Mungkinkah dia mendapatkan ilmu baru? Rasanya hal itu tidak mungkin terjadi. Baru beberapa hari saja lewat sejak Pendekar Bongkok buntung lengan kirinya. Sagaimana mungkin dalam waktu beberapa hari saja sudah memperoleh ilmu yang demikian dahsyatnya! Akan tetapi, kini sepasang matanya terbelalak penuh kekagetan dan keheranan. Pendekar Bongkok memang jelas bukan Pendekar Bongkok yang tempo hari sebelum lengan kirinya buntung! Menghadapi hujan serangan empat orang yang sedang marah dan sakit hati itu, Pendekar Bongkok hanya menggerakkan tangan kanan yang mendorong-dorong, dan lengan baju kirinya menyambar-nyambar. Hebatnya, semua senjata empat orang Harimau Tibet itu selalu terdorong membalik sebelum bertemu dengan tangan kanan,
Dan setiap kali bertemu ujung lengan baju kiri, seolah-olah dari tubuh Pendekar Bongkok keluar semacam tenaga sakti yang dahsyat dan yang merupakan perisai yang melindungi tubuhnya. Setelah Pendekar Bongkok selalu menangkis pengeroyokan lawan seolah hendak menguji tenaga mereka, tiba-tiba Pendekar Bongkok mengeluarkan suara melengking tinggi dan tubuhnya membungkuk ke depan, kaki kanan ditarik ke belakang dan tubuh atasnya yang bongkok itu lurus ke depan. Tangan kanannya mencengkeram ke depan, dan lengan baju kiri yang tadinya ditarik ke belakang, membentuk garis lurus seperti seekor naga meluncur, tiba-tiba ujung lengan baju kiri yang agaknya membentuk ekor naga itu menyambar ke depan. Terdengar suara bersiutan dan di-susul pekik dan robohnya ernpat orang pendeta Lama itu susul menyusul.
Kim Sim Lama terbelalak ketika melihat betapa empat orang pembantunya itu roboh untuk tidak bangun kembali karena ternyata mereka telah tewas! Juga para pembantunya yang lain terbelalak, hampir tidak percaya akan apa yang mereka lihat. Betapa mungkin pemuda bongkok yang lengan kirinya sudah buntung itu mampu membunuh lima orang Tibet Ngo-houw yang terkenal sakti itu dalam waktu demikian singkatnya? Kim Sim Lama sendiri menjadi gentar melihat kesaktian luar biasa yang dimiliki Pendekar Bongkok. Kalau Tibet Ngo-houw roboh dalam waktu demikian singkatnya, dia sendiripun akan sukar untuk dapat menandingi Pendekar Bongkok. Maka tanpa malu-malu lagi dia lalu mengeluarkan aba-aba, memerintahkan para pembantunya untuk maju mengeroyok. Juga dia berseru agar pasukan yang berada di luar bersiap-siap mengepung!
"Kim Sim Lama, bebaskan Ling Ling dan aku tidak akan mencampuri urusanmu!"
Bentak Sie Liong, bukan khawatir akan pengeroyokan terhadap dirinya melainkan khawatir akan nasib Ling Ling yang terjatuh ke dalam tangan para pemberontak Tibet ini. Akan tetapi tentu saja Kim Sim Lama tidak memperdulikan permintaan ini. Pemuda ini terlalu berbahaya baginya, apalagi sudah membunuh Tibet Ngo-houw, pembantu-pembantu utamanya yang merupakan tangan kanan baginya. Pendekar Bongkok harus dibasmi!
"Bunuh dia!"
Perintahnya sambil menggerakkan tangan, matanya berkilat marah. Semua pembantunya sudah menghunus senjata, kecuali Yauw Bi Sian. Ia hanya duduk termenung. Ia terkejut dan kagum bukan main melihat pamannya yang dapat membunuh Tibet Ngo-houw sedemikian mudahnya. Pamannya yang telah buntung lengan kirinya itu ternyata menjadi semakin sakti! Diam-diam ada perasaan girang menyelinap di hatinya. Ah, kalau saja pamannya itu tidak membunuh ayah kandungnya, ingin rasanya ia mencabut senjata untuk membantu pamannya menghadapi pengeroyokan semua orang itu!
Ia akan rela mengorbankan nyawanya untuk membela pamannya yang dikasihinya itu. Akan tetapi, pamannya telah menjadi musuh besarnya, telah membunuh ayahnya, kini ia termangu. Tidak mau ia ikut mengeroyok. Memang, ia telah bersumpah untuk membunuh Sie Liong, untuk membalaskan dendam ayahnya, akan tetapi ia tidak sudi mengeroyok Pendekar Bongkok bersama orang-orang yang sesat itu. Akan tetapi pada saat Sie Liong menghadapi pengepung para pembantu Kim Sim Lama yang terdiri dari orang-orang pandai, di antaranya terdapat Coa Bong Gan, Pek Lan, Ki Tok Lama, dan belasan orang pendeta Lama lain, tiba-tiba terdengar sorak sorai gegap gempita di luar sarang gerombolan pemberontak itu, disusul suara pertempuran besar.
Kim Sim Lama terkejut, apalagi ketika seorang perajurit tergopoh-gopoh melapor bahwa sarang mereka diserbu oleh pasukan yang dipimpin oleh para pendeta anak buah Dalai Lama, Kim Sim Lama cepat melompat keluar dari ruangan itu, diikuti oleh para pendeta Lama lainnya! Keadaan menjadi geger dan orang-orang agaknya demikian bi-ngung dan panik mendengar bahwa tempat itu diserbu pasukan Dalai Lama sehingga mereka seperti telah melupakan Pendekar Bongkok. Sie Liong juga tidak tahu harus berbuat apa. Orang-orang itu berlompatan pergi, juga Coa Bong Gan dan yang tinggal di situ akhirnya hanya dia dan Yauw Bi Sian! Mereka berdiri saling pandang, dan melihat pandang mata penuh kebencian dari gadis itu, Sie Liong menghela napas panjang.
"Bi Sian...."
Kata Sie Liong lirih. Akan tetapi, saat itu, ketika mereka berdiri hanya berdua saja di dalam ruangan yang luas itu, Bi Sian teringat akan nasibnya, teringat betapa ayahnya terbunuh oleh pemuda bongkok ini. Bahkan pemuda bongkok ini yang membuat ia meninggalkan ibunya, merantau sampai bertemu dengan Song Gan dan akhirnya ia ternoda oleh Coa Bong Gan, sutenya sendiri. Semua ini membuat hatinya terasa perih, dan semua ini gara-gara Sie Liong! Kalau saja pamannya itu tidak membunuh ayahnya, tentu tidak akan sampai terjadi semua ini!
"Sie Liong, akhirnya kita dapat berhadapan satu lawan satu. Engkau harus menebus nyawa ayah, Bersiaplah!"
Bi Sian mencabut pedang Pek-lian-kiam. Akan tetapi, Sie Liong mengerutkan alisnya dan menggeleng kepala dengan sinar mata duka. Dia maklum bahwa Bi Sian masih menuduh dia sebagai pembunuh Yauw Sun Kok, ayah gadis itu, suami encinya. Percuma saja dia menyangkal.
"Bi Sian, tolonglah aku. Katakan di mana Ling Ling. Aku akan membebaskannya kemudian pergi dari sini."
Pada saat itu, Bong Gan memasuki ruangan sambil berseru,
"Suci, mari kita pergi!"
Melihat betapa pemuda itu memegang lengan Ling Ling, Sie Liong segera menghampirinya.
"Lepaskan Ling Ling....!"
Bong Gan tersenyum mengejek.
"Mundur kamu, bongkok! Atau.... akan kubunuh gadis ini di depan matamu!"
Mendengar ancaman itu, Sie Liong terkejut dan diapun menahan langkahnya. Dia dapat menyerang Bong Gan, akan tetapi dia khawatir kalau-kalau pemuda jahat itu akan lebih dulu membunuh Ling Ling. Melihat sutenya hendak menjadikan gadis peranakan Tibet itu menjadi sandera, Bi Sian mengerutkan alisnya.
"Sute, lepaskan gadis itu!"
"Aih, tidak bisa, suci! Dia lihai sekali, kalau dia bergerak, aku akan bunuh gadis ini lebih dulu!"
Tanpa malu-malu Bong Gan berseru.
"Pengecut!"
Bi Sian memaki.
"Akupun tidak membutuhkan bantuanmu kalau engkau takut kepada Sie Liong. Biar aku sendiri yang akan menuntut balas atas kematian ayahku. Bebaskan gadis itu kataku!"
Bong Gan memandang dengan bingung. Dia menoleh ke luar dan mendengarkan suara pertempuran yang tengah berlangsung di luar.
"Baiklah. Pendekar Bongkok, Sie Liong, janjilah lebih dahulu bahwa engkau tidak akan menyerangku kalau aku bebaskan gadis ini!"
Tentu saja dia merasa takut karena tadi dia melihat sendiri betapa Pendekar Bongkok telah dapat membunuh lima orang Tibet Ngo-houw dengan mudahnya. Dia tahu bahwa dia bukanlah lawan Pendekar Bongkok yang kini menjadi amat sakti itu. Dan dia sudah membuntungi lengan kiri Pendekar Bongkok, maka dia merasa jerih kalau-kalau Pendekar Bongkok akan membalas dendam dan membunuhnya. Sie Liong menatap wajah Coa Bong Gan dengan sinar mata mencorong.
"Kalau engkau tidak mengganggu gadis itu dan membebaskannya, aku tidak akan menyerangmu. Akan tetapi kalau engkau mengganggunya atau membunuhnya, demi Tuhan, lari ke manapun engkau, akan kukejar sampai dapat!"
Bong Gan bergidik melihat mata yang mencorong itu dan dia mendorong tubuh Ling Ling ke arah Sie Liong. Gadis itu yang sejak tadi diam saja, hanya memandang kepada Sie Liong dengan suka pucat, terhuyung ke arah Sie Liong yang segera menyambut dengan rangkulan penuh kasih sayang.
"Ling Ling...."
"Liong-koko.... ahh, Liong-koko....!"
Dan tiba-tiba saja Ling Ling menangis tersedu-sedan di atas dada Sie Liong. Air matanya membanjir seperti bendungan pecah. Kalau tadi ia hanya diam saja dengan muka pucat, kini tangisnya tak dapat ditahan lagi, membuatnya sesenggukan dan tersedu-sedu.
"Suci, mari kita pergi. Pertempuran terjadi di luar. Dalai Lama dan pasukannya telah menyerbu. Kalau terlambat, kita celaka!"
Kata Bong Gan.
"Pengecut, engkau boleh pergi. Aku tidak akan pergi, aku harus membalaskan kematian ayahku. Dia telah membunuh ayah, maka dia harus menebus nyawa ayah, aku akan mati pula di tangannya!"
"Bi Sian, aku tidak membunuh ayahmu...."
Sie Liong yang masih mendekap Ling Ling yang menangis itu, membantah lemah.
"Tidak perlu bohong! Tidak perlu menyangkal, Apakah engkau juga ingin menjadi pengecut yang tidak berani mempertanggung jawabkan perbuatanmu? Sie Liong, engkau pembunuh ayahku, maka bersiaplah, mari kita selesaikan dengan mengadu nyawa!"
"Sie Liong bukan pembunuh ayahmu, Bi Sian!"