"Sudah benarkah obat ini? Dan bagaimana cara menelan pil ini? Sehari berapa kali, sekaligus ataukah satu-satu?!
Akan tetapi nenek Gan Cui mendengus marah.
"Engkau merampasnya dariku dengan curang, perlu apa aku memberitahu? Cari saja sendiri bagaimana caranya!!
Akan tetapi Bu-taihiap yang sudah amat tertarik mendengar cerita tadi bertanya.
"Nona Gangga, bolehkah aku bertanya siapa pendekar atau sahabatmu yang terkena pukulan Hoa-mo-kang itu?!
"Namanya Suma Ciang Bun dan dia berada di kota raja....!
"Suma....?! Bu-taihiap terbelalak.
"Ya, dia cucu Pendekar Super Sakti Suma Han dari Pulau Es!! kata Gangga dengan suara bangga.
"Ah....! Adik Cui, kalau begitu kita tidak boleh sembarangan. Hayo katakan bagaimana caranya mempergunakan pelmu itu untuk mengobatinya.!
"Sehari makan satu pel, dalam waktu tiga hari tentu penyakit itu lenyap dan orangnya sembuh,! Jawab nenek itu singkat dan dengan muka masih cemberut. Agaknya kegalakan wanita ini sudah benar-benar dapat ditundukkan dan dijinakkan oleh Bu-taihiap.
"Terima kasih!! kata Gangga dan sekali berkelebat gadis itu lenyap dari depan mereka. Bu-taihiap menggeleng-geleng kepala kagum.
"Bukan main....!! katanya dan sambil menggandeng isterinya yang baru, pendekar ini lalu kembali ke pondoknya, diikuti oleh ketiga isterinya yang lain.
Kembali Gangga Dewi atau Wan Hong Bwee menggunakan seluruh kepandaiannya untuk berlari secepat mungkin, kembali ke kota raja. Ia melakukan perjalanan secepatnya dan pada keesokan harinya, pada hari ke tiga tibalah ia kembali ke tempat tinggal tabib yang mengobati Ciang Bun. Tabib dan hwesio ahli racun yang menjadi sahabatnya itu sudah hampir putus asa menanti kembalinya. Bagaimanapun, bagi mereka agaknya tidak mungkin bisa mendapatkan obat yang amat langka itu dalam waktu tiga hari. Baru perjalanannya saja, menggunakan kuda umpamanya, baru akan sampai dalam waktu tiga hari pulang pergi! Maka, kemunculan Gangga yang tiba-tiba itu selain mengejutkan hati mereka, juga mendatangkan harapan yang menggembirakan.
"Bagaimana hasilnya, siauw-si-cu (tuan muda yang gagah)?! tanya mereka.
Gangga mengangguk dan mengeluarkan botol berisi tiga butir pel itu.
"Kini belum musimnya telur katak menetes, tak mungkin mencari anak-anak katak buduk hitam. Akan tetapi aku mendapatkan pel racun katak buduk hitam itu dari seorang sakti yang harus diberikan kepada Ciang Bun sehari sebutir, berturut-turut sampai tiga hari.!
Tabib dan hwesio itu membuka tutup botol dan memeriksa tiga butir pel itu. Hwesio itu begitu mencium baunya, segera mengangguk-angguk.
"Omitohud.... racun katak buduk hitam yang amat keras! Memang inilah obatnya, dan pinceng yakin pemuda gagah itu akan dapat disembuhkan.!
Dengan girang Gangga lalu membantu si tabib memberi pel itu kepada Ciang Bun yang masih belum sadar. Dan dengan teliti dan telaten, Gangga mendampingi Ciang Bun sampai tiga hari tiga malam lamanya! Dara ini tidak pernah mau meninggalkan pembaringan Ciang Bun dan bahkan makan atau tidurpun ia lakukan di dekat pembaringan Ciang Bun. Ia tidur sambil duduk dan selama tiga hari itu, wajahnya menjadi agak pucat karena kurang tidur dan kurang beristirahat.
Akan tetapi hatinya girang bukan main karena baru pada hari pertama saja, wajah Ciang Bun yang tadinya biru kehijauan itu sudah mulai berobah, dan setiap hari berangsur baik sampai pada hari ke tiga, sinar biru kehijauan pada wajahnya sudah lenyap sama sekali. Dan pada hari ke empat, pagi-pagi sekali, pemuda itu mengeluh dan siuman! Akan tetapi karena dia kurang makan, hanya menelan bubur encer saja selama tiga hari lebih, tubuhnya masih lemah dan dia hanya dapat bergerak membuka mata dan menoleh ke kanan kiri.
"Di manakah aku....?! tanyanya lemah.
Gangga yang duduk di dekatnya dan mengantuk, segera bangun dan mendekatinya. Ia tersenyum girang sekali.
"Ah, engkau sudah siuman? Bagus sekali! Engkau telah sembuh, bahaya telah lewat!!
Melihat pemuda ini, Ciang Bun teringat dan dia segera bangkit hendak duduk. Akan tetapi tubuhnya terasa lemas dan dia terpaksa merebahkan dirinya kembali. Ganggananda cepat membantunya rebah kembali dan berkata dengan halus.
"Jangan engkau bangun dulu. Sudah empat hari engkau tak sadarkan diri. Tunggu, biar aku buatkan bubur untukmu.! Setelah berkata demikian, diapun bangkit dan cepat meninggalkan kamar menuju ke dapur.
"Omitohud, engkau beruntung sekali mempunyai sahabat sebaik itu, orang muda.!
Ciang Bun menoleh dan memandang heran kepada dua orang kakek yang duduk tak jauh dari situ. Dia tidak pernah mengenal hwesio dan kakek berpakaian sasterawan itu, yang duduk di sudut kamar dan memandang kepadanya sambil tersenyum girang. Akan tetapi dia cerdik dan dapat menduga bahwa tentu pemuda yang menjadi sahabatnya itulah yang membawanya ke sini dan agaknya dua orang kakek ini menjadi tuan rumah, bahkan mungkin sekali yang menolongnya dan mengobatinya. Bukankah menurut Gangga tadi dia pingsan selama empat hari?
Sambil terus rebahan Ciang Bun mengangkat kedua tangan di depan dada.
"Ji-wi locianpwe, maafkan kalau saya belum mampu memberi hormat sepantasnya untuk menghaturkan terima kasih atas pertolongan dan kebaikan ji-wi.!
Dua orang kakek itu nampak semakin gembira. Sikap Ciang Bun itu menyenangkan hati mereka. Kadang-kadang sikap jauh lebih berharga daripada pemberian benda berharga apapun juga.
"Si-cu tidak perlu berterima kasih kepada kami karena yang menyelamatkan nyawa si-cu sesungguhnya adalah sahabat si-cu itu,! kata kakek tabib yang segera menceritakan kepada Ciang Bun bahwa pemuda ini pingsan dan terancam bahaya maut oleh pukulan Hoa-mo-kang dan betapa Ganggananda dengan kecepatan yang sukar dapat dipercaya telah pergi mencarikan obat penawarnya sampai berhasil menyembuhkan Ciang Bun.
"Omitohud....! Yang paling sukar didapatkan di dunia ini adalah seorang sahabat yang setia tanpa pamrih. Sahabat si-cu itu lupa makan lupa tidur untuk menjaga si-cu, sungguh kebaikannya amat mengharukan hati pinceng.!