Bhok Kiam Peng terkejut setengah mati melihat keadaannya .
"Oh!" serunya gugup .
"Kenapa kau?" "Apakah kau terluka?" Pui Ie juga ikut khawatir .
Kedua nona itu merasa tercekat hatinya, Siau Po telah terkena pukulan Hoa Kut-bian ciang milik Hong thayhou, walaupun untuk sementara, dia tidak akan langsung mati, tapi keadaannya cukup parah: tapi dia tidak takut, Dasar bocah nakal, mendengar pertanyaan kedua nona itu, dia malah tertawa lebar .
"Ah! Adikku yang manis dan istriku yang cantik! Kalian berdua toh dalam keadaan terluka, Kalau aku tidak ikut terluka, mana tepat dikatakan susah dan senang dicicipi bersama-sama?" "Oh, kau terluka, Kui toako?" tanya Kiam Peng, "Bagian manakah yang terluka" Apakah kau merasa sakit sekali?" "Oh, adikku.. .
hatimu baik sekali, Aku memang sedang kesakitan tadinya, Mendengar pertanyaanmu yang mengandung kecemasan hatimu itu, rasa sakit itu jadi langsung hilang, Nah, coba kau bilang, aneh bukan?" Bhok Kiam Peng tertawa .
"Ah, kau paling pandai membohongi orang!" sahutnya .
Siau Po berpegangan pada kaki meja, Dia berusaha berdiri Dalam hati dia berkata .
"Aku masih bisa hidup sampai sekarang, semua ini berkat nama Sui congkoan, Coba seandainya thayhou mengetahui pengawalnya itu sudah mati, Tentu nyawaku akan amblas juga malam ini!" Perlahan-lahan Siau Po mendekati kotak obatnya .
Dia buka kotak itu dan mencari obat yang dibutuhkannya, Di dalamnya terdapat banyak botol obat, tetapi dia mengambil sebuah yang bentuknya segi tiga dan warna dasarnya hijau keputihan .
Di antara sekian banyaknya obat milik Hay kongkong, hanya obat itu yang dikenalinya .
itulah bubuk Hoa Si-hun, obat untuk mencairkan mayat .
Obat itu pernah dia gunakan untuk menghancurkan mayat Siau Kui cu, thay-kam cilik yang namanya dia pakai sekarang, Setelah mendapatkan obat itu, Siau Po berusaha menarik keluar mayat Sui Tong dari kolong tempat tidur Lalu dia mengeluarkan uang kerta serta benda-benda berharga yang tadi dia masukkan ke dalam pakaian orang itu .
"Ketika kau pergi, mayat ini terus ada di kolong tempat tidur, Kami takut sekali," kata Kiam Peng .
Siau Po tertawa .
"Kalau kalian berdua sampai mati, bukankah mayat ini malah akan mendapatkan kawan?" "Cis!" bentak Pui Ie .
"Kuncu, jangan bicara dengannya!" Siau Po tidak memperdulikan nona itu .
"Aku akan bermain sulap, apakah kalian mau melihatnya?" Tidak!" sahut nona Pui singkat .
"Siapa yang tidak suka melihat, boleh memejamkan matanya!" kata Siau Po kembali .
Pui Ie menurut Dia segera memejamkan matanya rapat-rapat Kiam Peng juga ikut memejamkan matanya, tapi hanya sebentar Kemudian dia melihat Siau Po mengeluarkan sebotol kecil dan kemudian menuangkan isinya ke dalam sendok, lalu ditaburkan di atas luka Sui Tong .
"Kalian lihat." katanya .
Tidak lama kemudian, tampak asap mengepul dari bekas luka yang ditaburkan bubuk obat itu, lalu tercium bau tidak sedap yang disusul dengan keluarnya cairan berwarna kuning dari luka yang menguak semakin besar itu .
"Ah!" seru Kiam Peng keheranan .
Pui Ie penasaran melihat seruan adik seperguruannya, Dia segera membuka matanya, Ketika dia melihat apa yang disaksikan Kiam Peng, sepasang mata gadis itu sampai membelalak lebar-lebar dan tidak dipejamkan lagi .
Seperti Siau kuncu, dia juga keheranan .
Asal terkena cairan berwarna kuning tersebut, luka di tubuh mayat itu semakin meluas, Dagingnya meleleh menjadi cairan kuning pula .
Menyaksikan keadaan itu, kedua nona itu sampai tertegun sekian lama .
"Kalian berdua, awas! Siapa yang tidak mau menuruti kata-kataku, wajahnya akan kutaburi dengan obat ini, sehingga jelek seperti mayat ini!" gertak Siau Po .
"Kau.. .
kau jangan menakut-nakuti orang!" bentak Kiam Peng .
Sebaliknya Pui Ie menatap Siau Po dengan tajam dan sorot matanya menunjukkan kemarahan .
Hatinya juga tercekat dan khawatir .
Senang hati Siau Po melihat kedua nona itu ketakutan .
Dengan hati-hati dia menyimpan obatnya kembali Kemudian dia mengambil sebuah kursi dan mendorong mayat Sui Tong yang terbagi menjadi dua bagian karena gerakan cairan yang tidak merata, Akhirnya seluruh mayat itu lumer menjadi cairan kuning dan menyebarkan bau yang tidak enak .
Melihat keadaan itu, lega rasanya hati Siau Po .
"Biar si nenek sihir itu mengirim lima laksa pengawalnya ke Ngo Tay san, tetap saja dia tidak berhasil menemukan Sui Tong!" Setelah itu Siau Po mengambil air dari dalam gentong untuk mencuci bersih cairan kuning tersebut Setelah membersihkan lantai, dia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, Dia merasa lelah sekali, matanya langsung dipejamkan Sekejap kemudian dia suda tertidur pulas .
Sampai fajar tiba, baru Siau Po mendusin dari tidurnya, Dia langsung merasakan nyeri di dadanya Bahkan dia juga merasa perutnya mual dan ingin muntah, tapi sampai sekian lama dia mencoba, tetap saja tidak ada sebutir nasi pun yang dimuntahkannya .
Kiam Peng dan Pui Ie merasa heran melihatnya .
"Kui toako, apa yang kau rasakan?" tanyany prihatin Siau Po bangun dan duduk di atas tempat tidur .
Dia melihat kedua nona itu dan tidur di antar keduanya, Kedua nona itu tidak membuka pakaian luarnya, Ketika dia melihat waktu sudah tidak pagi cepat-cepat dia bangun dan turun dari tempat tidur .
"Kalian berbaring saja, jangan bergerak!" katanya kepada kedua nona itu, "Aku ingin menemui Sri Baginda secepatnya!" Tadinya Siau Po berniat keluar dari kamarnya lewat jendela, tapi tenaganya masih 1emah .
Akhirnya terpaksa dia keluar dari pintu depan kemudian menguncinya dari luar .
Belum berapa lama Siau Po berada di kamar tulis kaisar Kong Hi, junjungannya itu sudah mengundurkan diri dari ruang sidang seperti biasanya .
Begitu melihat Siau Po, kaisar Kong Hi tertawa lebar dan berkata pada thay-kam cilik kesayangannya itu .
"Siau Kui cu, lagi-lagi kau membunuh orang tadi malam." Siau Po cepat-cepat memberi hormat dan mengucapkan selamat pagi pada junjungannya itu .
"Kau sungguh beruntung!" kata kaisar Kong Hi kembali "Kembali kau dapat menempur para penyerbu itu .
Aku sendiri, melihat wajah penyerbu itu saja tidak! Bagaimana kepandaian para pemberontak itu" Dengan jurus apa kau merobohkannya?" Siau Po berpikir dengan cepat Kaisar Kong Hi pandai ilmu silat Tidak mungkin dia memberikan keterangan secara sembarangan Sebenarnya, dia tidak bertempur melawan seorang pun di antara penyerbu tadi malam .
Tapi dia teringat pertempuran yang berlangsung di rumah keluarga Pek ketika Hong Ci-tong melawan Pek Han-tiong .
"Pertempuran itu terjadi di saat gelap," sahutnya, "Tiba-tiba hambamu melihat kaki kiri orang itu menyapu ke kanan dan tangan kanannya menyambar ke kiri, Kemudian..." dia pun menjelaskan tipu silat lawannya, "Bagus!" seru kaisar Kong Hi seraya bertepuk tangan .
"Tepat sekali tipu yang kau gunakan itu!" Thay-kam gadungan itu tertegun .
"Oh, Sri Baginda, apakah kau tahu jurus silat yang digunakan para pemberontak itu?" "lya," sahut kaisar Kong Hi .
Bibirnya menyunggingkan senyuman, Tahukah kau apa nama jurus itu?" Siau Po tahu jurus silat yang diperlihatkannya bernama Heng-Sau ciangkun, tapi dia pura-pur tidak tahu .
"Hamba tidak tahu...." Raja tertawa .
"Kalau kau tidak tahu, biar aku beritahukan, katanya, "Jurus itu bernama Heng-sau ciang kun!" "Bagus sekali nama itu!" puji Siau Po pura-pur terkesima .
"Dia menggunakan jurus itu, lalu bagaimana kau menghadapinya?" "Untuk sesaat hamba sempat kebingungan sahut Siau Po .
"Lalu tiba-tiba saja hamba ingat tipu silat yang pernah digunakan Sri Baginda ketika dulu kita berlatih bersama, Ketika itu hamba kena dibuat terpental sehingga melewati kepala Sri Baginda .
Kalau tidak salah itu adalah, itu adalah tipu ilmu Hui In-jiu dari Butong paimu...." Senang sekali hati kaisar Kong Hi mendengar jawaban Siau Po .
"Jadi kau menggunakan tipu silatku untuk memunahkan jurus Heng-sau ciang kun itu?" "Benar, Sri Baginda," sahut Siau Po .
"sebenarnya kepandaian hamba belum berarti apa-apa, tetapi untungnya Sri Baginda sering mengajak hamba berlatih bersama sehingga ada sebagian besar ilmu silat Sri Baginda yang masih hamba ingat dan hamba manfaatkan begitu menghadapi musuh...." Kaisar Kong Hi tambah senang hatinya, "Bagus! Bagus sekali kau masih mengingatnya!" Siau Po juga gembira melihat kaisar Kong Hi berseri-seri wajahnya .
"Untung saja ocehanku tepat!" pikirnya, Tidak sia-sia dia mengangkat rajanya itu tinggi-tinggi .
Kemudian dia menambahkan kembali "Hanya ada satu hal yang patut disayangkan, yakni tenaga dalam hamba masih cetek sekali, Akhirnya penjahat itu berhasil juga meloloskan diri." "Ya, sayang! Sayang!" kata raja .
"Sebenarnya kau harus langsung menotok jalan darah hwe Cong dan Gwe Kuan penjahat itu, Kalau kau melakukan hal itu, tentu penyerbu tersebut tidak dapat meloloskan diri lagi!" Sembari berkata, kaisar Kong Hi segera mencekal lengan Siau Po dan menunjukkan cara bagaimana menekan lawannya .