Ular itu memandang dengan mata beringas, mengangkat kepalanya dan mendesis-desis, agaknya marah melihat sikap katak yang menantang. Memang katak itu menantang, tubuhnya merendah, perutnya menempel tanah dan dari lehernya keluar bunyi "kok-kok-kok!! nyaring sekali. Semua ini dapat dilihat jelas oleh Hong Bwee, di bawah cahaya lentera merah yang agaknya tidak mengganggu kedua akor binatang yang sedang berlagak itu.Tiba-tiba ular itu menyerang.
Kepala yang diangkat itu bergerak meluncur ke depan dengan moncong terbuka, siap mencaplok. Akan tetapi katak itupun tiba-tiba menggunakan kaki belakangnya yang besar dan kuat itu, mengenjot tubuhnya menubruk ke depan, menyambut kepala ular dari samping dengan tak kalah cepat dan kuatnya.
"Plokkk!! Tubuh bagian atas ular itu terpental dan ular itu kembali mengangkat kepala dan leher, menggoyang-goyang kepala seperti mengusir rasa pening. Lalu ia mendesis dan menyerang lagi. Kepalanya meluncur ke depan dengan moncong dibuka lebar hendak mencaplok ke arah katak. Katak itu meloncat ke samping mengelak dan tiba-tiba saja ia sudah melompat ke atas kepala ular itu dan menggigitnya.
"Bagus!! Ganggananda memuji kagum.
Akan tetapi ketika ular itu menggerak-gerakkan kepala untnk melepaskan diri dari terkaman katak tanpa hasil, ia menggerakkan ekornya menghantam dari atas ke arah katak di kepalanya. Katak itu amat cekatan dan cerdik sekali, cepat mengelak dengan lompatan ke bawah.
"Tarrr!! Ekor ular itu melecut kepalanya sendiri! Kepalanya sudah terluka oleh gigitan katak, kini masih dicambuknya sendiri membuat binatang itu merasa kesakitan dan semakin marah. Iapun menyerang lagi dengan ganasnya. Serangan ini disambut oleh katak buduk hitam dengan suara "kok-kok-kok!! dari mulutnya dan keluarlah uap hitam disemburkan ke depan.
Agaknya sang ular kebal terhadap racun katak, akan tetapi matanya terkena uap hitam, menjadi nyeri dan iapun menggoyang kepala dengan gelisah. Kesempatan ini dipergunakan oleh katak hitam untuk meloncat dan menerkam lagi kepala ular, menggigit tengkuk yang agaknya menjadi sumber kekuatan ular. Ular itu mencoba untuk melepaskan diri dari gigitan. Akan tetapi tenaganya semakin lemah dan tubuhnya berkelojotan.
Tiba-tiba nenek itu menggerakkan tangannya dan kantong hitamnya sudah menubruk katak dan kepala ular. Sekali tangan kirinya dibacokkan miring ke arah leher ular, terdengar suara keras dan leher itupun hancur dan putus! Dan kini kepala ular dan katak itu sudah masuk kantong yang mulutnya cepat diikatnya kembali. Katak buduk hitam bergerak-gcrak di dalam kantong, lalu terdengar suara katak berkokok disusul suara berkerotokan seolah-olah katak itu sedang menggerogoti tulang kepala ular. Ganggananda bergidik ngeri.
Nenek itu menyimpan kantongnya dalam buntalan, lalu menusuk ekor bangkai ular dengan kayu yang ditancapkan pada akar pohon. Direntangnya bangkai itu dan iapun merobek perut ular menggunakan kuku jari telunjuknya dan semua isi perut ular itupun dikeluarkan. Ganggananda memandang heran.
Nenek itu mengangkat muka memandang dan terkekeh.
"Apakah engkau tidak merasa lapar, orang muda?!
"Kalau lapar mengapa, nek?! tanya Ganggananda tertegun mendengar pertanyaan aneh itu.
"Hi-hik, orang muda yang bodoh. Ular ini adalah ular kembang. Dagingnya gurih dan manis, pula menguatkan otot-otot kaki, berguna bagi perantau-perantau seperti kita yang suka berjalan kaki dan melakukan perjalanan jauh. Nah, sekarang buatlah api unggun, biar kupanggang daging ini dan nanti kita makan sambil bercakap-cakap.!
Ganggananda dapat menduga bahwa dia berhadapan dengan seorang nenek yang luar biasa dan berilmu tinggi, dan yang dia yakin tentu tahu banyak tentang katak buduk hitam yang amat dibutuhkan itu. Maka diapun tidak mau membantah. Nenek ini harus dibaiki, pikirnya dan tentu dia dapat mengharapkan bantuan nenek ini untuk memperoleh obat bagi Ciang Bun. Segera dia membuat api unggun yang cukup besar, bahkan membantu nenek itu ketika mulai memanggang daging ular yang sudah dikuliti dan dipotong-potong itu. Ternyata dagingnya putih bersih dan ketika dipanggang terciumlah bau sedap, apalagi karena nenek itu agaknya sudah membawa bekal bumbu. Terciumlah bawang dan garam yang membuat daging itu berbau sedap.
Ketika nenek itu mengajak Ganggananda makan, gadis yang menyamar pemuda inipun tidak menolak. Dan ternyata bahwa memang daging ular panggang itu lezat sekali! Nenek itupun mengeluarkan seguci arak sehingga lengkaplah kini hidangan mereka. Tanpa banyak cakap mereka makan dan nenek itu lahap sekali. Daging panggang itu diganyangnya panas-panas.
Setelah daging ular itu habis, barulah nenek itu bicara.
"Orang muda, engkau seorang diri saja di tempat sunyi yang amat berbahaya ini, sebetulnya bermaksud apakah?!
"Nenek yang baik, memang ada kepentingan yang amat mendesak sehingga aku berada di tepi rawa ini, dan pertemuanku denganmu ini sungguh menggembirakan karena aku yakin bahwa engkau akan dapat membantuku sehingga aku akan berhasil dalam tugasku.!
Nenek itu mengerutkan alisnya dan terkena cahaya api unggun, wajahnya nampak kemerahan. Akan tetapi wajah itu tidak mengerikan,bahkan sebaliknya, wajah itu jelas membayangkan bahwa nenek itu amat cantik di waktu mudanya.
"Kepentingan? Tugas? Tugas apakah itu yang membawamu ke tepi rawa ini?!
"Aku harus mencarikan obat untuk orang yang keracunan pukulan Hoa-mo-kang....!
"Ihh! Su-ok sudah lama mampus dan pukulan jahat itu dibawanya mati. Siapa yang mampu melukai orang dengan pukulan Hoa-mo-kang?!
"Entahlah. Pokoknya, seorang sahabat baikku terkena pukulan itu dan menurut keterangan tabib yang ahli, obatnya harus dicari di tempat ini.!
"Katak buduk hitam?!
"Benar, nek, karena itu aku mengharapkan bantuanmu.!
"Engkau takkan berhasil!!
"Kenapa tidak? Menurut keterangan ahli itu, besok pagi aku akan dapat menangkap anak-anak katak di tepi rawa, diberi makan induknya.!
"Hi-hik, engkau tolol!!
Ganggananda mengerutkan alisnya, akan tetapi dia menahan kemarahannya.
"Hemm, mungkin juga, akan tetapi mengapa engkau menyebutku tolol? Dalam hal apa?!
"Engkau takkan berhasil, tak mungkin berhasil karena kini belum waktunya terdapat anak-anak katak. Tiga bulan lagi mungkin ada karena sekarang belum waktunya katak-katak itu bertelur. Yang ada hanyalah katak-katak buduk hitam besar dan engkau takkan mampu menangkap mereka.!
"Ahh....!! Ganggananda terkejut dan bingung, mukanya berobah pucat.
"Lalu bagaimana baiknya? Sahabatku itu akan mati kalau selama tiga hari tidak memperoleh obat itu, nek.!
"Mengobati pukulan beracun Hoa-mo-kang dengan anak-anak katak memang tepat dan manjur sekali, akan tetapi tidak praktis. Aku mempunyai pel-pel racun katak buduk yang jauh lebih mudah ditelan, juga menelan berturut-turut tiga butir saja sudah akan menyembuhkan, tidak perlu menghancurkan belasan ekor anak katak untuk diminumkan airnya. Ihh, kejam membunuhi begitu banyak anak katak.!
"Nenek yang baik, kau tolonglah aku. Tolonglah sahabatku itu dan aku mohon kau suka memberi pel-pel itu kepadaku.!
Nenek itu memandang tajam.
"Hemm, di dunia ini memang harus tolong-menolong. Kalau menolong sepihak saja tentu tidak mungkin. Aku mau menolongmu, akan tetapi ada syarat-syaratnya, orang muda.!
"Apa syarat-syarat itu, nek?!
"Pertama, engkau harus dapat mengalahkan aku, dan ke dua engkau harus dapat membantuku menghadapi musuh besarku.!
Ganggananda mengerutkan alisnya. Menandingi nenek ini merupakan hal yang berat, karena dia dapat menduga bahwa nenek ini tentu lihai sekali.
"Nek, untuk menghadapi musuh bersama, aku mau membantu asal kau katakan dulu mengapa engkau memusuhinya. Akan tetapi apa perlunya aku harus menandingimu lebih dulu?!
"Heh-heh, kalau engkau tidak mampu mengalahkan aku, apa perlunya engkau membantuku? Musuhku itu jauh lebih lihai daripada aku. Kalau aku mampu mengalahkannya sendiri, apa perlunya minta bantuan orang lain?!
"Ah, begitukah?! Jantung Ganggananda berdebar tegang. Nenek ini saja dia duga tentu sudah amat lihai, kalau musuhnya itu lebih lihai, wah, tugasnya sungguh tidak ringan.
"Akan tetapi bagaimana engkau dapat mengira bahwa akn memiliki kepandaian silat, nek? Aku hanya seorang perantau yang tidak berilmu, mana bisa menandingimu?!
"Heh-heh, orang muda, jangan engkau mencoba untuk membodohi aku. Seorang muda seperti engkau ini sudah berani melakukan perjalanan jauh seorang diri, apalagi bermalam di tepi rawa berbahaya ini seorang diri, bahkan bertugas mencari katak buduk hitam, mana mungkin berani kalau tidak memiliki kepandaian lihai?!
"Mungkin sedikit latihan silat pernah kulakukan, akan tetapi bagaimana akan dapat menandingimu? Engkau yang selihai ini saja tidak mampu mengalahkan musuh besarmu itu, apalagi aku. Sudahlah, nek, lebih baik engkau berbaik hati memberi pel obat itu kepadaku dan hal itu berarti engkau telah berjasa besar menyelamatkan nyawa orang dari cengkeraman maut.!
"Enak saja kau bicara. Orang hidup harus saling menolong! Sebetulnya, dalam ilmu silat dan tenaga, aku tidak kalah oleh musuhku itu, hanya aku kewalahan dan selalu kalah karena dia memiliki gin-kang yang amat tinggi. Dia terlampau cepat bagiku.!
"Gin-kang?! Ganggananda bertanya dan sinar harapan muncul di dalam hatinya.
"Jadi aku harus memiliki gin-kang yang lebih tinggi darinya?!
"Setidaknya, harus setingkat agar engkau mampu membantuku.!
Ganggananda mengangguk.
"Baiklah, nek, hendak kucoba. Bagaimana kalau kita berlumba memetik bunga putih di puncak pohon di depan itu?!
Biarpun malam itu hanya diterangi sinar bintang-bintang yang remang-remang, akan tetapi bunga-bunga putih bergerombol di puncak pohon tinggi di depan itu mudah dilihat karena menyolok warna putihnya di antara daun-daun yang nampak hitam.
Nenek itu mengangkat muka memandang.
"Setinggi itu? Kita berlomba memanjat dan memetiknya?!
"Dengan gin-kang, tentu akan dapat dilakukan dengan cepat, berloncatan dari cabang ke cabang.!