Halo!

Kisah Pendekar Pulau Es Chapter 156

Memuat...

"Ahhh.... nona....! katanya agak terengah-engah.

"Engkau sungguh.... seorang dara yang luar biasa! Masih begini muda, begini cantik, dan memiliki kepandian tinggi.... aku kagum sekali, nona....!

Berdebar rasa jantung dalam dada Gangga. Hati siapa takkan senang mendengar pujian? Apalagi kalau pujian itu keluar dari mulut orang penting, dan Bu-taihiap adalah seorang pendekar yang berilmu tinggi. Akan tetapi iapun teringat bahwa pendekar tua ini adalah seorang perayu, seorang penaluk wanita, maka sikapnya menjadi keras lagi.

"Nona, sehebat engkau ini.... mengapa membantu orang yang sesat? Gan Cui bertindak salah dalam urusan kami.... aku membujuknya untuk hidup rukun.... tapi ia menghendaki agar aku menceraikan semua isteriku dan harus melayani ia seorang saja.... apakah itu adil namanya?!

Biarpun ia bersikap tak acuh, namun diam-diam Gangga mendengarkan semua kata-kata itu dan dengan sendirinya iapun mengurangi lagi kecepatanlarinya. Ia sudah menduga apa yang terjadi antara pendekar ini dan nenek itulah yang mau menang sendiri dalam urusan itu.

"Aku membutuhkan obatnya itu untuk menolong seorang sahabatku yang keracunan,! katanya.

"Aha, jadi ia memaksamu membantu dan mengalahkan aku karena obat itu? Sudah kuduga. Dan kau kira ia akan menyerahkan obat itu padamu? Ia seorang yang keras hati dan licik sekali, dan kalau ia tidak mau memberikan kepadamu, jangan harap dengan mudah engkau akan bisa memperolehnya. Ia curang dan lihai!!

"Aku.... aku sudah menduga begitu....!

"Nona, biarkan aku yang merampasnya untukmu. Kalau engkau tidak mendahuluiku, dan aku lebih dahulu mencapainya, tentu ia akan berusaha menghindariku, akan tetapi, aku dapat menguasainya.!

Gangga hanya mempergunakan waktu sejenak untuk berpikir dan mengambil keputusan. Entah bagaimana, ia merasa jauh lebih percaya kepada pendekar ini daripada nenek Gan Cui yang curang.

"Silahkan....! katanya dan iapun memperlambat larinya. Tubuh Bu-taihiap melesat ke depan dan berlari di depannya, seolah-olah pendekar itu mengerahkan seluruh tenaga gin-kangnya dan dapat menyusul dara itu. Melihat ini, tiga orang isterinya yang tertinggal jauh di belakang merasa lega. Mereka bertiga memang tidak dapat dibilang suka kalau melihat suami mereka menambah seorang isteri lagi, akan tetapi urusan seperti itu bagi mereka kecil saja artinya.

Mereka sudah terbiasa oleh ulah suaminya yang suka perempuan itu dan agaknya baru akan sembuh kalau sudah mati. Bagi mereka, lebih penting lagi kalau suaminya tidak sampai kalah, karena wanita itu tentu akan berbuat yang bukan-bukan, menuntut yang tidak-tidak dan juga, suaminya akan terpukul perasaannya dan akan merasa malu kalau sampai kalah oleh seorang muda!

Sebaliknya, ketika melihat betapa kini jagonya tertinggal, nenek Gan Cui terkejut sekali. Tadi ia sudah merasa girang melihat betapa Gangga dapat berada di depan dan ia sengaja lari menjauh untuk memberi kesempatan kepada Gangga untuk meninggalkanlawannya jauh di belakang. Ia sudah merasa yakin bahwa jagonya tentu akan menang karena selain sudah berada di depan, tentu daya tahan Gangga lebih kuat daripada lawannya yang sudah tua, napasnya juga lebih panjang. Akan tetapi kenyataannya, kini Gangga tersusul dan tertinggal, makin lama makin jauh.

Gan Cui segera menjauhkan diri lagi, lari ke arah barat.

"Bocah tolol, lari ke sini....!! Ia berteriak-teriak dan berusaha mendekati Gangga.Akan tetapi Bu-taihiap selalu menghadang antara ia dan Gangga, dan pendekar itu kini makin dekat dengannya. Terpaksa nenek itu membalikkan tubuh dan melarikan diri. Akan tetapi, gin-kangnya memang kalah dibandingkan Bu-taihiap sehingga pendekar itu sebentar saja dapat mengejarnya.

"Adik Cui, jangan curang. Aku yang lebih dulu mencapaimu, serahkan botol obat itu!!

"Tidak.... tidak....!! Gan Cui menghindarkan diri ketika Bu-taihiap mengulur tangan untuk menyambar botol di tangannya itu.

"Adik Cui, jagomu sudah kalah, kau jangan main curang! Serahkan botol itu!! kembali Bu-taihiap menubruk, akan tetapi sekali ini Gan Cui menyambutnya dengan pukulan yang dilakukan dengan cepat dan kuat sekali, pukulan maut karena pukulan itu adalah jurus dari Ilmu Coa-tok-ciang (Tangan Racun Ular) yang dahsyat sekali!

Bu-taihiap tentu saja mengenal pukulan ganas itu dan cepat dia mengelak dan membalas dengan totokan jari tangannya ke arah leher Gan Cui. Namun, nenek itupun memiliki gerakan cepat dan ia sudah mengelak sambil melayangkan kakinya menendang ke arah perut lawan disusul dengan cengkeraman tangan kanan ke arah mata, sedangkan tangan kiri yang menggenggam botol itupun disodokkan ke arah ulu hati. Sekali bergerak wanita itu telah mengirim tiga serangan yang kesemuanya mematikan!

"Hemm, engkau sungguh keras hati, adik manis!! kata Bu-taihiap mengejek dan pendekar ini mengerahkan tenaga sin-kangnya menerima tendangan di perutnya, mengelak dari cengkeraman ke arah mata dan tangan kiri yang menggenggam botol itu disambutnya dengan cengkeraman untuk merampas botol.

"Bukk!! Tendangan itu tepat mengenai perut dan sebagian mengenai bawah perut di mana terletak anggauta rahasia. Akan tetapi Bu-taihiap adalah seorang pendekar sakti yang memiliki sin-kang amat kuatnya. Bukan saja seluruh bagian perut telah dilindungi oleh hawa sakti sehingga menjadi kebal, akan tetapi juga anggauta kelaminnya telah tersedot memasuki perut dan terlindung sehingga ketika tertendang, yang terkena tendangan hanyalah kulit yang keras dan licin saja.

Gan Cui terkejut. Ia memang membual ketika menceritakan kepada Gangga bahwa dalam hal ilmu silat ia dapat menandingi Bu-taihiap, hanya kalah dalam hal gin-kang saja. Sebetulnya, mana ia mampu mengalahkan tingkat kepandaian Bu-taihiap? Biar ia belajar sampai selama hidupnya, agaknya ia tidak akan mampu menyusul tingkat pendekar itu karena selain kalah dasar, juga kalah bakat. Kini, setelah melakukan tiga serangan sekaligus, ia berbalik malah terancam akan dirampas botol obat di tangannya. Gan Cui mengeluarkan teriakan nyaring, tangan kanannya mencabut saputangan hitam yang dikebutkannya ke arah muka Bu-taihiap sedangkan tangan kiri yang menggenggam botol diangkatnya tinggi-tinggi untuk dijauhkan dari lawan.

Menghadapi kebutan kain hitam yang mengeluarkan debuhitam kehijauan ini, Bu-taihiap terkejut dan cepat dia meniup dan mengebutkan ujung lengan bajunya untuk mengusir debu beracun, dan pada saat itu, Gan Cui menjerit karena tiba-tiba saja botol di tangan kirinya terlepas dan terampas dari tangannya. Ia mengangkat mukanya dan melihat bahwa yang merampas botol itu adalah Gangga! Kiranya Gangga mempergunakan kesempatan itu untuk mengerahkan gin-kangnya, melompat ke atas tinggi sekali lalu menukik turun dan merampas botol itu tanpa Gan Cui mengetahuinya.

Tentu saja nenek itu menjadi terkejut dan marah.

"Bocah tolol! Kembalikan botol itu....!! Akan tetapi ia tidak dapat bergerak lagi karena pada saat itu Bu-taihiap telah menubruk dan merangkulnya, memegangi kedua pergelangan tangannya. Nenek itu hendak meronta, akan tetapi Bu-taihiap memeluknya dan berbisik di telinganya.

"Adik Cui yang manis, apakah engkau tidak kasihan kepadaku dan selalu memusuhiku? Aku masih cinta padamu....! Dan pendekar itu mengusap leher Gan Cui dengan hidungnya.

Seketika lemaslah seluruh tubuh Gan Cui. Merasa betapa kulit lehernya dicium oleh laki-laki yang sebenarnya masih amat dicinta dan dirindukannya ini, lenyaplah seluruh daya lawannya dan ia seperti lumpuh, menyandarkan diri ke atas dada yang bidang itu dan menangis lirih! Tiga orang isteri Bu-taihiap yang telah tiba di situ membuang muka dan mencibirkan bibir, akan tetapi tidak merasa cemburu lagi karena memang sejak dahulu mereka tahu bahwa Gan Cui adalah seorang di antara wanita-wanita yang jatuh oleh rayuan suami mereka. Sementara itu, Gangga yang telah berhasil merampas botol terisi tiga butir pel, memandang dengan muka merah.

"Adik Cui, mulai saat ini, engkau mau bukan hidup bersama kami dengan damai?! Kembali Bu-taihiap berbisik dan Gan Cui mengangguk. Bu-tahiap maklum bahwa dia telah menalukkan hati nenek itu, maka diapun melepaskan kedua tangannya dan masih tetap menggandeng lengannya dengan sikap mesra. Gan Cui mengusap air mata dengan ujung lengan bajunya, kemudian memandang ke arah Gangga. Biarpun sikapnya tidak ga1ak lagi seperti tadi, seolah-olah seekor kucing liar yang sudah dijinakkan, namun suaranya masih tidak senang ketika ia berkata kepada Gangga.

"Engkau telah kalah, engkau tidak berhak mengambil obat itu. Kembalikan!!

"Adik Cui, engkau salah paham. Sesungguhnya, dalam hal gin-kang, aku Bu Seng Kin harus mengakui keunggulan gadis ini.!

Sepasang mata Gan Cui terbelalak.

"Engkau.... kalah? Dan engkau tahu ia seorang gadis? Engkau tidak malu kalah oleh seorang gadis muda?!

"Mengapa mesti malu? Ia memang memiliki ilmu Jouw-sang Hui-teng yang langka. Sungguh luar biasa sekali ilmu gin-kangnya itu. Nona, kulihat engkau bukan gadis Han. Dari manakah engkau dan siapa gurumu?!

"Tak salah lagi, ia tentu puteri atau murid Syanti Dewi!! Tiba-tiba nenek Nandini berkata.

Gangga terkejut dan memandang wanita Nepal itu, juga Bu-taihiap terkejut karena diapun sudah pernah mendengar nama puteri Bhutan yang kabarnya memiliki kecantikan amat luar biasa, juga di samping itu memiliki gin-kang yang hebat.

"Benarkah, nona?!

Gangga mengangguk.

"Benar, ibuku adalah Puteri Syanti Dewi dan ayahku bernama Ang Tek Hoat yang pernah berjuluk Si Jari Maut.!

"Ahhh....!! Bu-taihiap berseru kaget dan kagum.

"Kalau begitu, aku semakin tidak merasa malu lagi kalah dalam gin-kang olehmu, nona!!

"Siapakah namamu?! tanya Nandini.

"Gangga Dewi.!

"Nama yang indah sekali. Mari, nona, mari silahkan duduk dalam pondok kami dan kita bercakap-cakap.! Bu-taihiap berkata dan tiba-tiba dia berteriak kesakitan ketika lengannya dicubit keras sekali oleh Gan Cui.

"Lelaki mata keranjang! Baru saja berkumpul denganku, sudah berani berlagak memikat gadis muda?! bentak Gan Cui, dan tiga orang isteri pendekar itu menahan tawa, kelihatan geli dan juga mengejek dan menyukurkan keadaan suami mereka. Rasakan kau sekarang, pikir mereka, mendapatkan isteri lagi yang amat cemburu dan galak! Tentu saja Bu-taihiap tersipu-sipu mendengar teguran ini karena sesungguhnya dia sama sekali tidak mempunyai niat sedikitpun untuk merayu Gangga Dewi, hanya mempersilahkan ke rumah untuk beramah tamah karena diapun kagum sekali mendengar bahwa gadis muda ini ternyata puteri orang-orang terkenal.

"Terima kasih atas kebaikan kalian semua.! Kata Gangga Dewi sambil menjura.

"Sahabatku itu terancam nyawanya oleh pukulan Hoa-mo-kang dan obatnya hanya racun katak buduk inilah. Maka, aku mohon diri, tak dapat berlama-lama di sini. Aku harus cepat ke kota raja untuk memberikan obat ini kepadanya.!

"Pukulan beracun Hoa-mo-kang?! tanya Bu-taihiap kaget.

"Bukankah Su-ok Siauw Siang-cu sudah mati?! Pertanyaan yang sama seperti pernah diajukan oleh nenek Gan Cui kepada Gangga.

"Bukan Su-ok yang memukulnya, mungkin murid atau keturunannya. Menurut kata ahli yang mengobatinya, hanya tinggal waktu tiga hari. Kalau dia tidak mendapatkan obat racun katak buduk hitam, dia akan mati. Sejak kemarin pagi aku melakukan perjalanan, kini sudah lewat dua hari, tinggal sehari lagi. Maka aku harus pergi sekarang juga.! Lalu ia menoleh kepada Gan Cui.

Post a Comment