Halo!

Kaki Tiga Menjangan Chapter 113

Memuat...

Bukankah sulit sekali, karena orang yang sudah mati kan tidak bisa hidup kembali" Apa yang harus dilakukan" itulah sebabnya Wi Siau-po datang kepadaku dan meminta tolong agar aku membebaskan kalian bertiga, Dengan demikian, pihak Tian-te hwe tidak berhutang nyawa kepada kalian dan hubungan antara Bhok onghu dan Tian-te hwe pun dapat berlangsung terus!" Gouw Lip-sin tahu benar urusan kematian Pek Han-siong .

sekarang ia percaya penuh terhadap Siau Po, Dia menganggukkan kepalanya dan berkata .

"Aku tahu urusan itu! Dan aku minta maaf atas kelakuan kasarku barusan!" Siau Po tertawa .

"Tidak apa, tidak apa!" katanya, "sekarang urusan kita, Bagaimana cara yang baik agar kalian dapat membebaskan diri dari tempat ini?" "Tentunya Kongkong sudah mendapatkan cara yang bagus!" kata Lau It-cou .

"Kami hanya menurut saja, silahkan kongkong katakan apa yang harus kami lakukan!" "Aku belum mendapat akal apa-apa," sahut Siau Po .

"Bagaimana dengan kau, Gouw loyacu?" tanyanya kepada Lip Sin kemudian .

"Di dalam istana ada banyak siwi anjing Tatcu!" kata si bewok, "Oleh karena itu, rasanya kita tidak dapat meloloskan diri di siang hari .

Menurutku, lebih baik, kita tunggu sampai hari sudah gelap saja!" Siau Po menganggukkan kepalanya .

"Nanti tolong kongkong lepaskan ikatan kami .

Dengan demikian kita bisa menerobos keluar kata Lip Sin selanjutnya .

Sekali Siau Po menganggukkan kepalanya .

"Cara ini cukup baik," sahutnya, "Tapi belum seratus persen aman dan selamat!" Siau Po berjalan mondar-mandir dengan kepala ditundukkan "lya, lebih baik kita menerobos keluar saja" kata Go Piu ikut memberikan pendapatnya .

"Syukurlah kalau kita berhasil, kalau sampai gagal paling-paling mati!" "Go suko," tegur Lau It-cou."jangan kau mengganggu kongkong yang sedang mencari akal!" Go Piu menoIeh, Dia menatap rekannya dengan pandangan sinis, Diam-diam dia berpikir dalam hati .

Sementara itu, otak Siau Po juga sedang be putar .

"Paling bagus kalau aku mempunyai obat bius dengan demikian aku bisa membuat para siwi tidak sadarkan diri dan tidak perlu jatuh korban!" Dengan membawa pikiran demikian, dia segera keluar dari tempat tahanan untuk mencari Ko Lian .

Tio toako, aku memerlukan obat Bong ho yok .

Dapatkah kau mencarinya segera?" "Bisa, bisa!" sahut Tio Kong-lian, "Saudara ini selalu menyediakan obat itu .

Nanti aku akan mengambilnya!" "Tio toako mempunyai obat bius itu?" tanyanya ke orang yang keheranan "Buat apa kau selalu menyediakannya?" "Sebenarnya begini," sahut Tio Kong-lian .

"Kemarin ini Sui hu congkoan menyuruh kami menawan dua orang yang berkepandaian tinggi Kalau kami menggunakan kekerasan pasti ada korban jatuh, Dan lagipula kita tidak bisa menawan orang yang hendak ditangkap itu hidup-hidup, Karena itu saudara Cio segera mencari obat itu untuk kami gunakan!" Mendengar penjelasan itu, diam-diam Siau Po berpikir dalam hati .

"Apanya yang jatuh korban dan tidak dapat menawan orang-orang itu hidup-hidup" Yang jelas pasti kalian tidak sanggup melawan mereka!" Lalu dia bertanya: "Bagaimana kesudahannya?" Tio Kong-lian tertawa .

"Kami berhasil, orang-orang itu telah tertawan!" katanya .

Nada suaranya menunjukkan kebanggaan dan kegembiraan Karena hal itu menyangkut Sui Tong, maka Siau Po bertanya lagi .

"Siapa orang-orang yang ditangkap itu" Dan apa kesalahan mereka ?" "Mereka adalah dua orang Tong-nia dari Cong jinhu .

Katanya mereka bersalah terhadap thayhou, Setelah mereka ditawan, Sui hu congkoan memaka mereka mengeluarkan satu perangkat kitab, Kemudian hidung dan mulut mereka ditempel deng kertas perekat agar mereka tidak dapat bernafas sama sekali kemudian akhirnya mati konyol..." Disebut tentang seperangkat kitab, suatu ingatan segera melintas di benak Siau Po .

"Oh, rupanya si nenek sihir itu berusaha mendapatkan sejilid kitab Si Cap Ji cin-keng yang lain, tapi mengapa setelah mendapatkannya, Sui To tidak segera menyerahkannya kepada ibu suri .

Kenapa kitab itu disimpan dalam tubuhnya" Mungkinkah dia ingin mengangkanginya sendiri?" Kemudian dia bertanya lagi: "kitab apakah itu" Mengapa kitab itu demikian penting?" "Aku tidak tahu kitab apa," sahut Kong Lian "Baiklah, sekarang juga aku akan mengambilkan obat bius itu." "Oh ya, sekalian saja kau minta orang di Sian sian tong menyediakan hidangan untuk dua meja kata Siau Po menitahkan .

"Aku ingin menjamu para siwi!" "0h .

Lagi-lagi kongkong akan menjamu kami." sahut Kong Lian dengan nada riang, pendek kata asal mengikuti Kui kongkong, kami tidak akan kekurangan makan dan minum!" Tidak lama setelah berlalunya, Tio Kong-li sudah kembali lagi dengan membawa satu bungkus besar obat bius Bong hoan-yok, beratnya mungkin ada satu kati, Dia menyerahkannya kepada Siau Po sembari tersenyum dan berkata dengan perlahan .

"Obat ini cukup untuk merobohkan seribu orang, Kalau sasarannya hanya satu orang, cukup seujung kuku saja dimasukkan ke dalam teh atau arak!" Selesai berkata, Kong Lian menemui rekan-rekannya untuk meminta mereka menyiapkan meja dan kursi untuk bersantap seraya memberitahukan .

"Kui kongkong akan menjamu kita semua!" Para siwi itu senang sekali, Mereka segera bekerja dengan perasaan gembira .

"Meja harus diatur dalam kamar tahanan," kata Siau Po .

"kita berpesta pora, biar para tahanan itu melihatnya sehingga mata mereka menjadi merah dan air liur mereka bercucuran!" Dalam waktu yang singkat, meja telah diatur rapi, Menyusul datangnya barangbarang hidangan yang langsung disajikan di atas meja oleh beberapa thay-kam yang bertugas di dapur Cara kerja mereka cekatan sekali .

"Lihat!" kata Siau Po kepada Gouw Lip-sin bertiga, "Kalian adalah para pemberontak yang bekerja dengan Go Sam-kui .

Sampai detik menjelang kematian, kalian masih besar kepala, sekarang kalian boleh menyaksikan bagaimana kami akan berpesta pora .

Andaikata kalian tidak dapat menahan keinginan kalian, kalian boleh menggonggong seperti anjing, nanti kami akan melemparkan sepotong tulang untuk kalian!" Para siwi mendengar ucapan si thay-kam yang jenaka, Gouw Lip-sin segera mendamprat .

"Siwi anjing! Thay-kam bau! kalian semua waspadalah! Akan datang harinya Peng Sin-ong membalaskan sakit hati kami, Kelak dia akan bergerak dari Inlam untuk menyerang kota Peking ini dan meringkus kalian semua, Waktu itu kalian akan diceburkan ke dalam sungai dan dijadikan umpan ikan dan buaya!" Ketika Gouw Lip-sin memaki-maki dan para siwi memperhatikannya, secara diamdiam Siau Po sudah mengeluarkan obat biusnya, Kemudian sem bari membawa poci arak di tangan kiri, dia menghampirkan tawanan yang bengis itu .

"Eh, Pemberontak! Apakah kau ingin mimu arak?" tanyanya sembari mengangkat poci ara tinggi, dia tertawa terbahak-bahak, Lagaknya se akan sedang mengejek, Gouw Lip-sin tidak tahu apa maksud Siau Po Sahutannya semakin keras: "Minum atau tidak, sama saja! Kalau angkatan perang Peng Si-ong sampai di sini, kau si thay-kam cilik yang pertama-tama akan menerima kematian." "Ah! Belum tahu!" sahut Siau Po sambil tertawa, Pocinya yang diangkat tinggi lalu ditunggin kan sedikit sehingga araknya mengucur turun dalam mulutnya yang menganga .

"Sedap!" pujinya seakan ingin membuat para tahanan itu ngiler, Sembari berkata, dia menurunkan pocinya ke bagian dada, tangannya yang sebelah diangkat ke atas untuk menyingkapkan tutup poci lalu jari tangannya yang lain memasukkan obat bius yang telah disediakan sebelumnya, Setelah itu dia mengangkat pocinya lagi dan digoyang-goyangkannya agar obat bius itu larut, Kemudian sambil tertawa dia berkata .

"Pemberontak, kematianmu sudah dekat, kau masih berani mengoceh yang tidaktidak!" Ketika dia memasukkan Bong hoan-yok ke dalam poci, tidak ada orang lain yang melihatnya kecuali Gouw Lip-sin .

Laki-laki brewokan itu segera sadar .

Diam-diam dia merasa senang, tetapi dengan berpura-pura dia membentak .

"Seorang laki-laki kalau harus mati, ya mati! Apa kami harus meratap memohon pengampunan" Orang yang demikian tidak patut disebut orang gagah! Mari arakmu, biar aku minum!" Siau Po tertawa .

"Kau mau minum arak?" ejek Siau Po, "Oh, tidak nanti kuberikan kepadamu! Ha.. .

ha.. .

ha.. .

ha.,." Thay-kam cilik ini lalu memutar tubuhnya dan berjalan kembali ke meja, Kemudian dia sendiri yang menuangkan arak ke dalam cawan para siwi .

Kong Lian bangkit berdiri Demikian pula siwi-siwi lainnya .

"Terima kasih!" katanya, "Mana berani kami menerima penghormatan seperti ini" Kenapa harus kongkong sendiri yang menuangkan arak bagi kami?" "Jangan sungkan!" kata Siau Po tertawa, "Tidak ada halangannya, Kita semua sudah seperti saudara antara satu dengan yang lainnya!" kemudian dia mengangkat cawannya sendiri, "Silahkan! Mari kita minum!" Tepat di saat para siwi mengangkat cawannya masing-masing, tiba-tiba dari luar kamar terdengar suara lantang .

"Firman Hong thayhou memanggil Siau Kui cu! Apakah Siau Kui cu berada di sini?" Siau Po terkejut setengah mati .

Dia tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini .

"Ya, di sini!" sahutnya cepat Dia meletakkan cawannya sambil berpikir "Mau apa si nenek sihir itu mencariku?" Terus dia berjalan ke depan untuk menyambut utusan ibu suri itu .

semuanya terdiri dari empat orang thay-kam sedangkan yang satu nya, yakni yang menjadi pemimpin segera maju sambil membusungkan dadanya .

Siau Po menjatuhkan dirinya berlutut seraya berkata .

"Hamba Siau Kui cu menerima firman thayhou!" Thay-kam yang menjadi utusan ibu suri segera menyahut .

"Hong thayhou mempunyai urusan yang penting sekali .

Kau diperintahkan datang secepatnya ke keraton Cu-Leng kiong!" "Ya, ya!" sahut Siau Po yang terus berdiri .

Dalam hatinya diam-diam dia berkata .

"Boan Hoa yok sudah dicampur ke dalam arak, kalau aku berlalu dari sini, tentu para siwi akan meminumnya... .

Post a Comment