Halo!

Kaki Tiga Menjangan Chapter 95

Memuat...

Tapi akhirnya Kong Lian berhasil menguasai hatinya, Dia mengangkat tangannya kemudian menghajar sasaran kosong! Siau Po mengerti Dia menoleh kepada Ci Hian .

"Bagus juga!" kata Ci Hian sambil mengangguk "Tapi bagaimana dengan uangnya?" "Mudah!" kata Siau Po .

"Uang itu boleh saudara ambil dan dibagi rata, Aku takut sekali, Yang penting aku tidak terlibat dalam urusan ini!" Mendengar uang sebanyak enam ribu tail diserahkan kepada mereka, para siwi itu menjadi senang sekali, Berarti mereka masing-masing akan mendapatkan empat ratus tail apabila dibagi rata, Karena itu mereka segera mengambil keputusan, Mereka kembali ke dalam dan berbisik kepada tiga orang siwi yang dapat dipercaya penuh .

Ketiga siwi itu menganggukkan kepalanya mendengarkan bisikan pemimpinnya, Salah satu dari mereka segera berkata kepada tiga thay-kam tadi .

"Kalian adalah orang-orangnya thayhou, Karena itu kami tidak ingin memperpanjang urusan ini .

Kalian pergilah!" Bukan main senangnya hati ketiga thay-kam itu .

Mereka langsung berjalan keluar tanpa mengatakan apa-apa lagi .

sedangkan ketiga siwi tadi mengikuti dari belakang .

Begitu mereka berada di luar, segera terdengar suara jeritan yang menyayat hati dari ketiga thay-kam tersebut, kemudian disusul dengan teriakan salah seorang siwi tadi .

"Ada pembunuh gelap! Ada pembunuh gelap!" "Celaka! Penyerbu gelap sudah membunuh empat orang thay-kam!" teriak siwi lainnya .

Setelah itu, ketiga siwi tadi berlari ke dalam kamar sambil berteriak .

"Kui kongkong! Celaka! Ada orang jahat yang menyerbu lagi! Empat orang kongkong terbunuh!" "Sayang sekali!" kata Siau Po sambil menarik nafas panjang, "Cepat kalian tawan para penjahat itu! jangan sampai ada yang lolos!" "Salah seorang penyerbu telah berhasil kami bunuh!" teriak seorang siwi lainnya .

"Bagus." kata Siau Po, "Sekarang cepat kalian laporkan kepada siwi congkoan tentang kematian keempat kongkong itu!" "Baik!" sahut para siwi sambil menahan tawa, Mereka menganggap sandiwara mereka bagus sekali, sebaliknya Siau Po sendiri tidak dapat menahan rasa gelinya, dia tertawa cekikikan, Melihat hal itu, para siwi jadi ikut tertawa .

Kemudian dia memberi hormat seraya berkata .

"Kakak semua, aku ucapkan selamat kepada kalian yang telah mendapatkan hadiah, Nah, sampai jumpa besok!" Tanpa menunda waktu lagi, Siau Po segera kembali ke kamarnya, Tapi baru dia sampai di pintu, tiba-tiba dia mendengar suara dingin yang datangnya dari gerombolan pohon bunga .

"Siau kui cu, tindakanmu bagus sekali, ya?" Bukan main terkejutnya hati Siau Po, Dia mengenali suara orang itu sebagai suara ibu suri, Dia segera memutar tubuhnya untuk melarikan diri, Tapi baru kira-kira enam langkah, dia merasa bahu kirinya tercekal keras, tubuhnya gemetar Di samping tidak dapat bergerak, dia juga terpaksa membungkuk Namun pada saat itu juga, dia berusaha mencabut pisau belatinya, Sebuah pukulan yang keras langsung mengenai tangannya sehingga dia menjerit kesakitan .

"Eh, Siau Kui cu!" terdengar kembali suaranya Hong thayhou, Kali ini lebih menyerupai bisikan, "Kau masih sangat muda, tapi kau sudah pandai bekerja, Dengan mudah kau berhasil membunuh keempat orang thay-kam, malah kau menjatuhkan fitnah kepada diriku .

Berani-beraninya kau mempermainkan aku! Hm!" Siau Po takut setengah mati, Dia juga menyesal sekali sehingga dia memaki dirinya sendiri dalam hati .

"Siau Po, kau benar-benar kura-kura cilik! To-lol! Ingat, kalau kali ini kau tidak dapat meloloskan diri, mana namamu bukan Wi Siau Po lagi!" Tapi pada dasarnya dia memang cerdik sekali, Dalam keadaam terdesak, dia segera mengambil keputusannya .

Thayhou sangat membenci aku .

Percuma bila aku merengek memohon pengampunannya, Baiklah .

Aku akan bersikap keras, Aku harus bertaha terus sampai mendapat kesempatan untuk kabur Hm.. .

dia harus digertak!" Karena itu dia langsung berkata: "Thayhou, kalau sekarang kau ingin membunuh aku,sayang sekali sudah terlambat!" "Apanya yang patut disayangkan?" tanya thayhou heran .

"Kau hendak membunuh aku agar mulut ini bungkam," kata Siau Po .

"Sayang kau terlambat satu langkah .

Bukankah tadi kau sudah mendengar apa yang dikatakan oleh para siwi?" "Kau mengatakan aku telah mengirim empat orang kongkong yang tak punya guna untuk bersekongkol dengan kawanan para pemberontak dan mengajak mereka masuk ke dalam istana! Benar bukan! Untuk apa aku bersekongkol dengan para pemberontak itu?" "Mana aku tahu apa maksudmu?" kata Siau Po dengan berani, "Mungkin Sri Baginda bisa menduganya!" Thay-kam gadungan ini benar-benar sudah nekat .

Ibu suri merasa gusar sekali tapi dia masih bisa menguasai dirinya .

"Kalau sekarang aku menyerangmu dengan satu kali hantaman saja, kau akan mampus!" kata-nya .

"Tapi kalau benar demikian, peruntunganmu terlalu bagus!" Siau Po benar-benar berani .

"Kalau sekarang kau membunuh aku Siau Kui cu, besok seluruh istana akan tahu!" katanya, "Pasti setiap orang akan bertanya: "Kenapa Siau Kui cu bisa mati?" Dan jawabannya adalah: "Pasti thayhou yang membunuhnya!" Lalu ada lagi yang bertanya: "Mengapa thayhou harus membunuh Siau Kui cu?" Yang lain pun menyahut: "Karena Siau Kui cu telah mengetahui rahasia thayhou!" Lalu ada lagi pertanyaan "Rahasia apa yang telah diketahui oleh Siau Kui cu?" Aih! Bicara soal itu", ceritanya pasti panjang sekali .

Karena itu, mari! Mari masuk ke dalam kamarku, Nanti aku akan menjelaskan kepadamu !" Thayhou terdiam beberapa saat .

Dalam hatinya dia berkata: "Apa yang diucapkan bocah ini ada benarnya juga!" Hatinya mendongkol sekali .

Saking menahan emosinya, tangan wanita itu sampai gemetaran .

Lalu dia berkata, "Biar bagaimana pun, kau harus dibunuh! Apa artinya belasan siwi" Besok aku akan menyuruh Sui Tong membekuk mereka dan dihukum mati! Setelah itu, aku akan terbebas dari ancaman!" Mendengar kata-katanya, Siau Po tertawa terbahak-bahak .

"Kematianmu sudah di depan mata, Apa lagi yang kau tertawakan?" bentak ibu suri yang hatinya panas bukan main melihat lagak Siau Po .

Lagi-lagi Siau Po tertawa .

"Ah! Thayhou, kau hendak menyuruh Sui Tong membunuh para siwi itu?" Tawa Siau Po semakin keras .

"Dia.. .

dia... .

Ha.. .

Ha.. .

ha...!" "Kena.. .

pa dia?" tanya thayhou .

"Ha.. .

ha.. .

ha.. .

ha.,.!" Siau Po kembali tertawa pula, "Dia telah aku.,,." Tadinya Siau Po ingin mengatakan "dia telah aku bunuh," tapi tiba-tiba dia mendapat akal yang bagus .

Setelah tertawa sejenak, dia terus berdiam diri .

Thayhou heran Dia menatap bocah itu lekat-lekat .

"Apa yang kau lakukan pada dirinya?" tanyanya .

Lagi-lagi si thay-kam cilik yang cerdik ini tertawa .

"Dia telah aku tundukkan!" katanya, "Dia sekarang menurut sekali sehingga tidak sudi lagi mendengar kata-katamu!" Thayhou tertawa dingin Dia tidak percaya kata-kata Siau Po .

"Kau setan cilik! Sampai di mana kehebatanmu?" tanyanya dengan nada mengejek "Bagaimana mungkin kau bisa membuat Sui congkoan tidak sudi mendengar lagi katakataku?" Siau Po terus memutar lidahnya yang tajam .

"Aku adalah seorang thay-kam cilik, tentu dia tidak mungkin menurut padaku," katanya, "Tapi di sana ada seseorang lainnya yang dia takuti!" Thayhou terkejut .

"Dia.. .

dia..." katanya dengan suara bergetar "Dia takut kepada Raja?" "Kami semua adalah para budak, siapa yang tidak takut kepada Sri Baginda?" kata Siau Po .

"Hal itu tidak perlu diherankan, bukan?" Thayhou penasaran sehingga tanpa sadar dia jadi terlibat pembicaraan dengan si bocah cilik .

"Apa saja yang kau katakan kepada Sui Tong?" "Semuanya telah kukatakan kepada Sri Baginda..." sahut Siau Po .

"Semuanya telah kau katakan?" Tanpa sadar thayhou mengulangi ucapan bocah itu, Unluk sesaat dia berdiam diri, Sesaat kemudian baru dia bertanya lagi, "Di.. .

mana dia sekarang?" Yang di maksudkan nya tentu saja Sui Tong .

"Dia telah pergi jauh!" sahut Siau Po .

"Ya, dia telah pergi jauh sekali dan tidak akan kembali lagi! Thayhou, kalau kau hendak menemuinya, rasanya tidak begitu mudah !" Hati thayhou tercekat .

"Maksudmu, dia sudah meninggalkan istana ini?" "Tidak salah! Dia berkata kepadaku bahwa di takut kepada Sri Baginda dan dia juga takut kepadamu! Dia juga mengatakan bahwa sulit sekali hidup di antara dua orang yang terus menekannya, Dia khawatir suatu hari jiwanya akan melayang .

Karena itu, dia menganggap pergi jauh-jauh adalah jalan yang terbaik baginya!"

"Jadi dia sudah melarikan diri?" tanya thayhou "Benar! Eh, thayhou, bagaimana kau bisa tahu Apakah kau telah mendengar sendiri apa yang dikatakannya" Ya! Dia sudah pergi jauh, jauh sekali." "Hm!" Thayhou mendengus dingin, "Jadi pangkatnya pun tidak ia kehendaki lagi" Kemana tujuannya?" "Dia.,, dia.. .

pergi ke...." Baru berkata sampai disini, tiba-tiba sebuah ingatan melintas lagi di benak Siau Po .

Karena itu dia langsung melanjutkan kata-katanya .

"Katanya dia akan pergi ke.. .

entah apa Tay san.. .

Liok Tay.. .

Cit Tay.. .

Eh, bukan! Kalau tidak salah Pat Tay san." "Mungkin Ngo Tay san?" kata thayhou .

"Benar! Benar!" Tiba-tiba Siau Po berseru, "Memang benar gunung Ngo Tay san! Oh, thayhou, kau seperti dewa yang bisa tahu segala hal!" "Apa lagi yang dikatakannya?" tanya thayhou tanpa memperdulikan pujian orang .

Dia juga tidak sadar bahwa bocah itu sedang mempermainkannya .

"Dia tidak mengatakan apa-apa lagi," sahut Siau Po .

"Hanya.. .

hanya...." "Hanya apa?" tanya thayhou cepat .

"Dia hanya mengatakan bahwa dia mengerti perasaanku dan biar bagaimana dia akan melakukan sekuat kemampuan agar berhasil walaupun dia akan dihukum mati, dia akan melakukan nya!" "Apa yang kau pinta dia lakukan untukmu?" tanya thayhou .

"Ah! Tidak apa-apa, Sui congkoan berkata padaku bahwa baginya, tidak memangku jabatan bukanlah persoalan dan dia juga dapat melakukan perjalanan tanpa uang sepeser pun .

Toh, kepergiannya ini bukan untuk setengah atau satu tahun Karena itu, aku telah memberikan uang kertas kepadanya sebesar dua puluh ribu taiI...." "Banyak sekali uangmu!" sindir thayhou, "Dari mana kau mendapatkannya?" "Semua uang itu aku peroleh dari orang lain! sahut Siau Po .

"Aku mendapatkannya dari Kong Ci ong, So Ngo-tu tayjin, Di dalam Siangsian tong juga banyak orang yang sering menghadiahkan uang kepadaku!" Thayhou tahu jawabannya itu bukan bualan belaka .

Post a Comment