Melihat bocah itu tercebur, Sui Tong tertawa terbahak-bahak, Tangannya diulurkan kembali untuk mencekal bocah yang hendak melarikan diri itu, tapi dia hanya berhasil mencengkeram batang leher Siau Po .
Di dalam gentong air, Siau Po mengerutkan tubuhnya, Namun gentong itu memang tidak terlalu dalam, Sesaat kemudian tangan Sui Tong sudah berhasil mencekiknya kemudian dia diangkat ke atas dalam keadaan basah kuyup .
Siau Po masih mencoba melawan, Ketika di dalam gentong, dia menyedot air cukup banyak dan sisanya masih dibiarkan berkumur dalam mulut Setelah kena dicekal, wajahnya berhadapan dengan wajah Sui Tong, Dia menyemburkan air itu sekeraskerasnya ke arah matanya! Sui Tong terkejut setengah mati .
Dia juga gelagapan karena air masuk ke dalam mata, hidung dan juga mulutnya! Dalam waktu yang bersamaan, Siau Po menerjang tubuh orang itu, tangan kirinya meluncur ke leher Sui Tong untuk dipelintir .
Sui congkoan terperanjat Dia berseru tertahan, tubuhnya menggidik beberapa kali, Lambat laun cekalan tangannya jadi kendor, kedua matanya mendelik dan wajahnya menyiratkan rasa nyeri .
sedangkan dari mulutnya meluncur kata-kata atau lebih tepat gumaman yang tidak jelas .
Hal ini disebabkan oleh pisau mustika Siau Po yang telah menancap di tubuh Sui Tong ketika dia menerjang ke depan, Dan tidak kepalang tanggung, Begitu berhasil menusuk dada lawannya, Siau Po segera menghentakkan pisaunya ke bawah sampai terkoyak ke bagian perut .
Hal ini pula yang menyebabkan Sui Tong tidak berdaya, Dia tidak menyadari dari mana datangnya bokongan itu, juga tidak sanggup mempertahankan diri terlebih lama, Darah menyembur dengan deras dari bekas lukanya, tubuhnya terjengkang ke belakang dan nyawanya pun melayang! Dapat dikatakan bahwa dia mati penasaran! "Hm!" Siau Po mendengus dingin, Setelah itu dia mencabut pisau belatinya .
Meskipun kepandaian Sui Tong sangat tinggi namun sayangnya kecerdasannya masih kalah dengan Siau Po .
Karena itulah, dengan akal yang licik, bocah kita sanggup membunuhnya .
Selama Siau Po melompat ke dalam kamar dan akhirnya tercekal oleh siwi yang kemudian mati itu .
Kiam Peng dan Pui Ie dapat melihat jelas dari balik kelambu .
Hanya saja mereka tidak tahu bagaimana caranya Siau Po membinasakan orang itu, Karenanya mereka menjadi heran .
Siau Po sendiri menjadi gugup setelah melakukan perbuatan itu, Untuk sesaat dia tidak sanggup mengatakan apa-apa .
Ketika dia membuka mulut akhirnya, suaranya terdengar tidak jelas .
"A...ku.. .
a.. .
ku...." "Terima kasih kepada Langit dan Bumi .
Akhirnya kau berhasil juga membunuh orang itu!" kata Kiam Peng .
"Sui Tong ini mempunyai julukan Tian-Ciang Bu tek (Tangan besi tanpa lawan)." Pui Ie turut memberikan keterangan "Tadi dia sudah membinasakan tiga orang anggota Bhok onghu, perbuatanmu berarti telah membalaskan sakit hati mereka bertiga .
Bagus! Bagus?" Dengan cepat Siau Po berhasil menenteramkan hatinya .
"Dia dijuluki Tangan besi tanpa lawan, tapi dia tidak sanggup berhadapan dengan aku, Wi Siau Po!" katanya senang, Rasa bangga membuatnya jadi sombong .
"Akulah jago silat nomor satu yang lain dari umumnya!" Selesai berkata, Siau Po memeriksa kantong Sui Tong dan akhirnya dia berhasil menarik sebuah buku kecil yang penuh dengan huruf-huruf kecil .
juga didapatkan beberapa helai surat, Tapi karena dia buta huruf, dia meletakkan semuanya di samping, Ketika dia memeriksa lagi, tangannya menyentuh sesuatu yang agak keras di pinggang korban .
Dengan pisaunya dia merobek jubah orang itu, akhirnya dia menemukan sebuah bungkusan yang dipak rapi dengan kain minyak .
"Entah mustika apa yang ada di dalamnya, Penyimpanannya saja demikian sempurna," pikirnya dalam hati .
Kembali dia menggunakan pisaunya untuk memutuskan tali pengikat bungkusan tersebut setelah dibukanya, dia mendapatkan sejilid kitab Si Cap Ji cin-keng yang ukurannya dan bentuknya sama dengan yang pernah ia lihat sebelumnya .
"Ah!" serunya girang, Lekas-lekas ia mengeluarkan bukunya yang sama, Untung saja tidak ikut basah karena dirinya tercebur ke dalam gentong air tadi, Diletakkannya kedua kitab itu secara berdampingan .Ternyata tidak ada bedanya .
"Pasti ada sesuatu yang aneh dalam kitab ini," pikirnya kemudian "Sayangnya aku buta huruf, Kalau aku meminta penjelasan dari kedua nona ini, tentu mereka mengerti Tapi mereka pasti jadi tidak memandang sebelah mata terhadapku!" Setelah berpikiran demikian, Siau Po membatalkan niatnya dan menyimpan kedua jilid kitab tersebut di dalam lacinya .
"Bagaimana sekarang?" terdengar Kiam Peng bertanya, "Kau sudah membunuh orang ini, pasti sebentar lagi ada orang yang menyusulnya kemari!" Pikiran Siau Po bekerja dengan cepat, Tadi thayhou sendiri datang kemari untuk membunuhku Hal ini pasti disebabkan rahasianya yang telah diketahui olehku dan dia khawatir aku akan membocorkannya .
Setelah gagal, dia mengirim Sui Tong melanjutkan keinginannya yang tidak kesampaian perempuan tua itu sungguh lihay! Bagaimana dia mendapat akal menuduhku sebagai konconya para pemberontak yang menyerbu istana malam ini" Bukankah itu fitnahan yang sadis" Biar bagaimana, aku harus mendahuluinya turun tangan! Tindakan inilah yang paling tepat! Aku harus menghadap Sri Baginda selekasnya untuk memberikan penjelasan .
Begitu fajar menyingsing, aku harus meninggalkan tempat ini dan tidak akan kembali lagi untuk selama-lamanya!" Setelah berpikir demikian, Siau Po langsung mengambil keputusan Dia berkata kepada Pui Ie .
"Aku harus mengarang cerita bahwa Sui Tong telah bersekongkol dengan pihak Bhok onghu kalian Maka itu, nona Pui... .
Tolong kau jelaskan apa maksud kalian yang sebenarnya menyerbu istana malam ini?" Siau Po menatap si nona cantik lekat-lekat .
"Karena kami sudah menganggap kau seperti orang sendiri, rasanya tidak apa-apa kalau kami bicara terus terang kepadamu," sahut nona Pui Ie .
"Kami menyamar sebagai orang-orangnya Go Eng-him, putera dari Go Sam-kui .
penyerbuan kami kemari bermaksud melakukan pembunuhan gelap terhadap Raja .
Kami pikir, syukur kalau kami berhasil .
Andaikata tidak sekalipun, kami bisa menimpakan kesalahan ini kepada pihak Go Sam-kui, Bahkan apabila Sri Baginda gusar, ada kemungkinan Go Sam-kui sekeluarga akan dihukum mati!" Siau Po menarik nafas panjang, Hatinya lega mendengar keterangan Nona Pui itu .
"Bagus, bagus!" katanya memuji "Tapi, dengan bukti apa kalian memfitnah Go Samkui?" "Sengaja kami meninggalkan tanda di baju-baju kami," sahut Pui Ie .
"Tanda itu akan memberikan bukti bahwa kami orang-orang dari pihak Peng Si ong .
Beberapa senjata kami juga sengaja diukir huruf "Tay Beng Sanhay kwan hu congpeng" .
Siau Po tertawa, Sebelum berpihak pada kerajaan Ceng, Go Sam-kui memang menjabat sebagai congpeng di Sanhay kwan pada masa kerajaan dinasti Beng .
"Akal itu bagus sekali!" "Ketika kami merencanakan penyerbutan ke istana ini, kami sudah berpikir bahwa ada kemungkinan beberapa di antara orang-orang kami yang akan tertawan atau terluka sehingga tidak sempat melarikan diri Tapi, demi bangsa dan negara, kami siap mengorbankan diri! Kami sudah menerka, apabila ada orang kami yang tertangkap, tanda-tanda itu pasti ditemukan Mulanya kami pasti tidak mau mengaku .
Setelah disiksa beberapa hari, barulah kami menyerah dan menyatakan bahwa kamilah orangorang yang dikirim oleh Peng Si ong untuk membunuh Raja .
Begitu masuk ke dalam istana, kami melemparkan beberapa senjata dengan tanda khusus itu secara sembarangan Maksud kami, apabila kami beruntung bisa lolos semuanya, bukti itu toh sudah tertinggal." Nona Pui berbicara dengan serius, nafasnya sampai memburu saking bersemangatnya .
wajahnya sampai bersemu dadu .
"Jadi kedatangan kalian bukan untuk menolong Siau kuncu?" tanya Siau Po kembali .
"Bukan!" sahut Pui Ie .
"Kami toh bukan dewa." Bagaimana kami bisa tahu Siau kuncu ada di dalam istana?" "Apakah kau pun membawa senjata yang telah diberi tanda bukti itu?" tanya Siau Po .
"Ada!" sahut Pui Ie yang segera menyusupkan tangannya ke dalam selimut dan mengeluarkan sebatang gotok .
Karena tenaganya sudah lemah sekali, dia tidak sanggup mengangkat golok itu tinggi-tinggi .
Siau Po tertawa melihatnya .
"Untung aku tidak tidur di sampingmu, kalau tidak, tentu mudah bagimu untuk menikam aku sampai mati!" Wajah nona itu menjadi merah padam karena jengahnya .
"Fui!" serunya dengan mata mendelik Siau Po tersenyum Dia menerima golok kecil itu kemudian disembunyikan di balik pakaian Sui Tong .
"Aku akan memberikan laporan kepada Sri Baginda, Aku akan mengatakan bahwa Sui Tong adalah anteknya para penyerbu malam ini .
Bukankah senjata tadi akan menjadi suatu bukti?" Tapi Pui Ie menggelengkan kepalanya, "Sebetulnya huruf apakah yang terukir di golok-golok itu?" tanya Siau Po .
Dia merasa dirinya toh buta huruf, buat apa dia melihat sendiri huruf-huruf itu .
"Tadi aku toh sudah mengatakan bahwa bunyi-nya Tay Beng Sanhay kwan hu congpeng .
sedangkan Sui Tong adalah orang Boan, tidak mungkin dia menghamba pada seorang congpeng dari dinasti Beng!" "lya, benar juga yang kau katakan," kata Siau Po .
Cepat-cepat dia mengambil kembali golok kecil yang diselipkan dalam pakaian Sui Tong, "Sekarang barang apa yang harus kita masukkan ke dalam pakaian orang ini?" tanyanya kemudian .
Tapi sebelum Kiam Peng atau Pui Ie sempat menjawab, sebuah ingatan sudah melintas di benaknya .
"Oh, ya! Ada!" Siau Po segera mengeluarkan barang-barang hadiah Go Eng-him, yakni dua renceng mutiara, sepasang ayam-ayaman dari batu kumala dan beberapa helai uang kertas, semuanya dia masukkan ke dalam pakaian Sui Tong, Dia merasa barangbarang itu akan menjadi bukti yang kuat sekali, terutama uang kertasnya .
"Nah, Go sicu," kata Siau Po dalam hatinya, "Lohu harus meninggalkan tempat ini .
Yang lainnya terserah padamu, Maafkan tindakan lohu ini." Kemudian Siau Po mengangkat tubuh itu untuk diletakkan dalam taman, namun belum sempat dia membuka pintu, tiba-tiba telinganya mendengar suara langkah kaki mendatangi ia terkejut sekali, Dengan cepat dan berhati-hati, dia meletakkan tubuh itu kembali .
Setelah itu dia memasang telinganya .
Dari luar kamar terdengar seseorang berseru .
"Sri Baginda menitahkan agar Siau Kui cu datang melayaninya!" Senang sekali hati Siau Po mendengarnya .