Halo!

Kaki Tiga Menjangan Chapter 115

Memuat...

"Terima kasih!" sahutnya .

"Semoga kalian pun demikian!" para siwi itu memperhatikan Lip Sin bertiga Mereka merasa tidak kenal Tetapi karena Siau P menggapit lengan Gouw Lip-sin, mereka tidak berani mencegah ataupun menanyakan apa-apa .

Karena itu, Siau Po berlima pun jalan terus .

Sekeluarnya dari pintu Sin-bu mui, merek sudah berada di luar batas pekarangan istana, Sia Po masih mengiringi mereka berjalan beberapa puluh tindak jauhnya, kemudian baru dia berkata: "Sekarang aku harus pulang .

Sampai jumpa lagi .

Kalian tidak usah banyak peradatan pula!" Tapi Gouw Lip-sin tetap menjura dan berkata "Untuk budi pertolongan ini, kami yakin kongkong tentulah tidak mengharapkan imbalan apa-apa .

Karena itu, kelak di kemudian hari, apabila pihak Tian-te hwe memerlukan tenaga kami, aku dan muridku ini tidak akan menoleh meskip harus terjun ke dalam lautan api!" "Terima kasih! Tidak berani aku menerima penghormatan demikian tinggi!" kata Siau Po, "silahkan berangkat!" It Cou tidak mengatakan apa-apa .

Dia memang berjalan mendahului yang lainnya, Berulang kali dia menolehkan kepalanya melihat ke arah Siau Po .

Dia merasa heran mengapa Gouw Lip-sin masih belum menyusulnya juga, Dia merasa tidak tenang .

Soalnya mereka belum jauh dari istana, Sesaat kemudian setelah rekannya berpisahan dengan si thay-kam, hatinya baru lega .

Siau Po kembali ke Sin-bu mui, Terhadap para siwi yang sedang menjaga dia tertawa dan berkata .

"Kongkong tadi adalah orang kepercayaannya Thayhou, Menurutnya mereka bertiga sedang menjalankan titah, aku dimintanya mengantarkan sampai ke depan, Tapi aku tidak tahu tugas apa yang sedang mereka laksanakan!" Biarpun seorang Cin ong atau Pwe lek juga tidak pantas menyuruh kongkong yang mengantar!" kata seorang siwi dengan perasaan tidak puas .

"BetuI! Sungguh bertingkah kongkong itu, seenaknya saja meminta Kui kongkong mengantarkan!" sahut seorang siwi lainnya yang juga merasa kurang senang .

"Aih, sudahlah!" kata Siau Po dengan menggelengkan kepalanya .

"ltu toh titahnya Hong thayhou, Apa yang bisa kita lakukan" Mereka membawa firman yang ditulis thayhou sendiri, Meskipun kita curiga, kita harus tutup mulut! Benar tidak?" "Ya, ya .

kita memang tidak bisa berbuat apa-apa!" sahut siwi lainnya .

Bergegas Siau Po kembali ke tempat tahanan .

Di sana para siwi masih tidak sadarkan diri, Cepa cepat dia mengambil seember air yang kemudia diguyurkan ke kepala Tio Kong-lian .

Siwi itu perlahan-lahan tersadar Begitu ingata nya kembali, dia tersenyum dan berkata .

"Aih, kongkong, Bagaimana aku bisa jadi lupa daratan..." dia terus bangkit untuk duduk, ta tiba-tiba dia menjadi terkejut sekali ketika melihat keadaan dalam ruangan itu .

Para siwi masih terbaring semaput dan di sana juga ada mayat beberapa thay-kam .

"Ba...gaimana.. .

dengan para penyerbu itu?" tanyanya gugup, "Apakah.. .

mereka sudah kabur?" Siau Po memperlihatkan sikap tidak kalah penasarannya .

"Thayhou telah menyuruh thay-kam she Tang itu membius kita, lalu melarikan ketiga penjahat itu" katanya geram .

Tio Kong-lian merasa bingung, Bong hoan-yok toh ada di tangannya si thay-kam cilik ini .

Namun karena baru sadar, pikirannya masih lemah .

ia tid dapat mengingat dengan baik, Dia jadi tidak tahu apa yang harus dikatakan .

Siau Po berkata kembali .

"Tio toako, bukankah To congkoan secara diam-diam menyuruh kau membebaskan para tawanan itu?" Kong Lian menganggukkan kepalanya .

"Ya, To congkoan mengatakan bahwa itulah perintah rahasia dari Sri Baginda untuk membebaskan para penyerbu itu," sahutnya, "Maksudnya agar pihak kita dapat menguntitnya secara diam-diam dan dengan demikian kita bisa tahu siapa pemimpin mereka yang sebenarnya!" "Ya, memang benar," kata Siau Po sembari tertawa, "Tapi sekarang aku ingin bertanya lagi, kalau orang tawanan kabur dari penjagaan, orang yang menjaga itu bersalah atau tidak?" Kong Lian merasa tercekat hatinya, Untuk sesaat dia jadi tertegun .

"Tentu saja bersalah!" katanya kemudian Tapi ini kan perintah To congkoan, kami.. .

yang menjadi bawahan hanya menjalankan perintah saja!" "Apakah To congkoan memperlihatkan surat perintah?" Kong Lian bertambah terkejut .

"Tidak.. .

tidak!" sahutnya bingung, "kata To congkoan, tidak perlu membawa surat perintah, karena ini merupakan perintah lisan dari Sri Baginda...." "Kalau begitu, mestinya To congkoan juga memperlihatkan suatu barang sebagai tanda bukti Sri Baginda?" tanya Siau Po kembali .

"Ti.. .

dak," sahut Kong Lian semakin gugup .

Tapi, mungkinkah To congkoan akan berdusta" Tubuhnya bergetar dan suaranya menjadi kurang jelas .

"Palsu sih tidak," sahut Siau Po .

"Aku hanya khawatir kalau nanti dia akan menyangkal hal ini apabila keadaan membahayakan Siapa tahu ia akan menimpakan kesalahan pada dirimu" Bukankah in akan menjadi bencana bagimu" Tio toako, tahukah kau mengapa Sri Baginda membiarkan para ta wanan itu bebas?" "Menurut To congkoan, agar kita bisa menguntitnya dan dapat mengetahui siapa pemimpinnya" sahut Kong Lian, "Memang persoalannya demikian, tapi.,, bukan kah hal ini agak aneh?" kata Siau Po kembali "Bagaimana mungkin para penjahat dibiarkan lolos dan urusan pun tidak diperpanjang lagi" Sekalipun si penjahat sendiri, bila mendengar urusan ini, pasti tidak akan mempercayainya .

Lagipula tidak muda menemukan pemimpin para penjahat itu, Mungki bisa terjadi nantinya Sri Baginda akan menghukum mati dulu beberapa orang dan apabila berita ini sudah tersiar, para penjahat itu baru tidak curiga Iagi...." Kata-kata Siau Po ini bukan berarti menuduh Raja akan berbuat demikian .

Kenyataannya Sri Baginda memang menyuruh dia membunuh satu dua orang siwi agar penyerbu itu tidak menjadi curiga .

Sementara itu, wajah Tio Kong-lian semakin pucat, memang ada kemungkinan dia akan dihukum mati, Saking takutnya, dia menjatuhkan diri berlutut di hadapan Siau Po .

"Kongkong, tolonglah aku...!" dia memohon sambil menyembah berkali-kali .

"Jangan memakai terlalu banyak peradatan, Tio toako," katanya .

Dia mengulurkan tangannya untuk membangunkan siwi itu, Bibirnya menyunggingkan senyuman ramah .

"Jangan khawatir sekarang ada cara untuk menghindarkan dirimu dari hukuman mati, Lihat, di sana ada beberapa thay-kam, mereka dapat menggantikannya .

Kita timpakan saja kesalahan pada diri mereka .

Kita bilang mereka membawa obat bius untuk membuat kita tidak sadarkan diri, setelah itu mereka membebaskan para tahanan .

Dengan demikian, bukankah namamu menjadi bersih" Apabila Sri Baginda mendengar ke-empat orang thay-kam itu adalah orang ibu suri, tentu urusan ini tidak akan diperpanjang .

Raja juga tidak akan menghukum mati dirimu apabila ada alasan yang masuk akal .

Mungkin kau malah akan mendapat hadiah!"

Mendengar ucapan Siau Po, hati Kong Lian jadi lega .

Dari khawatir, dia malah jadi girang sekali .

"Bagus, bagus!" serunya, "Kongkong, terima kasih banyak atas pertolongan kongkong ini!" Peruntungan Kong Lian memang sedang mujur .

Kalau saja tadi Siau Po jadi membunuhnya, tentu dia tidak bisa memerankan sandiwara ini! "Sekarang cepat kita sadarkan para siwi lainnya," kata Siau Po .

"Mereka harus dijelaskan dulu urusan ini, supaya mereka serempak mengaku bahwa telah dibius oleh keempat thay-kam ini!" "Ya, ya," sahut Kong Lian, Dia segera mencari air dingin, Biar bagaimana, hatinya masih kurang tenang karena belum tahu bagaimana reaksi Sri Baginda .

Dalam waktu yang singkat, para siwi itu sudah siuman kembali .

Kepada mereka dijelaskan bahwa semua orang telah dibuat tidak sadar dengan Bong hoan-yok oleh Tang Kim-hwe berempat, kemudian Tang Kim-hwe membinasakan ketiga orang rekannya dan lalu dia kabur bersama para tahanan .

"Hah! Kurang ajar benar orang itu!" caci para siwi itu .

walaupun dalam hati mereka terdapat keraguan "mengapa thayhou harus membebaskan ketiga tawanan itu" Mungkinkah mereka justru orang-orang suruhan thayhou?" pikir mereka dalam hati .

Tapi karena urusan ini menyangkut diri ibu suri, meskipun curiga, mereka memilih menutup mulu rapat-rapat .

Siau Po sendiri langsung kembali ke kamarnya .

Begitu masuk, dia segera disambut oleh Kiam Peng .

"Kui toako, apa kabarnya?" tanya nona cilik itu .

"Kui toako tidak mempunyai kabar apa-apa, goda Siau Po .

"Ada juga suami yang membawa berita...." Kiam Peng tersenyum .

"Aku tidak takut soal beritanya, Yang dikhawatirkan ada orang lain lagi yang menyebutmu kakak yang baik...." Wajah Pui Ie merah padam, Dia tahu Siau Kuncu sedang menggodanya, Tapi dia harus bicara, dia memang ingin tahu berita apa yang dibawa Siau Po .

"Saudara yang baik..." katanya, "Kau lebih muda daripadaku bagaimana kalau aku panggil kau saudara yang baik saja" Kau tidak keberatan, bukan?" Siau Po menarik nafas panjang .

"Aih!" katanya, "Dari suami yang baik tiba-tiba saja berubah menjadi saudara yang baik, bukankah ini sama dengan induk ayam yang mendadak berubah menjadi bebek.,." Tapi, sudahlah! Yang penting dia sudah berhasil ditolong!" Tiba-tiba Pui Ie bangkit dan duduk, Ketika dia berbicara, suaranya terdengar bergetar... .

"Apa kau bermaksud mengatakan bahwa Lau suko sudah berhasil meloloskan diri?" tanyanya penuh minat .

Post a Comment