Benar-benar sial! Rencanaku bisa berantakan!" Pikirannya bekerja dengan cepat Dia langsung tertawa dan berkata .
"Kongkong, apakah she kalian yang mulia" Kenapa dulu-dulunya kita belum pernah bertemu?" "Hm!" suara thay-kam itu tawar sekali "Aku Tang Kim-kwe! Mari kita jalan, Thayhou sudah menunggu! Kau tahu, sudah setengah harian ini aku berputaran mencarimu!" Siau Po tidak menjawab, Dia justru menarik tangan thay-kam itu .
"Tang kongkong, mari aku ajak kau melihat sesuatu yang menarik!" Tang Kim-kwe berjalan mengikuti Siau Po yang menariknya .
Dia ingin tahu apa yang akan ditunjukkan bocah tanggung itu .
Di dalam ruangan, dia segera melihat dua meja penuh hidangan langsung saja dia berseru .
"Bagus! Oh, Siau Kui cu, kau sungguh beruntung! Thayhou menugaskan kau mengurus Siang-sian tong, Siapa tahu, di balik maksud baikmu, kau malah menghamburkan uang negara untuk berfoya-foya!" Siau Po tertawa .
"Para saudara siwi ini sudah berjasa mengusir dan meringkus pemberontak yang menyerbu istana," katanya, "Karena itu Sri Baginda menyuruh aku menjamu mereka .
Mari Tang kongkong! Mari kau juga minum bersama, Juga ketiga kongkong itu!" "Aku tidak bisa minum!" sahut Tang Kim-ko sembari menggelengkan kepalanya, "Thayhou memanggilmu, mari kita pergi!" Siau Po tidak segera pergi, dia tertawa lagi .
"Semua siwi Tayjin adalah sahabat-sahabat kami .
katanya pula, "Kalau satu cawan arak saja kau tidak sudi minum, berarti kau benar-benar tidak memandang muka para saudara ini!" "Aku tidak bisa minum!" kata Kim Kwe dengan suara keras .
Siau Po mengedipkan matanya kepada Tio Ko lian .
"Nah, Tio toako, kau lihat! Kongkong ini terlalu angkuh, dia tidak mau minum bersama kita!" Kong Lian mengerti maksud Siau Po .
Dia segera mengangkat cawannya dan mengambil sebuah cawan lagi untuk disodorkan kepada Tang Ki kwe, utusan ibu suri itu .
Sembari tertawa ramah berkata: "Kongkong, mari kita minum! Untuk kebahagiaan kalian juga kita semua!" Kim Kwe didesak sedemikian rupa sehinga tidak enak hati, Terpaksa dia menerima cawan berisi arak yang disodorkan kemudian diteguk sekaligus sampai kering .
"Nah, ini baru namanya sahabat!" puji Siau Po .
"Nah, ketiga kongkong, kalian juga harus ikut minum!" Ketiga thay-kam yang lainnya disodori tiga cawan arak oleh para siwi, mereka segera menyambutnya dan meneguknya sampai kering, "Bagus!" seru Siau Po .
"Ayo, semua minum!" Cepat-cepat dia mengisi lagi keempat cawan yang sudah kosong, Para siwi juga ikut minum, Siau Po juga, Tapi dia memang cerdik .
Dia mengangkat cawannya tinggi-tinggi, Dengan demikian wajahnya jadi terhalang dan dengan mudah dia menuangkan araknya ke dalam lengan baju .
"Mari kita minum lagi!" katanya menawarkan Dia khawatir satu cawan arak masih belum cukup untuk membius para thay-kam dan para siwi itu .
Seorang siwi segera mendahului Siau Po mengangkat cawan arak .
"Kongkong, biar aku yang mengisinya!" Tang kongkong mengerutkan sepasang alisnya .
"Kui kongkong, aturan dalam istana sangat ketat .
Sekali thayhou memanggil, orang harus langsung menghadap, Malah kalau bisa lari secepatnya, Tapi kau, sekarang kau malah merepotkan diri dengan minum arak, perbuatanmu sungguh tidak menghormati thayhou!" Siau Po tertawa .
"Sebetulnya hal ini ada sebabnya..." katanya sengaja mengulur waktu, "Mari! Mari kita minum satu cawan lagi, nanti aku akan menjelaskannya kepada kalian!" Dia langsung mengangkat cawannya .
Tio Kong-lian juga ikut mengangkat cawannya .
"Tang kongkong, mari kita minum lagi!" ajaknya .
"Aih! Aku tidak boleh minum lagi!" sahutnya sambil memutar tubuh untuk berlalu, Tapi tiba-tiba saja gerakannya jadi limbung .
Siau Po tahu thay-kam itu sudah jadi korban obat biusnya, tiba-tiba saja ia meringkukkan tubuhnya dan pura-pura memegangi perutnya .
"Aduh! 0h.. .
Aduh! Perutku sakit!" serunya berulang-ulang, Para siwi yang lainnya juga terkejut Apalagi secara tiba-tiba, mereka merasa kepala mereka pusing sekali .
"Ah, celaka!" seru mereka, "Arak ini tidak beres!" "Tang kongkong!" kata Siau Po dengan suara lantang, "Apakah kau sedang menjalakan perintah thayhou untuk meracuni kami semua" Benarkah?" "Kenapa kau mencampurkan racun ke dalam arak?" Tang Kim kwe terkejut setengah mati .
Tuduhan Siau Po merupakan fitnah yang keji sekali! "Ma...na.. .
mana mungkin?" teriaknya gugup .
"Ah! Kau tentu ingin membalas sakit hati ke-empat thay-kam yang mati kemarin, bukan?" desak Siau Po .
"Betul Dan sekarang kau memasukkan racun dalam arak kami! Ayo, para siwi! Bekuk mereka!" Para siwi itu menjadi bingung, sementara itu, mereka merasakan kepala mereka semakin pusing .
Dua orang thay-kam tidak dapat mempertahankan diri lagi, Mereka segera terkulai di atas tanah .
Disusul dengan robohnya Tang Kim-hwe, kemudian Tio Kong-lian .
Thaykam yang terakhir semakin takut Dia roboh bertepatan dengan para siwi lainnya .
situasi dalam ruangan itu jadi berantakan .
Meja dan kursi terbalik di sana-sini karena tertimpa tubuh para siwi .
Menyaksikan keadaan itu, Siau Po segera menghambur ke depan Tang Kim hwe kemudian mendepak pantat thay-kam itu keras-keras, tapi Tang Kim-hwe tidak berkutik sama sekali, Matanya juga terpejam .
Siau Po senang sekali melihat kenyataan ini .
Dia berani dan gesit sama sekali tidak takut, meskipun dia sudah mencelakai keempat thay-kamnya ibu suri .
Cepat-cepat dia lari ke pintu dan menutupnya .
Setelah itu dia menghunus pisau belatinya dan menikam Tang Kim-hwe serta ketiga thay-kam lainnya masing-masing satu kali .
Gouw Lip Sin dan yang lainnya heran menyaksikan perbuatannya, Bahkan Lau It-cou sampai mengeluarkan seruan tertahan .
Mereka merasa perbuatan thay-kam cilik ini sungguh luar biasa .
Siau Po bekerja dengan cekatan Dia membaw pisau belatinya yang tajam kemudian ditebasnya urat kerbau yang mengikat tangan Gouw Lip-sin bertiga, Dengan demikian mereka jadi bebas .
"Kongkong," kata Lau It-cou .
"Bagaimana caranya kami menyingkir dari sini?" "Gouw loya cu, Go suheng," kata Siau Po ke pada kedua orang itu .
"Cepat kalian pilih pakaian seragam siwi yang cocok dengan bentuk tubuh kalian Dan kau, Lau suheng, kau tidak mempunyai kumis, sebaiknya kau menyamar menjadi thay-kam saja, Pakailah seragamnya Tang kongkong itu!" "Biar aku menyamar jadi siwi saja!" sahut La It-cou .
"Tidak bisa," kata Siau Po .
"Kau harus menjadi thay-kam!" Terpaksa It Cou menurut Dia menganggukkan kepalanya, Segera ketiga orang itu bekerja, Dalam waktu yang singkat mereka sudah menyamar menjadi siwi dan thay-kam .
"Mari kalian ikut aku!" kata Siau Po .
"Kalau kita bertemu dengan siapa pun dan ada yang menegur kalian, jangan memberikan jawaban, kalian harus pura-pura bisu!" Selesai berkata, Siau Po mengeluarkan obat mukjijatnya .
Dia mengguyurnya di atas luka Tang Kim-hwe dan menambahkan beberapa tikaman lagi agar daging dan tulang di tubuh thay-kam itu semakin cepat lumernya .
"Mari!" ajaknya kepada Gouw Lip-sin bertiga .
Sekeluarnya dari kamar tahanan, Siau Po mendorong ketiga orang itu menuju dapur kemudian pintunya ditutup kembali .
Jarak antara siwi pong dengan Siang-sian tong berdekatan .
Dalam waktu yang singkat, mereka sudah sampai di tempat di mana Cian laopan dan beberapa kawannya sudah menunggu .
Mereka membawa dua ekor babi yang sudah disembelih dan dibersihkan Sikap mereka tampak menghormati sekali .
"Hai, Lao Cian, kau berani main gila!" bentak Siau Po tiba-tiba .
"Aku memesan babi yang besar, gemuk dan masih muda, sekarang kau membawakan babi yang kurus dan tua pula! Kau... .
Apakah kau masih mau makan nasi?" Cian laopan tampak ketakutan .
Tubuhnya membungkuk dalam-dalam .
"I.. .
ya.. .
iya..." sahutnya gugup, Beberapa thay-kam di Siang-sian tong melihat kedua ekor babi itu besar dan gemuk, tapi merupakan kebiasaan bagi mereka bila tidak ada uang pelicin, apapun dicela, Melihat pemimpin mereka membentak dengan suara keras, mereka pun sege meniru .
"Lekas bawa pergi!" bentak mereka .
Siau Po tampak semakin gusar, Dia menoleh kepada Gouw Lip-sin bertiga dan memerintahkan "Kedua siwi toako dan kau juga kongko kalian gusur orang itu dari tempat ini! Lain kali jangan biarkan dia masuk ke dalam istana lagi!" Cian laopan mengerutkan sepasang alisnya .
"Kongkong, maaf.. .
maaf.,." katanya, "Baik! Hamba akan tukar babi ini dengan yang lebih gemuk dan besar Aku akan membawakan yang lain lagi, Ha...rap.. .
kongkong su..ka memaafkan aku kali ini." "Kalau aku membutuhkan babi, nanti aku akan suruh orangmu membawakannya! Sekarang cepat kau pergi dari sini!" Cian laopan segera menjura dalam-dalam .
"lya, iya..." sahutnya kemudian sambil memutar tubuhnya untuk pergi .
Lip sin bertiga mengikuti Tubuh Cian lao didorongnya berkali-kali, Siau Po juga ikut, setibanya di lorong, dia tidak ada seorang pun di sana, Siau Po berkata dengan suara perlahan .
"Cian toako, ketiga tuan-tuan ini adalah jago-jago dari Bhok onghu, Yang menjadi pemimpin adalah saudara Gouw Lip-sin ini yang bergelar Yaou Tau Saycu!" Cian Lao pan langsung mengeluarkan seruan heran .
"Oh! Sudah lama aku mendengar nama besar itu! Tuan-tuan, maaf kalau aku yang rendah tidak segera menyapa!" Pertama-tama Lip Sin juga bingung, namun kemudian dia merasa gembira setelah mengetahui bahwa orang ini ternyata sahabatnya si thay-kam cilik .
"Tidak apa," sahutnya .
"Kita berada di tempat yang berbahaya, sudah seharusnya kita bersikap demikian!" "Cian toako," kata Siau Po pada Laopan, "Nanti kau tolong sampaikan pada Wi hiocu dari perkumpulanmu yang merupakan sahabat baikku, katakan bahwa Lay Lie-tau Siau samcu sudah menyelesaikan tugasnya, sedangkan ketiga tuan ini, harap kau antarkan pada Bhok Siau ongya dan Liu loyacu, Seberlalunya kalian, tentu akan muncul para siwi yang mencari penjahat yang telah membunuh .
Oleh karena itu, kau sendiri, sebaiknya jangan datang kemari lagi!" "Ya, ya!" sahut Cian laopan dengan sikap menghormat "Kami semua berterima kasih atas budi kongkong!" Lip Sin menoleh kepada Cian laopan, "Tuan, rupanya kau dari pihak Tian-te hwe?" "Betul, Gouw loyacu," sahut Cian laopan, "Nah, mari kita pergi sekarang!" Mereka kembali berjalan lagi .
Siau Po masih mengikuti sebentar saja mereka sudah sampai di Sin-bu mui .
Di sana ada beberapa siwi yang menjaga .
Begitu melihat Siau Po, mereka langsung menyambut dengan hormat .
"Oh, Kui kongkong, Semoga baik-baik saja!" sapa mereka ramah .
Siau Po tertawa .