"Bukan mengeroyok, akan tetapi sebagai isteri, tak mungkin mendiamkan saja suaminya terancam bahaya. Sudahlah, kenapa engkau tidak mau menempuh jalan damai saja?!
"Orang she Bu, aku datang bukan untuk mendengar ocehan dan rayuanmu, Pendeknya, sekali ini aku datang untuk menantangmu mengadu ilmu gin-kang. Kalau aku kalah, aku akan pergi dan takkan mengganggumu lagi. Akan tetapi kalau engkau kalah, engkau harus memenuhi tuntutanku!!
"Wah, tuntutanmu itu tidak masuk akal, adikku yang manis! Mereka bertiga ini adalah isteri-isteriku yang setia, mana mungkin harus kutinggalkan begitu saja agar aku dapat hidup berdua saja denganmu? Sebaiknya kalau engkau tinggal bersama kami, hidup aman dan damai bersama kami....!
"Tidak! Tidak sudi aku kalau cintamu dibagi-bagi!!
"Siapa yang membagi-bagi? Cinta tidak mungkin dibagi-bagi. Aku cinta kepada mereka, aku cinta kepadamu seperti cinta kepada banyak orang lain lagi. Kalau aku menghadapimu, aku mencintamu sepenuhnya, demikian pula kalau aku menghadapi seorang di antara mereka. Marilah, adikku, untuk apa kita bersitegang? Kita sudah tua, tinggal menikmati hidup tenteram beberapa tahun lagi saja.!
Pendekar itu sungguh pandai merayu dengan suara halus dan pandang mata demikian lembut, senyumnya tak pernah meninggalkan bibirnya. Dan Gangga yang mendengarkan percakapan itu diam-diam terkejut bukan main. Bagaimana pula ini? Pendekar itu dengan baik membujuk nenek Gan Cui untuk hidup bersama dia dan isteri-isterinya, akau tetapi sebaliknya nenek ini ingin Bu-taihiap meninggalkan isteri-isterinya yang lain agar dapat hidup berdua saja dengannya, agar ia dapat memonopolinya? Mulailah ia mengerti dan ia meragukan kebenaran nenek yang dibantunya.
"Cukup semua kata-kata itu! Berani atau tidak engkau menerima tantanganku mengadu gin-kang? Kalau tidak berani engkau harus memenuhi tuntutanku dan mengaku kalah!!
Tiba-tiba pendekar itu tertawa dan begitu dia tertawa, dia nampak jauh lebih muda daripada usianya. Dan memang dia masih ganteng! "Ha-ha-ha, engkau lucu, adik Cui. Engkau tahu bahwa dalam hal gin-kang, engkau kalah jauh dari aku, biar engkau belajar puluhan tahun lagi, belum tentu engkau akan mampu mengalahkan aku. Tentu saja kuterima tantanganmu.!
"Dan kalau engkau kalah, engkau akau memenuhi tuntutanku?!
"Aha, soal itu nanti dulu.!
"Tapi, tiga tahun yang lalu, seperti yang sudah-sudah, engkau menerima taruhan itu!! Nenek Gan Cui berteriak penasaran.
"Hemm, karena ketika itu aku merasa yakin akan kemenanganku. Dan sekarang, selagi aku semakin tua dan engkau semakin bersemangat mempelajari ilmu-ilmu, aku harus hati-hati.!
"Tapi engkau terima tantanganku?!
"Tentu saja.!
"Nah, dengarkan baik-baik, Bu Seng Kin! Aku menantangmu untuk mengadu ilmu gin-kang dan aku mengajukan jagoku ini!! Nenek Gan Cui menepuk pundak Gangga.
"Siapa dia?! Bu-taihiap bertanya dengan sikap kaget, tidak disangkanya bahwa pemuda remaja yang datang bersama Gan Cui itu ternyata adalah jago yang hendak diajukan oleh nenek yang keras hati itu. Kini dia menatap tajam wajah dan tubuh Gangga, penuh selidik.
"Siapa dia tak perlu kau tahu. Pendeknya, dia adalah jago dan wakilku untuk menandingimu dalam ilmu gin-kang. Kalau dia kalah, berarti aku kalah olehmu, akan tetapi kalau dia menang, berarti engkau harus mengaku kalah.!
Bu-taihiap tidak merasa khawatir, bahkan kelihatan sepasang matanya bersinar-sinar, seperti merasa gembira menghadapi peristiwa yang menarik. Dia mengangguk-angguk.
"Baiklah, adik Cui, lalu bagaimana pertandingan ini akan diatur?!
"Aku tidak ingin tertipu olehmu yang licik. Aku akan pergi ke ujung puncak ini dan membawa ini. Kemudian kalian berdua merebut botol ini dari tanganku dan berlari dari sini.! Nenek itu mengeluarkan sebuah botol dan melihat ini, Gangga terkejut karena botol itu adalah botol yang terisi tiga butir pel katak buduk hitam yang dibutuhkannya! Agaknya nenek yang cerdik itu sengaja mengeluarkan benda itu untnk dipakai berebut, agar ia mau berlumba dengan sesungguhnya mengalahkan Bu-taihiap untuk memiliki obat itu!
"Perempuan licik!! Tiba-tiba Tang Cun Ciu membentak.
"Pertandingan macam apa itu? Kalau engkau yang menjadi sasarannya, tentu engkau akan membantu agar jagomu yang menang! Katakan saja engkau hendak mengeroyok!!
Bu-taihiap tertawa dan menggerakkan tangan mencegah isterinya itu marah-marah.
"Biarkanlah. Tentu saja aku tahu bahwa kalau kami berdua tiba di dekatnya, ia akan menyerahkan benda itu kepada jagoannya dan kalau aku yang hendak mengambilnya tentu ia akan melawan. Akan tetapi, jagoannya itu masih begini muda, patutnya menjadi muridku, maka biarlah dibantu oleh adik Cui. Bagaimanapun juga, akhirnya aku yang akan menang. Baik, adik Cui, engkau bawalah benda itu ke ujung sana dan kami berdua akan berlumba.
Siapa yang lebih dahulu mendapatkan botol ditanganmu itu, dia menang!!Nenek itu menyeringai.
"Orang she Bu, sekali ini engkau akan kecelik dan kalah!! Dan iapun menoleh kepada Gangga sambil berkata.
"Ingat, engkau tidak boleh kalah kalau engkau menghendaki benda ini!! Setelah berkata demikian, nenek itupun berlari cepat sekali menuju ke ujung puncak itu. Jarak itu cukup jauh dan tubuhnya semakin kecil, akhirnya hanya menjadi sebuah titik hitam yang makin mengecil. Puncak itu memang merupakan tanah datar yang amat panjang, akan tetapi permukaannya yang halus hanyalah di sekitar pondok, sedangkan jarak itu melalui tanah yang penuh dengan batu besar kecil yang kasar dan tidak mudah dilalui karena kalau tidak berhati-hati, orang dapat tergelincir.
Gangga tadinya sudah merasa tidak senang kepada nenek Gan Cui yang ternyata sedikit membohong ketika bercerita tentang urusannya dengan Bu-taihiap. Ia sudah mulai ragu-ragu apakah baik kalau ia melanjutkan pertolongan dan bantuannya kepada nenek itu. Akan tetapi ketika ia mendengar kata-kata Bu-taihiap tentang dirinya yang dianggap terlalu muda dan hanya patut menjadi murid pendekar itu dengan pandang mata dan nada suara memandang rendah, hatinya menjadi panas juga. Pendekar ini terlampau sombong, pikirnya, memandang rendah orang lain. Inilah sebabnya timbul dorongan hati untuk membuktikan bahwa ia tidaklah lemah untuk dapat dipandang ringan saja.
Bu-taihiap sudah bangkit berdiri bersama tiga orang isterinya. Bagaimanapun juga, tiga orang isterinya tidak akan tinggal diam saja dan mereka itu hendak mengikuti sang suami agar jangan menjadi korban kecurangan lawan.
"Kita mulai?! tanya Bu-taihiap kepada Gangga sambil tersenyum. Setelah Gangga mengangguk, Bu-taihiap berkata lagi.
"Akan kuhitung sampai tiga dan kita mulai berlari. Satu, dua.... tiga!!
Dua tubuh itu melesat ke depan. Bu-taihiap mengerahkan tenaganya dan larinya cepat sekali, seperti terbang saja. Akan tetapi, betapa kaget hatinya ketika dia melihat Gangga berkelebat di sampingnya dan ternyata pemuda itu bergerak dengan demikian ringannya seolah-olah kedua kakinya tidak menyentuh bumi! Sebentar saja tubuh pemuda itu sudah melesat ke depan dan melewatinya. Bu-taihiap menjadi penasaran dan diapun mengerahkan seluruh tenaganya, mengenjot tubuhnya untuk menyusul.
Akan tetapi, pemuda itu agaknya juga menambah tenaganya dan betapapun dia membalap, tetap saja pemuda itu berada di depannya! Barulah dia benar-benar terkejut dan dari gerakan kaki pemuda itu dia dapat menduga bahwa pemuda itu memiliki ilmu gin-kang Jouw-sang Hui-teng (Ilmu Terbang Di Atas Rumput) yang amat hebat. Mereka berkejaran dengan cepat sehingga tiga orang wanita yang juga membayangi tertinggal jauh dan sebentar saja mereka sudah dapat melihat nenek Gan Cui berdiri di ujung timur tanah datar puncak bukit itu.
Sementara itu, Gangga merasa puas bahwa ternyata gin-kangnya tidak kalah oleh Bu-taihiap. Akan tetapi ia lalu teringat bahwa sebenarnya ia membantu orang yang tidak benar, dan diam-diam ia merasa malu kepada dirinya sendiri. Kalau sampai nanti ia menang, seperti yang sudah jelas dapat diduga, lalu nenek itu minta yang bukan-bukan, bukankah berarti ia telah membantu kesewenang-wenangan? Akan tetapi ia membutuhkan obat itu!
Tiba-tiba nenek Gan Cui lari menuju ke selatan, menjauhi dua orang yang sedang berlari cepat ke arahnya itu. Hal ini mengingatkan lagi kepada Gangga bahwa nenek yang dibantunya itu adalah seorang yang penuh tipu muslihat dan sudah beberapa kali memperlihatkan kecurangannya. Bagaimana kalau nanti melanggar janji dan tidak mau memberikan obat itu kepadanya?
Mereka kini terpaksa juga merobah arah mengejar nenek itu yang sudah berada di ujung selatan. Dan dengan sengaja Gangga memperlambat larinya sehingga Bu-taihiap dapat berlari di sampingnya. Kakek itu sudah agak terengah dan mandi peluh. Gangga menoleh kepadanya, tersenyum dan menambah lagi tenaganya sehingga tubuhnya kembali melesat ke depan dalam jarak satu tombak. Ia masih ingin meyakinkan hatinya bahwa ia memang lebih menang dalam adu gin-kang ini.
"Nona, perlahan dulu....!! Tiba-tiba ia mendengar suara Bu-taihiap dan ada tenaga aneh yang menahannya dari belakang. Pendekar tua itu agaknya telah mempergunakan ilmu kepandaiannya untuk menahannya dari belakang, dengan tenaga sin-kang! Dan pendekar tua itupun telah mengetahui penyamarannya, tahu bahwa ia adalah seorang wanita. Gangga cepat mengerahkan sin-kangnya pula dan tangan kanannya ditepiskan dengan pengerahan sin-kang yang kuat.
"Wuutttt....!! Dan tenaga yang menahannya dari belakang itupun terlepas.
Kembali Bu-taihiap terkejut bukan main. Kiranya gadis ini bukan hanya tukang lari yang ahli gin-kang, melainkan juga mampu menangkis sin-kangnya yang dipergunakan untuk menahan larinya yang cepat itu.