"Kau begitu baik .
Tanganmu terbuka lebar, wajar kalau Sui Tong ingin membalas kebaikan hatimu, Sebenarnya, apa yang kau suruh dia laku kan" Apa yang kau pesankan padanya?" tanya thayhou kembali "Hambamu tidak berani mengatakannya!" sahu Siau Po .
"Kau katakan atau tidak?" bentak Thayho garang .
Siau Po menarik nafas panjang, Dia masih membawa lagaknya seperti orang yang dipaksa keadaan .
"Sui Tong telah berjanji kepadaku," sahutnya kemudian .
"Seandainya hambamu ini mati dicelakai orang dalam istana, dia akan menghadap Sri Baginda untuk membeberkan duduk persoalannya sebenarnya, Dia mengatakan bahwa dia akan menulis laporan dan akan dibawanya ke mana-mana, Dia juga berjanji setiap dua bulan akan mengadakan pertemuan denganku agar...." "Agar apa?" bentak thayhou dengan suara sinis tapi nadanya bergetar .
"Agar setiap dua bulan sekali, aku harus menemuinya...." "Bagaimana cara pertemuan itu?" tanya thayhou .
"Setiap dua bulan, aku harus pergi ke Tian Kio," kata Siau Po .
"Di sana aku harus menemui seorang.. .
pria penjual buIi-buli gula batu, Aku harus bertanya kepadanya apakah dia menjual buli-buli batu akik" Mendengar pertanyaanku orang itu akan mengatakan bahwa harga serencengnya seratus tail, Aku harus bertanya mengapa harga itu demikian tinggi, Orang itu bukannya menjawab tapi bertanya kepadaku, apakah aku sudah pernah pulang ke langit" Aku harus mengatakan padanya agar dia pulang ke rumah orang tuanya! Dengan demikian dia akan menyampaikan kabarku kepada Sui congkoan." Dalam waktu yang singkat, Siau Po tidak menemukan jawaban atas pertanyaan Thayhou tadi, Karena itu dia mengubah sedikit ajaran yang dianjurkan oleh Tan Kin-lam untuk bertemu dengan Ci Tian-coan .
Hati thayhou tercekat Dia tahu cara itu sering digunakan orang-orang kangouw untuk berhubungan dengan rekannya, Dia jadi percaya thay-kam cilik ini bukan hanya mengada-ada .
Semakin dipikirkan hatinya semakin ciut .
Dia tidak menyangka bocah cilik ini bisa membuat Sui Tong melarikan diri, Tidak heran kalau Sui Tong menjadi ketakutan dan melarikan diri, juga tidak aneh kalau tujuannya Ngo Tay san, yakni tempat di mana bekas kaisar kerajaan Ceng menyucikan diri .
Dalam waktu yang singkat, banyak sekali yang terlintas dalam benak thayhou, otaknya semaki ruwet, Setelah lewat sejenak lagi, baru dia berkat lagi .
"Bagaimana kalau dalam waktu dua bulan seperti yang dijanjikan lalu kau tidak datang mencari penjual buli-buli gula batu itu?" tanya thayho kemudian .
"Sui congkoan mengatakan kepadaku bahwa dia akan menunggu sampai sepuluh hari lamanya Andaikata aku tetap tidak kelihatan, dia akan mempunyai dugaan bahwa aku sedang terancam bahaya atau kemungkinan sudah mati, maka itu dia akan. .
memikirkan jalan bagaimana caranya agar dapat menghadap Sri Baginda untuk menyampaikan laporannya, Sampai waktu itu, hambamu memang sudah mati, Tidak ada urusan apa-apa lagi, Namun aku tetap setia kepada junjunganku, Aku sudah menyadarkan Sri Baginda agar penasaran dibalas dengan penasaran, permusuhan dibalas dengan permusuhan, Sri Baginda tidak boleh sekali-kali diperdaya oleh orang jahat, Dengan demikian hamba beserta Sui congkoan sudah membuktikan kesetiaannya!" Terdengar suara perlahan dari mulut thayhou yang seperti orang gerutuan .
"Penasaran dibalas dengan penasaran, permusuhan dibalas dengan permusuhan... .
Ya, itu memang bagus sekali!" Siau Po tidak menghiraukan wanita itu .
Terdengar dia seakan menggumam seorang diri .
"Selama beberapa hari belakangan ini, hamba akan tetap melayani Sri Baginda sebagaimana biasanya .
Hamba tidak akan membocorkan rahasia apa pun .
Asal hamba tetap hidup dan bisa merawat Sri Baginda, urusan ini tidak nanti hamba bongkar sampai kapan pun juga!" Mendengar kata-katanya, thayhou agak lega sedikit .
"Kalau benar demikian, kau memang baik hati!" "Sri Baginda memperlakukan aku dengan baik," kata Siau Po kembali "Dan thayhou juga tidak berlaku buruk terhadapku Karena itu, terhadap thayhou, hamba juga akan bersetia, Siapa tahu, kalau hati thayhou sedang senang, hamba akan mendapat hadiah yang berharga, seandainya demikian, bukankah kita sama-sama merasa senang?" Thayhou tertawa dingin .
"Apakah kau masih mengharap aku akan memberikan hadiah kepadamu" Kutit mukamu benar-benar tebal!" Biar bagaimana, ibu suri merasa puas juga .
Bukankah Siau Kui cu mengatakan dia tidak akan membuka rahasia seumur hidupnya" Karena itu, dia merasa tidak ada halangan untuk memikirkan urusan itu perlahan-lahan .
Siau Po juga merasa puas, Kata-katanya thayhou menyatakan bahwa pikirannya sudah berubah .
"Hamba tidak mengharapkan apa-apa," kata Siau Po kemudian, "Asal thayhou dan Sri Baginda senantiasa dalam keadaan sehat wal afiat dan bergembira, sebagai seorang hamba, aku juga ikut merasa senang! Harap thayhou tidak perlu khawatir Besok hamba akan pergi ke Tian Kiou untuk mencari penghubung itu dan meminta dia menyampaikan kepada Sui congkoan supaya dia menutup mulut rapat-rapat, Aku juga akan menitipkan uang sebanyak tiga ribu tail, dengan mengatakan bahwa itulah persen dari thayhou untuknya." "Hm!" thayhou mendengus dingin, "Orang semacamnya yang bekerja tidak sungguhsungguh, Karena rasa takut, dia melarikan diri, Sudah bagus batang lehernya tidak kukutungkan, mana mungkin aku memberinya persen" Ngaco!" "lya, iya, Thayhou benar juga!" kata Siau Po .
"Lagipula uang itu toh milikku, memang thayhou tidak sepatutnya memberi persen kepada orang itu." Baru sekarang thayhou melepaskan cekalannya pada bahu Siau Po .
ia melepaskannya dengan perlahan-lahan .
"Siau Kui cu," katanya kemudian, "Apakah kau benar-benar setia padaku?" Siau Po segera menjatuhkan dirinya berlutut di depan wanita itu, Dia tidak takut akan dihajar oleh thayhou iagi .
Dia juga menyembah berkali-kali .
"Iya .
Hamba akan setia kepada thayhou!" demikian katanya, "Dalam hal ini, hamba akan mendapat keuntungan besar, Hamba berjanji, kalau hamba sampai tidak setia, biarlah Siau Kui cu rela kepalanya dikutungkan, walaupun hamba orang bodoh, tapi hamba masih tahu bagaimana harus menyayangkan batok kepala ini." Ibu suri menganggukkan kepalanya .
"Bagus, bagus sekali!" katanya, tapi tangannya tidak henti menepuk bahu bocah itu .
jumlah keseluruhannya tiga kali, Siau Po merasa tercekat hatinya .
Tiba-tiba dia merasa kepalanya pusing dan perutnya mual pandangan matanya berkunang-kunang, Kerongkongannya mengeluarkan suara yang aneh, sebab dia ingin muntah tapi tidak dapat .
Terdengar thayhou berkata kembali .
"Siau Kui cu, kau ingat kan belum lama ini ketika Hay tayku si bangsat tua mengatakan ada sejenis ilmu yang namanya Hoa Kut-bian ciang .
ilmu itu bila dipelajari sampai mencapai taraf kesempurnaan maka siapa yang terserang akan remuk seluruh tulang belulangnya, ilmu itu sulit sekali dipelajari aku juga tidak bisa memahaminya .
walaupun demikian, otakmu sangat cerdas, Hatimu baik, lagipula penurut Aku hanya menepuk bahumu tiga kali dengan maksud bergurau, Hal ini menyenangkan sekali...." Siau Po tidak sanggup mengatakan apa-apa .
Dia merasa dada dan isi perutnya bergolak dan darahnya seakan mengalir dua kali lebih cepat daripada biasanya, Tanpa dapat mempertahankan diri lagi, dia memuntahkan darah yang bercampur dengan air .
"Terbukti perempuan hina ini tidak percaya kepadaku," pikirnya dalam hati, "Sekarang dia telah menurunkan tangan jahatnya terhadapku!" Lalu terdengar ibu suri berkata .
"Siau Kui cu, jangan takut Aku tidak akan memukulmu sampai mati, Sebab kalau kau sampai mati, siapa nanti yang akan pergi ke Tian Kio untuk mencari si penjual buli-buli gula batu" Besok pagi-pagi, pertama-tama kau harus ke keraton Cu Leng kiong, di sana aku akan memberikan tiga butir pil kepadamu, Setiap hari kau harus menelan satu butir .
Setelah tiga puluh hari kemudian, jiwamu tidak akan terancam bahaya lagi, Kalau kau telah menghabiskan tiga puluh butir, nanti aku akan mengantarkan tiga puluh butir lagi untukmu!" Terima kasih untuk kebaikan thayhou," kata Siau Po .
Kemudian perlahan-lahan dia menggerakkan tubuhnya untuk berdiri .
Namun kepalanya pusing sekali sehingga dia terhuyung-huyung lalu roboh kembali, Lalu dia muntah darah beberapa kali, tapi dia masih bisa berkata: "Thayhou, setiap hari hamba akan memuja Pou Sat yang maha suci agar thayhou dilindungi dan panjang umur, Sebab, seandainya thayhou batuk-batuk atau masuk angin saja, tentu hamba tidak akan mendapatkan obat dan bukankah hamba akan menjadi setan berumur pendek" Ya, hamba akan menjadi si kura-kura yang pendek usianya." Thayhou tertawa terbahak-bahak .
"Bagus kalau kau menyadari hal itu!" katanya keras, Setelah itu tubuhnya berkelebat dan menghilang di balik gerombolan bunga-bunga yang lebat .
Dengan susah payah Siau Po bangkit untuk berdiri tegak, Saat itu dia sudah berhasil menenangkan hatinya, perlahan dia mengambil jalan memutar untuk sampai di jendela belakang kamarnya, tapi dia tidak sanggup melompati bahkan untuk sesaat dia harus mendekam di bawah jendela untuk mengatur pernafasannya, Setelah beristirahat sejenak, baru dia merayap naik untuk masuk lewat jendela .
"Kui toakokah itu?" terdengar Kiam Peng bertanya .
"Kalau bukan aku, siapa lagi?" sahut Siau Po dengan nada bentakan, Hal ini membuktikan hatinya sedang tidak senang .
"Kuncu menanya kau secara baik-baik, mengapa kau menjawabnya dengan begitu kasar?" tanya Pui Ie yang merasa tidak puas mendengar nada suara Siau Po .
"Iya..." sahut Siau Po, tapi baru sepatah kata saja, tubuhnya sudah terguling ke dalam kamar .
Dia tidak sanggup memegang kusen jendela untuk mempertahankan diri, Tenaganya sudah habis, nafasnya pun memburu .
Dia terkulai di atas lantai tanpa sanggup bergerak, bahkan duduk pun tidak bisa .