Siau Po mengikuti .
"Kui kongkong, dengan cara bagaimana kongkong akan menolong mereka?" tanya Kong Lian, Siau Po jadi berpikir setelah melihat keramahan siwi ini .
"Sri Baginda berpesan agar aku membunuh satu dua orang siwi yang menjaga, agar aku dapat membebaskan para tahanan" pikirnya, "Tapi orang she Tio ini begini baik, tegakah aku membunuhnya?" "Nanti aku periksa lagi ketiga tahanan itu, katanya setelah berpikir sejenak .
"Aku akan kerja dengan melihat situasinya." "Terima kasih, kongkong," sahut Kong Lian, "Untuk apa kau mengucapkan terima kasih kepadaku?" tanya Siau Po heran .
"Hamba ingin bekerja dengan Kui kongkong." sahut Kong Lian, "Hamba harap untuk selanjutnya hamba akan mendapat bantuan dari kongkong agar dapat memperoleh kedudukan yang lebih tinggi!" Siau Po tersenyum mendengar ucapan siwi itu .
"Kau bekerja dengan setia kepada Sri Baginda, hanya satu hal yang aku khawatirkan..." Kong Lian terkejut mendengar kata-kata Siau Po .
"Apa itu, kongkong?" tanyanya khawatir .
"Aku takut kalau kau terus memperoleh kemajuan, gudang uangmu tidak akan muat lagi karena hartamu sudah berlebihan..." sahut Siau Po .
Pertama-tama Kong Lian bingung, namun akhirnya dia tertawa, Kemudian, setelah tawanya berhenti, dia berkata dengan suara perlahan .
"Kongkong, hamba sudah berunding dengan para siwi lainnya yang berjaga di sini bahwa kami semua akan bekerja dengan segenap kemampuan untuk membantu kongkong, Kami yakin kelak kongkong akan menjadi kepala atau pemimpin para thaykam di sini!" "Bagus!" kata Siau Po .
"Hal itu mungkin harus menunggu beberapa tahun lagi kalau usiaku sudah agak dewasa." Siau Po segera berjalan ke dalam tempat tahanan, Baru satu malam saja tampak jelas Lou It-cou bertiga sudah jauh lebih lesu .
Memang mereka tidak disiksa lagi, tapi karena perasaannya yang sumpek dan rasa nyeri masih nyut-nyutan, mereka tidak ada selera mengisi perut .
Sudah dua hari dua malam mereka tidak makan apa-apa .
Di dalam kamar tahanan, terdapat delapan siw yang menjaga, Melihat kedatangan Siau Po, merek segera memberi hormat dengan menjura .
Siau Po sudah mempertimbangkan apa yang harus diperbuatnya, Dia segera berkata dengan suara lantang .
"Sri Baginda sudah mengeluarkan firman! Ke tiga pemberontak ini besar sekali dosanya, Mereka harus segera dihukum mati di hadapan khalayak ramai .
Karena itu lekas kalian siapkan hidangan biar mereka bisa makan sampai kenyang, Dengan demikian, setelah mati mereka tidak akan menjadi setan kelaparan!" Serentak para siwi itu menyahut .
"Baik!" Gouw Lip-sin, tahanan yang bertubuh besar serta berewokan langsung berteriak: "Kami mati demi Peng Si-ong, nama kami akan harum untuk selamanya, Kami lebih hebat berkali-kali lipat daripada kalian segala anjing buduk yang menjadi budak bangsa Tatcu!" "Kurang ajar!" damprat salah seorang siwi yang menjadi gusar, ia menyabet satu kali dengan cambuknya, "Gouw Sam-kui adalah si pemberontak .
Dia juga akan dihukum mati berikut seluruh anggota keluarganya!" Sebaliknya, Lau It-cou tidak mengatakan apa-apa .
Dia mendongakkan kepalanya ke atas seperti sedang memikirkan sesuatu, Bibirnya bergerak-gerak, tapi tidak jelas apa yang dikatakannya, sedangkan kawannya yang satu lagi juga membungkam saja .
Dengan cepat barang hidangan sudah dibawa datang, jumlahnya cukup untuk tiga orang lengkap dengan araknya pula .
"Ketiga pemberontak ini mendengar kepala mereka akan dipenggal sebentar lagi, mungkin karena terkejut setengah mati sehingga tubuh mereka gemetar Aku khawatir mereka tidak berselera untuk makan, Oleh karena itu, saudara sekalian, sukalah kiranya kalian melelahkan diri untuk menyuapi mereka dan bantu mereka minum arak barang dua tiga cawan .
Tapi ingat, jangan lolohi terlalu banyak .
Kalau mereka sampai mabuk, tentu mereka tidak akan merasa enaknya kepala dipenggal .
Mereka tidak akan merasa sakit dan ini pasti terlalu enak bagi mereka yang dosanya demikian besar Lagipula, sesampainya di alam baka, Giam lo-ong akan berhadapan dengan tiga setan pemabukan dan Giam Lo-ong akan marah lalu mencambuki mereka dengan rotan sebanyak tiga kali Bukankah hal ini menambah penderitaan mereka?" Para siwi tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Siau Po .
Mereka merasa thaykam cilik ini lucu sekali, mereka menghampiri ketiga tawanan itu untuk menyuapi mereka .
Gouw Lip-sin tidak sungkan-sungkan lagi, Dia segera meneguk arak yang disodorkan dan menikmati hidangan yang disuapkan .
Go Piu juga makan, tapi setiap kali disuapi, dia selalu memaki, "Budak anjing!" Lau It-cou tampak pucat sekali wajahnya .
Baru makan satu sendok, dia tidak sanggup lagi membuka mulutnya, Kepalanya digeleng-gelengkan .
"Baiklah!" kata Siau Po yang memperhatika ketiga tahanan itu diberi makan, "Sekarang kalia semua boleh keluar dulu, Aku ingin memeriksa mereka lagi! Masih ada beberapa hal yang ingin diketahui oleh Sri Baginda, Setelah diperiksa, baru mereka dibawa untuk menjalani hukuman mati!" Tio Kong-lian segera mengiakan .
Dia segera mengajak rekan-rekannya meninggalkan kamar tahanan itu .
Setelah keluar mereka pun merapatkan pintunya .
Siau Po menunggu sampai para siwi itu sudah keluar semua, Dia segera menghampiri Gouw Li sin bertiga, Dia memperhatikan mereka denga senyumnya yang aneh .
Thay-kam anjing, apa yang lucu sehingga kau tersenyum-senyum?" bentak Gouw Lip-sin .
Siau Po tertawa .
"Aku tersenyum sendiri!" sahutnya tenang .
"Apa hubungannya denganmu?" Tepat pada saat itulah, Lau It-cou berkata .
"Kongkong, a...ku.. .
akulah Lau It-cou." Siau Po heran sehingga dia tertegun, Dia tidak menyangka Lau It-cou akan mengaku .
Belum lagi dia sempat memberikan jawaban, Gouw Lip-sin dan Go Piu sudah membentak kawannya .
"Apa yang kau ocehkan?" "Kongkong.,." kata Lau It-cou tanpa memperdulikan kedua rekannya, "Kau.. .
tolonglah a.,.ku, tolonglah ka...mi!" "Hei, manusia pengecut!" bentak Gouw Lip-sin .
"Kau tamak kehidupan, kau takut mampus, apakah itu perbuatan seorang enghiong" Mengapa kau mementang bacot memohon pertolongan orang?" "Tapi..." kata It Cou gugup, "Dia bilang bahwa Siau ongya dan guruku.. .
yang meminta dia menolong kita...." "Apakah kau percaya ocehannya yang hanya kebohongan belaka?" tanya Lip Sin garang .
Siau Po tersenyum melihat orang yang adatnya keras kepala itu .
"Yau Ta'u Saycu Gouw loyacu," panggilnya, "Dengan memandang mukaku ini, bolehkah kau kurangi gelengan kepalamu itu?" Gouw Lip-sin terkejut setengah mati .
"Kau. .
kau...?" matanya menatap Siau Po dengan pandangan keheranan Siau Po kembali tertawa .
"Aku kenal baik dengan kalian bertiga," sahutnya .
"Saudara ini bernama Go Piu dan julukannya Chi Mo houw, Go toako ini adalah murid kesayanganmu Seorang guru yang tersohor pasti mempunyai murid yang lihay, aku merasa kagum sekali!" Gouw Lip-sin terdiam .
Matanya menatap thaykam cilik itu lekat-lekat Dia merasa terkejut dan heran .
Bagaimana bocah ini bisa mengetahui namanya dan julukannya" Dengan demikian, bukankah rahasia mereka sudah terbongkar" Hal ini pula yang membuatnya jadi sangsi .
Ketika orang itu sedang berdiam diri, Siau Po merogoh ke dalam sakunya, Dia mengeluarkan surat Pui Ie, kemudian membukanya dan merentangkannya di hadapan pemuda She Lau .
"Kau lihat surat ini, siapa yang menulisnya" tanyanya .
It Cou memperhatikan tulisan dalam surat dan membacanya, tiba-tiba dia memperlihatkan kegirangan yang luar biasa .
"lni tulisan Pui sumoay!" serunya, suaranya terdengar gemetar "Gouw susiok, adik seperguruanku mengatakan bahwa Kui kongkong ini dapat untuk menolong kita, Kita diharapkan menurut apa pun katanya!" Gouw Lip-sin merasa heran .
"Mari aku !ihat!" katanya .
Tanpa mengatakan apa-apa, Siau Po membawa surat itu kepada si bewok, Dia harus memberikan bantuannya karena kedua tangan It Cou terik sehingga tidak dapat menyodorkannya sendiri, Bahkan untuk membaca pun, harus Siau Po yang megangi surat itu .
Diam-diam si bocah berpikir dalam hati .
"Entah apa yang ditulis nona Pui dalam suratnya " Mungkinkah urusan asmara, Kalau benar, sungguh istriku itu tidak tahu malu!" Ketika itu Gouw Lip-sin sudah membaca surat Pui Ie .
isinya sebagai berikut: "Lau suko, Kui kongkong ini adalah orang sendiri, Dia baik hati, Ditempuhnya bahaya untuk menolongi kalian, Kau harus dengar apa yang dikatakan oleh Kui kongkong agar kalian semua bisa terbebas dari bahaya!" "Adikmu, Pui Ie." "Ah!" seru Lip Sin .
Dia merasa heran sekali, "Surat ini memakai kode rahasia Bhok onghu kita, Jadi surat ini tentu bukan surat palsu!" Siau Po senang mendengar bunyi surat itu.Ternyata tidak ada kata-kata mesra yang ditulis Pui Ie .
"Tentu saja, Mana ada surat yang palsu?" katanya .
"Kongkong," kata It Cou .
"Dimana sumoayku sekarang?" "Dia ada di atas tempat tidurku," kata Siau Po, tentu saja hanya dalam hati, "Dia sekarang sedang bersembunyi di tempat yang aman," sahutnya, "Setelah berhasil menolongi kalian, baru aku menolongnya, Dengan demikian kalian bisa berkumpul bersama lagi!" It cou merasa terharu mendengar kata-kata Siau Po .
Air matanya sampai mengucur .
"Kongkong, budi besarmu ini, entah kapan dan bagaimana baru aku dapat membalasnya..." Sebenarnya It Cou gagah berani, tapi barusan ketika Siau Po mengatakan mereka akan dihukum penggal kepala setelah mereka selesai bersantap tiba-tiba saja hatinya menjadi goyah karena terguncang .
Tanpa berpikir panjang lagi dia mengaku dirinya sebagai Lau It-cou .
Karena hal itu pula di dibentak oleh Gouw Lip-sin .
sekarang bukan main girang perasaannya, sebab Pui Ie sudah mengatakan dalam surat bahwa thay-kam di hadapannya ini akan menolongi mereka .
Gouw Lip-sin tetap berani dan tenang .
Kecurigaannya tidak langsung terhapus .
"Tuan, aku mohon tanya she dan namamu ya mulia?" tanyanya kepada Siau Po .
"Mengapa tua mau menolong kami?" "Baiklah! Aku akan berkata terus-terang!" sahut Siau Po .
"Di mata sahabatsahabatku, aku bernama Lay Lie-tau Siau samcu .
Kalian tidak usah heran, Dulu kepalaku memang kurapan, tetapi sekarang tidak lagi, Aku mempunyai seorang sahabat Dia seorang hiocu bagian Ceng-bok tong dari perkumpulan Tian-te hwe Namanya Wi Siau-po .
.
mengatakan bahwa dalam perkumpulan Tian-te hwe terjadi kesalah pahaman karena salah seorang anggotanya membunuh Pek Han-siong dari Bhok onghu kalian, Hal ini membuat Bhok siau ongya tidak mau mengerti .