Halo!

Kaki Tiga Menjangan Chapter 91

Memuat...

Setelah itu baru dia berjalan menuju pintu, Siau Po menenteramkan hatinya agar dia tampak tenang, kemudian baru dia membuka pintu .

Di depan pintu berdiri seorang siwi yang tubuhnya tinggi besar, Kepala Siau Po paling-paling sampai dadanya saja .

Orang itu, Hu congkoan Sui Tong, segera menjura ketika melihat Siau Po .

"Maaf, kongkong," katanya, "Aku telah mengganggu kongkong!" "Tidak apa-apa!" sahut Siau Po sambil mengangkat wajahnya untuk memperhatikan orang di depannya, Dia melihat seraut wajah yang tidak menyiratkan mimik perasaan apa-apa .

Wajah itu begitu kaku, sehingga orang sulit menerka apa yang dipikirkannya .

"Sui congkoan, ada keperluan apakah?" tanyanya dengan sikap wajar, Dia sengaja tidak mengundang orang itu masuk ke dalam kamarnya karena khawatir congkoan itu akan curiga dan memergoki Kiam Peng serta Pui Ie .

"Aku yang rendah baru saja menerima perintah dari ibu suri," katanya, "Menurut surat titah yang diturunkan ibu suri itu, kawanan pemberontak yang menyerbu istana malam ini berhasil masuk karena ajakan Kui kongkong!" Mendengar ucapan "titah ibu suri," Siau Po sudah terkejut setengah mati, inilah pertanda buruk, Apalagi mendengar tuduhan yang dijatuhkan pada dirinya .

pikirannya bekerja dengan cepat Berkat kecerdasannya dia segera mendapat akal .

Pertama-tama dia menunjukkan mimik keheranan "Aneh sekali! Aku baru saja menghadap Sri Baginda untuk menanyakan keselamatannya, Di sana aku mendengar beliau berkata: "Ah! Sungguh besar nyali si budak Sui Tong, Baru pulang ke istana, dia sudah.. .

hm!" Mendengar keterangan itu, Sui Tong terkejut setengah mati .

Untuk sesaat dia berdiri terpaku, Dia justru menerima titah ibu suri untuk membekuk thay-kam cilik ini sebab menurut ibu suri, dia telah membawa kawanan pemberontak menyelundup ke dalam istana .

Sekarang mendengar kata-kata Siau Po, ia percaya sekali, sebab dia tahu bocah di hadapannya ini merupakan thay-kam cilik kesayangan raja .

"Apakah Sri Baginda ada mengatakan hal lainnya?" tanya Sui Tong seakan melupakan tugasnya sendiri, sebenarnya ibu suri malah mengatakan kalau perlu dia boleh membinasakan bocah ini .

Sekarang dia malah sudah ketakutan lebih dulu.. .

Siau Po berbicara demikian sebetulnya untuk mengulur waktu agar ia mendapat kesempatan untuk meloloskan diri .

Tentunya dia senang sekali melihat sikap pengawal ibu suri yang begitu ketakutan Dia pun segera menjawab pertanyaan Hu congkoan itu .

"Setelah berkata demikian, Sri Baginda menurunkan perintah agar besok pagi, begitu fajar menyingsing, aku harus mencari keterangan dari para siwi, mengapa Sui Tong bisa membawa kawanan pemberontak itu masuk ke dalam istana dan apa maksudnya yang sebenarnya serta perintah siapa yang dijalankannya, Sri Baginda ingin tahu apa rencana berikutnya dan siapa saja konco-konconya!" Begitu khawatir dan terkejutnya Sui Tong sehingga pertanyaan berikutnya menjadi gugup dan tersendat-sendat .

"Ke.. .

napa... .

Sri Ba.. .

ginda mengatakan a...ku yang membawa.. .

ka.. .

wanan pemberon.. .

tak menyerbu ke.. .

mari" Sia.. .

pa yang mengo,., ceh semba.. .

rangan di.. .

hadap.. .

an beliau" Bukan.. .

kah fitnah i.. .

tu hebat se.. .

kali?" Sebetulnya Sui Tong gagah dan cerdas otaknya, Namun dalam keadaan seperti ini, otaknya seakan menjadi keruh dan tidak sanggup berpikir secara normal, sebab ucapan Sri Baginda bagaikan penentuan hukuman mati baginya .

"Sri Baginda menugaskan aku untuk mencari keterangan secara teliti," kata Siau Po kemudian, "Sri Baginda juga berpesan bahwa aku harus berhati-hati .

Katanya, "kalau budak Sui tong mengetahui tugasmu ini, mungkin dia akan mencarimu dan membunuhmu!" Tapi aku meminta Sri Baginda agar menentramkan hatinya .

Karenanya aku berkata kepada Sri Baginda: "Meskipun Sui Tong bernyali besar, tidak akan dia berani lancang melakukan pembunuhan di dalam istana! Sri Baginda tidak percaya, Beliau berkata: "Hm! Hal itu bukan tidak mungkin, Dia berani membawa kawanan pemberontak menyerbu istana untuk mencelakai junjungannya, perbuatan apa lagi yang tidak berani dilakukannya?" "Kau ngaco!" Tiba-tiba Sui Tong menukas dengan nada membentak "A.. .

ku.. .

aku tidak mengajak orang menyerbu istana! Tidak mungkin Sri Baginda berani sembarangan menuduh!" Di saat Sui Tong berkata demikian, pikiran Siau Po kembali bekerja dengan cepat .

"Aku harus mendahuluinya menghadap Sri Baginda untuk menuduhnya! Setelah terang tanah, aku harus segera meninggalkan tempat ini Tapi, bagaimana dengan Siau kuncu serta nona Pui itu" Huh! Perduli amat dengan mereka! Yang penting ialah menyelamatkan jiwa sendiri! Bukankah aku berada di bawah ancaman maut?" Setelah berpikir demikian, Siau Po berkata lagi kepada Sui Tong, "Kalau begitu, bukan engkau yang membawa kawanan pemberontak itu menyerbu istana?" "Sudah tentu bukan!" sahut Sui Tong tegas, "lbu suri sendiri mengatakan bahwa kaulah yang membawa kawanan pemberontak itu menyelundup ke sini!" "Kalau begitu, kita berdua sama-sama kena difitnah!" kata Siau Po kemudian "Sui congkoan, kau tidak perlu takut Nanti aku akan menghadap Sri Baginda untuk membelamu .

Asal kau memang jujur! Meskipun Sri Baginda masih muda sekali, namun beliau bijaksana dan cerdas, Beliau juga sangat mempercayai aku .

Aku yakin katakataku akan didengarnya dan urusan ini segera dapat diselesaikan dengan mudah!" "Baik!" sahut Sui Tong, "Sebelumnya aku mengucapkan terima kasih kepadamu sekarang kau ikutlah aku menemui ibu suri!" Tidak berani Sui Tong membunuh Siau Po, meskipun ibu suri sudah memberikan ijinnya, Biar bagaimana, hatinya merasa bimbang mengingat bocah ini adalah thay-kam kesayangan raja .

Apalagi setelah mendengarkan ocehan ini .

Nyalinya semakin ciut Setidaknya, kalau Siau Po tidak mati, dia masih mempunyai seorang yang dapat diandalkan untuk membelanya .

Siau Po berlagak pilon .

"Sekarang kan sudah tengah malam, buat apa aku menghadap ibu suri?" tanyanya, "Aku rasa sebaiknya besok pagi-pagi aku menghadap Sri Baginda terlebih dahulu, Siapa tahu sekarang beliau sudah menurunkan titah untuk membekuk dan menghukummu" Ya.. .

Sui congkoan, aku ingin memberitahukan suatu hal kepadamu Nanti kalau ada siwi dari Sri Baginda yang ingin menawanmu, jangan sekali-sekali kau melakukan perlawanan Sebab, sekali kau melawan, berarti kau telah membangkang perintah raja dan hal ini membuat fitnah atas dirimu susah dicuci bersih kembali!" Biar bagaimana Sui Tong jadi bingung, sebenarnya dia meragukan juga kata-kata Siau Po, namun hatinya dilanda kebimbangan Rasa takut membuat pikirannya kacau, Bukankah dia membutuhkan keterangan bocah ini di hadapan Sri Baginda nanti" pikirannya lantas bekerja keras .

"Memang aku membutuhkannya untuk memberikan keterangan tentang kebersihanku di hadapan Sri Baginda, Tapi aku sedang menjalankan titahnya thayhou, Dan ibu suri telah mengancamku bahwa aku berbuat kesalahan besar apabila Siau Kui cu sampai lolos .

Tidak bisa tidak! pokoknya aku harus membawa bocah ini menghadap Hong thay-hou terlebih dahulu, dengan demikian aku telah menunaikan tugasku...." Dengan membawa pikiran demikian, Sui Tong segera berkata kepada Siau Po .

"Aku toh tidak bersalah, mengapa Sri Baginda harus menawanku" sekarang sebaiknya kau ikut aku dulu menghadap ibu suri!" Siau Po menggeser tubuhnya ke samping, Sui Tong mengulurkan sebelah tangan untuk menariknya .

Sembari menyingkir dia berkata dengan suara perlahan .

"Kau lihat! Di sana datang beberapa orang yang hendak menawanmu!" Sui Tong terkejut setengah mati, wajahnya menjadi pucat pasi .

Dengan cepat dia menolehkan kepalanya .

Tepat di saat Sui Tong menoleh, bocah yang cerdik itu langsung memutar tubuhnya dan mencelat ke dalam kamar, justru di saat itulah Sui Tong menggerakkan tangannya menyambar sebab dalam sekejap mata dia sudah melihat bahwa pada arah yang ditunjuk Siau Po tidak ada seorang pun yang mendatangi .

Siau Po takut tertangkap oleh siwi itu .

Dia telah menyembunyikan dua orang nona dalam kamarnya dan dia menduga rahasia itu sudah bocor, Kalau dia sampai diringkus dan dibawa ke hadapan Hong thayhou, pasti sulit baginya untuk meloloskan diri dari bahaya .

Kalau saja dia bisa lari sampai ke taman, tentu banyak tempat baginya untuk bermain petak umpet dengan orang itu, Namun dia tidak menyangka gerakan Sui Tong begitu cepat .

Setelah berhasil menghindarkan diri dari sambaran tangan Sui Tong, Siau Po mencelat dan sampai di depan jendelanya, Tapi Sui Tong telah mengejarnya, Sebelum dia sempat melompat keluar lewat jendela, tangan pengawal muda itu telah mengenai punggungnya sehingga kedua kakinya lemas dan tubuhnya roboh seketika! Sui Tong mengulurkan tangan kirinya untuk menyambar pinggang Siau Po .

Dia tidak ingin thay-kam cilik itu meloloskan diri .

Siau Po berusaha membela diri, Kedua tangannya digerakkan, dia mengerahkan jurus Kim Na jiu-hoat .

Sayangnya, tubuh bocah itu jauh lebih kecil sehingga kalah tenaga, Karena dia mengadakan perlawanan, tubuhnya terdorong dan jatuh ke dalam gentong air .

Gentong air itu milik Hay kongkong yang digunakan untuk merendam diri mengobati penyakitnya .

Sampai sekarang memang Siau Po belum sempat membuangnya .

Post a Comment