Halo!

Kaki Tiga Menjangan Chapter 94

Memuat...

"Mari kita minta Kui kongkong yang menentukan!" kata si thay-kam yang beruntung itu, Dia segera memutar tubuhnya dan saat itu juga dia menjadi tertegun .

Siau Po tidak ada lagi di antara mereka .

"Lekas cari dia! Lekas!" teriak thay-kam itu .

Tapi thay-kam yang tidak mendapatkan uang kertas tidak mau mengerti Dia masih mencekal baju depan orang itu .

Siau Po sudah lari sejauh belasan tombak, tapi dia masih mendengar suara pertengkaran di antara kedua orang, Diam-diam dia menertawakan dalam hati, Kemudian dia berpikir .

"Aku akan bersembunyi di sini sampai fajar menyingsing Aku akan menyingkir dari pintu samping .

Aku tidak akan kembali ke sini lagi!" Ketika itulah terdengar suara langkah kaki ramai mendatangi, disusul dengan suara percakapan .

"Malam ini datang pemberontak yang menyerbu, besok kita pasti mendapat teguran Mungkin juga ada yang kena hukuman," kata salah seorang di antaranya .

Siau Po mengenali mereka sebagai para pengawal istana, Lalu terdengar seorang yang lainnya berkata .

"Semoga besok Kui kongkong membantu kita berbicara beberapa patah kata di depan Sri Baginda...." Kemudian terdengar lagi suara siwi yang ketiga, "Kui kongkong masih muda sekali, tapi baik dan bijaksana, Sungguh sukar menemukan orang seperti dia!" Mendengar suara mereka, senang sekali hati Siau Po .

Segera dia keluar dari tempat persembunyiannya .

"Hu! Saudara-saudara sekalian! jangan bersuara keras-keras!" katanya .

Dua orang yang berjalan di depan segera mengangkat lenteranya tinggi-tinggi .

"Oh, Kui kongkong!" seru mereka perlahan Siau Po melihat belasan siwi yang tadi ada di luar kamarnya, Dia bahkan masih ingat nama-nama mereka .

"Tio toako!" katanya, "Di sana ada empat orang thay-kam yang bersekongkol dengan kawanan pemberontak yang menyerbu malam ini .

Lekas kalian bekuk mereka, pasti kalian bernyali besar sekali!" Kemudian dia menoleh kepada siwi lainnya, "Dan kau, Ong toako, Cio toako, kalian totok saja otot gagu mereka atau hajar rahang mereka agar tidak bisa berkaok-kaok, dengan demikian kalian tidak perlu mengejutkan Sri Baginda!" Sekalian siwi itu percaya penuh dengan ucapan Siau Po .

Mereka juga tidak perlu merasa khawatir karena antek-antek para penjahat itu hanya terdiri dari empat orang thay-kam .

Segera mereka menghentikan pembicaraan lentera juga dipadamkan Dengan mengendap-endap mereka menuju tempat yang ditunjuk oleh Siau Po .

Keempat thay-kam itu masih mencari-cari Siau Po .

Tegasnya dua orang yang mencari, sedangkan dua yang lainnya masih bertengkar Dalam sekejap mata keempat thay-kam itu sudah didekati dan dengan mudah berhasil dibekuk .

Di antara mereka ada yang tidak mengerti ilmu menotok, Karena itu mereka menghajar muka keempat thay-kam itu sehingga mereka tidak sanggup berteriak Suaranya hanya terdengar desahan saja .

"Bawa mereka ke kamar itu!" kata Siau Po seraya menunjuk sebuah kamar yang letaknya d samping, "Paksa mereka berkata sejujurnya!" Dia sendiri juga ikut masuk ke dalam kamar itu Bahkan dia duduk di tengah ruangan begitu lentera dinyatakan kembali .

Para pengawal itu menyuruh keempat thay-kam tersebut untuk bertekuk lutut, tetapi mereka membangkang karena menganggap mereka adalah orang orangnya ibu suri dan tidak pantas diperlakukan seperti itu, itulah sebabnya mereka kembali mendapat hajaran keras .

Para pengawal itu menampar meninju juga menendang serta memaksa mereka bertekuk lutut .

"Barusan kalian berempat kasak-kusuk, jika kalian mencurigakan Lagak kalian seperti pencuri dan terus bertengkar," kata Siau Po yang mulai dengan gayanya yang khas, "Kalian juga menyebu nyebut jumlah uang, Kalau tidak salah, seribu tahil milik si anu, dua ribu tail milik si ini! Mengapa kalian juga mengatakan bahwa kawan-kawan kalia dari luar itu tidak bagus peruntungannya karena ada beberapa yang terluka dan mati di tangan para si anjing?" Mendengar kata-kata Siau Po, para siwi itu menjadi marah sekali, Lagi-lagi mereka mengirimkan tendangan dan tinju kepada keempat thay-kam tersebut .

Para thay-kam itu berteriak-teriak penasaran tapi suara mereka tidak jelas kedengaran karena rahang mereka sulit digerakkan "Kalian tahu, aku telah menguntit kalian!" kata Siau Po kembali, Dia terpaksa memfitnah untuk membela dirinya sendiri Dia juga merasa tidak ada salahnya bersikap keras terhadap orang-orangnya ibu suri yang ingin mencelakakan dirinya .

"Lekas bicara! Aku dengar tadi kau mengatakan: "Akulah yang menunjukkan jalan untuk mereka dan uang ini adalah pemberian mereka, karena itu mana boleh aku membagikannya kepadamu?" Sembari berbicara, Siau Po menunjuk pada kedua lembar uang kertas yang diperebutkan tadi, Lalu dia menuding kepada thay-kam yang tidak berhasil mendapatkan apa-apa .

"Bukankah tadi kau mengatakan bahwa perbuatan kalian ini dapat membuat batok kepala kalian pindah rumah dan dosa yang harus dipikul sama beratnya sehingga uang itu harus dibagi sama rata" Kau juga mengatakan biar bagaimana pun kau harus mendapat bagian?" "Mereka menjadi musuh dalam selimut, dosa mereka memang besar sekali, Ada kemungkinan batok kepala mereka memang bisa pindah rumah!" kata beberapa siwi memberikan pendapatnya .

"Ter-bukti mereka sedang membagi hasil, mari kita geledah pakaian mereka!" Kata-kata itu segera dibuktikan Ternyata selain kedua lembar uang kertas yang sedang diperebutkan pada kedua thay-kam ditemukan dua lembar uang kertas lainnya, Karena itu, para siwi itu jadi gaduh .

Mereka tahu gaji seorang thay-kam sebulannya hanya dua sampai tiga tail perak .

Tapi sekarang mereka mempunyai uang kertas senilai seribu dan dua ribu tail!" "Bagus!" kata seorang siwi, "Para penyerbu itu pasti memberikan uang ini sebagai hadiah mereka yang telah menjadi pemasuk atau penunjuk jalan, Sialnya mereka juga mengejek kita sebagai siwi anjing! Sekarang biar mereka mendapatkan bagian masingmasing!" Saking sengitnya para siwi itu menendang dengan hebat, salah seorang thay-kam langsung terguling di atas tanah dan nyawanya pun melayang seketika .

"Jangan sembrono!" kata seorang siwi lainnya, "Mereka harus diperiksa dengan seksama!" Rupanya siwi yang satu ini lebih sabar wataknya .

Dia malah menolong seorang thaykam untuk bangkit dan mengurut-urut rahangnya agar dapat berbicara .

"Ayo katakan!" bentak Siau Po .

"Siapa yang menyuruh kalian melakukan perbuatan nekat ini" Nyalimu sungguh besar sekali .

Cepat katakan!" "Aku merasa penasaran!" teriak thay-kam itu .

"Kami adalah thay-kam thayhou dan kami sedang menjalankan perintah.." "Ngaco!" bentak Siau Po sambil menerjang ke depan, Dengan tangan kirinya dia membekap mulut thay-kam itu, sedangkan tangan kanannya menghajar batok kepala orang sehingga thay-kam itu jatuh tidak sadarkan diri, Kemudian dia berkata kepada para siwi: "Saudara sekalian, dia menyebut-nyebut nama thayhou, Hal ini bisa membahayakan kita!" Para siwi itu terkejut setengah mati .

Untuk sesaat mereka mempunyai pikiran yang sama .

"Mungkinkah mereka sedang menjalankan perintah thayhou untuk menjadi penunjuk jalan bagi para pemberontak itu?" Para siwi itu mengetahui bahwa Sri Baginda bukan putra kandung thayhou yang sekarang, ibu suri juga sangat cerdik .

Karena itu, mereka langsung menduga bahwa ada kemungkinan Raja telah melakukan suatu perbuatan yang menyalahi thayhou sehingga ibu tirinya itu mengambil tindakan sedemikian rupa .

Mereka juga sadar dalam istana segala hal apa pun dapat terjadi Karena itu, hati mereka menjadi was-was .

Siau Po melanjutkan pemeriksaannya .

"Benarkah kalian sedang menjalankan titah thayhou?" tanyanya pada salah seorang thay-kam .

Urusan ini hebat sekali, Kalian tidak boleh sembarangan bicara! Benarkah kamu dititahkan oleh thayhou?" Thay-kam itu tidak dapat berbicara, Karena itu dia hanya menganggukkan kepalanya .

"Apakah uang ini juga pemberian ibu suri?" tanyanya kembali .

Thay-kam itu menggelengkan kepalanya, Siau Po tahu apa yang harus dia katakan, "Kalian sedang menjalankan perintah Karena itu apa yang kalian lakukan bukan keinginan kalian sendiri, bukan?" demikian dia bertanya .

Thay-kam itu kembali menganggukkan kepalanya, "Sekarang katakan! Kalian ingin hidup atau mati?" Tentu saja pertanyaan itu menyulitkan kedua thay-kam tersebut Untuk sesaat mereka bingung, Yang pingsan tadi juga sudah sadar Dia menganggukkan kepalanya sedangkan yang lain menggeleng, Lalu ketiga-tiganya mengangguk serentak dan akhirnya menggeleng bersama-sama pula .

"Jadi kalian mau mati?" tanya Siau Po menegaskan .

Ketiga thay-kam itu menggelengkan kepalanya, "Oh, jadi kalian ingin hidup?" tanya Siau Po .

Mereka segera menganggukkan kepala, Siau Po segera menarik tangan dua orang siwi yang menjadi pemimpin lalu mengajaknya keluar dari kamar itu .

Di sana dengan suara lirih dia berkata kepada kedua orang itu .

"Tio toako, Cio toako, kepala kita juga bisa pindah rumah!" Kedua siwi itu, yakni Tio Kong-lian dan Cio Ci-hian terkejut setengah mati mendengar perkataannya .

"Lalu.. .

apa yang harus kita lakukan?" tanya mereka gugup, "Aku juga bingung!" kata Siau Po .

"Kakak berdua, bagaimana pendapat kalian?" "Celakalah kalau urusan ini sampai tersiar Aku pikir, sebaiknya kita cari akal untuk menutupinya.,." sahut Tio Kong-lian .

"Benar begitu," timpal Cio Qi-hian .

"Bagaimana kalau mereka bertiga dibebaskan dan kita pura-pura tidak tahu saja?" "Tapi, bagaimana kalau mereka berniat mencelakai kita?" tanya Tio Kong-Iian .

"Salah satu rekan mereka telah kita bunuh...." "Memang ada baiknya kalau mereka dibebaskan tapi khawatirnya mereka akan mengadu kepada thayhou," kata Siau Po .

"Bukankah hal itu berbahaya sekali" Apa yang harus kita lakukan agar mereka tidak berani mengadu" Ada bagusnya apabila thayhou langsung membunuh mereka saja guna membungkamkan mereka, Tapi bagaimana kalau thayhou marah dan urusan diperpanjang" Tamatlah riwayat kita!" Tubuh kedua siwi itu menggigil saking takutnya .

Post a Comment