon makanan yang lezat.! Thai Hong Lama tertawa dan dia sudah bergerak maju lagi menerjang Gangga. Sulingnya melakukan totokan-tatokan yang mengarah jalan darah yang melumpuhkan, dan dari serangan-serangan ini saja maklumlah Gangga bahwa lawannya tidak bermaksud mengalahkannya dengan membunuh, melainkan menangkapnya hidup-hidup. Teringat akan penglihatan di dalam tadi, ia dapat membayangkan bagaimana nasibnya kalau sampai tertawan hidup-hidup. Mukanya berobah semakin merah dan kemarahannya memuncak. Iapun mengeluarkan suara melengking-lengking dan tubuhnya berkelebatan membuat lawannya terkejut sekali.

Di lain pihak, Pek-bin Tok-ong juga sudah menyambut serangan Ciang Bun dengan tangkisan sambil mengerahkan tenaga.

"Dukkk!! Mereka mengadu sin-kang dan ternyata kakek itu cukup kuat menahan pukulan Ciang Bun dengan lengannya, walaupun diam-diam kakek ini terkejut ketika merasakan betapa ampuh dan kuatnya pukulan orang muda yang tampan ini. Dia tidak mau kalah lagak dengan temannya. Mendengar suara temannya dia pun tertawa.!Bagus, orang muda yang tampan. Engkau boleh menemaniku untuk beberapa malam lamanya. Engkau tentu lebih kuat daripada pemuda hartawan itu, ha-ha-ha!!

Akan tetapi, kakek tinggi kurus ini tidak dapat melanjutkan sikapnya memandang remeh kepada lawannya. Cian Bun sekarang bukanlah Ciang Bun beberapa tahun yang lalu. Dia telah menerima gemblengan dari ayah ibunya selama tiga tahun ini dan telah mewarisi ilmu- ilmu Pulau Es! Dan kini, menghadapi seorang lawan tangguh, pemuda ini segera mengerahkan tenaga Pulau Es, yaitu gabungan Hwi-yang Sin-kang dan Swat-im Sin-kang. Biarpun tentu saja latihannya belum matang karena ilmu- ilmu Pulau Es adalah ilmu-ilmu tinggi yang membutuhkan banyak waktu untuk berlatih, namun karena ilmu-ilmunya memang ilmu pilihan, sebentar saja kakek Pek-bin Tok- ong merasa repot menghadapi pemuda ini.

"Heiiiiittt....!! Dia membentak dan kini dia mengeluarkan pukulan-pukulan Hun-kin Coh-kut-ciang (Pukulan Memutuskan Otot dan Melepaskan Tulang). Kedua tangannya seperti dua batang golok saja membacok dan menyambar-nyambar, mengeluarkan suara bersiutan mengerikan ketika bergerak.

"Plakk! Dukk....!! ketika dua kali lengan Ciang Bun bertemu dengan tangan yang dimiringkan itu, dia tidak kalah tenaga, akan tetapi kulitnya terasa perih seperti terbacok senjata tajam. Kedua lengannya untung terlindung oleh sin-kang yang amat kuat, kalau tidak tentu otot-ototnya putus dan tangannya terlepas! Pemuda ini berhati-hati dan memainkan Toat-beng Bian-kun yang membuat kedua tangannya lembut dan lunak seperti kapas namun mengandung kekuatan yang dapat mencabut nyawa, dan melengkapianya dengan ilmu silat aneh Cui-beng Pat-ciang yang dipelajarinya dari ibunya. Menghadapi ilmu campuran yang serba aneh dan tinggi ini, beberapa kali Pek-bin Tok-ong mengeluarkan seruan kaget dan heran.

Kalau Ciang Bun dapat menguasai keadaan dengan ilmu silatnya yang pada dasarnya memang jauh lebih menang mutunya ketimbang lawan, sebaliknya Gangga repot sekali menghadapi desakan Thai Hong Lama. Suling dan tasbeh hitam di tangan kakek gendut itu benar-benar amat berbahaya dan pendeta Lama ini memiliki tenaga sin-kang yang amat kuat, juga tubuhnya kebal sehingga beberapa kali tamparan tangan Gangga yang mengenai perut atau dadanya mental kembali seperti bola karet yang amat kuat saja.

Sebaliknya, senjata-senjata di tangan kakek itu harus selalu dielakkannya, karena Gangga tidak berani menangkis dengan tangan. Terlampau berbahaya baginya untuk mencoba-coba menyambut kedua senjata itu dengan tangan, walaupun ia sudah pernah mempelajari dan menghimpun tenaga Inti Bumi dari ayahnya. Maka, ia hanya mengandalkan gin-kangnya yang menang jauh ketimbang lawan untuk mengelak, berlompatan ke sana-sini seolah-olah ia sedang menari-nari di antara dua gulungan hitam dan putih dari tasbeh dan suling kakek itu.

Biarpun Ciang Bun dapat mendesak lawan, akan tetapi dia maklum bahwa untuk menjatuhkan lawannya ini membutuhkan waktu, sedangkan dari tempat dia berkelahi dilihatnya bahwa keadaan Gangga tidak menguntungkan. Maka, diapun cepat mencabut sepasang siang-kiam dari punggungnya.

"Sringggg....!! Nampak dua gulungan sinar dan begitu Ciang Bun maikan pedang di kedua tangannya, Pek-bin Tok-ong yang bermuka putih ini menjadi pucat. Menghadapi pemuda ini bertangan kosong saja sudah membuat dia kewalahan, apalagi pemuda itu kini menggunakan sepasang pedang dan ternyata ilmu pedang pemuda ini hehat bukan main! Dia cepat meloncat mundur dan kesempatan itu dipergunakan oleh Ciang Bun untuk meloncat ke tempat Gangga berkelahi dan pedangnya meluncur menyerang Thai Hong Lama yang mendesak sahabatnya itu dengan suling dan tasbeh.

"Tringgg.... trangg....!! Nampak bunga api berpijar menyilaukan mata ketika sepasang pedang bertemu dengan dua senjata di tangan Thai Hong Lama itu, dan Thai Hong Lama terkejut merasa betapa kedua telapak tangannya menjadi panas dan tergetar hebat. Pada saat itu Pek-bin Tok-ong menerjang maju disambut Gangga dan kini mereka bertukar lawan! Ciang Bun dengan sepasang pedang di tangan melawan Thai Hong Lama yang bersenjata tasbeh dan suling sedangkan Gangga yang bertangan kosong berhadapan dengan Pek-bin Tok-ong yang juga bertangan kosong.

"Dukk! Plakk....!! Kembali kecepatan gerakan Gangga menolongnya. Ia beradu lengan dengan Pek-bin Tok-ong, merasa betapa lengan kakek kurus ini kuat sekali dan begitu lengan beradu, tangan kakek itu sudah mencengkeram ke arah dadanya dengan ganas sekali. Akan tetapi, kembali kehebatan gin-kang Gangga menyelamatkannya. Ia dapat berkelebat ke belakang seperti seekor burung walet saja, membuat penyerangnya bengong saking kagumnya. Akan tetapi, tiba-tiba Pek-bin Tokong tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, Lama, tak usah repot-repot lagi, mereka segera roboh, ha-ha. Tok-ciang (Tangan Beracun) yang kupergunakan tentu akan segera bekerja!!

Mendengar ucapan itu, tiba-tiba Ciang Bun yang sedang mendesak Thai Hong Lama dengan sepasang pedangnya terkejut bukan main. Sejak tadi dia sudah merasa betapa kedua lengannya gatal-gatal dan kini bahkan mulai terasa kesemutan pada persendian kedua tangannya.

"Celaka....!! Teriaknya sambil melompat ke belakang.

"Gangga, jangan biarkan tangannu bersentuhan dengan tangan iblis itu!!

Akan tetapi sahabatnya itupun sudah merasa betapa lengannya yang tadi beradu dengan tangan lawan gatal- gatal. Marahlah Ganggananda.

"Iblis tua curang!! Dan iapun sudah menyerang dengan cepatnya. Dara ini adalah anak tunggal Wan Tek Hoat seorang pendekar perkasa yang pernah dijuluki Si Jari Maut. Dari ayahnya, selain ilmu-ilmu silat yang tinggi, juga ia telah mempelajari Toat-beng-ci (Jari Pencabut Nyawa).

Kini, mendengar bahwa lawan telah mempergunakan jari beracun untuk mencelakai ia dan Ciang Bun, ia menjadi marah dan tubuhnya sudah menyambar seperti terbang cepatnya, dan ia menyerang Pek-bin Tok-ong dengan totokan Toat-beng-ci yang dilanjutkan dengan pukulan-pukulan tangan miring. Bertubi-tubi datangnya serangan kedua tangan ini, apalagi dilakukan dengan tubuh yang demikian cepat gerakannya seperti terbang saja. Pek-bin Tok-ong sudah berusaha mengelak, bahkan menangkap tubuh lawan atau menangkis, namun tetap saja dia kalah cepat.

"Plakk.... aduhhh....!! Tubuhnya terpelanting dan kalau saja tubuhnya tidak begitu kebal penuh kekuatan, atau kalau saja yang menamparnya tadi bukan Gangga melainkan ayahnya, tentu dia tidak akan mampu bangun kembali. Tamparan tangan Gangga yang kecil halus tadipun hanya mengenai pundak kirinya, akan tetapi akibatnya membuat sambungan tulang pundaknya terlepas dan nyeri bukan kepalang. Dia yang sudah terkenal dengan ilmu pukulan memutuskan otot dan melepaskan tulang, kini terpaksa mengakui keunggulan seorang dara dengan tamparan yang membuat tulang pundaknya terlepas. Dia masih mampu meloncat bangun dan menyerang membabi-buta dengan tangan kanannya, menggunakan pukulan beracun. Terpaksa Gangga kembali mengelak ke sana-sini berloncatan cepat.

Pada saat itu, Ciang Bun sudah menyerang Thai Hong Lama lagi dan biarpun dia merasa kedua tangannya gatal-gatal dan kesemutan, pemuda ini masih terlalu tangkas untuk dapat dikalahkan lawan.

"Iblis-iblis tua bangka, berani kalian mengganggu adikku?! Tiba-tiba berkelebat bayangan orang yang menyerang Thai Hong Lama dari samping. Biarpun pendeta Lama itu masih mencoba untuk meloncat mundur, tetap saja sebuah kaki menyambar pinggangnya dan diapun terlempar ke belakang. Ketika dia bergulingan sambil menyabetkan tasbehnya dan meloncat berdiri, memandang dan melihat seorang wanita cantik gagah perkasa berdiri dengan sikap marah, tahulah dia bahwa dia dan kawannya berada dalam bahaya. Menghadapi dua orang muda pertama saja mereka sudah kewalahan, apalagi kini muncul kakak si pemuda yang agaknya lebih galak lagi.!Mari kita pergi....!! Teriaknya dan Pek-bin Tok- ong yang sudah terluka tidak menanti ajakan kedua kalinya. Mereka berloncatan dan melarikan diri secepatnya meninggalkan tempat berbahaya itu.

"Iblis-iblis busuk, ke mana kalian hendak lari?! Suma Hui, yang baru saja datang dan menendang Thai Hong Lama sampai terpental, bergerak hendak melakukan pengejaran.

"Enci, jangan kejar.... aku.... kami.... keracunan....!!

Ucapan adiknya ini membuat Suma Hui menghentikan larinya dan cepat ia menghampiri adiknya.

"Bun-te, apa yang terjadi? Engkau keracunan?! tanyanya dengan khawatir sambil memandang adiknya penuh perhatian. Akan tetapi ia tidak melihat sesuatu pada diri adiknya yang menunjukkan bahwa adiknya terluka. Iapun menoleh kepada pemuda langsing yang berdiri pula di dekat adiknya dan juga ia tidak melihat pemuda ini terluka.

"Lenganku.... iblis itu telah mempergunakan Tok- ciang (Tangan Beracun)!! kata Ciang Bun, akan tetapi dia tidak memperdulikan kedua lengannya sendiri yang terasa kesemutan dan gatal-gatal, melainkan cepat menghampiri Gangga.

"Gangga, engkau tadi beradu lengan dengannya. Apakah engkau tidak merasakan sesuatu yang tidak wajar?!

"Lengan kananku bertemu satu kali dan kini terasa gatal-gatal.! jawab Gangga.

"Coba kuperiksa.! kata Ciang Bun sambil menyingkap lengan baju Gangga. Akan tetapi jantungnya berdebar ketika jari-jari tangannya menyentuh kulit lengan yang putih halus itu sehingga terpaksa dia melepaskannya kembali, khawatir akan gejolak berahi yang tiba-tiba saja bergelora di dalam hatinya.

Gangga melanjutkan pekerjaan yang tertunda itu. Ia menyingkap lengan bajunya memeriksa dan ternyata pada lengannya nampak bekas-bekas jari yang kemerahan, bahkan agak membiru, tanda bahwa kulit lengannya keracunan. Juga Ciang Bun sibuk menyingkap kedua lengan bajunya dan pada kulit kedua lengannya terdapat pula bekas-bekas jari tangan lawan yang membuat kulit lengannya keracunan. Suma Hui ikut memeriksa dan gadis ini mengerutkan alisnya.

"Memang kulit lenganmu telah keracunan, akan tetapi karena engkau telah mempergunakan sin-kang, kurasa racun itu tidak akan menembus ke dalam dan tidak akan meracuni darah. Gunakan bubuk anti racun gigitan serangga, tentu sembuh.!

Post a Comment