Halo!

Kisah Pendekar Pulau Es Chapter 153

Memuat...

"Baik, nah, mari kita siap. Aku menghitung sampai tiga dan kita berlomba.! Nenek itu berkata dengan suara girang karena ia mulai memperoleh harapan. Kalau pemuda ini sanggup bertanding gin-kang, berarti pemuda ini memiliki ilmu kepandaian tinggi yang boleh diharapkan akan dapat membantunya sampai ia berhasil menghadapi lawannya yang tangguh.

Mereka berdiri dan nenek itu menghitung "Satu.... dua.... tiga....!! Dan melesatlah tubuh nenek itu ke depan karena ia sudah mengerahkan seluruh tenaganya untuk meloncat dan berlari ke arah pohon itu. Ia hanya melihat bayangan berkelebat di sampingnya dan tahu-tahu ia melihat pemuda itu sudah tiba di pohon, padahal ia sendiri masih jauh dari tempat itu.

Dan ketika ia melihat betapa tubuh pemuda itu berloncat tinggi sekali, kemudian seperti burung terbang atau seekor tupai berloncatan dari cabang ke cabang, maklum bahwa pemuda itu memiliki gin-kang yang hebat. Maka iapun tidak melanjutkan larinya, melainkan menonton saja dari bawah, melihat betapa pemuda itu dengan cepat sekali telah memetik bunga, kemudian dari atas meloncat turun, bahkan melayang tanpa melalui cabang-cabang pohon lagi ke atas tanah, hinggap di tanah sedemikian ringannya seperti sehelai daun kering melayang, kemudian melesat ke dekat api unggun kembali.

"Hebat.... engkau telah mengalahkan aku....!! Nenek itu berkata sambil berlari menyusul. Wajahnya berseri gembira.

"Engkau.... kiranya engkau lihai sekali, engkau tentu akan dapat mengalahkan gin-kangnya! Engkau bantulah aku, orang muda, dan kalau aku sudah berhasil membunuhnya, engkau akan kuberi tiga butir pel racun katak buduk hitam untuk menyembuhkan sahabatmu.!

"Nanti dulu, nek. Aku bukan tukang pukul yang suka membantu orang membunuh orang lain begitu saja. Aku hanya mau membantu orang tertindas, bukan membantu orang melakukan kejahatan atau berbuat sewenang-wenang. Ceritakan dulu, siapakah musuh besarmu itu dan kenapa engkau hendak membunuhnya?!

"A-ha, engkau berjiwa pendekar, ya? Bagus, memang aku mencari bantuan dari pendekar, bukan dari kaum sesat. Orang muda, siapakah namamu dan siapa gurumu maka engkau dapat memiliki gin-kang yang sedemikian hebatnya?!

"Namaku Ganggananda, nek.!

"Ha, orang Nepal?!

"Bukan, orang Bhutan. Dan yang mengajarkan sedikit ilmu silat kepadaku adalah ayah bundaku sendiri,! kata Ganggananda cepat dan segera menyambungnya karena ia tidak suka banyak cerita tentang keluarganya, tidak suka diketahui orang bahwa ia adalah keluarga Raja Bhutan.

"Sekarang ceritakanlah, nek, agar aku dapat mengambil keputusan apakah aku akan membantumu atau tidak.!!Baik, dengarkanlah ceritaku. Puluhan tahun yang lalu, ketika usiaku baru tiga puluh tahun lebih, aku hidup sebagai isteri seorang pendekar dan tinggal di selatan. Pada suatu hari datanglah seorang sahabat suamiku bertahun di rumah kami. Dia amat tampan dan gagah, pandai merayu dan akupun jatuh oleh rayuannya.! Nenek itu menarik napas panjang dan Ganggananda memandang penuh perhatian, merasa tertarik sekali. Tak disangkanya bahwa nenek ini mempunyai riwayat yang demikian romantis, akan tetapi juga penuh aib. Seorang isteri jatuh hati kepada sahabat suaminya sendiri?

"Aku jatuh hati benar olehnya dan lupa daratan sehingga akupun rela menyerahkan diri kepadanya, menyambut uluran cintanya. Akhirnya, hal ini diketahui oleh suamiku. Kami tertangkap basah. Tentu saja suamiku marah dan sahabat itu diserangnya. Terjadilah perkelahian seru. Ilmu kepandaian sahabat itu amat tinggi dan kalau dia mau, dengan mudah dia akan dapat membunuh atau mengalahkan suamiku, akan tetapi sahabat itu juga seorang pendekar gagah.

Dia merasa bersalah, maka diapun hanya melindungi diri saja tanpa mau membalas. Melihat ini, aku berpikir. Kalau sampai aku harus kembali kepada suamiku, tentu suamiku benci kepadaku, dan bahkan mungkin akan membunuhku, setidaknya menceraikan aku. Sudah kepalang bermain air sampai basah, lebih baik menyelam saja sekali, pikirku. Maka akupun membantu kekasihku itu dan karena kesalahan tangan, suamiku roboh dan tewas oleh sahabatnya. Inilah yang kukehendaki agar aku terlepas dari suamiku dan selanjutnya hidup bersama pria yang telah menjatuhkan hatiku itu.!

Ganggananda mengerutkan alisnya.

"Ah, engkau kejam terhadap suamimu, nek,! celanya.

"Tidak, bukan kejam. Sejak menikah, pilihan orang tua, aku tidak pernah cinta suamiku. Dan aku sudah jatuh hati kepada orang she Bu, sahabat suamiku itu. Dan akupun bukan turun tangan membunuh suamiku, melainkan hanya membantu sahabat itu, terutama sekali untuk membuka mata suamiku bahwa aku berpihak kepada kekasihku, juga membuka mata kekasihku agar dia tahu bahwa aku bersedia membantunya dan ikut dengannya. Akan tetapi terjadi kesalahan tangan sehingga suamiku roboh dan tewas.!

"Hemm, lalu bagaimana?! Ganggananda bertanya tidak puas. Dia sudah memperoleh gambaran bahwa nenek ini dan orang she Bu itu keduanya adalah orang-orang yang tidak baik! "Setelah suamimu tewas, engkau lalu hidup bersama orang itu?!

Nenek itu mengepal tinju tangan kanannya dan mengacungkannya ke atas.

"Itulah yang membuat aku sakit hati, mendendam dan harus membunuhnya! Dia menolakku. Dia merasa menyesal sekali telah kesalahan tangan membunuh suamiku dan dia menyalahkan aku, memaki aku bahwa akulah yang menyebabkan sahabatnya tewas!!

Diam-diam Ganggananda mentertawakan nenek itu dan hatinya berbisik.

"Puas! Rasakan engkau!! akan tetapi mulutnya diam saja.

"Aku telah memohon, membujuk dan menangis, akan tetapi tetap saja dia tidak mau menerimaku dan meninggalkan aku. Tentu saja aku merasa sakit hati sekali. Aku memperdalam ilmuku dan mencarinya, menyelidiki siapa sebenarnya kekasihku itu yang belum kukenal baik karena baru pertama kali itulah aku bertemu dengan dia. Kemudian aku mendengar bahwa kiranya dia itu memang seorang laki-laki yang terkenal sebagai tukang mempermainkan wanita!

Dengan modal kegagahannya, ketampanannya dan kepandaiannya yang tinggi, dia merayu dan menjatuhkan hati banyak wanita, tidak perduli masih gadis, isteri orang, muda atau tua. Orang she Bu yang di dunia kang-ouw terkenal dengan julukan Bu-taihiap itu ternyata adalah seorang perayu dan gila perempuan!!

Ganggananda tidak pernah mendengar nama Bu-taihiap ini dan hatinya merasa semakin tidak suka kepada laki-laki itu. Kini diapun dapat membayangkan bahwa bukan semata kesalahan nenek ini kalau sampai menyeleweng, akan tetapi terutama karena pandainya orang she Bu itu merayu wanita sehingga nenek ini pernah tergelincir.

"Aku berusaha menemuinya dan minta pertanggungan jawabnya. Aku hidup sebatangkara setelah suamiku meninggal dunia, dan hanya dialah satu-satunya orang yang menjadi harapanku. Akan tetapi, dia tetap marah-marah kepadaku dan mengusirku. Aku bahkan berusaha untuk menyerangnya, akan tetapi selalu aku kalah olehnya.!

Ganggananda merasa bingung. Dia tidak tahu bagaimana dia harus bersikap menghadapi urusan itu. Dia ingin mendengarkan terus.

"Puluhan tahun aku menekan dendam ini, aku bertapa, berkelana mencari guru-guru dan belajar silat dengan tekun dan mati-matian sampai akhirnya aku dapat mengimbangi tingkat musuh besarku itu. Akan tetapi, aku masih kalah dalam gin-kang sehingga masih sukarlah bagiku untuk mencapai kemenangan. Maka, aku minta bantuanmu.!

"Hemm, tidak begitu mudah, nek. Aku hanya mempunyai waktu tiga hari untuk mengobati sahabatku, dan sekarang sudah lewat sehari. Tinggal dua hari lagi. Kalau terlambat, sahabatku akan tewas. Jadi waktuku untuk membantumu hanya ada sehari saja, karena pada hari ke tiga harus kupergunakan untuk berlari cepat kembali ke kota raja.!

"Cukup, engkau takkan terlambat kalau sekarang juga kita berangkat. Kebetulan musuhku itu berada di tempat yang tidak terlalu jauh dari sini. Dia senang melakukan perjalanan dan si bedehah itu membawa ketiga orang isterinya!!

"Tiga....?!

"Itu yang resmi menurut penyelidikanku. Di mana-mana dia mempunyai kekasih yang ditinggalkan begitu saja seperti aku. Mereka tidak berdaya menuntut, tidak mampu melawan. Dan sampai sekarangpun, si tua bangka itu masih saja suka merayu dan mempermainkan wanita-wanita muda.!

"Dia tentu sudah tua sekali!!

"Sedikitnya enam puluh lima tahun usianya, akan tetapi dia masih.... gagah dan tampan. Marilah, mari kita berangkat dan pada besok pagi-pagi kita sudah dapat tiba di tempatnya.!

"Tapi obat itu....!

Nenek itu mengeluarkan tiga butir pel dari dalam sebuah botol.

"Inilah obatnya, akan tetapi kusimpan dulu sampai selesai tugas kita. Mari!! Dan nenek itupun sudah lari meninggalkan tempat itu, seolah-olah tidak memberi kesempatan kepada Ganggananda untuk membantah lagi.

Post a Comment