"Sekali seorang laki-laki mengeluarkan kata-katanya, entah empat ekor kuda apa pun tidak dapat mengejarnya!" sahut Siau Po serius .
"Aku sudah menerima baik permintaanmu bagaimana pun aku harus menolongnya!" Ucapan Siau Po dari dulu masih belum berubah .
Dia tidak tahu bunyi pepatah yang dikatakannya, karenanya dia selalu mengucapkan "Entah empat ekor kuda apa pun tidak dapat mengejarnya." "Ba.,.gaimana caramu menolongnya?" tanya Pui le kembali Dia penasaran sekali, Siau Po tertawa, "Dalam hal ini, aku si orang gunung tentu mempunyai muslihat!" sahutnya, "Tunggu saja setelah kau bertemu dengan Lau sukomu, dia pasti akan menceritakannya!" "Ah!" Si nona menghela nafas lega, Kemudia dia mendongakkan kepalanya sambil mengucap: "Terima kasih kepada langit dan bumi, dia benar benar dilindungi sang Pousat!" Melihat kegembiraan dan rasa bersyukurnya si nona manis itu, hati Siau Po otomatis jadi kurang enak .
Tapi, dia tidak mengatakan apa-apa, hanya terdengar suara dehemannya yang lirih .
"Eh, eh, Suci," tegur Kiam Peng, "Kau mengucapkan terima kasih kepada Langit dan Bumi kenapa kau malah tidak mengatakan apa-apa ke pada saudara yang baik ini?" Pui le menolehkan kepalanya .
"Budi besar dari saudara yang baik ini tidak dapat dibalas hanya dengan ucapan terima kasi saja!" sahutnya, Mendengar ucapan si nona, hati Siau Po jadi gembira, Bibirnya tersenyum .
"Tidak perlu kau membalasnya," sahutnya .
"Saudara yang baik, apa yang dikatakan Lau suko?" tanya Pui Ie .
"Dia tidak mengatakan apa-apa," sahut Siau Po .
"Dia hanya minta aku menolongnya!" "Ah.,.!" seri Pui le kecewa, "Apakah dia menanyakan tentang kami?" Siau Po bei-pikir sejenak, kemudian baru menjawab .
"Tidak, Aku yang mengatakan bahwa kau berada di tempat yang aman, karena itu dia tidak perlu mengkhawatirkanmu, Dan tidak lama lagi aku akan mengantarkanmu agar dapat bertemu dengannya!" Pui le menganggukkan kepalanya .
"Perbuatanmu benar," sahutnya .
"Tapi tiba-tiba saja air matanya, mengalir dengan deras .
"Eh, suci!" seru Kiam Peng terkejut "Ada apa" Mengapa kau menangis?" "A...ku gembira sekali!" sahut nona yang sedang menangis itu .
Sementara itu, Siau Po berpikir dalam hati, "Sri Baginda menitahkan aku menguntit ketiga tawanan itu, agar dapat mencari tahu siapa pemimpinnya, Karena itu, aku harus keluar melewatkan waktu supaya tidak dicurigai Setelah satu dua jam, aku baru kembali lagi memberikan laporan..." Dengan membawa pikiran demikian, Siau Po segera berpesan kepada kedua nona itu agar berdiam di dalam kamarnya seperti biasa, Dia segera menuju ke Tianhio, Hari itu, bagian kiri jalan terdapat banyak pedagang keIontong .
Malah ada juga yang membuka panggung pertunjukan Tianki memang terkenal sebagai tempat berkumpulnya berbagai kalangan Terutama orang-orang dunia kangouw, Ke sanalah tujuan cilik kita .
Ketika mendekat, perhatian Siau Po tiba-tiba jadi tertarik, Dia melihat kurang lebih dua puluh orang polisi sedang menggiring lima pedagang kecil yang pakaiannya compang-camping .
Dia berdiri sisi jalan dan memperhatikan rombongan itu .
"Benar-benar keterlaluan!" gerutu seorang tua "Sekarang ini berjualan saja sulit!" Siau Po baru saja berniat menanyakan sesuatu kepada orang tua itu, tiba-tiba terdengar suara batuk-batuk di dekatnya Ketika dia menolehk kepalanya, dia melihat seseorang yang rambutnya sudah penuh uban dan tubuhnya bungkuk .
Setelah diperhatikan dengan seksama, dia mengenali ora itu sebagai Pat-Pi Wan Kau Ci Tiancoan, Orang ini melirik ke arahnya kemudian mengedipkan matanya dan berjalan melaluinya .
Siau Po mengerti isyarat yang ditunjukkan orang tua itu, Dia berjalan perlahan mengikuti sehing sampai di tempat yang sepi .
"Wi hiocu," sapanya, "Ada kabar gembira!" Siau Po tersenyum Diam-diam dia berpikir .
"Aku telah menolong Gouw Lip-sin bertiga, rupanya dia sudah mendengar berita gembira it karena itu dia menyahut: "ltu tidak berarti apa-apa!" "Tidak berarti apa-apa?" tanya Ci Tian-coan dengan pandangan heran "Kau sudah tahu tentang kedatangan Cong tocu?" Kali ini giliran Siau Po yang tertegun .
"Guruku datang?" tanyanya seakan tidak percaya dengan pendengarannya sendiri Hal ini memang di luar dugaannya .
"Benar!" safiut Ci Tian-coan .
"Aku dititahkan segera memberi kabar kepadamu, Wi hiocu, kau diminta segera menemui beliau!" "Baik, baik!" sahut Siau Po .
otaknya bekerja keras, padahal saat ini, orang yang paling tidak ingin ditemuinya justru gurunya itu, Apa sebabnya" karena sejak berpisah tempo hari, dia merasa belum memperoleh hasil apa-apa dari kitab yang diberikan gurunya, Tan Kin-lam .
Celaka kalau gurunya sampai menanyakan kemajuan yang telah diperolehnya selama ini .
Urusan ini memang sudah cukup lama terbengkalai karena banyak yang harus diselesaikannya .
"Cong tocu memberitahukan kepadaku," kata Ci Tian-coan pula, "Waktunya di kotaraja ini tidak banyak, karena itu, biar bagaimana aku harap sudilah Wi hiocu pergi menemuinya!" Melihat keadaannya yang begitu terdesak, Siau Po merasa apa boleh buat .
"Baiklah," katanya, Dia langsung mengikuti Ci Tian-coan .
sepanjang jalan dia terus memikirkan apa yang harus ia katakan kepada gurunya itu .
Di menyesal tidak mengeram saja dalam istana, Kala dia berada dalam istana, tentu gurunya tidak bisa menyeretnya keluar .
Belum lagi masuk ke dalam lorong, Siau Po sudah melihat sejumlah anggota Tian-te hwe yang berpencaran di sana sini .
Tentunya mereka sedang memasang mata untuk melindungi ketua merek dari serangan gelap .
Di dalam rumah juga terdapat beberapa penjaga .
Setibanya di ruangan belakang, Siau Po segera dapat melihat gurunya duduk di tengah-tengah da dikelilingi oleh Hong Kong, Hian Ceng tojin dan Hong Cin-tiong serta yang lainnya .
Mereka sedang berbincang-bincang, Cepat-cepat dia maju menghampiri kemudian menjatuhkan dirinya berlutu dan berkata .
"Oh, suhu! Ternyata suhu benar-benar datang .
Muridmu ini sudah rindu sekali!" katanya .
Tan Kin Lam tertawa .
"Bagus, bagus! Anak baik!" katanya, "Di sini para saudara kita banyak yang memujimu!" Siau Po langsung bangkit kembali .
Hatinya menjadi lega melihat sikap gurunya yang demikian ramah .
"Apakah suhu baik-baik selama ini?" tanyanya .
Kin Lam tersenyum .
"Baik!" sahutnya, "Bagaimana dengan pelajaranmu" Apakah ada yang kurang kau pahami?" "Banyak sekali yang murid tidak mengerti, suhu," sahutnya, jawaban ini sudah ia pikirkan matang-matang, Dia tahu gurunya bermata tajam dan cerdas sekali, Tidak mungkin bisa dikelabui olehnya, "Karena itulah aku mengharap-harap kedatangan suhu agar murid dapat meminta petunjuk" Pada saat itu, tampaknya hati Kin Lam memang sedang gembira, Mendengar ucapan muridnya, kembali dia tersenyum .
"Baiklah" sahutnya, "Aku akan menggunakan waktu beberapa hari ini khusus untukmu!" Baru Tan Kin Lam berkata demikian, salah seorang anggota perkumpulan itu tampak mendatangi dengan cepat .
Dia langsung memberi hormat seraya menyampaikan laporannya .
"Cong tocu, ada beberapa tamu yang berkunjung, Menurut penuturan salah satunya, mereka adalah Bhok Kiam-seng dari Bhok onghu serta Liu Taykong." Senang hati Kin Lam mendengar laporan itu, Dia segera bangkit dari kursinya .
"Mari kita sambut mereka!" ajaknya .
"Aku belum mengganti pakaian," kata Siau Po .
"Aku tidak bisa ikut!" "Baik," kata Kin Lam .
"Kau tunggu saja di belakang!" Begitu guru dan anggota Tian-te hwe yang lainnya berlalu, Siau Po segera menyelinap ke belakang dinding ruangan itu .
Di sana dia menggeser sebuah kursi kemudian duduk .
Tanpa perlu menunggu lama-lama, segera terdengar suara tawa Liu Tay-hong yang nyaring, Siau Po segera mengenalinya .
"Keinginanku yang paling utama selama hidupku adalah perjumpaan dengan Tan Cong tocu yang namanya sudah terkenal di seantero dunia! Hari ini beruntung sekali dapat bertemu, Sungguh, mati pun aku yang tua sudah merasa puas!" "Ah, Lo enghiong hanya memuji saja!" terdengar suara Tan Kin-lam .
"Aku yang rendah merasa malu dan tidak berani menerima pujian yang begitu tinggi!" Sembari bercakap-cakap, mereka berjalan menuju ruangan dalam .
Kemudian kedua belah pihak mengambil tempat duduknya masing-masing .
"Di dalam partai Cong tocu ada seorang yang bernama Wi hiocu, entah beliau ada di sini atau tidak?" tanya Bhok Kiam-seng, "Aku yang rendah ingin bertemu dengannya untuk mengucapkan terima kasih atas budi pertolongannya yang besar .
Kami dari Bhok onghu semua bersyukur sekali terhadap apa yang dilakukannya!" Kin Lam bingung sekali, Dia memang tidak tahu gerak-gerik Siau Po yang telah menolong orang-orang dari Bhok onghu .
"Wi Siau Po hanya seorang bocah cilik, apa jasanya terhadap Bhok onghu" Mengapa Siau ongya begitu merendahkan diri memujinya demikian tinggi, sedangkan dia hanya seorang bocah cilik?" Belum lagi Kiam Seng dan Tay Hong menyahut, salah seorang di antara mereka sudah menyela .
"Aku yang rendah bersama murid dan keponakan muridku Lau It-Cou telah ditolong oleh Wi Hiocu, budinya yang luar biasa besarnya ibarat mega di langit, Aku juga pernah menyatakan pada Cian suhu, apabila perkumpulan tuan-tuan memerlukan bantuan, kami siap menjalankan tugas apa saja yang diperintahkan." Orang yang berbicara bukan lain dari Yau Tau Saycu, Go-Ip-sin yang jujur dan selalu bicara apa ada nya .
Cong tocu dari Tian-te hwe tetap tidak mengerti Karena itu dia segera menoleh kepada Cian Laopan dan bertanya .
"Saudara Cian, bagaimana duduk persoalan yang sebenarnya?" Orang she Cian segera menceritakan apa saja yang terjadi di kotaraja akhir-akhir ini .
sekeluarnya dari istana, dia langsung mengajak Gouw Lip-sin dan rekan-rekannya kembali ke tempat Bhok Kiam-seng, di mana di tempat itu juga dia dijamu .
Pihak Bhok onghu telah menyatakan perasaan terima kasihnya terutama terhadap Wi hiocu, setelah itu Liu Tay-hong dan yang lain meminta dia jadi pengantar ke tempat perkumpulan Tian-te hwe .
Di luar dugaan, justru pada saat itu pula Tan Kin-lam, ketua pusat perkumpulan itu datang ber-kunjung, Karena itu Bhok Kiam-seng dan Liu Tayhong segera memohon bertemu dengan ketua umum itu .
Dijelaskan bahwa Gouw Lipsin bertiga ditolong oleh seorang thay-kam cilik yang mengaku sebagai sahabatnya Wi hiocu dari perkumpulan tersebut Dan si thay-kam melakukan hal itu karena permintaan dari Wi hiocu tersebut .