"Aku justru khawatir tidak sempat bertemu dengan Sri Baginda lagi .
Siapa sangka Sri Baginda sendiri yang mencari aku .
Apalagi baru saja timbul keonaran, tentu merupakan saat yang tepat bila aku bertemu dengannya sekarang, Tapi, untuk sementara terpaksa aku tidak dapat membawa tubuh Sui Tong ini," pikirnya dalam hati .
"lya, hambamu sudah mengerti!" sahut Siau Po cepat "Hambamu hendak mengganti pakaian terlebih dahulu, sebentar lagi hamba akan menghadap." Sembari berbicara, Siau Po mendorong tubuh Sui Tong ke kolong tempat tidur, Kemudian dia menggerak-gerakkan tangannya kepada kedua nona di atas tempat tidur agar mereka jangan bangun, Ketika dia akan meninggalkan kamarnya, tiba-tiba dia berpikir: "Nona Pui itu tidak dapat dipercaya sepenuhnya, Celaka kalau dia mencuri harta bendaku..." Karena itulah dia lalu mengambil kedua kitab serta semua uangnya dan disimpan dalam pakaiannya, Setelah memadamkan lilin, baru dia membuka pintu dan berjalan keluar .
Di luar pintu berdiri menunggu empat orang thay-kam yang semuanya tidak ada yang dikenalnya, Diam-diam dia menjadi heran, Thay-kam yang menjadi pemimpin segera tertawa dan berkata .
"Kui kongkong, tengah malam buta seperti ini Sri Baginda masih memanggilmu juga, Hal ini memperlihatkan bagaimana sayangnya junjungan kita kepada Kui kongkong!" Siau Po bersikap tenang .
"lstana telah diserbu orang .
Karena itu, aku sendiri ingin secepatnya bertemu dengan Sri Baginda untuk menanyakan keselamatannya serta menghiburnya, Tapi, justru karena belum ada panggilan, aku tidak berani lancang menjenguk beliau di tengah malam...." "Kau begitu setia terhadap Raja, tidak heran Sri Baginda menyayangimu..." kata thay-kam tadi .
"Sekarang, mari kau ikut dengan kami." Dia memutar tubuhnya dan melangkahkan kaki untuk berjalan di depan Siau Po .
Siau Po heran sekali, Diam-diam dia berpikir di dalam hati, "Aku adalah kepala para thay-kam di Siang Sian tong, berarti kedudukanku lebih tinggi daripada kedudukanmu Mengapa kau malah jalan di depanku" Usia thay-kam ini sudah tidak muda lagi .
Tidak mungkin kalau dia tidak tahu aturan." Dengan membawa pikiran demikian, dia segera bertanya: "Kongkong, siapakah nama dan she kongkong yang mulia" Rasanya kita jarang bertemu..." Thay-kam itu tertawa dan berkata .
"Kongkong menjadi orang kesayangan Sri Baginda, sebaliknya kami hanya para thay-kam biasa, Sudah tentu kongkong tidak kenal dengan kami." "Tapi," kata Siau Po .
"Sri Baginda menitahkan kalian memanggilku, berarti kalian bukan thay-kam biasa!" Ketika berbicara, lagi-lagi Siau Po dilanda keheranan Thay-kam yang menjemputnya itu mengajaknya ke arah timur, sedangkan kamar raja letaknya di Tenggara .
"Eh, eh! Kau salah jalan!" tegur Siau Po sembari tertawa, Dia memang merasa heran, tapi tidak curiga .
Dia malah menertawakan thay-kam itu begitu tolol sehingga dimana letak kamar raja pun lupa, "Tidak salah!" sahut thay-kam itu .
"Sri Baginda sedang menjenguk thayhou, Agar kita tidak mengganggunya, kita langsung saja menuju kamar ibu suri!" Mendengar thay-kam itu menyebut ibu suri, Siau Po terkejut setengah mati, Mendadak dia menghentikan langkah kakinya, justru karena dia berhenti, ketiga thaykam yang mengiringinya langsung melompat dengan posisi mengurungnya, Siau Po tambah tercekat hatinya .
"Celaka!" pikirnya, "lni pasti bukan panggilan dari Sri Baginda, Tentu thayhou yang menitahkan mereka untuk membekukku!" Dia pun bingung, Dia tidak tahu apakah keempat thay-kam itu mengerti ilmu silat atau tidak, Tapi satu lawan empat saja, Siau Po sudah sangsi .
Lagipula, bila sampai terjadi pertempuran, pasti para siwi akan bermunculan dan pada saat itu semakin kecil kesempatannya untuk melarikan diri .
Meskipun hatinya tercekat, tapi pada dasarnya Siau Po memang cerdas sekali, Dengan cepat dia berhasil menguasai dirinya, Setelah tertegun sejenak, dia segera tertawa dan berkata .
"Ke kamarnya thayhou" Bagus! Setiap kali ke kamar thayhou, aku selalu diberinya hadiah, Kalau bukan uang emas, sedikitnya kembang gula serta kue yang lezat Dalam hal memperlakukan para hambanya, thayhou memang yang paling baik hatinya .
Dia suka mengatakan aku sebagai budak yang mulutnya paling rakus!" Sembari berkata, Siau Po melangkahkan kakinya menuju arah kamar tidur ibu suri .
Melihat keadaan itu, keempat thay-kam yang mengiringinya tidak mengatakan apaapa lagi, Mereka berjalan kembali seperti posisi semula, Satu di depan, tiga lagi mengintil di belakang .
Siau Po berkata kembali .
"Belum lama ini ketika aku menghadap thayhou, rejekiku bagus sekali, Aku dipersen uang emas sebanyak lima ribu tail dan uang perak dua laksa tail, Tenagaku masih kecil, mana kuat aku mengangkat uang sebanyak itu .
Tapi thayhou memang sangat baik, dia mengatakan, kalau aku tidak kuat mengangkatnya sekaligus, aku boleh membaginya beberapa kali angkat Kemudian thayhou juga bertanya kepadaku: "Eh, Siau Kui cu, uang sebanyak itu akan kau gunakan untuk apa?" Aku pun menjawab: "Harap thayhou ketahui, hambamu gemar mengikat persahabatan dengan para thay-kam di istana, Mana saja yang baik, pasti hambamu akan menghadiahkan uang agar dapat mereka gunakan untuk bersenang-senang!" Sembari berbicara, sebetulnya otak Siau Po juga bekerja mencari akal agar mendapat kesempatan untuk meloloskan diri, Kata-katanya membuat mereka jadi ragu .
"Mana mungkin thayhou memberi persen dalam jumlah yang demikian banyak?" kata salah seorang thay-kam yang mengiringinya dari belakang .
"Apa" Kau tidak percaya?" tanya Siau Po .
"Nih, kau lihat sendiri!" Siau Po merogo kantongnya serta mengeluarkan uangnya, Ada uang emas, ada juga uang perak, Nilainya paling kecil lima ratus tail, Melihat uang sebanyak itu, keempat thay-kam itu jadi terpaku! Siau Po memperhatikan mereka lekat-lekat Dia menarik empat lembar uang kertasnya kemudian tersenyum .
"Sri Baginda dan thayhou tidak henti-hentinya menghadiahkan uang kepadaku, Mana mungkin aku bisa menghabiskannya" Di sini ada empat lembar uang kertas, ada yang nilainya seribu tail, ada juga yang nilainya dua ribu tail, sekarang coba kalian uji peruntungan saudara sekalian! Masing-masing menarik sehelai!" Keempat thay-kam itu merasa heran, Untuk sesaat mereka jadi bimbang .
"Walaupun kau seorang dermawan, tidak mungkin kau menghadiahkan uang sebanyak itu!" kata para thay-kam itu .
Siau Po tersenyum "Uangku banyak sekali, kemana aku harus menghamburkannya" Bahkan kadangkala aku di-repotkan oleh uang-uang itu .
Sekarang aku akan menghadap Sri Baginda dan thayhou, entah berapa banyak lagi hadiah yang akan kuterima!" Dia mengangkat uangnya tinggi dan mengibar-ngibarkannya .
Seorang thay-kam menatapnya dengan tajam, Kemudian dia tertawa dan bertanya .
"Kui kongkong, benarkah kau hendak memberi persen kepada kami" Apakah kau tidak sedang bermain-main?" "Siapa yang main-main?" kata Siau Po .
"Dari semua saudara-saudaraku di Siang sian tong, siapa yang belum pernah menerima hadiah sebanyak delapan ratus atau seribu tail dariku" Nah, saudara-saudara sekalian, mari! Cobalah peruntungan kalian dengan masing-masing menarik selembar uang ini .
Ayo, siapa yang mengundi terlebih dahulu?" Salah seorang thay-kam tertawa, "Aku!" katanya .
"Tunggu sebentar!" kata Siau Po kembali "Kalian harus melihat dulu biar tegas!" Lalu keempat lembar uang kertas itu didekatkan pada lentera, Keempat thay-kam itu mengerumuni untuk memperhatikan Ternyata memang benar, uang kertas itu bernilai seribu serta dua ribu tail, Hati mereka sampai berdenyutan melihatnya .
Watak para thay-kam memang aneh .
Mereka tidak mempunyai anak isteri .
Juga tidak dapat menjabat pangkat yang tinggi, tapi mereka selalu tergila-gila akan uang, Mungkin harta benda merupakan satusatunya hiburan bagi mereka dalam dunia, Meskipun tinggal dalam istana, gaji seorang thay-kam sangat kecil, belum pernah mereka melihat uang yang nilainya sampai ribuan tail .
Sekarang, melihat uang kertas di tangan Siau Po, iman mereka menjadi goyah .
Siau Po mengibas-ngibaskan uang kertasnya, "Nah, saudara-saudara, Saudara inilah yang akan mencoba peruntungannya terlebih dahulu!" katanya pada thay-kam yang mengajukan dirinya tadi .
Thay-kam itu segera mengulurkan sebelah tangannya, Siau Po tidak menunggu sampai tangan itu berhasil menyentuh uang kertasnya, Secara tiba-tiba dia mengendorkan genggamannya sehingga uang-uang kertas itu terlepas dan berterbangan terbawa angin, Lalu dia sengaja berseru .
"Ah! Kenapa kau tidak bertindak cepat dia mencekalnya erat-erat" Lekas, lekas rebut kembali! Siapa yang dapat, dia yang berhak memilikinya!" Keempat thay-kam itu adalah orang-orangnya ibu suri, Mereka mendapat perintah menyusul Sui Tong, Tugas mereka ialah memanggil Siau Po atas nama Sri Baginda, Kalau thay-kam cilik itu membangkang, mereka harus membekuknya .
Ibu suri melakukan hal ini karena merasa khawatir Meskipun Sui Tong berkepandaian tinggi, tapi takutnya dia kalah cerdas dengan Siau Po .
Dia sendiri pernah ditusuk oleh Siau Po sehingga tangannya terluka parah .
Keempat orang itu tidak mendapat perintah untuk membunuh bocah cilik itu, karenanya mereka hanya bersikap mengurung .
Tapi sekarang mereka disodori uang sebanyak ribuan tail, sehingga mereka lupa akan tugas yang sedang dijalankan Mereka juga tidak curiga, karena si thay-kam cilik yang seharusnya mereka bekuk, tidak mengadakan perlawanan sama sekali .
Karena itu pula, melihat uang kertas yang berterbangan mereka segera berlarian mengejarnya .
"Lekas! Lekas!" seru Siau Po menambah semangat mereka, Namun, mulutnya berteriak, kaki-nyapun digerakkan juga .
Dia berlari meninggalkan tempat itu dan masuk dari sebuah gunung buatan yang telah ia kenal baik situasinya .
Memang dari tadi dia sudah memikirkan jalan untuk menyelamatkan diri, di dalam taman itu banyak gunung buatan, banyak juga gua buatan yang berliku-liku, Siapa pun yang lari bersembunyi di tempat itu, tentu tidak mudah ditemukan .
Dari keempat thay-kam itu, ada satu yang berhasil mendapatkan dua lembar uang kertas, salah satunya malah tidak mendapatkan apa-apa, karena itu dia meminta bagian pada temannya yang mendapat dua lembar, Tapi permintaannya sudah tentu ditolak sehingga timbullah pertengkaran di antara mereka .
"Bukankah tadi Kui kongkong telah mengatakan bahwa siapa yang mendapatkan berhak memilikinya?" kata thay-kam yang beruntung itu, "Maka kedua lembar uang kertas ini adalah milikku!" "Tapi tadi juga sudah dijelaskan bahwa setiap orang mendapat satu helai!" kata kawannya berkeras, "Kau bagi selembar kepadaku Cukup yang seribu tail saja!" "Apa! Seribu tail?" bentak thay-kam yang beruntung itu, "Enak saja! Satu tail pun tidak akan kuberikan!" Kawan itu menjadi panas mendengarnya, dia segera menjambak dada rekannya .
"Kau mau memberikan atau tidak?" tanyanya dengan sikap mengancam .