Halo!

Kaki Tiga Menjangan Chapter 99

Memuat...

Lalu aku menanyakan soal penyerbuan tadi malam, terutama tentang ilmu silat yang mereka gunakan, Ternyata ada beberapa jurus ilmu silat yang merupakan ciri khas keluarga Bhok, Kau tahu, keluarga ini turun temurun menguasai wilayah Inlam, Hanya setelah masuknya kerajaan Ceng kita, propinsi itu langsung diserahkan kepada Go Sam-kui .

Tentu saja karena itu keluarga Bhok menjadi gusar dan sakit hati .

Selain itu, Bhok Tian-po pangeran terakhir Bhok onghu justru tewas di tangan bawahan Go Sam-kui .

Hal ini menambah kebencian di hati mereka .

Aku juga menyuruh beberapa orang siwi itu menjalankan ilmu silat keluarga Bhok, ternyata di antaranya memang ada Heng-sau ciang kun dan Kao-san Liu Sui!" "Sungguh Sri Baginda pandai berpikir dan menerka!" puji Siau Po .

Di dalam hati dia justru merasa gundah dan khawatir sekali, Dia berpikir: "Di dalam kamarku tersembunyi dua orang nona dari keluarga Bhok .

Entah Sri Baginda mengetahuinya atau tidak?" Ketika Siau Po masih bingung, kaisar Kong Hi tersenyum dan berkata kepadanya .

"Eh, Siau Kui cu, apakah ada pikiranmu untuk mendapatkan rejeki besar?" tanyanya .

Siau Po menoleh kepada Raja dan menatap dengan pandangan tidak mengerti .

"Kalau Sri Baginda tidak memberikan, mana berani hamba memintanya," sahut bocah itu, Dia kurang mengerti apa yang dimaksudkan oleh junjungannya, karena itu dia hanya dapat menduga-duga saja, "Sebaliknya, apabila Sri Baginda bersedia memberikannya, hamba pun tidak berani menerimanya!" Raja tertawa .

"Bagus!" katanya, "Aku akan memberikan rejeki besar untukmu! sekarang kau kumpulkan semua senjata dan pakaian dalam ini .

Juga surat-surat pengakuan para penyerbu yang kena ditawan lalu bawa semuanya kepada seseorang, Aku yakin kau akan memperoleh harta karun!" Siau Po tertegun, tapi sejenak kemudian dia tersadar .

"Oh, dia pasti Go Eng-him!" serunya .

"Kau memang cerdas sekali!" kata Raja, "Nah, kau bawalah semua barang-barang ini kepadanya!" "Sungguh besar rejeki Go Eng-him!" kata Siau Po .

"Ha.. .

ha.. .

ha.,.! sekarang jiwa dia beserta keluarganya, semua ada di tangan Sri Baginda, Bahkan seluruhnya juga merupakan hadiah dari Sri Baginda!" "Bagaimana nanti kau berbicara dengannya?" tanya Sri Baginda .

"Akan hamba katakan begini kepadanya: "Eh, orang she Go, junjungan kita sangat cerdas dan berpandangan jauh, Sri Baginda dapat mengetahui apa saja yang kalian ayah dan anak lakukan di Inlam .

Tidak ada satu hal pun yang tidak beliau ketahui Kalau kalian hendak memberontak, Sri Baginda sudah dapat menduganya dari jauh hari Oleh karena itu, kalian harus baik-baik dan menuruti perkataanku!" Kaisar Kong Hi tertawa .

"Kau cerdas sekali!" katanya, "Meskipun kau tidak bersekolah, kau buta huruf dan kata-katamu kasar, tetapi alasannya selalu tepat Memang mereka ayah dan anak harus tunduk sepenuhnya kepadaku!" Senang Siau Po mendengar nada junjungannya .

Dia segera membungkus seluruh senjata dan pakaian dalam yang berserakan di atas meja, Juga surat pengakuan para siwi, Kemudian dia memberi hormat kepada Raja untuk memohon diri .

Setelah itu dia memutar tubuhnya untuk meninggalkan kamar tulis Raja itu, Namun tepat pada saat itu juga, dia merasa punggungnya nyeri sekali .

"Celaka!" gerutunya dalam hati Mendadak saja kepalanya terasa pusing dan perutnya muak .

Dia merasa ingin muntah, "Ah, aku harus menemui nenek sihir itu secepatnya agar diberikan obat!" Di samping Siau Po ada seorang thay-kam, sembari mengasongkan bungkusannya yang akan menjadi harta karun, dia berkata .

"Kau pegang dulu barang ini Aku akan ke keraton Cu Leng hiong untuk mengucapkan selamat pagi kepada thayhou!" Thay-kam itu mengangguk Dia menyambut bungkusan itu .

Siau Po bergegas pergi ke keraton Cu Leng hiong, kamarnya ibu suri, sesampainya d sana dia meminta seorang thay-kam mengabarkan kedatangannya .

Tidak lama kemudian muncullah Lui Cu, s dayang cilik .

Melihat Siau Po, dia berkata dengan suara lirih, "Kui kongkong, thayhou sedang marah .

Katanya beliau tidak ada waktu menemui mu .

Kalau ka ada urusan apa-apa, besok saja kau datang lagi." Siau Po jadi tertegun .

"Besok baru datang lagi?" pikirnya dalam hati "Entah besok aku masih hidup atau tidak" Terang terangan kemarin thayhou sendiri yang mengatakan agar aku datang hari ini untuk mengambil obat sekarang dia sengaja mempermainkan aku .

Ak benar-benar tidak menyangka!" "Adik kecil," katanya kemudian kepada Lui Cu "Tolong kau kembali lagi kepada thayhou dan kata kan bahwa kemungkinan besok aku tidak bisa hidup lagi, Tapi, Siau Kui cu menganggap jiwanya kecil karena itu aku tidak perlu minum obat lagi!" Lui Cu bingung, Untuk sesaat dia menatap Sia Po dengan tatapan heran .

"Eh, apa yang kau katakan?" tanyanya, "Bagaimana aku bisa menyampaikan katakatamu kepad thayhou, sedangkan ucapanmu itu begitu tidak sopan?" "Hm!" Siau Po mengeluarkan suara yang tawar .

"Karena aku akan mati, perduli apa kata-kataku ini sopan atau tidak!" Selesai berkata, dia langsung membalikkan tubuhnya dan pulang ke kamarnya sendiri Dia langsung memalang pintu kamarnya itu setelah sebelumnya mengambil dulu bungkusan yang dititipkan tadi, Dia duduk di atas kursi dengan nafas tersengal-sengal .

Biar bagaimana, pikirannya bingung dan hatinya mendongkol .

"Apa kau kurang sehat?" tanya Kiam Peng .

"Meiihat wajahmu yang cantik, kesehatanku pun pulih kembali," sahut Siau Po, "Kau begitu cantik sehingga bunga dan rembulan pun merasa malu memandangmu!" Kiam Peng tertawa .

"Suciku baru termasuk gadis cantik yang bisa membuat bunga-bunga malu dan rembulan menutup diri, Di wajahku ada kura-kura kecil sehingga buruk sekali...." Mendengar gurauan si nona cilik, hati Siau Po terasa lega juga, "Eh, kenapa di wajahmu ada kura-kura?" tanyanya sambil tertawa .

"Oh, aku tahu sekarang, Adikku yang baik, wajahmu begitu bersih dan mulus sehingga bila kau berkaca, kau akan melihat bayangan seekor kura-kura cilik," Kiam Peng heran, Dia menatap Siau Po tajam .

"Apa katamu" Mengapa kau berkata demikian." "Kau lihat, dengan siapa kau tidur?" kata Siau Po .

"Wajahmu berpotongan telur mirip sebuah cermin Dan di sana terbayang wajahnya seseorang yang tampak mirip seekor kura-kura kecil!" "Cis!" Pui le yang sejak tadi diam saja jadi sengit karena merasa disindir oleh Siau Po .

"Nih, kau lihat sendiri wajahku!" Siau Po tertawa .

"Kalau aku melihatnya dari dekat, maka di wajah adikku yang manis pasti terpantul tampang seorang tuan besar yang tampan dan gagah!" Kiam Peng tertawa, Pui le juga ikut tertawa, Mereka merasa thay-kam cilik ini memang lucu sekali .

"Kalau seekor kura-kura kecil bisa jadi tuan besar, lalu tuan besar yang bagaimana itu?" sindir Pui Ie .

Siau Po tertawa, Juga Kiam Peng dan Pui le, tap mereka tidak berani tertawa keraskeras .

"Sekarang mari kita bicara yang serius," kata Pu Ie .

"Kami harus menyingkir dari sini Bagaimana caranya" Kau harus memikirkan jalannya bagi kami!" Di dalam istana, Siau Po selalu dihormati oleh para thay-kam dan para siwi, Berhadapan dengan raja, dia juga merasa gembira .

Tapi begitu kembali ke kamarnya, dia akan merasa sepi Sejak adanya kedua nona dari keluarga Bhok, dia tidak lagi kesepian .

Memang dia khawatir mereka bisa kepergok, namun dia tetap tidak ingin cepat-cepat berpisah dengan kedua nona itu .

Mendengar ucapan Pui le, dia jadi berpikir .

"Kita harus pikirkan dengan seksama, Kalian sedang terluka, Apabila kalian keluar dari kamar ini, ada kemungkinan kalian akan kepergok dan ditawan kembali Bukankah hal itu membahayakan sekali?" katanya .

Pui le dan Kiam Peng terdiam, Kata-kata Siau Po memang benar .

"Coba kau beritahukan kepadaku," kata Pui Ie .

"Di antara kawan-kawanku yang datang menyerbu tadi malam, ada berapa yang mati dan berapa pula yang tertawan" Apakah kau mengetahui nama-nama mereka?" Siau Po menggelengkan kepalanya .

"Aku tidak tahu," sahutnya, "Kalau kau ingin mencari keterangan itu, nanti aku akan menanyakannya...." "Terima kasih," kata Pui Ie .

Siau Po merasa senang dan juga heran .

Barukali ini dia mendengar suara si gadis yang demikian lembut, bahkan gadis itu pun mengucapkan terima kasih .

"Yang paling penting kau selidiki, apakah di antara orang yang tertawan itu ada seorang she Lau atau tidak?" kata Kiam Peng ikut bicara .

"Seorang she Lau?" tanya Siau Po menegaskan "Siapa nama belakangnya?" "Dia adalah kakak seperguruan kami," sahut Bhok Kiam-peng .

"Namanya It Cou,., dan dia.. .

juga kekasih.. .

hati kakak Pui.,,." Tiba-tiba Kiam Peng berhenti bicara dan tertawa, karena Pui Ie menggelitiknya sehingga dia kegelian .

"Oh, Lau It-cou!" seru Siau Po tertahan "Dia..." "Dia apa?" tanya Pui Ie panik, "Ada apa dengan dia?" "Bukankah dia bertubuh tinggi, berwajah putih dan tampan" Usianya sekitar dua puluh lebih?" tanya Siau Po, "Bukankah ilmu silatnya cukup tinggi?" sebenarnya Siau Po tidak tahu siapa Lau It-cou .

Dia juga belum pernah melihatnya, tetapi karena pemuda itu adalah kekasih Pui Ie, dia dapat menerka bahwa pemuda itu pasti tampan Padahal dia hanya asal menebak dan sebagai kakak seperguruan Pui Ie, pasti ilmu silatnya juga cukup tinggi Di luar perkiraannya, dugaan Siau Po tepat .

"Tidak salah lagi! Memang dia orangnya! Kenapa dia?" tanya Kiam Peng .

Siau Po tidak langsung menjawab Dia menarik nafas panjang terlebih dahulu .

"Aih.,, rupanya Lau suhu itu kekasih nona Pui," katanya kemudian Tepat pada saat itu dari luar kamar terdengar suara panggilan .

"Kui kongkong, ada hadiah dari thayhou!" Mendengar itu, Siau Po menjadi senang, Dia berkata dalam hati, "Oh, dasar perempuan lacur! Dia toh tidak sudi menemui aku, untuk apa aku menemuinya" sekarang lohu tidak takut mati, dia justru yang merasa khawatir!" walaupun berpikir demikian, dia tetap menjawab: Terima kasih atas hadiah itu!" Dan dia membuka pintu lalu menjatuhkan diri berlutut dan mengangguk kepada orang yang membawakan hadiah itu, seorang thay-kam Dia pun mengucapkan terima kasih kepada thay-kam tersebut .

Hadiah itu berupa sebuah kotak kayu yang berukiran indah, Ketika Siau Po membuka tutup-nya, dia melihat isinya adalah sebotol obat Dia segera mengeluarkan selembar uang kertas bernilai lima puluh tail dan diberikan kepada si thay-kam sebagai persenan .

Thay-kam itu senang sekali, dia tidak menyangka akan mendapatkan hadiah sebesar itu, Dia mengucapkan terima kasih berulang kali .

Post a Comment